Home / Pojokan

Loving The Wounded Soul-Ketika Depresi Merubah Hidup, Ini Nyatanya!

Senjahari.com - 15/06/2020

Loving the Wounded Soul

Penulis : Dinda Pranata

Mendengar kata depresi nampaknya sangat menyeramkan dan memiliki stigma negatif bagi sebagian banyak orang. Era modern seperti sekarang, tingkat depresi bisa menjadi sangat tinggi karena tuntutan akan kebutuhan. Tetapi tuntutan itu tidak berbanding lurus dengan kemampuan seseorang sehingga menyebabkan masalah pada psikologis seseorang. Dalam resensi buku Loving the wounded soul ini, kita akan melihat bagaimana depresi bisa meresahkan sekaligus merubah arah kehidupan seseorang!

Loving the Wounded Soul Depresi dari Luka Hingga Keadaan Alam

Sebagian orang masih berpikir bahwa orang yang memiliki penyakit depresi atau penyakit mental adalah orang gila. Tak jarang banyak yang menganggap remeh penyakit mental ini, sedangkan bagi orang yang menderita akibat stigma negatif menyebabkan mereka enggan mencari pertolongan. Padahal kenyataannya sudah banyak kasus bunuh diri yang menyerang orang-orang penderita depresi dan tidak hanya terjadi pada orang biasa namun juga artis-artis besar di berbagai belahan dunia. Banyak pakar kesehatan meletakkan perhatian khusus pada kesehatan mental yang memang tidak terlalu terlihat daripada kesehatan fisik.

Depresi yang terjadi pada seseorang bisa berasal dari luka batin yang belum sepenuhnya sembuh. Tapi luka tersebut harus tergores lagi dengan luka batin yang lain. Selain luka masa lalu yang belum selesai, depresi juga berasal dari beberapa faktor genetik, walau pada kasusnya beberapa peneliti masih mengembangkan penelitian terhadap hal ini. Kebanyakan kasus penderita depresi adalah adanya luka hati yang belum selesai dengan baik sehingga terbawa pada perjalanan hidupnya.

Beberapa ciri-ciri orang yang mengalami depresi bisa mengalami kesedihan yang berkepanjangan, emosi yang tidak stabil, merasakan perubahan pada fisik, kelelahan yang ekstrem, hingga munculnya pikiran untuk bunuh diri kerap berlalu lalang. Hanya saja kadang orang mengabaikan apa yang mereka rasakan dan tidak tahu bahwa itu adalah kecenderungan penyakit mental. F

aktor yang mendasarinya bisa datang dari internal seperti berasal dari genetika (ibu yang memiliki penyakit depresi), struktur otak yang berbeda, kepribadian (Introvert, atau Ektrovert) atau masalah kesehatan fisik (seperti penderita penyakit kanker, HIV AIDS, dll). Ada juga faktor eksternal sperti budaya, kehidupan sosial hingga pengaruh alam (seperti perubahan cuaca atau iklim)

Perubahan Hidup Penderita Depresi

Depresi dan Alam
Depresi dan Perubahan alam

Depresi yang seseorang alami bisa mengarahkan seseorang ke arah yang positif atau negatif. Hal itu tergantung bagaimana orang tersebut melaluinya. Orang yang tidak berhasil melalui depresi yang mana penyakit kambuhan (relapse) biasanya terjebak dalam pemikiran negatifnya dan paling parah adalah bunuh diri. Sedangkan bagi mereka yang berhasil melaluinya akan membawa perubahan bagi cara pandangnya dalam melihat dunia.

….. Seseorang yang mengalami depresi berkepanjangan pada akhirnya akan mengatur ulang sistem keyakinannya. Ini terjadi karena depresi berat seolah-olah memaksa seseorang untuk menjawab pertanyaan paling mendasar: siapa saya? siapa itu Tuhan? Apa itu agama? Apa itu kebenaran? pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena seseorang yang bergelut lama dengan depresi merasakan siksaan emosional yang amat dalam hingga membuatnya bertanya “mengapa Tuhan memberikan cobaan ini kepada saya?”…

Loving the wounded soul hal.234

Orang yang berhasil melewati masa kelam depresi dengan self healing atau terapi dari psikolog biasanya akan memiliki cara pandang yang lebih baik tentang kehidupan. Biasanya mereka akan lebih memiliki empati terhadap orang lain, lebih mempelajari agama secara mendalam, dan bahkan memiliki cara yang unik dalam memaknai kehidupannya.

Siapapun yang sedang depresi, tidak masalah jika kau merasa berbeda dan jangan ragu untuk mencari pertolongan. Siapapun bisa depresi entah tua muda, kaya miskin, anak-anak atau dewasa. Depresi bukanlah hal yang memalukan, lakukan yang hal yang terbaik untuk diri kita. Jika bukan kita sendiri maka siapa lagi yang menolong diri kita?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment