Home / Pojokan

Buku Tentang Cinta, Isinya Bikin Kamu Belajar Tentang Menerima Diri Sendiri.

Senjahari.com - 23/09/2020

menghargai diri dengan how to respect my self
Buku Tentang Cinta, Isinya Bikin Kamu Belajar Tentang Menerima Diri Sendiri..

Penulis : Editor

Malam mulai larut dan sedikit mendung. Di Pojokan Rani sedang bersandar pada kursi empuk di bawah jendela sambil memandangi jendela yang basah karena hujan sore tadi. Ia merenung tentang dirinya yang selalu mudah menghakimi bahkan pada diri sendiri. Seorang teman menyarankan untuk membaca buku berjudul how to respect myself karya Yoon Hong Gyun. Ia mencoba membuka dan membaca halaman pertama sampai ia tenggelam dalam isinya.

Kesalahpahaman Tentang Harga Diri.

Sebagian besar orang menganggap harga diri adalah pengakuan yang orang lain berikan kepada diri sendiri. Pada kenyataannya, harga diri itu bukan terletak dari bagaimana orang lain memandang diri kita. Tetapi sebaliknya justru bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Kesalahpahaman ini timbul bukan tanpa sebab. Karena pada dasarnya seseorang membutuhkan pengakuan agar bisa menunjukkan eksistensinya. Keinginan untuk mendapatkan pengakuan itulah yang terkadang membuat kita salah mengerti. Pengakuan yang datang dari orang kepada kita adalah bukanlah nilai utuh diri kita. Jika kita melihat pandangan itu, kita jadi cenderung tidak menghargai diri.

Namun bukan berarti kesalahpahaman yang muncul ini tidak bisa kita perbaiki lho. Asalkan diri sendiri mau dan bersedia untuk mencoba maka miskonsepsi tentang harga diri ini bisa kita benahi dan kita bisa lebih menghargai diri sendiri dengan cara yang sehat. Mulai dengan membuang kebiasaan yang membuat harga diri menjadi rendah. Dengan membuangnya bisa terhindar dari perasaan rendah diri seperti mudah putus asa, tidak bersemangat, menunda dan menghindar dari masalah, serta sensitif. Untuk bisa membuang kebiasaan buruk itu hal yang paling penting adalah mengatasi luka, trauma, hambatan kepercayaan diri, atau kritik yang bersifat negatif kepada diri sendiri yang pada akhirnya membentuk lingkaran setan.

Untuk memperbaiki harga diri kita, kita hanya perlu percaya pada prosesnya. Jika kita gagal di tengah jalan, lanjutkan saja, hingga kita tiba pada tujuan akhir yaitu peningkatan harga diri dan rasa bahagia.

orang-orang yang berfokus pada proses akan bisa fokus pada ‘aku saat ini’. Walaupun hasilnya kurang bagus, luka yang dirasakan akan sedikit karena mereka telah melakukan yang terbaik setiap harinya. Kalaupun tidak lolos ujian, masih tersisa rasa puas atas proses yang luar biasa. Harga diri adalah jawaban atas ‘seberapa senang kita dengan diri kita.’…

Baca juga: Resensi Pachinko. Wanita Imigran, Yakuza, Dan Kolonialisasi.

How to respect myself hal 76-77

Menghargai Diri Dengan Mengakui Emosi Dan Perbaikan Mindset.

Masyarakat kita pada umumnya sedikit melebihkan atau menutupi kondisi emosi yang mereka rasakan. Kenapa? karena mereka takut pandangan orang lain. Seperti contoh ketika kita merasa tersinggung dengan perkataan A yang menjurus pada body shaming, yang mana justru membiarkan diri kita menutupi perasaan diri sendiri yang tersinggung. Lalu belum lagi dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa sikap tersinggung kita itu berlebihan maka tak heran kita terjebak pada emosi dan pembentukan harga diri yang tidak sehat.

Apapun yang kita rasakan coba untuk mengakui emosi itu, mengolahnya dan memperbaiki mindset kita agar lebih sehat secara psikis. Cara itu bisa membuat kita lebih menghargai diri. Orang yang memiliki harga diri yang rendah kebanyakan adalah orang-orang yang masih memegang erat luka masa lalu mereka, dan mengingkari kenyataan adanya emosi yang bersifat manusiawi. Berilah label pada setiap luka masa lalu itu seperti rasa marah, rasa sedih, rasa kecewa, dan lainnya. Kita bisa mengatakan pada diri sendiri bahwa luka dan emosi itu adalah masa lalu yang tidak bisa berubah lagi dan wajar jika memiliki perasaan (yang kita rasakan) itu. Perbaiki mindset kita dengan memilah emosi yang kita rasakan dengan cara menulis jurnal.

Dengan menulis jurnal, kita bisa menuliskan apa segala perasaan, kapan kejadiannya, bagaimana terjadinya sehingga memudahkan kita mengklasifikasikan penyebab emosi tersebut baik saat ini ataupun saat di masa lalu. Pengkategorian ini memudahkan diri sendiri untuk memasukkan emosi itu ke ranah logika sehingga masalah yang sedang kita hadapi bisa terselesaikan serta meringankan emosi yang ada dalam diri.

Rani memahami bahwa menghakimi dirinya malah membuatnya semakin tidak bahagia dan membenci dirinya sendiri. Mencintai diri sendiri dimulai dengan mengakui adanya emosi diri, mengolah emosi itu, dan memperbaiki mindset diri kita. Dengan begitu kita pun bisa memperbaiki harga diri yang sangat penting di era serba cepat dan mudah terdikstrasi. Apakah dari kalian ada yang sudah membaca buku ini? ataukah yang sudah mencoba saran-saran di buku ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment