Home / Pojokan

Pojokan-Apa Yang Sastra Ajarkan Pada Manusia

Senjahari.com - 10/06/2021

Apa yang sastra ajarkan

Penulis : Dinda Pranata

Sastra tidak hanya mencakup novel, puisi atau prosa. Kita mengenal sastra lewat karya-karya tertulis tersebut. Dari filsafat karya filsuf Yunani, roman karya Shakespeare hingga drama karya sanusi pane dan novel karya pramoedya merupakan bagian dari sastra. Namun apakah sastra hanya sebatas karya lisan saja?

Sastra Dan Peradaban Manusia.

Etimologi Kata sastra berasal dari bahasa Latin litera/littera yang artinya huruf dan kemudian menjadi literaturea/litteratura dengan arti belajar, sebuah tulisan, tata bahasa atau tulisan yang dibentuk dengan huruf. Namun terjemahan ini bukan tanpa dilema sebab pemahaman sastra sudah berkembang bahkan ketika orang masa kuno belum mengenal tulisan. Para arkeolog kemudian menjelaskan bahwa orang kuno sudah mengupayakan melestarikan budaya mereka baik seni atau tradisi dalam berbagai bentuk. Sastra kini tidak hanya diartikan dalam bentuk tulisan tetapi juga yang karya dengan bentuk lisan.

Sastra adalah suatu bentuk dari ekspresi manusia dan sastra bisa menjadi wakil suatu budaya serta tradisi dari bahasa di masyarakat. Polemik sastra yang dulunya sempit hanya terbatas pada karya tulis, pada perkembangan zaman konsep ini jadi rumit untuk didefinisikan secara tepat. Saat ini sastra sudah berkembang menjadi suatu bentuk seni yang oleh karena itu muncul kata seni sastra sebagai mediator polemik tersebut. Sastra berkembang sedemikian pesatnya. Dalam beberapa karya sastra terutama sastra klasik, bahasa yang sastrawan berbeda dengan bahasa yang dipakai dalam bahasa tulisan biasa. Karya sastra orang-orang di era Elizabethans memiliki gaya yang berbeda dengan gaya sastra orang-orang abad ke-18.

Karya sastra menjadi sebuah cetak biru dalam peradaban manusia. Dari tulisan peradaban kuno seperti Messopotamia, Mesir dan Cina hingga filsafat Yunani serta karya-karya bangsa romawi menjadi bukti perkembangan pola pikir manusia. Dengan kata lain cara sastra lebih dari sekadar penemuan sejarah atau budaya yang mengantar ilmu pengetahuan baru dan pemahaman tentang peradaban dunia.

Apa Yang Sastra Ajarkan?

Setiap masa dalam kesusasteraan memiliki karakteristik yang berbeda-beda yang kadang kala sesuai dengan kondisi masyarakat kala itu. Sebut saja kesusasteraan Indonesia era pujangga lama yang mayoritas karya-karyanya berupa syair, pantun-pantun dimana kala itu budaya yang berkembang di masyarakatnya sebagian besar tersentuh budaya-budaya Islam dan melayu yang kental. Sebagian besar karya pujangga lama tersebar di garis pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Lalu Angkatan 1950-1960 juga memiliki karakeristik yang berbeda pada karya pada anggakatan sebelumnya. Angkatan tahun 1950-60an memiliki ciri yang lebih suram karena memang pada tahun 1950-1960 kehidupan masyarakat dalam keadaan penuh gejolak dari politik, ekonomi dan kehidupan sosial.

Baca juga: Wuthering Heights dan Lingkaran Racun Suatu Hubungan

Tidak hanya di Indonesia, di dunia barat pun juga demikian adanya. Sastra di berbagai era memiliki karakteristik yang berbeda. JIka ada dari kalian yang pernah membaca karya Jane Austen yang terkenal seperti Pride and Prejudice, Nothringer Abey , atau Emma, karyanya tersebut menggambarkan bagaimana kondisi sosial atau keadaan pada masa itu. Pada era Romantise yang merupakan periodisasi karya Jane Austen terlihat kehidupan glamor para bangsawan, budaya patriaki yang sangat dominan serta kehidupan kalangan bangsawan dan kelas bawah yang terlihat jelas sehingga karya-karya era romantisme biasanya bercirikan idealisasi wanita, melankolis, ketertarikan pada pria biasa dan lainnya.

Apa yang bisa sastra ajarkan adalah tentang dinamiisme kehidupan dan pemahanan terhadap kehidupan manusia. Sastra bisa menggambarkan bagaimana kehidupan bisa sangat dinamis bagi manusia. Sastra adalah buah karya manusia dan manusia bisa berkembang serta berubah mengikuti kondisi alam sekitarnya. Dengan sastra kita bisa mengetahui bagaimana pelaku-pelaku atau manusia itu hidup dan bagaimana kehidupan mereka serta pemikiran tentang kehidupan dari karya-karyanya. Bagaimana menurut kalian?

Source:
britannica.com
thoughtco.com
ruangguru.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment