Home / Pojokan

Resensi Catcher In The Rye. Novel Di Balik Kematian John Lenon.

Senjahari.com - 14/06/2021

the cather in the rye

Penulis : Dinda Pranata

Banyak pembaca yang awam dengan judul novel the catcher in the rye. Novel ini sebenarnya tidak terlalu populer di Indonesia tetapi cukup menghebohkan dunia percetakan di Amerika serikat. Pasalnya pemerintah sempat melarang terbitnya buku ini, lantaran polisi menemukan salinan buku ini di hotel seorang pembunuh presiden Ronald Reagan. Misteri apa yang tersirat dalam novel ini?

Pemuda Dan Jati Diri.

Buku catcher in the rye sendiri menceritakan tentang pemuda bernama Holden yang berusia 15 tahun dan kerap pindah-pindah sekolah akibat bermasalah di sekolah-sekolahnya. Pemuda ini memiliki sikap yang terlalu liberal atau ‘semau gue’ tanpa memperdulikan bagaimana masa depannya. Di sekolah barunya sendiri ia di DO akibat ketidakperduliannya pada pelajaran di sekolah, walau ia bisa dikatakan seorang pria yang cerdas dan mampu menilai orang dengan cukup realistis.

Usia 15 tahun merupakan usia dimana seseorang sedang mengalami masa puber dan hal ini pun terlihat dari jiwa Holden yang ingin mencoba banyak hal. Ia ingin merasakan bagaimana berkencan bahkan sampai ingin tahu rasanya menyewa seorang wanita panggilan walau dirinya sendiri merasa canggung dan kikuk saat wanita itu datang ke kamarnya. Walau pemuda ingin sangat liberal, ia cukup logis untuk selalu mempertimbangkan ‘efek samping” dari segala tindakannya. Sebenarnya ia tahu resiko tindakannya tetapi karena ia mengalami masa puber keinginan untuk mencoba tetap saja besar.

Holden Cauldpield memiliki seorang adik bernama Phoebe. Ketika pemuda ini bertemu adiknya ia berkata ingin menjadi ‘Penangkap Gandum’ atau “The Catcher in the rye” setelah mendengar seseorang menyanyikan lagu untuknya. Saat berjalan-jalan bersama adiknya ia menyadari betapa menjadi dewasa sangat tidak mudah dan ingin kembali menjadi seorang anak kecil yang polos. Ia bisa menangkan bahwa dunia orang dewasa banyak menangkap kepalsuan yang direalitaskan sehingga ia menjadi tidak stabil secara psikologis.

Gaya Yang “Vulgar”?

Sebagian kehidupan Holden dalam novel merupakan gambaran dari kehidupan penulisnya sendiri. Seperti Salinger pernah mengikuti dan menjadi manager anggar sekolah yang ia ceritakan pada bagian awal dari buku ini bahwa Holden mengikuti anggar di sekolahnya. Dalam sebuah wawancara, JD Salinger sang penulis sendiri pernah berkata bahwa The Catcher in the rye merupakan buku yang berjenis semi-autobiografi.

Baca juga: Catatan Harian Anne Frank, Komedi dan Eksplorasi di Tengah Tradegi

Pada kenyataannya pada masa diterbitkan tidak sedikit yang memuji karyanya dan tidak sedikit pula yang mengkritik novel ini. Yang memuji buku ini merasa bahwa novel ini memberikan angin segar pada karya-karya masa itu. Sedangkan pihak yang mengkritiknya kebanyakan mengkritik gaya bahasa seorang pemuda 15 tahun menjadi begitu vulgar dan tindakannya yang menjadi tidak bermoral. Gaya bercerita Holden Cauldfield memang terkesan vulgar dan begitu blak-blakan untuk kategori anak 15 tahun sehingga terkesan tidak bermoral. Gaya bahasa vulgar yang dipakai bisa jadi merupakan metafora dari kehidupan dewasa yang dipenuhi oleh hal-hal yang tabu bagi anak remaja.

Pada masanya karya ini sempat menjadi karya yang gagal sebelum akhirnya menjadi karya yang terkenal. Banyak penerbit yang enggan menerbitkan novel ini karena gaya bahasanya yang vulgar, tidak senonoh, dan tidak bermoral. Tetapi sekarang buku ini menjadi salah satu bacaan rekomendasi bagi peminat sastra dan kurikulum dalam mata pelajaran. Walau berkali-kali dilarang beredar tetap buku ini menjadi salah satu novel terlaris dalam dunia sastra.

The Catcher In The Rye Dan Misteri Para Pembunuh.

Tidak hanya banyak yang mengkritik karya ini, novel the catcher in the rye juga pernah dilarang beredar oleh pemerintah karena pembunuh publik figur menggunakan buku ini sebagai alasan membunuh. Sebut saja pembunuhan yang paling terkenal hingga sekarang adalah pembunuhan John Lenon. David Champman yang merupakan pembunuh John Lennon pada tahun 1980 mengakui bahwa novel the catcher in the rye menjadi inspirasinya untuk membunnuh. Tidak hanya pembunuh John Lennon tetapi setahun setelahnya pada tahun 1981 John W. Hinckley, Jr tertangkap atas percobaan pembunuhan presiden Amerika Serikat Ronald Reagan dimana polisi yang menangkapnya menemukan salinan buku the catcher in the rye ini.

Namun apakah buku ini membawa pengaruh buruk? Tergantung darimana mempersepsikannya. Jika mampu menalar gaya bahasa dan maksud di dalamnya maka banyak hal yang dapat ditemukan dalam karya itu sebagai bentuk realistas kehidupan. Para pembunuh tersebut bisa jadi hanya meniru gaya pembunuh sebelumnya, seperti yang terjadi pada kasus percobaan pembunuhan Presiden Ronald Reagan yang begitu mengagumi gaya pembunuhan David Champman.

Bagi kalian yang sudah membaca buku ini, yuk bisa sharing di kolom komentar tentang novel ini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment