Home / Jendela

Melek Literasi Informasi Perangi Berita Hoaks. Bagaimana Caranya?

Senjahari.com - 04/08/2021

Berita-Hoaks

Penulis : Dinda Pranata

Berita hoaks di era digital seperti sekarang bukanlah hal yang asing. Hanya dengan hitungan detik kita bisa mendapatkan beragam informasi yang berjumlah ribuah. Penerimaan arus informasi yang tanpa adanya pengetahuan memilih dan memilah bisa menjerumuskan siapa saja pada informasi yang salah dan berita bohong. Lantas bagaimana cara meminimalisir dampak bahaya informasi palsu?

Berita Hoaks Dan Pesan Tersembunyi.

Tidak sedikit orang yang mudah percaya dengan pemberitaan dari pesan berantai jejaring sosial atau media sosial. Alasan seseorang mudah percaya berita palsu adalah mereka sulit menerima fakta yang bertentangan dengan keyakinannya dan kita mengengalnya sebagai backfire effect. Oknum pembuat berita palsu memanfaatkan cara ini agar seseorang tergiring dengan opini-opini yang menyesatkan.

Pada sebuah jurnal Fake news feels less immoral to share when we’ve seen it before tahun 2019 menyatakan bahwa jika tidak menghentikan pemberitaan palsu hal tersebut bisa memicu polarisasi politik dan merusak demokrasi. Beberapa pihak yang menciptakan pemberitaan palsu terkadang memiliki niat tersembunyi dalam pesan yang mereka bagikan atau bahkan mereka yang menyebarkan kurang mengerti sehingga asal kirim tanpa memfilter pesan tersebut. Data dari kominfo mengatakan, penyebar berita hoaks berasal dari usia 45 tahun ke atas atau generasi baby boomer.

Pesan yang mereka kirim bisa saja mengajak seseorang untuk menolak mepercayai sesuatu seperti tentang bahaya covid yang hanya akal-akalan pemerintah. Lalu ada juga yang menyerukan tindakan yang bertentangan dengan moral seperti prank pembagian sembako yang isinya bukan sembako. Ada pula sekedar mencari sensasi demi uang. Para pembuat konten palsu memanfaatkan celah ketidaktahuan masyarakat agar mereka tergiring pada pandangan tersebut. Jika tidak meminimalisir informasi hoaks maka masyarakat bisa menjadi pembaca bisa menjadi korban.

Pelatihan Dengan Target Spesifik.

Pada masa pandemi kominfo sendiri sudah mencatat ada ratusan ribu atau mungkin jutaan berita hoaks menyangkut Covid-19 sejak kemunculannya. Hingga sekarang pemberitaan hoaks tak juga berkurang, ketika ada program vaksin beberapa oknum justru membuat warga tidak percaya terhadap vaksin Covid-19. Beberapa media berita bekerja sama dengan kementrian kesehatan, polisi, TNI hingga kementrian komunikasi dan kementrian lain mengkampanyekan program vaksin pemerintah. Hanya mengandalkan konfirmasi mengenai pemberitaan mengenai hoaks dan fakta justru terlihat tidak terlalu efektif. Pendekatan melalui media pers yang terpercaya, kerja sama antar lembaga pemerintah, kampanye bersama komunitas yang ada di Indonesia justru terasa lebih efektif.

Baca juga: Tanya Kenapa-Orang Mudah Menyebar Hoax? Berikut Cara Analisis Isi Kontennya!

Sebuah studi terbaru berjudul High emotional intelligence ‘can help to identify fake news’ mengemukakan hal yang mengejutkan. Dalam jurnal tersebut menemukan bahwa seseorang yang memiliki pencapaian pendidikan mudah mengenali mana informasi benar dan palsu. Hasil ini pun menciptakan sebuah korelasi antara orang yang tidak mudah termakan berita palsu dengan tingkat pendidikan. Pemerintah juga perlu mengedukasi masyarakat agar melek terhadap literasi informasi dengan sasaran yang lebih spesifik. Contoh edukasi bagaimana mengenali berita palsu atau bagaimana cara menyebarkan informasi dengan benar untuk orang berusia 50 tahun ke atas. Bisa juga spesifik pada orang yang berpendidikan rendah.

Melek Informasi Seperti Apa?

berita hoax dan kominfo diy
Infografis melek literasi informasi untuk berita hoaks. Design by canva.com

Berdasarkan data statistik 2020 warga Indonesia masih ada yang tidak bersekolah dan tidak tamat SD sehingga sasaran tersebut bisa lebih spesifik pada mereka yang mudah terkena berita hoaks. Platform yang bisa menjadi media edukasi seperti youtube, kerja sama dengan blog, kampanye televisi, radio, kerja sama dengan balai pelatihan setingkat kelurahan dan lainnya. Pendekatan melek literasi informasi dengan pelatihan baik secara daring atau luring lebih efektif bagi mereka yang kurang melek terhadap cara berbagi data informasi.

Untuk mempermudah berikut rangkuman singkat agar bisa terhindar dari berita hoaks atau buru-buru menyebarkan pesan berantai:

  1. Kenali judul yang dipakai, apakah masuk akal atau tidak. Biasanya konten palsu akan menyentuh emosi pembaca terlebih dahulu melalui judul. Jika judul terkesan berlebihan atau tidak masuk akal maka tidak perlu ditanggapi lebih lanjut.
  2. Baca paragraf pertama, apakah terdapat tujuan spesifik dari penulis. Biasanya konten persuasif akan memaparkan tujuan mengajak suatu tindakan tertentu dalam paragraf pertama.
  3. Lanjut pada bagian selanjutnya apakah konten yang disajikan memaparkan data-data pendukung yang valid dan tepercaya dari situs pemerintah, jurnal ilmiah atau hanya situs abal-abal.
  4. Check sumber konten di situs resmi seperti situs pemerintahan atau situs berita resmi.
  5. Cek kembali mengenai topik berita dari situs lain sebagai pembanding. Hal ini mempermudah kita menimbang berbagai informasi secara obyektif

Indonesia memerlukan peran serta generasi muda untuk membantu warga indonesia agar lebih sadar terhadap budaya literaasi informasi. Dengan melek budaya literasi informasi warga Indonesia bisa lebih bijak menyaring informasi dan tidak memberi celah bagi oknum lain yang berencana merusak moral bangsa. Sudah kah kalian melek terhadap budaya literasi informasi? Bagi kalian yang merasa tulisan ini bermanfaat, kalian bisa bagikan di media sosial kalian dan bantu kami berkembang.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Pembuatan Konten Media Sosial dalam rangka Memperingati HUT RI ke-76 dengan tema Merdeka dari Pandemi: Bersatu dalam Keberagaman untuk Indonesia Bangkit yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY

Source:
kominfo.go.id
sciencedaily.com
bps.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

makasih infonya, sangat membantu dengan adanya banyak berita yang kadang membuat kita merasa meragukan

1 Response