Home / Headline / Jendela

Energi Surya Dan Kehidupan Cerdas di 2050. Inovasi Gabungan Energi Cerdas Dan Teknologi.

Senjahari.com - 07/08/2021

Energi Surya

Penulis : Dinda Pranata

Pandemi Covid-19 ini nyatanya banyak mengubah banyak aspek kehidupan masyarakat. Dalam 2 tahun ini masyarakat harus bersinggungan setidaknya 80% aktivitas secara daring. Sebelum pandemi beberapa orang masih bisa menjalankan aktifitas secara konvensional seperti datang ke kantor, belanja ke pasar, dan lainnya. Tetapi sekarang baik aktivitas kantor, sekolah, bahkan belanja kebutuan mereka lakukan secara daring. Dengan kemajuan teknologi bukan tidak mungkin kehidupan Indonesia di 2050 mengalami kemajuan. Bisa jadi juga Indonesia sudah memasuki kehidupan pintar dengan kecerdasan energi dan teknologi di berbagai sektor seperti sektor rumah tangga. Bagaimana gambaran kehidupan sektor rumah tangga dengan kehidupan cerdas di 2050?

Teknologi Pintar Dan Kebutuhan Listrik Di 2050.

Masih belum banyak orang yang mengerti tentang apa itu kehidupan cerdas. Kehidupan cerdas bisa kita artikan sebagai kehidupan dengan perangkat pintar yang berasal dari teknologi kecerdasan buatan. Peralatan pintar ini berguna untuk menunjang aktivitas kehidupan sehari-hari contohnya dalam robot sektor rumah tangga atau industri. Menurut data badan pusat statistik di tahun 2019, pengguna ponsel sektor rumah tangga di perkotaan sebanyak 95,94 % dan di pedesaan sebanyak 93,74 %. Dari data tersebut dapat dikatakan warga Indonesia sudah melek akan teknologi.

Akses penggunaan perangkat teknologi sudah pasti membutuhkan jaringan listrik yang besar. Namun sayangnya jaringan listrik yang besar di Indonesia masih menggunakan bahan bakar yang berasal dari energi fosil. Berdasarkan laman Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi pada 2018 menyatakan bahwa Indonesia mengalami defisit jumlah energi fosil. Indonesia hanya bisa menamproduksi di bawah target pemerintah yang seharusnya. Pemerintah menargetkan produksi minyak sekitar 800 ribu barel per hari di tahun 2018. Kenyataannya hingga akhir Juli 2019 data Kementerian ESDM menunjukkan rata-rata produksi mi`nyak masih di kisaran 773 ribu barel.

Seiring dengan peningakatan jumlah konsumsi listrik dengan penurunan jumlah energi fosil, mau tidak mau membuat pemerintah mencari sumber energi lain. Outlook energi Indonesia tahun 2019 memaparkan bahwa pada sektor rumah tangga akan terjadi kenaikan penggunaan energi. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan urbanisasi yang terlihat dalam gambaran BPS untuk tahun 2035. Energi terbesar sektor rumah tangga adalah listrik yang mencapai 90 persen untuk tahun 2050. Peningkatan jumlah konsumsi listrik diperkirakan dari perangkat pintar rumah tangga seperti televisi, pembersih ruangan, lampu, air conditioner, komputer, kompor listrik dan lainnya yang nantinya akan terhubung dengan jaringan internet dan ponsel pintar.

Energi Surya Menjadi Solusi Pembangkit Listrik 2050.

Ilustrasi Energi Surya dan Kehidupan Cerdas 2050. Credit by canva.com

Ketika energi fosil tidak lagi menguntungkan dan jumlahnya tidak lagi memadai kebutuhan masyarakat yang semakin besar. Salah satu sumber energi yang dapat dimanfaatkan adalah matahari atau orang biasa menyebutnya solar cell atau energi surya. Indonesia sendiri memiliki keuntungan yang besar dengan memanfaatkan energi surya ini. Negara kita berada di wilayah tropis dengan pancaran sinar matahari yang berlimpah setiap harinya. Berdasarkan penelitian dari International Journal of Renewable Energy Of Development, di wilayah bagian barat Indonesia dalam satu bulan, matahari mendistribusi energi sebanyak 10%. Sedangkan di wilayah timur dalam satu bulan matahari mampu mendistribusi sebanyak 9% energinya. Dalam satu hari masyarakat bagian barat bisa setidaknya menampung 4,5Kwh/m² dan masyarakat wilayah timur menampung energi dalam satu hari sebanyak 5,1Kwh/m².

Baca juga: Mengefisienkan Pembangunan Bendungan. Mengapa Bendungan Tidak Efisien Untuk Cadangan Air ? Ini Kata Peneliti!

Dengan memanfaatkan energi surya sebagai pembangkit tenaga listrik, Indonesia bisa menghemat energi fosil sebagai energi cadangan. Energi cadangan ini akan sangat berguna saat menghadapi masa darurat seperti bencana alam. Dalam laman Institute For Essential Reform menjelaskan untuk mencapai target penggunaan energi terbarukan sebanyak 30-32% pemerintah harus berani mengambil langkah tegas salah satunya adalah mengeluarkan aturan atau kebijakan tentang pembangunan PLTU dan mempensiunkan PLTU yang sudah berusia lebih dari 20 tahun secara bertahap. Dengan langkah itu percepatan penggunaan dan pembangunan PLTS bisa segera terealisasikan. Bisa juga dengan memanfaatkan bangunan PLTU yang tidak terpakai menjadi PLTS sehingga bisa meminimalisir pendanaan.

Sejak presiden memberikan mandat dalam tentang perubahan penggunaan energi terbarukan, isu energi tersebut mendapat dukungan besar dari banyak pihak. Para praktisi lingkungan, akademisi, pakar teknologi dan komunitas lain merespon dengan baik usulan ini. Sayangnya, isu ini tidak sampai ke masyarakat umum secara merata karena beberapa faktor demografis. Faktor-faktor itu seperti tingkat pendidikan, usia, letak geografis, tingkat pendapatan dan lainnya. Lalu bagaimana kondisi indonesia ketika memasuki kehidupan cerdas?

Indonesia Menuju Kehidupan Cerdas 2050.

Di Tahun 2050 nanti, saat penduduk sudah memiliki tingkat pendidikan yang tinggi serta mendapatkan kesejahteraan yang meningkat, maka bukan tidak mungkin Indonesia memasuki era energi cerdas. Kehidupan cerdas akan segera menyebar ke banyak pelosok bersamaan dengan masuknya energi cerdas ke Indonesia. Untuk menghadapi kehidupan dengan beragam peralatan canggih hasil dari kecerdasan buatan, maka mulai dari sekarang pemerintah perlu mengganti pembangkit listrik energi fosil dengan pembangkit listrik energi terbarukan contohnya energi surya.

Penggantian ini berdampak pada sektor sosial, ekonomi, dan lingkungan. Ketika sudah banyak pembangkit listrik energi surya yang menunjang kehidupan masyarakat, munculnya industri dengan teknologi kecerdasan buatan mampu menciptakan peningkatan lapangan kerja. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada kesejahteraan masyarakatnya. Dengan penggunaan energi surya, Indonesia juga berkontribusi terhadap penurunan dampak pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim. Saat ini teknologi tenaga surya masih terbilang cukup mahal untuk bisa mencapai sektor rumah tangga, namun di tahun 2050 ketika Indonesia sudah memiliki beberapa pembangkit listrik tenaga surya di pulau-pulau besar bisa jadi teknologi tenaga surya ini pun sampai pada sektor rumah tangga dengan harga yang terjangkau.

Di tahun 2050 Walau sudah menggunakan energi surya, Indonesia perlu memiliki cadangan energi fosil contoh untuk mesin genset atau generator di saat darurat. Ketika keadaan yang tidak terduga terjadi, entah ada sistem yang membutuhkan perbaikan, bencana alam dan lainnya setidaknya penyaluran listrik ke rumah-rumah tetap lancar. Dalam sektor rumah tangga pun bisa mengupayakan memiliki pasokan listrik cadangan guna mengatasi adanya gangguan yang tidak terduga. Misalkan dengan memiliki baterai penampung tenaga surya, memiliki genset baik dalam rumah atau desa dan lain sebagainya.

Siapkah sektor rumah tangga Indonesia menuju kehidupan cerdas dan energi cerdas di 2050?

Source:
https://iesr.or.id/
http://sdgs.bappenas.go.id/
https://www.bppt.go.id/
https://www.bps.go.id/
Handayani, N.A, dkk. 2012. Potency of Solar Energy Applications in Indonesia. int. Journal of Renewable Energy Development 1(2):33-38

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment