Home / Headline / Jendela

Menyoal Saiful Jamil, Fanatisme Dan Moralitas.

Senjahari.com - 10/09/2021

Saiful Jamil

Penulis : Dinda Pranata

Pada tanggal 5 September 2021, ramai sekali pemberitaan di jagad maya tentang pembebasan Saiful Jamil seorang pelaku pelecehan seksual yang merupakan salah satu publik figur Indonesia. Pembebasannya nyatanya sangat berlebihan tanpa mempertimbangkan banyak aspek oleh para fansnya. Fanatisme dan antusiasme dari fansnya nyata justru menimbulkan kecemasan dan pandangan negatif dari banyak pihak. Menyoal fenomena fanatisme seperti fans Saiful Jamil apakah itu normal? Lalu, apa yang kita dapat dari itu?

Fanatisme Dan Hilangnya Logika.

Banyak sekali mungkin yang mengetahui arti kata fanatik. Fanatik merupakan suatu perilaku ketertarikan yang berlebihan terhadap ideologi atau benda atau seorang individu. Perilaku ini masuk sebagai salah satu ganggguan psikis dan sering sekali terkait dengan pandangan agama. Tapi ternyata fanatisme ini tidak hanya terbatas pada pandangan keyakinan tertentu saja, bisa juga tertuju untuk golongan atau individu tertentu.

Kita bisa lihat fenomena fantisme seperti fanatisme terhadap artis, group band hingga barang dengan merk tertentu. Contoh nyatanya adalah fanatisme terhadap idola k-pop yang bernama sasaeng atau penggemar garis keras yang kerap meresahkan idolanya. Berdasarkan jurnal Fanatisme Fans Kpop Dalam Blog Netizenbuzz yang mana menjelaskan bahwa fanatik cenderung bersikeras terhadap ide mereka dan menolak apa yang bertentangan dengan pikiran atau keyakinan mereka. Tak jarang rasa fanatik ini menyebabkan masalah di dunia sosial atau bahkan merugikan pihak sang idola.

Fanatisme biasanya tidak berlandaskan pada rasionalitas, sehingga kebanyakan pihak yang fanatik terhadap sesuatu tidak menerima paham yang bertentangan dengan apa yang mereka yakini. Adanya fanatisme dapat menimbulkan perilaku agresi dan orang yang fanatik tersebut kurang memiliki kontrol perilaku yang baik. Sebagai akibatnya kebanyakan dari mereka yang tidak memiliki kontrol akan buta terhadap rasa fanatiknya. Kita bisa menyebutnya sebagai fanatisme buta.

Fanatisme Dan Gangguan Psikologis.

Banyak peneliti dan para psikolog yang menganggap fanatisme berlebihan seperti ini sebagai gangguan psikologis. Mengutip dari laman media indonesia yang mana salah seorang Psikolog bernama Intan Erlita mengatakan sikap fanatisme berlebihan untuk penggemar atau fans untuk idolanya ternyata masuk sebagai gangguan psikologis. Ada beberapa macam gangguan psikologis yang berhubungan dengan rasa suka berlebihan seperti perilaku obsesif kompulsif, Gangguan emosi, konsumerisme berlebihan, bahkan lebih parah lagi depresi hingga kematian. Lalu siapa fans atau penggemar itu? Penggemar tidak hanya dari orang luar, bisa juga mereka adalah keluarga, kekasih, pasangan hingga masyarakat luas.

Baca juga: Fenomena Virtue Signaling. Apa Itu?

Fanatisme yang berlebih juga mampu menghasilkan ekstrimisme yang berujung pada radikalisme dan kekerasan. Mengutip dari laman kompas yang mana pernah memberitakan kasus fans Via Vallen yang menyebabkan kerugian dari pihak sang artis. Perilaku ini biasanya ada karena dorongan emosi yang terlalu besar dan tidak terkontrol sehingga seseorang menjadi buta dan melakukan kekerasan atau perilaku kejahatan. Tidak hanya kekerasan tetapi juga konsumerisme berlebihan menjadi salah satu dampak psikologis dari fanatisme kepada idola. Hal ini juga bisa kita lihat dari bagaimana fans berat dari idol Kpop membeli segala pernak pernik khas idolanya untuk menunjukkan rasa cinta kepada sang artis. Hal yang sama terjadi pada penggemar Saiful Jamil. Euforia atas pembebasan artis idola membuat mereka kehilangan akal sehat sehingga melupakan sang artis lakukan dan melupakan korban pelecehan dari sang artis. Nyatanya euforia fans yang tidak bersamaan dengan logika menimbulkan dampak negatif dan justru semakin menjatuhkan citra sang artis sendiri.

Dalam sebuah jurnal ilmiah berjudul Pengaruh Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Self Instruction Untuk Meningkatkan Pemahamam Bahaya Fanatisme Idol KPop menjelaskan faktor penyebab fanatisme itu, jurnal tersebut yang mengutip tulisan dari Ismail (Prakoso 2008: 20) tentang dua faktor penyebab fanatisme terhadap idola. Faktor pertama adalah adanya antusiasme berlebihan. Antusiasme yang berlebihan membuat seseorang cenderung menggunakan emosi daripada logika. Faktor kedua adalah pendidikan seseorang. Dengan pendidikan yang baik seseorang mampu membedakan baik dan tidak sehingga dapat mengukur perilakunya. Perilaku fanatisme berlebihan perlu mendapat penanganan secara baik dan bijak agar tidak merugikan sesama manusia bahkan individu itu. Penanganan ini entah melalui pendekatan psikologis, konsultasi dengan ahli atau banyak mencari referensi tentang bagaimana mengendalikan perilaku fanatik.

Saiful Jamil, Fans Dan Moralitas?

Pemberitaan di media masa gencar memberitakan dan mempertanyaakan moralitas atas perayaan para fans dari saiful jamil saat bebas dari penjara. Tak hanya itu beberapa warga Indonesia mengirimkan petisi agar Saiful Jamil tak lagi mendapat izin untuk tampil di layar kaca. Sekedar info Saiful Jamil sendiri merupakan pelaku pelecehan seksual dan penyuapan di salah satu Pengadilan Tinggi Jakarta. Perayaan yang dilakukan fansnya seperti memberi karangan bunga dan penjemputan menggunakan mobil mewah selepas keluar dari penjara. Belum lagi pemberitaan pembebasan itu disiarkan oleh stasiun pertelevisian sehingga semakin memperlihatkan euforia yang dianggap berlebihan.

Fans yang begitu antusias, atau orang yang terlalu mencintai dan terlalu fanatik kepada Saiful Jamil akan sulit menilai hal di luar diri sang idolanya. Hal di luar diri contohnya seperti apa yang sudah dilakukan sang artis, korban-korban pelecehan seksual dari sang artis dan yang lainnya. Euforia yang tanpa memandang situasi tentu akan membuat banyak pihak kecewa, hal itu serupa dengan salah kostum ketika menghadiri sebuah acara. Lalu, apakah salah untuk merayakan keluarnya artis dari penjara? Tidak! Tapi lakukan dengan pantas dan tetap terukur.

Bisa mengirimkan bunga, bingkisan, kartu ucapan selamat, atau lebih baik lagi membantu korban dari sang artis untuk segera bangkit. Masih banyak cara lain yang lebih bijak tanpa perlu iring-iringan menggunakan mobil mewah bahkan sampai meliput atau memberitakan secara besar-besaran. Mengapa? Karena mempertimbangkan korban pelecehan dari sang artis yang berusaha bangkit dari traumanya, nilai moral yang berlaku dalam masyarakat dan tentu saja rasa kemanusiaan sesama manusia. Fans dari Saiful jamil sendiri tentu senang sang idola menyelesaikan masa tahanan, tetapi mereka pun perlu tahu batasan dari sebuah euforia penyambutan itu. Apakah kalian salah satu yang memboikot Saiful Jamil atau malah mengaguminya? Apapun itu yuk jadi fans yang baik dan bijak dalam menilai sesuatu.

Source:
kompas.com
mediaindonesia.com
Linta Tartila, Pintani. 2013. Fanatisme Fans Kpop Dalam Blog Netizenbuzz. Jurnal Universitas Airlangga
Rusmaniar, Viky (2020) Pengaruh Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Self Instruction Untuk Meningkatkan Pemahamam Bahaya Fanatisme Idol KPop (Penelitian pada Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 3 Mertoyudan). Universitas Muhammadiyah Magelang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment