Home / Headline / TanyaKenapa

Tanya Kenapa-Wanita Jadi Obyek Seksual?

Senjahari.com - 08/12/2021

Wanita Sebagai Obyek Seksual?

Penulis : Editor

“Apa kamu nggak sayang sama aku?” Ardi tidak menyerah memaksakan kehendaknya pada Gea.

“Aku nggak mau Ardi melakukan ‘itu’. Kita baru tunangan dan belum resmi menikah!” Gea masih enggan mengikuti keinginan Ardi sambil beranjak dari kursinya menuju ruang tamu yang pintunya terbuka.

“Bulan depan ‘kan kita nikah.” Ardi memegang tangan Gea dan mencegahnya berjalan menjauh darinya “Kalau kamu mau melakukan ‘itu’, kamu sepenuhnya milik aku.” Ardi memunjukkan cincin pertunangan mereka yang ia pakai. Gamang. Gea tetap terpaku menatapnya, sorot mata bulat yang indah dan rambut panjang hitam yang tergerai.

pending love cerita ilustrasi pribadi.

Obyektifikasi seksual sudah lama menjadi sorotan dan permasalahan tidak hanya baru-baru ini terjadi. Bahkan masalah ini juga jadi sorotan pada masa plato. Beberapa hari yang lalu kita dikejutkan dengan berita seorang wanita yang meninggal di pusara sang ayah karena kekasihnya melakukan kekerasan seksual secara psikis. Akhirnya wanita tersebut melakukan aborsi sebanyak dua kali, depresi tapi TIDAK mendapat keadilan. Mengapa wanita sih yang banyak mengalami ini?

Gender Dan Obyektifikasi Seksual

Ilustrasi Isu Gender design by canva.com

Obyektifikasi seksual adalah tindakan seseorang yang dengan sengaja atau tidak sengaja memperlakukan orang lain sebagai obyek hasrat seksualnya. Obyek seksual iti sendiri tidak dapat lepas dari apa yang kita sebut pelecehan seksual. Kebanyakan yang menjadi obyek seksual itu adalah wanita dan pelaku pengobyekan yaitu pria. Apa sebenarnya latar belakangnya? Letak permasalahannya adalah stereotip mengenai gender.

Baca juga: Tanya Kenapa-Roket Terbang Secara Tegak Lurus? Penelitian Menjelaskan!

Dari laman britannica, dunia barat pun pernah terjadi protes awal dari stereotip terkait gender ini. Protes tersebut terjadi pada masa kekuasaan Romawi di abad ke-3 SM, saat kaisar Marcus Porsius Cato melarang wanita menggunakan barang mewah dan pelarangan terhadap akses emas karena bisa menjadikannya superior dari pria. Sejak saat itu cukup banyak wanita yang protes atas ketimpangan sosial mereka dan memunculkan gerakan feminisme awal pada abad pertengahan antara abad ke-14 dan ke-15 M. Semakin lama isu gender terkait fenimisme dan maskulinisme ini terus bermunculan dan awal abad 19 dan 20 yang menjadi gelombang pertama pandangan feminisme.

Sejak dulu isu Gender memang dinilai cukup pelik dan memimbulkan berbagai masalah dan kebanyakan terjadi pada wanita. Dalam jurnal berjudul Sexual Objectification of Women: Advances to Theory and Research menjelaskan sebenarnya obyektifikasi ini berasal dari banyak faktor salah satunya adalah pandangan sosiokultur seperti pandangan gender tradisional yang menekankan pada kekuatan pria dan meletakkan wanita di bawah dominasinya. Budaya patriaki memberikan keleluasaan laki-laki dalam memberikan pengakuan pada feminitas wanita yang dilihat dari rias kecantikan, gerak gemulai, dan tutur lembut. Pandangan gender ini pula meletakkan wanita sebagai sosok yang feminim yang identik dengan kecantikan dan laki-laki adalah maskulin yang identik dengan kekuatan.

Wanita (Bukan) Kata Benda!

Dampak pandangan obyek seksual

Dari melekatnya pandangan yang mendiskreditkan wanita tersebut secara tidak langsung baik pria dan wanita menginternalisasi obyektifikasi seksual tersebut dalam diri mereka (Fredrickson and Roberts, 1997). Obyektifikasi tersebut meletakkan atribut kecantikan, lemah lembut, gemulai pada diri wanita dan kekuatan, ketegasan, serta ketangkasan pada pria. Pemahaman seperti itu meletakkan atribut penampilan sebagai yang utama daripada kemampuan dalam melakukan sesuatu. Mengapa wanita selalu jadi sorotan obyek seksual?

Dalam pandangan budaya patriaki dimana menjunjung tinggi kaum adam dan meletakkan wanita di bawahnya membuat budaya ini rentan terhadap ekspoitasi wanita. Wanita pada budaya patriaki diharuskan tunduk pada laki-laki, karena sikap tunduk dan patuh wanita kerap kali membuatnya menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual. Kepatuhan itu menjadikan mereka obyek yang bisa dimiliki dan bukan dihargai. Hal ini sejalan dengan pandangan Immanuel Kant yang dipahami oleh Alan Sobe bahwa baik tubuh maupun tindakan kepatuhan dari seseorang adalah sarana yang berfungsi dan dipakai seseorang untuk kesenangan seksualnya serta dapat dipertukarkan. Serendah itu bukan obyektifikasi!

Dalam beberapa kasus obyektifikasi tidak hanya terjadi dalam hubungan asmara tetapi juga menyentuh ranah budaya, ekonomi, dan sosial. Dalam ranah budaya kita bisa lihat bagaimana raja-raja terdahulu memiliki banyak selir, lalu dalam ranah ekonomi obketifikasi bisa dilihat dari prostitusi wanita dan masalah sosial seperti pencabutan hak-hak wanita atas akses strategis seperti pendidikan. Apa dampak dari obyektifikasi seksual yang terjadi pada wanita itu?

Baca juga: Tanya Kenapa- Hewan Berkaki Tiga Sangat Langka? Ini Sebabnya!

Ya, Aku (Wanita) Benda Yang Bernyawa!

Setiap benda pasti memiliki nilai bahkan untuk SAMPAH sekalipun yang kita anggap KOTOR. Jika benda saja bernilai bagaimana dengan manusia terlepas dia laki-laki atau perempuan ya. Maka manusia pun memiliki nilai dan sayangnya manusia itu Benda yang bernyawa. Semua yang bernyawa pasti punya jiwa bukan. Dampak obyektifikasi seksual tidak hanya merusak jiwa mereka secara emosional saja tapi juga fisik mereka.

Dalam sebuah studi kajian teori obyektifikasi seksual menyatakan bahwa wanita yang menjadi obyek seksual rentan terhadap goncangan emosi dan psikis mereka. Beberapa gangguan psikis yang mungkin terjadi adalah depresi, gangguan makan, dan bisa juga berakibat fatal berupa kematian. Salah satu jurnal yang menyoroti hal itu adalah The Detrimental Effect of Sexual Objectification on Targets’ and Perpetrators’ Sexual Satisfaction: The Mediating Role of Sexual Coercion. Dalam jurnal tersebut menjelaskan bahwa dampak obyektifikasi seksual tidak hanya berdampak pada korban tetapi juga pelakunya. Dalam studi yang melibatkan 138 responden wanita dan 136 responden pria menghasilkan 95% dampak tidak langsung dari kedua belah pihak.

Dampak dari korban seperti yang sudah dijelaskan di atas seperti depresi, gangguan makan dan kurangnya rasa percaya diri terhadap penampilannya. Lalu pada pelaku obyektifikasi dampaknya seperti penurunan kepuasan seksual dan mendorong perilaku abusif baik kepada pasangan atau wanita lain. Bisakah kita membiarkan kemanusiaan itu dibendakan?

Ada manusia yang memanusiakan benda,

Ada juga manusia yang membendakan manusia.

Tapi, adakah benda yang memanusiakan manusia?

By Editor

Source:
Szymanski, D. M., Moffitt, L. B., & Carr, E. R. (2010). Sexual objectification of women: Advances to theory and research 1Ψ7. The Counseling Psychologist, 39(1), 6–38. https://doi.org/10.1177/0011000010378402

Sáez, G., Alonso-Ferres, M., Garrido-Macías, M., Valor-Segura, I., & Expósito, F. (2019). The detrimental effect of sexual objectification on targets’ and perpetrators’ sexual satisfaction: The mediating role of sexual coercion. Frontiers in Psychology, 10.

plato.standford.edu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment

Comment

saya setuju dengan pendapat mengenai wanita menjadi objek itu. Tapi, makin kesini ada beberapa kasus ya enggak sebanyak wanita dimana pria juga menjadi objek itu kak. Salah satunya temen saya pernah menjadi korbannya.

That’s true. Makanya kita tidak bilang semuanya adalah wanita, tapi sebagian besar wanita dan sebagian lagi bisa laki-laki. Bisa jadi juga wanita justru jadi pelaku obyektifikasi itu sendiri. Tetap waspada dan perhatikan mindset. ^^v

Selama ini memang wanita yg dijadikan objek. Ada beberapa hal yg mendukungnya, baik faktor eksternal maupun internal. Utk itu kaum wanita kudu waspada.

Setuju pak.. kudu waspada dan hati-hati..

Sepakat untuk adanya fenomena obyektifikasi seksual pada perempuan..
Tapi menurut saya pribadi, sayangnya saat ini terkadang wanita malah menjadikan dirinya obyek seksualitas secara sukarela dengan adanya fenomena joget2 yang agak vulgar di media sosial seperti tiktok, dll..

Btw, nice post!

Media juga salah satunya yang menambah obyektifikasi itu jadi luas. hehehe.. 😀

Semakin ngeri saat ini, ditambah dengan munculnya berita-berita tentang kasus seperti ini. Tak luput di lingkungan pendidikan, pekerjaan, bahkan dijalanan masih ditemukan seperti itu. Semoga kita semua dilindungi dari orang-orang yangakan berbuat jahat dan selalu didekatkan kepada orang-orang yang baik.

Benar kak, obyektifikasi itu memang kejam. nggak perduli apa pekerjaan, pendidikan, kalau mindsetnya salah ya salah jalan jadinya..

Andri Marza Akhda

Pemikiran pemikiran seperti ini memang harus banyak dituangkan karena bisa membuka cakrawala laki laki memandang wanita. Laki laki harus bisa menghargai wanita

Setuju mas.. 😊

Sedihh yaa, karena memang begitulah wanita diciptakan. Ada satu bunga rampai yang mengatakan bahwa wanita diciptakan dengan keindahan. Itulah kenapa keindahan itu rawaaaan untuk djadikan obyek seksual 😦

Dan sebagai wanita kita pun perlu berhati-hati ya mbak jihan.. 😊

Mesti nih, wanita selalu menjadi obyek. Apalagi kalau masih terbelenggu budaya patriarki. Makanya sekarang banyak muncul feminis yang menyuarakan kesetaraan gender.

Bener mbak dan memang budaya patriaki sudah mendarah daging dan butuh waktu buat mengikis budaya tersebut mbak.. 😊

Efek dari obyektifitas ke perempuan ngeri juga ya bisa sampai mati … bahkan di jalanan sekarang pun msih banyak hal kek gini… lebih kuatkan lagi menjaga diri sendiri untuk wanita dan hindari jalanan yang sepi…

Bener banget mas akbar. Terima kasih.. 😊

Mutia Ramadhani

Wanita bukan objek. Pemapara Mba Senja ini kayaknya udah setara sama mata kuliah kalo di Jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB. Hehehe. Thanks for sharing mba.

Wah, aku malah baru tahu ada jurusan itu mbak. Jadi pengen tahu lebih banyak tentang jurusan itu mbak. Di bahas dong mbk.. 🥰

Bahasan yang sensitif ya. Mohon maaf kalau menurut saya, ini lebih ke oknumnya sih. Entah laki-laki atau perempuan bisa saja jadi objek ataupun pelaku. Tapi memang benar, paling banyak saya dengar ini terjadi kepada wanita yang menjadi objek. Bagaimanapun itu semoga keadaan ini tidak semakin meluas dan bisa terkendali khususnya pada lingkup kehidupan kita.

Bener mas, korban nggak hanya sebatas wanita dan tergantung mindset si oknum juga. Semoga kita bisa menjaga mindset dan diri kita ya.. 😊

Baca ini saya sambil perlahan untuk dapat insight-nya. Dan yup, banyak banget belajar dari Kak Dinda tentang wanita, betapa dahsyat efek dari objektifikasi seksual pada wanita, baik pada fisiknya maupun pada sisi emsionalnya

Iya kak yonan, dampaknya memang sangat luas bahkan sampai ke hubungan kekerabatan juga. 🥲

izin bookmark artikelnya mbak, menarik untuk dijadikan bahan diskusi tentang feminisme ini.

Boleh kak.. Semoga membantu.. 🙂

Bagus sekali ulasannya, deep but light to read. Mungkin bisa dikurangi typo-nya supaya lebih nyaman dibaca.😁

Menyoal objektifikasi perempuan, eh wanita ding, faktor budaya tentu memiliki peran yang sangat besar.

Bagaimana tidak, sesuatu yang dilakukan berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan dan kewajaran, menjadikan objektifikasi wanita menjadi sebuah kewajaran.

Salah satu cara untuk mengubah budaya seperti ini ya melalui pendidikan dan edukasi bahwa wanita bukanlah objek. Di dalam keyakinan saya sendiri, wanita memiliki kedudukan yang amat mulia dan tugas pria adalah memuliakan mereka, bukan sebaliknya.

Kurang lebih seperti itu sih.

Hehehe.. makasih mas prim masukannya. Dan yes, pria dan wanita memiliki kedudukan yang sama. Yang membedakan saya rasa cuma bersifat bioligis. 😁

Aku terhenyak dengan cerita diparagraf pertama nih..
Sepertinya bagus kalau mau dijadikan cerpen atau novel..hihii,,

Hihi, begitu kak. Bisa nih klo berkembang. Terima kasih kak.. 🥰

Tayangan televisi selalu menjadikan wanita sebagai objek, dan itu jadi tontonan sehari-hari. Sedih

Bener kak, itu salah satu bentuk obyektifikasi sendiri. 🥲

Phai Yunita S Wijaya

Wanita memang ((kerap)) dijadikan objek kekerasan sexual. Duh miris aku baca berita kasus di Jawa Timur itu, ga kebayang bagaimana stressnya si mahasiswi dengan tindakan oknum itu. Mari kita doakan semoga dunia lebih ramah terhadap perempuan.

Setuju mbak e.. aku g kebayang gimana bahagianya dia kalau sampai pakai baju wisuda ya. tapi kenyataannya justru sebaliknya.. 🥲

Mohammad Rizal Abdan Kamaludin

Semakin banyak orang yang mulai sadar akan hal ini, setidaknya mereka harus memikirkan siapa yang benar dan salah, tak selalu semua salah wanita yang dijadikan malah objek

Dalam ilmu sosial benar dan salah terkadang jadi bias kak. Jadi sulit mengatakan benar dan salah.. tapi saya sendiri meyakini tidak ada manusia yang berhak dijadikan “obyek” seksualitas.. 🥲

34 Responses