Home / Kamar

Berdamai Dengan Mental Dan Mata Saat Pandemi Bersama Asus Vivobook Ultra 15 Oled.

Senjahari.com - 13/12/2021

Kesehatan Mental dan Asus

Penulis : Dinda Pranata

Depresi bisa mempengaruhi banyak orang-para jutawan, orang-orang berambut indah, orang dengan kehidupan bahagia, orang yang baru saja naik jabatan. Bahkan, orang yang membanjiri unggahan status penuh bahagia. Kelihatannya mereka tidak punya alasan untuk bersedih. Depresi itu misterius, bahkan pada penderitanya.

Matt Haig

Pertengahan tahun 2020 menjadi tahun paling menantang dalam kehidupanku. Pertengkaran, rengekan anak, pekerjaan suami yang berdampak dan lainnya. Dampak pandemi tak hanya untuk ekonomin tapi juga pemenuhan kebutuhan emosi. Bahkan terbesit pikiran andaikan aku tidak pernah ada. Bagaimana aku mengatasinya hingga bertahan sampai sekarang?

Emotional Burnout Seorang Ibu!

Dari pagi sampai malam, Suami bekerja di rumah karena masifnya virus corona waktu itu. Awal tahun 2020 Vaksin belum masuk secara merata di Indonesia sehingga banyak kantor yang menggunakan kebijakan Work From Home. Tidak ada dinas luar yang menambah pemasukan sehingga kami sebisa mungkin menghemat pengeluaran. Aku sendiri hampir jarang menulis di tahun itu, karena kesibukan di rumah yang menyita tenaga sehingga menulis tak lagi jadi prioritas. Frustasi? Tentu saja. Selama satu tahun kami benar-benar di rumah dan di dalam kota. Apa yang terjadi?

Suatu hari aku seperti kehilangan akal. Lupa meletakkan barang, Makanan yang aku masak menghitam bak berjemur di pantai, dan entah kenapa aku tidak bisa menghadapi rengekan anak yang sudah menjadi makanan sehari-hari di rumah. Aku lebih banyak melamun tapi aku tidak tahu apa yang aku lamunkan. Aku tanpa sadar membentak anakku sendiri. Apa yang aku rasakan? Sedih tapi juga lelah. Mendengar apa yang aku lakukan suamiku marah dan berkata “Kamu manusia apa bukan? Anak sekecil ini bisa-bisanya kamu bentak!”

Aku menatap ekspresinya, suaranya tidak lantang, tapi wajahnya berkerut. Ya, aku tahu ia pun memendam emosi. Tapi kenapa aku? Ada rasa sesak yang terasa bersama dengan jantung yang berdebar kencang. Dalam pikiranku saat itu bagaimana seandainya aku mati! “Aku lelah, tidak bisa kemana-mana, semua akses tempat wisata dan taman ditutup selama pandemi. Aku jenuh hanya bisa berjalan di depan rumah, bahkan mengobrol denganmu saja sulit dan aku tidak punya penyaluran emosi. Apa yang bisa aku lakukan?” Katu baper sambil menangis. Suamiku pun hanya terdiam sambil menggendong anakku yang berusia 3 tahun.

Baca juga: Ketika Dewasa Ternyata Kita Tidak Benar-Benar Tahu Segalanya. Buku Ini Membahasnya!

Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, akhirnya aku menghubungi psikolog sebuah rumah sakit. Setelah berdebat panjang dengan suami yang ngotot merasa aku baik-baik saja dan sekedar baper. Akhirnya kami setuju pergi ke layanan rumah sakit ibu dan anak yang menyediakan konseling kesehatan mental. Di sanalah aku dan suami tahu bahwa aku sedang mengalami emotional burnout yang bisa mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Tak salah-salah jika terus berlanjut ia menyebabkan depresi dan kematian. Berdasarkan pada databox di pertengahan tahun 2021 saja penderita gangguan mental mengalami kenaikan selama pandemi diantaranya sebanyak 67% menderita depresi, 68% gangguan kecemasan dan 77% mengalami trauma psikis.

Keluarlah Dari Sarang Tapi Jangan Lupakan Saranghaeyo

Perangkat Asus
Perangkat Asus untuk kepenulisan

Emotional burnout merupakan kondisi dimana kita merasakan kelelahan psikologis dan diikuti oleh kelelahan fisik yang berlebih, emosi tidak stabil dan kemampuan kognitif yang berkurang. Itu semua terjadi karena kita menumpuk beban seorang diri dan akhirnya terakumulasi. Ini bukan seperti menabung uang ya! Yang mana kalau disimpan bisa tambah kaya, yang ada emosi dan beban jika disimpan bisa seperti jerawat kalau meletus! Bisa sakit dan menyakiti orang lain juga. Setiap hampir merasakan gejala emosional burnout Apa yang perlu aku lakukan saat itu?

Beristirahat, melakukan hal yang disukai atau sekedar olahraga. Sejenak kami lupa karena desakan ekonomi saat pandemi tapi kemudian kami belajar mengerti ada sisi lain manusia yang perlu dipahami yaitu emosi. Tuntutan pekerjaan ibu rumah tangga kadang menyebabkan ibu kurang memperhatikan kondisinya sendiri. Aku pun akhirnya keluar dari sarang tanpa melupakan saranghaeyo-ku kepada keluarga. Lalu bagaimana aku keluar dari emotional burnout itu?

Menulis. Karena itu adalah terapi dan proses dimana aku bertemu inti diri. Di rumah aku memiliki satu laptop bersama yaitu Asus Vivobook 14. Kami bergantian menggunakannya. Saat pagi suami akan menggunakan laptop itu untuk bekerja dan malam hari setelah anak atau suami tidur, aku bergantian menggunakannya. Bahkan hingga sekarang aku masih menggunakan laptop bersama itu. Nggak mudah memang, tapi menghibur dan kondisi emosiku cukup stabil dengan cara itu. Dari laptop bersama itu, aku pun mulai menulis blog kembali dan melakukan rebranding pada websiteku yang sebelumnya, menjadi senja hari.

Setelah melakukan proses rebranding, merawat blog agar tetap hidup, dan menulis dengan sepenuh hati agar suara dalam kalimatnya menjadi bernyawa. Ternyata apa yang aku lakukan justru menghasilkan uang yang bisa membantu keuangan keluarga kami. Berawal dari tawaran kecil di platform pencari kerja, hingga kerja sama dengan perusahaan asing milik orang Jepang di Singapura sebagai content reseacher. It was so Amazing. Apa tantangan cuma sampai disana saja? Nope. Justru baru dimulai kisana!

Baca juga: Stigma Kusta: Cermin Buta dalam Nista dan Kusta

Suatu ketika ada tawaran mengerjakan proyek klien yang harus selesai sore hari, aku tidak bisa menggunakan laptop Asus Vivobook itu karena pagi-sore hari suamiku membawanya ke kantor. Aku pun mulai berfikir kalau beralasan hanya menggunakan satu laptop aku tidak bisa berkarya bagaimana aku bisa maju? Lantas pikiran itu muncul “Jangan hanya fokus pada satu cara tapi adaptif lah dengan cara lain.” Aku pun melakukan manuver cara kerja dengan menggunakan HP Asus Zenfone Max Pro 1 yang aku miliki. Mudah? Perubahan itu tidak mudah, tapi HP Asus benar-benar membantuku saat itu. Tapi kenapa aku memilih Asus waktu itu? Aku tipe orang yang sangat pemilih dalam gadget, banyak aspek yang aku pertimbangkan baik dari sisi kesehatan mental sampai mata.

Pilihan Gadget Mempengaruhi Kesehatan Mental Dan Mata.

Asus Vivobook Ultra 15 OLED
Asus Vivobook Ultra 15 by asus.com

Aku tipe orang yang sadar sekali tentang kesehatan mental dan mata. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang dimana aku dan suami (termasuk semua orang) dituntut untuk ada di depan laptop kurang lebih 8 jam. Di toko-toko kini sedang tren layar OLED di banyak produk laptop, salah satunya adalah ASUS. Aku seorang penulis dan juga blogger yang juga dituntut berlama-lama di depan laptop. Aku pun sudah menggunakan perangkat merek Asus sejak 2014 dan percaya pada teknologi yang dikeluarkan. Laptop modern ASUS OLED sudah diperkuat oleh prosesor Intel Core generasi ke-11 terbaru (Tiger Lake) yang menghadirkan keseimbangan performa dan responsivitas dalam platform berdaya rendah yang dibuat berdasarkan teknologi proses 10nm generasi ketiga. Tapi selain itu ada tiga hal yang aku lihat dari sudut pandang sebagai penulis kenapa memilih Asus Vivobook Ultra 15 ini:

  1. Penulis Itu Seniman Kata Dan Seniman Berhubungan Dengan Cara Menuangkan.

Sastra itu berhubungan dengan imajinasi dan daya kreasi dan semua yang berasal dari imajinasi adalah bentuk seni. Penulis memiliki kemampuan untuk mengubah imajinasi menjadi kata yang bisa dirasa dan tentu saja itu berhubungan dengan isi kepala dan isi kemampuannya. Apa hubunganya dengan Asus Vivobook Ultra 15 Oled? Bagiku Asus Vivobook Ultra 15 Oled memiliki isi atau fitur yang dibutuhkan penulis atau pekerja seni lainnya. Bagi penulis ia membutuhkan proforma yang cepat dan tenang. Siapa yang mau saat menulis klimaks cerita, novel atau riset tulisan tiba-tiba laptop hang atau lelet? Bukannya bikin senang malah bikin inspirasi ambyar. Ya sesuai dengan lirik lagu Bukan Laptop Biasa karya Fiersa Besari “Tinggalkanlah segala resah, beralihlah pada ASUS OLED.

VivoBook Ultra 15 OLED (K513) menjadi salah satu laptop dengan kelengkapan ASUS Intelligent Performance Technology (AIPT) yang artinya laptop itu memiliki peningkatan performa 40% daripada produk laptop yang memiliki spesifikasi sejenis. Selain itu teknologi AIPT menjadikan laptop ini hemat daya dan beterai tahan lama dipakai seharian. Pada Asus Vivobook Ultra 15 Oled ini ada mode sistem pendinginan antara lain Whisper Mode yang membuat suara kipas di dalam laptop pelan saat menjalankan proses ringan. Lalu ada Standard Mode yang menghasilkan pendinginan dinamis saat menjalankan proses sedang seperti menonton film. Mode ketiga yaitu Performance Mode yang membuat pendinginan ekstra saat laptop menjalankan proses berat seperti rendering video atau animasi.

Sentuhan layar OLED yang jernih dan terang dengan reduksi sinar biru juga menjadi nilai plus bagi laptop ini. Pasalnya layar OLED di laptop ini memiliki kontras tinggi tapi tetap aman di mata dengan tingkat reduksi 70% blue light dibandingkan dengan layar yang menggunakan LCD. Jadi penulis bisa menuangkan tulisan secara sehat baik secara emosi dan mata.

Baca juga: Matt Haig dan Karyanya yang Mengajarkanmu Banyak Hal Tentang Depresi

Writting Competition ASUS OLED.
  1. Penulis Itu Seorang Pencipta yang Berhubungan Dengan Bentuk.

Penulis juga seorang pencipta artinya ia menggambarkan tokoh dan karakter secara hidup tak hanya abstraksi. Ia menggambarkan bagaimana bentuk benda, fisik seseorang dan menggambarkan situasi emosi secara riil. Apa hubungannya dengan bentuk Asus Oled? Asus Oled ini memiliki bentuk body yang ringan, dan warna minimalis yang elegan. Siapa mau membawa laptop berat kemana-mana? Sebelum mengetik pundak sudah sakit atau pegal dan akhirnya gagal nulis.

Berat Asus Oled untuk Vivobook Ultra 15 Oled sendiri ada dikisaran 1,7 Kg. Designnya elegan dengan bahan campuran logam dan bahan plastik polycarbonat yang memunculkan kesan kokoh dan cantik. Selain cantik dan kuat, Asus Vivobook Ultra 15 OLED ini juga sudah menggunakan sidik jari yang memudahkan penulis, pekerja seni atau siapaun pemiliknya masuk saat lupa ‘kata kunci’. Apalagi penulis yang kadang-kadang kebelet nulis saat menemukan ide tapi tidak bisa masuk laptop karena lupa password. Akhirnya, idenya ambyar lagi. Jadi penulis tidak bisa menganggap bentuk laptop itu secara sembarangan, inilah alasan kedua aku mempertimbangkan pemilihan laptop Asus Oled Vivobook Ultra 15 sebagai teman dalam menulis.

  1. Penulis Itu Seorang Pengagum yang Tidak Main-Main Dengan Nilai .

Penulis itu pengagum suatu hal entah karya sastra atau pengamat situasi. Mereka sangat menghargai apa itu nilai benda atau situasi sehingga karya mereka tidak bisa dianggap main-main. See The Different memperkuat penulis dalam menilai sebuah karya. Apa hubungannya juga dengan Asus Vivobook Ultra 15 Oled ini?

Asus vivobook ultra 15 Oled ini sudah tersedia di Indonesia dengan harga yang mudah dijangkau dari produk lain. Harga Asus di Indonesia Rp 8,599,000 dan itu sudah termasuk windows 10 Home atau windows student seumur hidup. Penulis dan pengguna yang biasanya menghabiskan uang ratusan sampai satu jutaan untuk windows asli kini bisa lebih hemat dengan windows asli yang sudah tersedia di laptop ini. Siapa yang mau waktu mau nulis tiba-tiba windows berubah menjadi hitam karena windows yang dipakai bajakan? Bukannya bikin lancar malah kesel ‘kan.

Gadget nyatanya tidak hanya sebagai media yang membantu tapi juga bisa jadi kutu yang merugikan. Bijak memilih gadget menjadikan kita hidup secara sehat mental dan mata. Dan aku siap menjaga kesehatan mental dan mata dengan gadget yang aku pilih! Bagaimana denganmu?

Baca juga: Stay Positif With Marcus Aurelius - Damai Di Segala Hubungan

Penulis itu tidak hanya tahu kata,

Tapi mengupayakan mengubahnya agar bernyawa.

Gadget itu tak hanya perangkat keras semata, Tapi teman dalam menghasilkan karya.

By D.I.N.D.A

Source:
hallosehat.com
asus.com
databoks.katadata.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment