Home / Jendela

Pria Dan Wanita Punya Sisi Maskulin Dan Feminim. Ini Penjelasannya!

Senjahari.com - 22/12/2021

Identitas Gender

Penulis : Dinda Pranata

“Ded, Loe maco dikit napa? Masa nada bicara lembut kaya’ cewek!” Gilang kadang begitu sebal dengan sahabatnya ini.

“Ada yang salah dengan suaraku? Memang kalau jadi cowok ngomong perlu tinggi gitu.” Dedi masih dengan tenangnya menghadapi ocehan Gilang.

“Capek gue ngomong ama loe!” Gilang pun cabut dari tempat duduknya yang hanya dilihat dengan tatapan geli Dedi.

Pending Love (Cerita Ilustrasi Pribadi)

Sering sekali bukan mendengar suasana yang akrab seperti cerita di atas. Cerita itu bisa saja terjadi baik pada laki-laki atau perempuan. Berdasarkan stigma sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat kita, laki-laki selalu digambarkan sebagai sosok yang gagah dan itu artinya melekatkan unsur maskulin. Lalu bagi wanita digambarkan dengan lembut dan itu artinya melekatkan unsur feminim. Tapi benarkan unsur maskulin dan feminim ini benar-benar terbatas pada jenis kelamin ataukah justru anggapan kita yang keliru?

Aku Jantan atau Betina? Bagaimana Jika Aku Keduanya?

Gender kerap kali disalah artikan sebagai jenis kelamin. Padahal dua hal ini sangat berbeda. Mudahnya jenis kelamin berhubungan dengan sifat biologis pria dan wanita. Namun berbeda dengan gender yang mana merupakan peran dalam masyarakat dan perilaku yang tertanam melalui proses sosialisasi. Masyarakat kerap kali menggunakan pembeda jenis kelamin dan gender ini untuk menuntut kepantasan berperilaku serta hak dan tanggung jawab sosial. Pembeda gender yang tercampur aduk dengan jenis kelamin inilah tak jarang menyebabkan masalah-masalah sosial seperti diskriminasi dan lainnya.

Baca juga: Tanya Kenapa-Warna Pink Identik dengan Perempuan?

Penyebab munculnya masalah gender ini, salah satunya adalah identitas gender. Identitas gender ini tentang bagaimana seseorang mengenali diri sendiri yang di dalamnya mengacu pada kondisi psikologis seseorang sebagai laki-laki atau perempuan. Identitas gender pun mengatur bagaimana seseorang seharusnya berperilaku, berpakaian, berbicara atau mengekspresikan diri sesuai dengan gendernya. Baik laki-laki atau perempuan atau siapa pun itu dapat memenuhi tuntutan budaya dalam membangun citra maskulin atau feminim dengan proses internalisasi dari interaksi sosial di masyarakat. Lalu bagaimana jika pria dan wanita memiliki dua sisi baik maskulin dan feminim, maka apakah mereka tidak normal?

Dual (is) Me Manusia

Dualisme sifat manusia
Dualisme Sifat Manusia

Topik sebelumnya menyoal tentang obyektifikasi seksual yang di dalamnya membahas tentang gender yang mana korban tidak selalu dari wanita, tetapi juga dari kalangan kaum adam. Dalam obyektifikasi pun ada peran media dalam melakukan penyebaran obyek seksual ini meluas. Hal ini pun Kita sering melihat bagaimana peranan media dalam memberikan citra penampilan pria dalam bersolek atau berhias, seolah atribut cantik dan berhias yang lekat dengan feminim menjadi kabur. Begitupun sebaliknya. Pada dasarnya baik pria dan wanita, masing-masing memiliki sifat feminim dan maskulin dalam dirinya.

Dualisme ini (feminim dan maskulin) memang normal terjadi. Penelitian yang terbit dalam laman nature mengamini dualisme sifat ini. Mengaitkan identitas seperti jenis kelamin seseorang dengan atribut seperti penampilan, sifat atau karakteristik tertentu. Dalam penjelasan jurnal tersebut feminim dan maskulin berkaitan dengan aspek psikologis seseorang yang bisa berubah secara flukfuatif.  Jurnal yang keluar pada bulan April  2021 tersebut menyoroti bahwa lingkungan sosial lebih banyak memberikan pengaruh pada pelekatan identitas atribut maskulin dan feminim ini sehingga tak jarang menimbulkan masalah internalisasi pada individu.

Banyak para ahli psikoanalisis menyatakan pria dan wanita bisa memiliki kedua sifat feminim dan maskulin ini. Salah satunya adalah Carl Jung dalam bukunya Maps of soul bahwa baik pria maupun wanita sama-sama memiliki sisi maskulin dan feminin. Namun, kualitas dari sisi tersebut terdistribusi secara berbeda. Seperti misal  perempuan bisa relasional dan reseptif dalam ego dan persona mereka, dan mereka di lain sisi mereka bisa keras dan tegas seperti laki-laki. Sedangkan laki-laki yang tangguh dan agresif bisa juga memiliki sisi lembut dan relasional. Apa dampak yang mungkin terjadi dari adanya identitas gender ini?

Identitas Gender Yang Dilematis

Dilema Identitas Gender
Dilema Identitas Gender

Identitas gender bukan hanya melahirkan diskriminasi tetapi juga pola asuh yang keliru, penyakit psikologis dan kekerasan seksual. Pola asuh yang salah bisa berdampak pada cara pandang anak-anak terhadap gender ini sendiri. Dalam jurnal Patterns of Gender Development pun menjelaskan bahwa pola asuh dengan penerapan identitas gender bisa mengakibatkan anak mengembangkan stereotip gender tertentu dan memunculkan pemikiran deskriminatif apabila seseorang berperilaku di luar stereotip tersebut. Contoh mudahnya adalah pemilihan permainan, jika anak laki-laki memainkan boneka maka orang akan mengatakan ia banci dan begitu pula yang terjadi pada anak perempuan jika memainkan mobil-mobilan.

Baca juga: Perubahan Iklim dan Dampak Pada Perempuan. Memangnya Ada?

Identitas gender ini pula akan menghasilkan ketidakpuasan psikologis atau Gender dysphoria. Orang yang mengalami kondisi ini cenderung tidak puas dengan jenis kelamin alami mereka. Hal ini termasuk peran gender yang terkait dengan jenis kelamin tersebut. Beberapa orang yang mengalami ketidakpuasan ini bahkan rela mengubah kelaminnya (transgender). Ini bukan bentuk penyakit mental, tetapi orang yang mengalami ketidakpuasan gender ini bisa mengalami penyakit mental seperti depresi bahkan diskriminasi.

Source:
Martin, Carol Lynn. (2010). PattMartin, C. L., & Ruble, D. N. (2010). Patterns of gender development. Annual Review of Psychology, 61(1), 353–381. https://doi.org/10.1146/annurev.psych.093008.100511
Eisenchlas, Susana A,.(2013). Gender Roles and Expectations: Any Changes Online?. Sagepub Journal: 1-11
nature.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

aku sekarang lagi baca buku yang ada kaitannya sama identitas gender kak. Judulnya “ada serigala betina dalam diri setiap perempuan”. Pembahasan pertamanya mirip banget sama ini kalau wanita dan laki-laki itu punya sifat maskulin dan feminim sejak lahir

Wah, bisa nih kak kasih ulasannya nanti tentang bukunya. Sepertinya menarik.. 🤗😊

Jadi tambah ilmu tentang gender ini, percayalah lelaki yang kelihatan seperti preman, galak, akan takut dengan istrinya xixixi🤭

Hehehe, kak akabr gimanih? Galak tapi takut istri? Apa melow seperti hello kitty, baik hati dan punya istri baik hati? Hehehe.. semoga yang kedua ya kak.. Amin..
Nggak semua lelaki itu jahat kok, banyak juga dari mereka baik hati.. 😊🤗

Iya nih ih, cow ngga boleh mainan boneka, cew ngga boleh main mobil2an. Padahal banyak pembalap wanita. Bahkan cheff kebanyakan juga cow, terus cow ngga boleh masak-masakan gitu? Suka sebel ih!

Puk!puk! Peluk jauh buat mbak lintang.. Sabar mbak.. hehehe..
Pemahaman yang keliru memang cenderung menghasilkan hasil yang keliru juga. Semoga masalah gender ini semakin baik, dan membawa kebaikan buat generasi mendatang ya kak.. 🤗😊

Sebenarnya masalah gender sudah cukup terang, menurut sy yah. Cuma memang terkadang manusia mengotak-ngotakkannya dengan segala larangan yang sebenarnya bukan variabel tetap dalam menentukan gender. So yah semoga aja permasalahan inj bisa lebih sederhana dan mudah diselesaikan

Bener kak.. masalahnya dari oknum yang masih berpikir gender itu baik, padahal semakin ke depan masalah gender jadi krusial ya.. 😊🥲

Phai Yunita S Wijaya

ah ya,aku percaya sih kalau antara pria dan wanita itu memiliki sifat feminim dan maskulin sesuai dengan porsinya masing-masing. Namun, lingkungan juga turut berperan penting dalam pendistribusian porsi ini.

Betulkah.. kadang pendustribusiannya jadi bias. Tidak hanya dari faktor lingkungan, tapi juga faktor media. Jadi kita sendiri sebagai orang tua galaunya nggak ketulungan.. 😊

Mohammad Rizal Abdan Kamaludin

jadi orang yang perilakunya tak sesuai gender itu ada permasalahan psikologis ya? solusi yang tepat apa ya?

Solusinya sementara tidak mengenalkan konsep gender ke anak-anak. Tapi lebih menekankah pengenalan sisi biologis bahwa mereka yang berbeda. Sejauh yang saya dapat, itu pun masih belum pasti dan masih sekedar teori yang perlu dikaji.. Semoga menjawab ya kak.. 😊

Betul yang paling utama, apapun keadaannya, tetap pola asuh yang harus benar-benar diterapkan agar anak-anak memiliki karakter yang sesuai dengan kepribadainnya. Kalau pola asuh ini tidak diterapkan sejak dini, kasihan anak-anak jika mereka harus berada disituasi yang salah karena identitas mereka yang menjadi mahluk astral.. cewek bukan, cowok bukan… 😛

Wah, kakak bisa saja. Makhluk astral di antara dua dunia begitu ya.. hehehe.. 😊

Anggita R. K. Wardani

Hal ini sedang aku terapkan ke anakku cowok. Selama ini aku bebaskan dia mau main apa sambil di sounding. Dia suka boneka binatang, ya aku kasih, toh itu untuk mengenalkan dia binatang juga, bukan untuk sounding gender. Namun, memang sih, kadang neneknya bilang, “kok cowok mainnya boneka atau panci-panci sama masak-masakan yang ada di rumah.”
Aku jelaskan saja pake contoh seperti chef Arnold cowok juga mainnya masak-masakan dan dia sukses dengan profesi itu.

Betul kak.. Anak cowok boleh kok main boneka dan anak cewek juga boleh kok main mobil-mobilan. Kadang memang perlu kesabaran meyakinkan mertua ya mbak.. 😊
Tetep semangat..😊👍

16 Responses