Home / Fiksi / Fiksi / For(give)

Bab 2: Uang Atau Passion?

Senjahari.com - 25/12/2021

Bab 2: Uang Atau Passion?

Penulis : Dinda Pranata

“Every great dream begins with a dreamer. Always remember, you have within you the strength, the patience, and the passion to reach for the stars to change the world.”-Harriet Tubman

6 Tahun Lalu,

Hujan di kota Mojokerto membawa kesejukan tersendiri di kota industri yang begitu panas. Dalam ruang loker tempat Valeria sedang duduk menikmati secangkir capucino hangatnya sambil memandangi hujan yang begitu deras dari jendela. Dalam kepalanya adegan demi adegan dalam bab novel yang belum sempat ia selesaikan terus mendesak untuk segera di keluarkan, namun ketika lamunan itu memutarkan filmnya, panggilan dari ponselnya menghentikan adegan itu.

“Vareria-san, bisa datang ke ruangan rapat sekarang?” Suara Okamoto-san Kepala Devisi bagian supply chain kantornya,

“Baik saya akan kesana.” Jawabnya dalam bahasa Jepang yang fasih dan ia lalu menutup sambungan telepon. Buru-buru ia meletakkan segelas capucinonya yang baru setengah gelas ia minum. Selama bekerja di perusahaan San Saitama, ia hampir setiap hari lembur terutama ketika menjelang akhir libur natal dan tahun baru. Terkadang hari minggu ia harus masuk ke kantor untuk mengurus pemasukan barang impor dan dokumen bea cukai, ia kadang tidak memiliki waktu untuk melakukan hobinya yaitu menulis. Dalam setahun ini sering kali pikiran untuk berhenti kerja terus bergema di kepalanya, namun ia masih belum menemukan alasan masuk akal untuk berhenti.

Baca juga: When We Adult Is Not Means We Know Everything. This Book Explained!

Ia kemudian masuk ke ruang kerja dan memasuki ruangan rapat yang letaknya berada di antara ruang presiden direktur dan wakil presiden di ruang kerja besar itu. Ruangan kerjanya adalah ruangan bersama yang mana dalam satu ruangan terdapat empat devisi bekerja bersama. Ruangan itu terlihat sangat tenang dan sepi, sehingga terkadang membuatnya bosan.

Ketika masuk, kepala devisinya sudah berada di sebelah presiden direktur dan mau tidak mau ia mengambil kursi di sebelah kepala devisinya Mr. Okamoto. Dalam ruangan tersebut juga terdapat Mr. Sumitomo bagian Quality Control yang memiliki kepala botak dan berkaca mata, asisten QC Aina yang merupakan orang Indonesia, serta Mr. Yamamoto kepala produksi dengan asistennya Helen yang sangat fasih berbahasa Jepang namun juga pandai di bidang kimia.

“Kau tahu ada masalah besar kali ini.” Bisik Mr. Okamoto.

“Benarkah?” Valeria nampak terkejut karena memang tidak biasanya mereka akan rapat dengan tiga devisi bersama dengan asistennya.

“Kita mulai saja rapatnya.” Presiden Direktur Sun Saitama Mr. Toyama membuka agenda rapat. Mr. Toyama bukan orang yang suka bertele-tele dan lebih suka jawaban yang pasti. “Valeria-san apakah kamu sudah memasukkan laporan barang impor per tanggal satu ini?”

Baca juga: Ketika Dewasa Ternyata Kita Tidak Benar-Benar Tahu Segalanya. Buku Ini Membahasnya!

“Sudah, laporannya sudah bisa dilihat di sistem.’

“Hari ini Yamamoto-san mencoba menggunakan bahan baku tapi di sistem kuantitinya masih nol. Bagaimana bisa?” Suara Mr. Toyama mulai meninggi. Valeria pun terkejut dengan apa yang dialami oleh Mr.Yamamoto.

“Benarkah, coba saya cek kembali.” Valeria kemudian keluar ruangan rapat menuju mejanya untuk mengambil laptopnya. Rekan kerjanya Aira nampak melihatnya dengan tatapan bertanya-tanya namun Valeria hanya menatapnya dengan tatapan dan gelengan kepala. Ia kemudian berjalan setengah berlari menuju ruangan rapat sambil membawa laptopnya. Ia kemudian menancapkan kabel LCD agar yang hadir rapat bisa melihat laporan secara langsung.

“Coba kamu lihat pemasukan per tanggal satu pada bulan ini!” Mr. Toyama memerintahkan Valeria mengakses sistem pemasukan barang, setelah memasukkan data tanggal keluarlah jenis barang yang masuk beserta kuantitasnya. Mr. Yamamoto kemudian memeriksa data bahan baku produksinya dan menemukan data yang diinput sudah sesuai dengan permintaan.

“Valeria-san, pagi ini saya ingin menggunakan bahan baku Calcium Carbonate, tetapi status yang muncul bahwa stock bahan baku kosong. Bukankah bahan baku itu baru masuk 10 ton minggu lalu?” Valeria kemudian mencoba menelusuri masalah bahan baku tersebut. Ia sendiri heran mengapa dalam satu minggu itu 10 ton sudah habis. Setelah membuka software sistem di laptopnya, ia tercengang dengan temuan yang diperolehnya. Ia melayangkan pandangan kepada seluruh orang yang ada saat itu.

“Apa ada yang salah?” Tanya Presiden Direkturnya dengan nada yang tajam. Valerian kemudian menghela nafas panjang.

“Saya menemukan pergerakan bahan baku 10 ton ini di produksi. Coba anda semua lihat pada tabel produksi untuk produk HB001. Disini pihak produksi sudah menggunakan Calcium Carbonate dan kalau tidak salah bahan yang seharusnya terpakai pada produk itu adalah Calcium Phospate.” Mendengar penjelasan dari Valeria Presiden Direkturnya memukul meja. Di ruangan itu ia bisa melihat manager produksi nampak ketakutan beserta dengan Asistennya.

“APA SAJA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI!” Bentak Presiden Direkturnya. “Produksi HB001 baru saja kemarin di ekspor. Apa kalian pikir ini lelucon!” Presiden direkturnya ini memang dikenal sebagai orang yang detail dan senang mengatur segala hal. “Valeria-san bisa kau lacak apakah kontainer untuk produksi HB001 ini sudah berlabuh atau belum?”

“Apakah anda ingin membatalkan eksor ini untuk produk ini?” Tanyanya kemudian.

“Jika bisa, aku ingin membatalkannya. Tolong kamu koordinasi dengan tim ekspor ya.” Pinta presdirnya kepada Valeria. “Kalian berdua ikut aku ke bagian produksi. Rapat selesai.” Mr. Toyama kemudian menggenakan topi keselamatan dan masker untuk ke ruangan produksi yang mereka sebut sebagai genba. Valeria kemudian menelepon bagian ekspedisi pihak ketiganya untuk menanyakan status barangnya. Untungnya barang itu masih ada di pelabuhan dan belum berlayar sehingga ia bersama dengan department ekspor melakukan penarikan barang produksinya walau mereka rugi ratusan juta rupiah.

***

Seperti biasa saat istirahat Valeria menghabiskan waktunya di ruangan loker, ia jarang menikmati makan di kantin kantornya dan lebih banyak membawa makanan dari kantin ke lokernya. Ia sangat lelah berada dalam keramaian dan kantin yang dipenuhi oleh pria-pria produksi. Selain karena kantin yang ramai, aroma di sana juga campur aduk antara keringat, bau parfum hingga sabun yang membuatnya sedikit kurang nyaman. Di ruangan loker wanita, ia biasa duduk sambil membuka laptop mininya untuk menlanjutkan novel yang sedang ia kerjakan. Ia duduk di kursi yang berhadapan dengan jendela besar sambil menikmati hujan, sup hangat dan segelas capucino hangatnya. Walau ruangan itu tidaklah terlalu besar namun cukup nyaman saat musim hujan turun karena di ruangan itu tidak terlalu ramai dan terdapat kursi sofa yang di sudur ruangan dan berhadapan juga dengan jendela yang besar.

Saat ia hendak mengetikkan kata pada layar laptopnya, selama beberapa detik ia terpaku. Kepalanya kosong dan tidak tahu mau melanjutkan ceritanya seperti apa. Ia kemudian nendesah “andai aku bisa leluasa mengerjakanmu.” Katanya pada laptopnya sendiri. Ia mencoba menata kepalanya dan membaca kembali cerita yang sebelumnya agar ia bisa mendapatkan clue apa yang harusnya ia tulis. Ia tahu akan menuliskan apa namun tiba-tiba ponsel kantornya berdering.

“Halo, bu Valeria hari ini ada delapan kontainer sudah keluar dari kapal. Apa mau diantar hari ini atau besok pagi?” Tanya operator impor di seberang. Valeria kemudian melihat jamnya yang sudah menunjukkan pukul setengah satu siang.

“Saya rasa besok pagi saja bu. Hari ini petugas bea cukai tidak bisa extend sampai malam.” Jawab Valeria. Jawaban Valeria terdengar klise walau alasan yang sebenarnya bukan petugas tidak mau extend tetapi karena meminta ‘jatah uang lembur’ pada perusahaannya yang ia khawatirkan.

“Baiklah kalau begitu, saya aturkan agar malam ini sampai di sana dan bisa bongkar besok pagi.” Tak lama kemudian Valeria menutup ponselnya dan lagi-lagi menghela nafas panjang. “Jika aku berlama-lama disini, aku mungkin tidak akan bisa menulis kembali.” Ia kemudian mengacak-acak rambutnya sendiri sehingga terlihat kusut.

Pintu geser loker terbuka, Bian dan Eka teman dekat di perusahaannya masuk. Mereka menemukan rambut Valeria kusut seolah menebak rasa frustasi karena rapat tadi.

“Apa yang kau lakukan sampai rambutmu kusut begini?” Tanya Bian, gadis berambut ikal panjang dan berkacamata. Valeria mengangkat wajahnya yang terpaku di depan laptopnya dan melihat ke arah mereka berdua.

“Apa karena rapat tadi?” Tanya Eka yang menggunakan hijab berwarna biru muda yang nampak pas dengan wajahnya yang bulat. Valeria hanya menggelengkan kepala saat mereka duduk mengapitnya.

“Aku hanya merasa lelah.” Ia rasanya tidak bisa mengangkat bahunya sendiri. “Entah mengapa mereka meletakkan aku di bagian ini padahal aku melamar pada bagian interpreter HRD.” Eka yang mendengarnya kemudian menepuk bahu Valeria dan menengok ke laptop mininya.

“Apa kau masih…” ia tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat benda yang ada di depan Valeria. Bian kemudian mengikuti melihat apa yang sedang ia kerjakan.

“Hanya ini yang menghiburku.” Ucapnya pada mereka. “Terkadang aku berpikir untuk mengundurkan diri dan melanjutkan mimpiku sendiri.”

“Jika kau punya mimpi mengapa kau terperangkap disini?” Bianca yang sudah menikah saat masih muda ini mengetahui bagaimana rasanya terperangkap tidak bisa menggapai mimpinya.

“Karena orangtuaku menganggap mimpiku tidak memiliki masa depan dibanding dengan bekerja disini.”

“Tapi jika bukan kau yang mewujudkannya maka siapa lagi yang bisa.” Kata Eka tiba-tiba, mereka berdua saling bertatap muka melihat wajahnya yang bulat imut itu dan tiba-tiba tertawa.

“Tumben sekali kau sangat bijak.” Kata Bianca menggodanya.

“Itu kata buku yang pernah aku baca.” Balasnya sambil memajukan mulutnya yang kemudian membuat mereka tertawa kembali. Sejenak Valeria merasakan dorongan itu saat Eka mengucapkannya.

“Tapi terima kasih ya.” Kata Valeria kemudian sambil meneguk segelas capucinnonya yang sudah mulai dingin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

Terkadang antara passion dan uang saling bertabrakan satu sama lain. Salut sih sama Valeria yg meluangkan waktunya utk mengejar passion. Jadi penasaran sama lanjutan ceritanya.

1 Response