Home / Fiksi / Fiksi / For(give)

Bab 4: Dual Afirmasi

Senjahari.com - 04/01/2022

Forgive

Penulis : Editor

In vain have I struggled. It will not do. My feelings will not be repressed. You must allow me to tell you how ardently I admire and love you.

Jane austen

Pukul lima sore Valeria masih belum bisa menyelesaikan pekerjaannya. Ada laporan caturwulan yang harus ia serahkan sebelum tanggal 10 Desember dan laporan itu merupakan laporan paling berat yang harus ia kerjakan. Ia harus memeriksa ratusan bahan baku impor dan lokal sampai berapa banyak bahan-bahan itu dipakai untuk produksi. Matanya lelah dan ia pun beranjak dari kursinya menuju ruang loker wanita.

“Kau belum selesai?” tanya Sisil teman satu departmentnya yang sudah selesai mandi dan bersiap pulang. Valeria hanya menggelengkan kepala. “Ada yang bisa aku bantu?” imbuhnya.

“Tidak hari ini, tapi aku bisa meminta bantuanmu besok.” ucapnya sambil sejenak merebahkan diri di sofa.

“Baiklah.” Sisil kemudian ikut duduk di sampingnya. Valeria bisa mencium aroma bunga dari bekas sabun mandi Sisil yang khas dan menikmati aroma itu. “Aku sudah dengar apa yang terjadi tadi. Apa kau baik-baik saja?” Valeria pasti sudah menduga berita masalah dengan bea cukai pasti cepat tersebar. Valeria menghela nafas panjang.

Baca juga: Bab 2: Uang Atau Passion?

“Aku tidak baik-baik saja. Tidak seharusnya aku berada di sini.” katanya sambil memandang langit-langit ruangan itu.

“Apa yang terjadi?” sebelum Valeria menjawabnya. Eka dan Bian memasuki ruang loker tersebut. Di ruang kantor hanya tersisa mereka berempat dan satu manager HRD. Sementara saat itu Okamoto sedang rapat dengan Mr. Toyama yang menjadi presiden direktur perusahaan itu.

“Aku pikir kau pulang.” ucap Bian pada Sisil.

“Baru saja akan pulang.” jawab Sisil kemudian.

“Kau pasti lembur lagi.” tebak Eka yang satu department dengan Bian tidak terkejut dengan hal itu, utamanya setelah kejadian presiden direktur mereka marah-marah dalam rapat. Valeria hanya tersenyum kecut.

Baca juga: Bab I : Wawancara

“Aku sudah mendengar hal terjadi di genba hari ini.” Bian akhirnya ikut duduk di depan Valeria dengan menggeser kursi santai.

“Jika kalian tanya apa aku baik-baik saja, maka jawabanku tidak baik-baik saja.” katanya sambil menatap mereka bertiga. Ia merasa gugup dan tangannya mulai berkeringat. Sisil yang bisa membaca kondisi Valeria. Ia segera mengambilkan tisu di meja sebelah dan memberikannya pada Valeria. Valeria pun tersenyum simpul.

“Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan pada kalian, utamanya pada Sisil.” valeria sudah memikirkan ini semalaman dan dia rasa ini pilihan terbaiknya. “Aku akan mengundurkan diri besok.” Mereka bertiga terkejut seolah ada badai di sore hari itu.

“Apa kau yakin akan melakukan itu?” Bian menatap serius wajah Valeria.

“Apakah secepat itu? Lalu aku bagaimana?” tanya Sisil kemudian yang nampaknya lebih terguncang dan belum siap untuk ditinggalkan Valeria.

Baca juga: Bab 18 - Gulali Rasa

“Aku yakin akan hal itu.” jawabnya mantap, “kau akan baik-baik saja, selama ini kau sudah belajar banyak tentang impor dan kau sendiri sudah bisa aku lepas untuk menangani masalah impor. Aku akan meminta Okamoto-san menambah dua personil lagi malam ini.” Mereka bertiga nampaknya masih terkejut dengan keputusan yang diambil Valeria.

“Aku harus kembali ke dalam.” ia beranjak dari Sofa dan sebelum meninggalkan ruang loker wanita, ia membalikkan badan, “besok aku meminta bantuanmu, catatannya akan aku siapkan malam ini.” ucapnya pada Sisil dan meninggalkan ruangan itu.

***

Ketika memasuki ruang kerjanya, ternyata Okamoto-san sudah duduk di depan laptopnya. Kadang Valeria terkesima dengan pria itu ketika menggunakan kacamata, terutama saat ia menggenakan pakaian batik. Ia terlihat kakkoi (ungkapan keren dalam bahasa Jepang). Okamoto-san juga melihat ke arah Valeria yang baru saja kembali ke mejanya.

“Aku pikir Okamoto-san langsung pulang setelah rapat dengan Mr. Toyama.” kata Valeria sambil duduk di kursinya.

Baca juga: Bab 3 : Tak Ada Pekerjaan yang Tidak Beresiko

“Tidak, baru saja ada vendor dari Cina menelponku. Mereka ingin menawarkan sample bahan baku kepada kita.” jawabnya. Okamoto bisa melihat wajah lelah dari Valeria. Valeria lagi-lagi hanya tersenyum pada Okamoto-san, duduk di kursinya dan kembali menatap layar laptop.

Selama mengerjakan laporannya, kepala Valeria terus berputar bagaimana menyampaikan masalah pengunduran dirinya pada Okamoto-san. Saat yang bersamaan Valeria dan Okamoto-san saling memanggil yang kemudian diikuti oleh gelak tawa dari mereka.

“Ada yang ingin disampaikan Okamoto-san padaku?”

“Tidak, Ela-san dulu saja.” Namun Valeria menolak dan akhirnya Okamoto-san menyampaikan apa yang ingin ia tanyakan.

“Maaf sebenarnya pertanyaanku tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Menurut Ela-san mana yang lebih bagus?” Okamoto-san mengeluarkan dua kotak kecil berisi karet rambut dan satu lagi gelang manis berwarna merah.

“Semuanya bagus.” Jawab Valeria heran mengapa pria ini menanyakan hal ini kepadanya. “Apa ingin memberikan ini kepada istri Okamoto-san?” Okamoto-san tidak menjawabnya dan hanya menggeleng. Ia masih ingat dua tahun lalu Valeria tanpa sengaja melihat foto seorang wanita di ponsel Managernya yang ia pikir itu adalah istrinya. Namun, ia tidak pernah bertanya hal ini kepada sang Manager karena orang Jepang jarang sekali membicakan masalah pribadi.

“Aku sudah bercerai 4 tahun yang lalu.” mendengar itu membuat Valeria merasa bersalah dengan kelancangannya. “Ketika aku bercerai, aku memutuskan menerima tawaran untuk pindah kemari.”

“Maafkan aku, tidak seharusnya aku…” ucap Valeria sambil berdiri membungkukkan badan. Okamoto-san kemudian ikut berdiri dan memegang pundak Valeria.

“Tidak apa-apa, aku memang tidak pernah mengatakan ini.” Jawabnya dan menatap Valeria. “Hadiah ini sebenarnya untukmu.” Valeria menatap Okamoto-san dan seketika tubuhnya mematung.

“Aku menyukai Ela-san.” Mendengar kata-kata itu membuat lututnya lemas dan ia hampir terjatuh. Namun, Okamoto-san dengan cepat menahannya. “Maaf kalau pernyataanku mengejutkanmu.” Secara cepat ia melepaskan tangan Okamoto-san. Ia tidak tahu apakah ini masuk akal atau tidak, dalam kepalanya Okamoto-san berusia 37 tahun dan dirinya masih 27 tahun.

“Maaf, sepertinya ada yang salah disini.” ucapnya sambil menatap Okamoto-san. Ia kemudian mengeluarkan secarik kertas dari lacinya di amplop itu tertulis huruf Jepang yang berarti Surat pengunduran diri. “Sebenarnya ini yang ingin saya sampaikan.” Okamoto-san terkejut dengan apa yang ia terima, ia tidak akan menyangka pengakuannya akan membuat Valeria harus mengundurkan diri.

“Anda jangan salah paham, bukan pernyataan anda yang membuat saya melakukan ini. Saya hanya merasa harus memenui impian saya sendiri.” Okamoto-san masih memandangi surat pengunduran diri itu dan beralih ke arah Valeria. Ia menjadi semakin penasaran dengan wanita ini.

“Impian Ela-san?” Valeria kemudian duduk kembali ke kursinya dan diikuti oleh Okamoto-san yang juga kembali ke kursinya.

“Aku ingin menjadi penulis, untuk itu tolong bantu saya untuk mewujudkan itu.” Okamoto-san bisa melihat semangat di mata Valeria ketika ia membicarakan mimpinya yang tidak bisa ia temukan saat Valeria bekerja saat ini. Okamoto-san dapat mengerti walau ia sendiri terluka karenanya.

“Baiklah, aku akan membicarakan masalah ini dengan HRD dan presiden direktur besok.” Ucap Okamoto-san sambil menatap Valeria yang tersenyum karenanya.

“Terima kasih.” Okamoto-san hanya tersenyum “Terima kasih karena sudah menyukai saya, dan maaf anda justru mendapatkan surat itu.” Lanjut Valeria. Valeria sendiri masih terguncang dengan pernyataan Okamoto-san yang usianya terpaut jauh dengannya dan ia tidak ingin mengetahui alasan pria itu menyukainya.

Satu bulan setelah malam itu, Valeria tidak lagi bekerja di perusahaan itu. Ia meminta pada orang yang tepat walau ia merasa sangat bersalah tidak bisa membalas perasaan Okamoto-san padanya. Namun, ia sangat berterima kasih karena semua keinginannya di penuhi dari tanggal pengajuan pengunduran diri, permintaan dua karyawan baru hingga percakapan yang terjadi di antara mereka sebelumnya menjadi rahasia selamanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment