Home / Fiksi / Fiksi / For(give)

Bab 3 : Tak Ada Pekerjaan yang Tidak Beresiko

Senjahari.com - 04/01/2022

Bab 3 : Tak Ada Pekerjaan yang Tidak Beresiko

Penulis : Editor

Pukul 8 pagi Valeria sudah sibuk dengan dokumen impor yang sebelumnya sudah ia persiapkan. Ia harus lembur sampai pukul tujuh malam hanya untuk mempersiapkan dokumen impor mesin yang harus masuk hari Jumat ini. Bea cukai sudah tiba satu jam sebelum kontainer dibuka ini. Dokumen impor juga sudah ada di meja dalam ruangan bea cukai, yang tepat berada di sebelah pos satpam. Sementara Valeria ada di kantornya sebuah dering telepon menghentikan dirinya untuk mengetik jadwal pemasukan barang di kalender devisinya.

“Mbak Ela, dua kontainer sudah dibongkar. Enam kontainer sisa ini apa langsung dibongkar semua?” tanya Mas Agung. Valeria sejenak berfikir sambil mengutak-atik laptopnya. “Mbak Ela, mbak Ela!” panggil Mas Agung yang menunggu jawabannya.

“Langsung bongkar saja semua mas.” jawab Valeria setelah memastikan rekaman CCTV yang bisa ia akses dari area Loading dock

“Tapi petugas bea cukai baru saja pergi keluar.” timpal Mas Agung kemudian. Valeria diam sejenak dan kemudian melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10 siang. Valeria meminta Mas Agung untuk menunggu sejenak karena ia mencoba menghubungi Pak Bandi, petugas bea cukai yang sedang bertugas. Ia mencoba menghubungi Pak Bandi melalui ponselnya beberapa kali, tapi tidak ada jawaban.

Ia meraih telepon di mejanya, “Tidak apa-apa Pak, langsung bongkar saja.” pinta Valeria pada Mas Agung, “sebelum dibongkar, ingat untuk mengambil dokumentasi kontainer dan nomor kontainernya ya Pak. Sepuluh menit lagi saya akan kesana.” setelah itu Valeria menutup sambungan teleponnya.

Baca juga: Bab 4: Dual Afirmasi

Sementara Okamoto-san yang sedari tadi memperatikan keseriusan Valeria terkadang tersenyum melihatnya. Wajah dengan kulit putih khas Jepang, rambut cepak nampak membuatnya lebih muda dari usianya yang sudah 37 tahun. Tak lama setelah memeriksa dokumen pemasukan barang untuk esok harinya, ia mencetak sebuah Purchase Order bahan baku kimia untuk bahan produk terbaru perusahaan itu.

“Ela-san, apa kau sibuk?” tanya Okamoto-san kepada Valeria. Mendengar panggilan Okamoto-san ia memalingkan wajahnya sejenak.

“Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Valeria berusaha mengatur kepalanya yang sedang sibuk kesana kemari. Valeria berharap managernya tidak menanyakan hal rumit untuk saat ini.

“Ah, tidak! Apa kau akan lembur lagi malam ini?” Mendengar jawaban itu Valeria hanya tersenyum kecut.

“Sepertinya begitu, aku harus mengerjakan laporan caturwulan milik bea cukai sebelum tanggal 10 Desember nanti.” Jawabnya kemudian. Okamoto-san hanya mengangguk-anggukkan kepala tanda ia mengerti. Valeria tidak memperhatikan gumaman kecil managernya dan beranjak berdiri untuk mengambil kertas yang sudah ia cetak. Ia berjalan ke meja Managernya yang sedang menulis sesuatu di buku memonya.

Baca juga: Bab I : Wawancara

“Ini purchase order yang diminta bagian produksi.” Managernya yang sedang menulis kemudian menghentikan kegiatannya dan meraih kertas di mejanya. Ia memeriksanya dan tak lama kemudian menandatanganinya.

“Terima kasih.” ucapnya dan kembali ke kursi yang ada di depan Okamoto-san dan meletakkan kertas itu. Ia berjalan menuju pintu ruangannya

“Kau mau kemana?” panggil Okamoto-san menyadari Ela beranjak dari kursinya.

“Memeriksa barang masuk. Apa Okamoto-san mau ikut?” tanyanya kemudian. Tanpa banyak bicara, Okamoto-san langsung beranjak berdiri dan mengikuti Valeria di belakangnya.

“Tidak menyenangkan hanya duduk sendiri di meja kerja, sementara Sisil-san dan Ela-san tidak ada.” Godanya sambil tertawa. Valeria hanya menyunggingkan senyum tipis di bibirnya dan kadang merasa aneh dengan atasannya ini.

Baca juga: Bab 2: Uang Atau Passion?

***

Empat kontainer mesin sudah di bongkar dan mesin yang di dalamnya sudah di keluarkan. Valeria memeriksa dengan seksama empat mesin yang baru tiba itu. Valeria sibuk memotret dan mengecek nomor seri mesin dengan bantuan Mas Agung. Okamoto-san hanya melihat dari belakang apa yang mereka lakukan sambil mengangguk-anggukkan kepala. Pria ini sudah paham apa yang biasa mereka lakukan. Selama dua tahun ini, sudah banyak hal tentang masalah dan hal di lapangan yang ia pelajari dari Valeria.

Sesekali Mas Agung bisa membuat Valeria tertawa karena kekonyolannya yang membuat Okamoto-san ikut tersenyum.

“Mbak Ela!” Sebuah suara menggema dari arah belakang Valeria. Ternyata itu suara Pak Bandi, petugas bea cukai yang pergi entah kemana saat proses pengeluaran barang berlangsung. Pria muda dengan seragam biru tua yang dua kancing bagian atasnya kemejanya terbuka. Ada rasa enggan dalam diri Valeria dan rasa takut menghadapi petugas bea cukai. “Mengapa kontainer ini sudah dibongkar tanpa seizin saya?” Ia memperingatkan dengan tegas dan dengan suara yang lantang hingga semua orang bisa mendengarnya. Valeria melihat sekeliling, beberapa orang di sana sontak menatap mereka.

“Saya minta maaf, tapi bukankah bapak yang keluar tanpa berpamitan dengan orang disini dan tidak menitipkan pesan sama sekali?” Valeria berusaha mengatur nafasnya yang sudah naik turun karena ia cukup ketakutan. Pak Bandi yang berkumis ini merasa tidak memiliki wibawa sebagai petugas bea cukai saat ada seseorang yang menentangnya.

Baca juga: Bab 18 - Gulali Rasa

“Sudah berapa lama mbak Ela kerja di bidang ini? Bukankah sudah seharusnya tahu bahwa pengeluaran dari kontainer harus diawasi oleh bea cukai.” Pak Bandi berkumis yang terlihat garang.

“Saya tahu Pak! Bapak sudah melakukan pengecekan pada kontainer sebelum kami membongkarnya, jadi apa ada alasan khusus kami harus menunggu bapak untuk mengeluarkan barang ini?” Entah mengapa Valeria jadi kesal dengan perkataan Pak Bandi yang selalu mencari-cari kesalahan darinya. “Lagipula saya menghubungi bapak berulang kali tetapi tidak ada jawaban.” Mas Agung dibelakagnya hanya menepuk pundak Valeria agar ia tidak terpancing emosi. Ia kemudian menghela nafas perlahan agar ia cukup tenang. Wajah Pak Bandi masih saja tegang dan terlihat dari dahinya yang mengerut.
“Begini saja pak, bapak bisa melakukan pengecekan disini sekarang. Apakah ada barang yang mencurigakan atau barang kami yang tidak sesuai dengan dokumen kepabeanan ini?” entah mengapa Pak Bandi merasa ditantang oleh Valeria.

“Baiklah!” Pak Bandi mengambil dokumen milik perusahaan Valeria yang ia letakkan di ruangan bea cukainya. Beberapa saat kemudian ia kembali dan melakukan pengecekan.

Selama kurang lebih satu jam Pak Bandi memang tidak menemukan keanehan dari mesin yang dibawa oleh kontainer itu. Nomor seri mesin tersebut sudah sesuai, dan nomor kontainer serta foto-foto pendukung juga sudah sama. Tidak ada alasan baginya untuk menyalahkan apa yang dilakukan oleh Valeria.

“Baiklah, ini sudah sesuai. Untuk sisa empat kontainer yang belum dibongkar, bisa segera dibongkar.” katanya pada Mas Agung dan memberi isyarat untuk membuka kontainer yang sudah terparkir di loading dock. Valeria kemudian menganggukkan kepala pada Mas Agung dan bongkar kontainer itu pun dilakukan.

“Managermu dan kamu ikut saya ke ruangan bea cukai.” perintah Pak Bandi. Valeria memberi tahu kepada Okamoto-san bahwa ia juga diminta ikut ke ruangan bea cukai bersama dengannya. Okamoto pun mengangguk dan mengikuti Valeria di sampingnya. Sesekali managernya ini melirik ke arahnya dan sepertinya ia merasakan ketegangan dari wajah Valeria. Ia cukup paham mengapa dia cukup ketakutan.

***
Ruangan bea cukai tidaklah terlalu besar kurang lebih berukuran 24 meter persegi. Di dalamnya ada tiga ruangan yaitu ruangan tamu, ruangan berkas yang ada di belakang ruang tamu itu dan satu kamar mandi. Mereka duduk di ruang tamu dengan kursi sofa yang cukup empuk berwarna coklat tua. Pak Bandi kemudian duduk diikuti oleh Valeria yang ada di depannya serta Okamoto yang ada di sebelahnya Valeria.

“Seharusnya kamu tidak melakukan pembongkaran tanpa pengawasan.” Kata Pak Bandi sambil menatapnya tajam. Valeria berusaha memberanikan diri menatap tajam pula pria berkumis yang duduk dengan menyilangkan kaki di atas lutut sambil bersandar di sofa.

“Seharusnya Bapak juga tidak meninggalkan area pembongkaran saat pembongkaran kontainer masih dilakukan.” Valeria membalas dengan senyum kecut, walau ia masih merasakan debaran jantung karena rasa takutnya.

“Jika ketahuan kepala kantor atau intel bea cukai, perusahaanmu bisa dapat masalah.” Pak Bandi tersenyum memandang Valeria yang dikenal cukup berani.

“Sebelum kami mendapat masalah, mungkin bapak dulu yang akan ditindak oleh atasan bapak.” Entah mengapa ia merasa kesal dengan perilaku orang-orang seperti Pak Bandi. Walaupun di satu sisi ia juga begitu takut.

“Aku kira kau tidak seharusnya bekerja di sini. Kau sangat cantik, pandai dan lulusan universitas. Mengapa kau mau bekerja disini berkutat dengan mesin, kontainer dan pekerjaan fisik yang tidak cocok bagi wanita cantik?” Pak Bandi memajukan tubuhnya sambil menumpukan tangan pada lututnya, “tidakkah kau sebaiknya menikah? Saya rasa banyak yang ingin jadi calon suamimu. Ia kan Okamoto-san?” Okamoto-san hanya menatap Valeria karena tidak tahu pasti apa yang sedang mereka bicarakan. Valeria hanya menatap Pak Bandi dan membalas tatapan itu dengan senyum simpul.

“Kau terlalu berani untuk melawan petugas saat kau ketahuan melakukan kesalahan.” Pak Bandi menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa.

“Kalau saya melakukan kesalahan itu wajar karena saya bukan orang yang ahli dalam bidang ini. Seharusnya Bapak yang lebih ahli tahu apa yang harus dilakukan petugas bea cukai saat bongkar muat itu berlangsung!” telapak tangan Valeria berkeringat yang sembunyikan di saku baju bagian bawah. “Belum lagi bapak kabur entah kemana dan tidak menjawab telepon saat bapak bertugas!” imbuhnya.

Pak Bandi yang mendengarnya cukup kaget dengan wanita yang ada di depannya ini, ia belum pernah berhadapan dengan wanita secerdas Valeria sebelumnya.

“Aku mengerti mengapa perusahaan ini mempertahankanmu. Baiklah untuk saat ini saya maafkan, tapi lain kali jangan ulangi kesalahan ini.” Pak Bandi kemudian menandatangani dokumen impor itu.

“Saya juga berharap bapak dan petugas lain juga tidak mengulangi kesalahan yang sama.” ucapnya sambil mengambil setumpuk dokumen itu dan berpamitan kembali ke ruangan bersama dengan Managernya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment