Home / Pojokan

Buku Paling Melelahkan dan Sulit Dicerna. Apa Itu?

Senjahari.com - 07/02/2022

Timaeus dan Critias

Penulis : Dinda Pranata

Kisah Atlantis selalu mengundang rasa penasaran para ilmuwan. Banyak dari mereka yang mencari sampai ke belahan dunia lain setelah membaca kisah hebat dari kota fenomenal ini. Salah satu kisah Atlantis pertama kali diketahui berasal dari buku yang ditulis oleh Plato seorang pemikir dari Yunani dalam bukunya berjudul Timaeus dan Critias-Kisah Awal Mula Atlantis. Bagaimana buku ini menceritakan Atlantis? Apa isi bukunya?

Asal Mula Penciptaan dalam Dialog Timaeus

Dalam buku Timaeus dan Critias ini menceritakan banyak hal tentang penciptaan semesta. Di mulai dari penciptaan partikel, ledakan sampai adanya matahari, planet dan benda angkasa lain. Tapi buku ini bukanlah buku science yang bercerita dari kacamata astronomi, melainkan cerita dari sisi filosofi orang-orang pada masa itu.

Dalam kisah penciptaannya, tidak hanya tentang bagaimana alam semesta terbentuk tetapi bagaimana udara, cahaya, dan elemen lain di alam ini terbentuk. Buku terdebut mengatakan bahwa Tuhan menciptakan bumi dengan menggunakan dua unsur yaitu unsur jiwa yang menyebabkan bumi hidup—seperti halnya manusia bernyawa—dan unsur ragawi yang menyebabkan bumi terlihat.

Selain dua unsur tersebut, Timaeus yang menceritakan hal itu juga menggambarkan bahwa unsur api dan tanah merupakan unsur pertama yang tercipta di bumi dan kemudian menyusul unsur air dan udara yang menyatukan unsur api dan tanah ini. Tidak hanya bagaimana proses terbentuknya bumi, juga ada tentang bangun ruang seperti segitiga, persegi, bulat dan lainnya menjadi bagian dari bentuk fisik lain. Lalu bagaimana dengan terbentuknya manusia itu sendiri menurut buku ini?

Manusia dan Konstruksi dalam Tubuh

Elemen Pembentuk Manusia dalam Timaeus dan Critias
Elemen pembentuk manusia

Dalam buku Timaeus dan Critias: Asal Mula Kisah Atlantis pun menerangkan bagaimana manusia yang terbentuk dari elemen-elemen air, api, tanah, dan udara. Elemen ini membentuk fisik manusia seperti darah, tulang, otak, otot dan indra-indra manusia yang memampukan manusia untuk merasakan berbagai sensasi rasa.

Baca juga: The Girl on Paper, Kisah Cinta Penulis dan Tokoh Novel

Dia merancang kita, dengan mempertimbangkan hal-hal ini, mencampurkan tanah dengan api dan air, lalu menyatukan ketiganya. Dia membuat fermentasi asam dan garam, kemudian mencampurnya dengan campuran tadi, dan membentuk daging yang lembut dan berair. Sedangkan untuk otot-ototnya, Dia membuatnya dari campuran tulang dan daging yang tidak difermentasi, berusaha sedemikian rupa sehingga berada dalam keadaan pertengahan, dan memberinya warna kuning….

Timaeus dan Critias hal. 158

Selain menceritakan tentang penciptaan tubuh manusia. Di dalam kisah ini pun terdapat bagian yang menjelaskan tentang hubungan penyakit dengan elemen tubuh yang tidak sesuai ukurannya. Misalkan bagaimana orang yang mengalami tetanus, peradangan empedu, kusta dan lainnya. Selain menghubungkan elemen dalam tubuh dengan penyakit fisik, Timaeus juga menghubungkan ketidakseimbangan elemen dengan penyakit psikologis seperti amarah yang berlebihan serta rasa sedih yang berlebihan. Lalu bagaimana dengan kisah Atlantisnya?

Kisah Kota Terhebat yang Menjadi Misteri

Kisah Atlantis Dalam Timaeus dan Critias
Kisah Atlantis Pulau Milik Dewa

Seperti judulnya buku ini memang menjelaskan kisah Atlantis. Critias menuturkan tepat setelah Timaeus menyelesaikan rangkaian penuturannya mengenai penciptaan dunia, manusia, dan makhluk hidup di bumi. Bagaimana Critias menceritakan Atlantis ini?

Penggambaran kota Atlantis yang hilang ini berdasarkan penuturan Critias merupakan kota ideal yang mana raja-raja adil dan bijaksana memimpin kota ini. Raja-raja yang memimpin kota besar ini merupakan keturunan dari dewa Yunani yaitu Poseidon dengan seorang wanita. Selama beberapa generasi kota tersebut sangat damai dan tenteram dengan orang-orang yang saling menyayangi satu sama lain.

Dengan kemakmuran dan hasil bumi yang melimpah, selama beberapa generasi tidak ada satu pun dari mereka yang gelap mata. Namun, semakin seseorang bersentuhan setiap hari dengan kemewahan dan kemakmuran sifat tamak mereka pun muncul. Sifat tamak ini lah yang pada akhirnya membuat dewa Zeus marah. Dewa para dewa ini menghukum penduduk Atlantis yang mulai tamak agar mereka sadar akan kesalahannya. Apa hukumannya? Tidak diceritakan dalam buku ini.

Baca juga: The Will to Meaning, Lebih dari Sekedar Mencapai Sesuatu

Tantangan Bagi Pembaca

Membaca buku Timaeus dan Critias ini memiliki banyak sekali tantangannya. Saya sendiri yang membaca butuh waktu dua tahun dari buku ini pertama kali dibaca hingga selesai. Apa alasan yang mendasari buku ini lama sekali terselesaikan.

  1. Buku ini tidak memiliki bab-bab atau sub-bab yang memudahkan pembaca memahami alur.

Saat membaca alur tentang penciptaan alam semesta kita akan disuguhkan pada narasi panjang dari Timaeus. Mulai dari bagaimana alam semesta terbentuk, lalu ada bumi yang menjadi tempat paling ideal bagi makhluk hidup, terciptanya unsur-unsur pembentuk bumi, penciptaan manusia, penyakit dan lainnya. Tidak ada bab-bab dari serangkaian kisahnya sehingga membaca akan sangat melelahkan.

  1. Buku Timaeus dan Critias menggunakan bahasa yang cukup menguras energi.

Selain tidak adanya bab-bab atau sub-bab yang memisahkan cerita di dalamnya, cerita dari penuturan Timaeus menggunakan bahasa yany cukup sulit dipahami. Perlu beberapa kali membaca untuk mendapatkan pemahaman dari penggalan ceritanya. Selain itu, kesulitan lain yang saya dapatkan adalah ketika harus berhenti membaca di tengah-tengah. Saat akan mulai kembali, saya harus membaca dua atau tiga halaman sebelumnya untuk mengingat kembali apa yang dituturkan.

  1. Pemaparan tentang Atlantis yang tidak sesuai ekspektasi

Sebelumnya saya berharap bahwa buku ini bisa menjelaskan bagaimana pulau dan kota ideal Atlantis itu secara lebih detail. Tapi sayangnya catatan dari Critias ini tidak terlalu menjawab pertanyaan saya. Kisah terbentuknya kota ini dan pemaparan tentang kota ini, tertutup dengan penjelasan Timaeus yang sangat mendominasi tentang penciptaan alam semesta. Kurang lebih bukunya kurang menjawab rasa ingin tahu pembaca mengenai kota Atlantis itu.

Saya tidak terlalu merekomendasikan buku ini untuk pemula yang ingin tahu tentang penciptaan dari sisi filosofis. Bacaan ini cocok bagi mereka yang sudah paham bahasan-bahasan tentang filosofi. Tapi bagi kalian yang suka bacaan menantang tentang penciptaan, bisa membaca buku ini sebagai referensi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

Buku ini pasti sangat menantang hehehe… Saya selalu suka dengan semua referensi yang berhubungan dengan Atlantis. Saya belum pernah tahu tentang buku ini. Terima kasih sudah review dan bagi informasi baru tentang referensi Atlantis.

1 Response