Home / Pojokan

Emotional Blackmail-Ketika Emosi Diperas seperti Cucian

Senjahari.com - 28/02/2022

Pemerasan Emosional

Penulis : Dinda Pranata

“Aku juga bekerja untuk keluarga ini. Aku usahakan pulang cepat, tapi kamu beralasan hujan padahal ada mobil,” keluh Dirga pada istrinya di dalam mobil. Istrinya cuma bisa diam dan menatap jendela sambil menangis diam-diam.

“Memang hujan deras, belum lagi di rumah aku beres-beres. Jadi maaf kalau telat menjemputmu,” isak istrinya tanpa menoleh dari jendela mobil, “aku pikir kamu mau menunggu lima menit saja sampai aku tiba. Toh, kamu bisa saja memesan ojek online untuk pulang.”

“Kamu itu bukannya menyesal, malah menyalahkan aku yang sudah pulang cepat demi kamu,” keluh Dirga sekali lagi, “besok kamu dilarang bawa mobil selama satu bulan!” Ancam Dirga sambil menunjuk dengan telunjuk kirinya ke arah istrinya.

Luruh Lantah karya Dinda

Cerita di atas terdengar familiar atau mungkin pernah terjadi pada kita sendiri. Perlakuan Dirga pada istrinya ada yang menyebutnya sebagai pemerasan emosional atau emotional blackmail. Salah satu buku dengan judul yang sama yaitu Emotional Blackmail karya Zhou Mou Zi. Bagaimana isi dari buku ini? Lalu apa saja tantangan pembaca dalam membaca buku ini?

Pemerasan Emosi dari Hasil Bentuk Budaya

Meteran Emosional
Meteran Emosi

Siapa yang sering mendengar kata-kata “kamu harus mendahulukan orang lain sebelum dirimu” atau “Apa kata orang jika kamu seperti itu!” Kata-kata itu tampaknya sangat familiar di telinga, bukan? Budaya yang meletakkan kesenangan orang lain sebagai tanggung jawab individu, mudah menjadi pihak pemeras emosional atau pihak yang menjadi korban pemerasan emosional.

Baca juga: Catatan Harian Anne Frank, Komedi dan Eksplorasi di Tengah Tradegi

Pemerasan emosional dalam buku Emotional Blackmail adalah seseorang yang memaksa seseorang untuk melakukan keinginan orang lain dengan emaksa, mengancam, menekan pihak lain sehingga menimbulkan berbagai emosi negatif. Emosi negatif itu bisa berupa frustasi, rasa bersalah, rasa takut hingga depresi. Susan Forward memperkenalkan istilah ini dalam buku yang sama yaitu Emotional Blackmail.

Penyebab pemerasan emosional bisa sangat beragam salah satunya adalah budaya berbakti dan menghormati otoritas. Buku ini mengambil latar budaya Taiwan yang mana budaya konfusius mendominasi masyarakat setempatnya. Dalam konsep konfusius apabila kita “berbakti” maka orang akan menganggap kita melakukan kebajikan. Namun sayangnya, banyak orang yang masih salah menafsirkan kata tersebut dan menjadikannya pemaksaan kehendak hingga ancaman terhadap seseorang.

Baik Jika Berlebihan Hasilnya Juga Buruk

Pemerasan Emosi pada Orang Tua
Pemerasan Pada Anak oleh Orang Tua

Kebanyakan para pelaku pemerasan emosional dan korban pemerasan emosional memiliki masalah dengan anggapan diri sendiri. Para pelaku pemerasan memiliki anggapan tentang pentingnya diri yang berlebihan seperti orang narsis. Sedangkan bagi korban pemerasan emosional, kebanyakan memiliki anggapan bahwa mereka bertanggungjawab terhadap apa yang orang lain rasakan.

Lalu bagaimana buku milik Zhou Mou Zi ini menjelaskan tentang para pelaku pemerasan emosional ini? Setidaknya ada beberapa ciri yang dapat terlihat dari mereka yang menjadi pelaku pemerasan emosi tersebut. Ciri tersebut antara lain:

  1. Pelaku enggan mendapat bentuk penolakan apapun sehingga mereka menghalalkan segala cara agar seseorang memenuhi keinginannya.
  2. Memiliki rasa tidak aman yang bertahan sangat lama.
  3. Pelaku merupakan pribadi yang kurang empati terhadap orang lain. Dalam artian ia menjadi pribadi yang egois dan sangat mementingkan diri sendiri atau bisa juga mereka memiliki kepribadian yang narsistik.

Bagaimana dengan si korban pemerasan emosional sendiri? Ada beberapa ciri yang menyebabkan seseorang bisa menjadi korban. Adapun ciri-cirinya antara lain:

Baca juga: Buku Homo Sapiens yang Menantang Keyakinan dan Logika. Berani Baca?

  1. Korban bisa jadi merupakan pribadi yang ingin menjadi orang baik.
  2. Korban adalah seseorang yang mudah meragukan diri.
  3. Kebanyakan korban pemerasan adalah mereka yang mengharapkan pengakuan orang lain.
  4. Korban bisa jadi terlalu peduli dengan perasaan orang lain dan sering mengabaikan atau merendahkan perasaan sendiri.

Merasa diri ini penting juga sangat bermanfaat bagi diri sendiri, namun jika itu berlebihan tentu akan membawa dampak yang tidak baik bagi orang lain. Bisa jadi perasaan yang terlalu mementingkan diri inilah yang menyebabkan kita menjadi pemeras emosi seseorang. Begitu pula dengan rasa peduli terhadap orang lain. Jika perasaan peduli itu berlebihan, sangat memungkinkan seseorang memanfaatkan itu.

Membaca buku pemerasa emosional ini tidak hanya membawa wawasan tentang kesehatan mental saja. Buku ini juga memberikan pandangan baru bagaimana cara menanggapi orang lain atau membuat batasan pada diri sendiri. Tetapi, di balik wawasan yang ada juga terdapat tantangan lainnya.

Tantangan Pembaca dalam Memahami Buku Ini

Buku sebanyak 250 halaman ini tidaklah berat untuk pembaca. Buku ini menggunakan bahasa yang mudah dimengerti untuk orang awam. Lalu isinya juga cukup padat dan tidak bertele-tele sehingga termasuk bacaan yang ringan. Walau terbilang memiliki isi yang ringan, tapi ada beberapa hal dalam isi buku yang justru menimbulkan pertanyaan lain.

Dalam buku tersebut menjelaskan bahwa pelaku pemerasan emosional seorang yang terlalu memikirkan diri sendiri. Lalu sedangkan seorang korban adalah sosok yang terlalu mementingkan perasaan orang lain. Jika diperhatikan para pelaku dan korban sebenarnya menimbulkan dilema saat memperhatikan perasaan orang lain cukup berbahaya dan saat memperhatikan perasaan sendiri juga cukup berbahaya.

Di buku tersebut menjelaskan solusi yang menitik beratkan pada korban pemerasan emosional semata. Misalkan kiat meningkatkan harga diri, lalu bagaimana memberikan batasan yang jelas kepada orang lain untuk berperilaku kepada kita. Lalu bagaimana menghindarkan diri menjadi pelaku pemerasan emosional tidak terlalu terlihat jelas. Contohnya bagaimana merespon sebuah penolakan, atau bagaimana melihat situasi eksternal sebagaimana adanya tanpa melakukan ancaman atau intimidasi pada orang lain.

Baca juga: Resensi-Santai Aja, Namanya Juga Hidup. Komik Ringan Tentang Kehidupan!

Mereka yang mengalami kekerasan emosional tinggi cocok membaca buku ini. Begitu pula dengan mereka yang memiliki masalah kesehatan mental yang berhubungan dengan citra diri rendah. Sedangkan mereka memiliki masalah dengan perilaku narsistik serta mereka yang memiliki masalah perilaku abusif kurang disarankan membaca buku ini.

Emosi memiliki kekuatan dan membuat manusia bisa tergerak menjadi baik atau buruk. Jadi, jangan perlakukan emosi seperti cucian yang dipukul, diremas, dikusutkan, diperas lalu ia mengering.

Dinda Pranata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

Saya baru dengar, ternyata selain gaslight dan istilah populer lain di luar sana, ada juga yg namanya emotional blackmail๐Ÿ˜ฅ Itulah kenapa penting banget untuk mengenali diri sendiri, karena dampak positifnya nggak cuma baik untuk diri kita, tapi juga orang lain. Such an insightful post, thanks for sharing it! Salam kenal ya kak๐Ÿ˜Š

Salam kenal juga kakak. Semoga infonya bermanfaat ya. ๐Ÿ˜€

Menanggapi orang dengan membatasi untuk lebaikan diri sendiri.
Klo orgnya yg gampang nggk enakkan susah ini nerapinnya, kadang lebib mentingin pendapat org lain ketimbang perasaan sndiri

Setiap orang punya kelemahan masing-masing dan kelebihannya kak. Orang yang enggak enakan juga ada positifnya dan mereka rata-rata punya empati yang tinggi, tapi di lain sisi juga mudah di manipulasi. Jadi sebenarnya tidak ada yang langsung bisa baik dalam sekali jalan. Butuh waktu juga… ๐Ÿ™‚

Relinda Puspita

Istilah baru lagi, nih, ya, Kak, pemerasan emosional. Tapi, emang zaman sekarang, harus pintar dan berani mengendalikan emosi untuk bertindak. Jangan sampai kita dibuat kayak cucian.

Iya kakak, kita kudu belajar mengendalikan emosi biar enggak jadi pelaku pemerasan emosi atau korban. Semoga kita tidak salah satunya ya. ๐Ÿ™‚

Setelah saya baca apa yang Kakak tulis, jadi aware kalau saya pernah mengalami emotional blackmail ini hahaha. Terima kasih infonya, ya Kak.

Sama-sama kakak, semoga infonya membantu. ๐Ÿ˜‰

Pemerasan emosional, baru ngeh istilah ini. Sering terjadi di masyarakat umum, sepertinya mirip dengan etos. Terima kasih mba artikelnya

sama-sama kak.. ๐Ÿ™‚

Andri Marza Akhda

Kebahagiaan kita jauh lebih penting ketimbang kebahagiaan orang lain, asalkan itu tidak merugikan orang. Terkadang kita tertalu peduli pada orang lain, hingga lupa pada diri sendiri. Sepertinya buku ini memang bagus dalam menceritakan sosok yang berlawanan dengan pribadi narsistik

benar sekali kakak.. ๐Ÿ™‚

Baru tahu kalan kalimat-kalimat yang ada didalam artikel diatas merupakan bentuk dari pemerasan emosional. Sejauh ini jika penerapannya memang untuk kepentingan orang lain, setidaknya tidak mengabaikan kepentingan diri sendiri. Misalkan kalau orang lain bisa melakukannya sendiri, kenapa harus menunggu orang lain?
Mungkin seperti itu yang saya tanggapi dari bacaab diatas

kurang lebih begitu kak. Tidak masalah jika kita ingin mendahulukan kepentingan sendiri. Dalam catatan tetap berada dalam koridor moral, dan etika yang ada. ๐Ÿ˜€

Baru tau kalo ada isitilah pemerasan emosional.. paling kesel kalo kerja sama dengan orang egoissโ€ฆ

semoga kita tidak menjadi salah satunya ya kak ….:)

can imagine perasaan kita yang diperlakukan kaya cucian, ironi sekali.
jadi penasaran banget dengan bukunya

Benak kak, sangat ironi sekali. Kasihan juga pada orang yang mengalami kondisi ini. ๐Ÿ™‚

Anggita R. K. Wardani

Bentuk pemerasan emosinya mirip sa gaslighting ya kak. Aku pernah ngalamin itu dulu. Emang efeknya bisa sampe ke kesehatan mental

Kurang lebih seperti gaslighting kak. Tidak jauh beda. ๐Ÿ™‚

pemerasan emosional. istilah baru buat sy. jadi kepikiran jg karna ada kemiripan budaya kita sama asia timur soal orang yg lebih tua. apakah kemauan orang tua jg bentuk pemerasan emosional?

Tidak semua kemauan orang tua adalah bentuk pemerasan. Tergantung bagaimana cara orang tua menyampaikan keinginan itu kepada anaknya.
๐Ÿ™‚

Mohammad Rizal Abdan Kamaludin

untuk orang seperti saya yang suka gaenakan, sulit sekali untu menolak keinginan orang lain, apakah hal seperti ini salah yaa?

Enggak enakannya seperti apa kak. Kalau enggak enakannya sampai merusak mental diri sendiri ya bisa jadi. Tapi selama enggak enakannya tidak menimbulkan hal negatif saya rasa tidak masalah. ๐Ÿ™‚

Roswita Puji Lestari

Bukunya menarik kak. Awalnya aku sangka ini novel, ternyata bukan yaโ€ฆ

Bukan novel kak. Ini buku non-fiksi. ๐Ÿ˜€

Dulu sering banget ngerasa ngga enakan kalau harus mendahulukan diri sendiri. Punya ambisi dikit aja, berasa seperti orang berdosa.

Tapi akhirnya aku sadar sih, kalau akunya ngga bahagia, gimana aku bisa bikin orang lain bahagia. Jadi aku pilih untuk mendahulukan diri sendiri dulu, baru membantu orang lain.

saya jadi penasaran sama buku ini kak, semoga ada kesempatan buat punya buku ini..

28 Responses