Home / Koridor

Nyai: Peyorasi Istilah Perempuan dan Prostitusi di Masa Kolonial

Senjahari.com - 21/04/2022

nyai dan prostitusi

Penulis : Dinda Pranata

… “Biarpun tuan mengawini nyai, gundik ini, perkawinan syah, dia tetap bukan Kristen. Dia kafir! Sekiranya dia kristen pun, tuan tetap lebih busuk dari Mevrouw Amelia Melema-Harmmers. ebih dari semua tuduuhan yang tuan tuduhkan pada ibuku. Tuan telah melakukan dosa darah, pelanggaran darah! mencampur darah Kristen Eropa dengan darah kafir Pribumi berwarna! Dosa tak terampuni !

Insinyur Maurits Melemma – Bab V hal 146

Mendengar kata nyai mengingatkan kita pada salah satu tokoh dalam novel Pramodya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia. Tapi selain Pramodya ternyata ada tokoh nyai lagi yang cukup terkenal pada masa kolonial yaitu Nyai Dasima. Kisah nyai-nyai itu, tidaklah membahagiakan terutama pada masa kolonial yang lekat dengan citra yang negatif. Tapi, ngomong-ngomong kata nyai itu sebenarnya dari mana ya?

Nyai Sebuah Kata Positif

Sebelum kedatangan Belanda ke Indonesia, kata nyai ini memiliki arti yang positif daripada makna saat Belanda ke Indonesia. Seperti dalam legenda Nyai Roro Kidul misalnya, panggilan nyai di legenda tersebut memiliki arti seorang perempuan muda atau perempuan yang sudah menikah. Bahkan, tidak hanya bentuk penghormatan terhadap wanita, Dalam Jurnal The Mystery of Nyai Lara Kidul menjelaskan bahwa kata nyai sendiri merujuk pada wanita yang sudah dewasa atau wanita yang sudah tua, selain itu nama bidadari dalam legenda-legenda kebanyakan menggunakan nama nyai atau nyi.

Dalam beberapa literatur, kata nyai ini muncul dalam banyak prosa, hikayat masa pujangga lama. Contoh karya yang menggunakan nama nyai salah satunya adalah Nyai Dasima karya G. Francis. Tak hanya itu pada saat islam masuk ke Indonesia terutama ke pulau Jawa, istilah nyai ini untuk menunjuk istri kyai atau orang yang ahli dalam agama. Lalu bagaimana istilah ini mengalami peyorasi dari istilah sebelumnya?

Perempuan antara Hasrat dan Politik

Nyai di Era Kolonialisme

Ketika pertama Belanda datang pertama kali di abad ke-15 dengan berburu rempah-rempah yang dengan Cornelis de Houtman sebagai pimpinan, nyatanya membawa keberhasilan bagi para pelayar yang tiba di Jawa. Sayangnya, hasrat Belanda tidak hanya ingin berburu rempah-rempah tetapi juga mengeksploitasinya untuk dijual kembali ke Eropa. Akhirnya pada tahun 1602, amarda belanda yang berikutnya tiba dan amarda itu merupakan perusahaan swasta yang dipimpin oleh Jacob van Neck. Mereka kemudian mendirikan kantor dagang rempah-rempah di Batavia (Jakarta).

Baca juga: Resensi Bangsawan Pribumi Juga Memiliki Andil Dalam Kesengsaraan Rakyat di Zaman Kolonial - Max Havelaar Karya Multatuli

Ambisi Belanda nyatanya tidak sampai di sana, mereka tidak hanya mencari rempah-rempah dan mengeksploitasi orang-orang lokal atau pribumi untuk dijadikan pekerja. Oleh karena itu semakin banyak orang-orang ketentaraan Belanda yang dikirim dari Belanda ke Indonesia. Mereka yang datang tentu tidak bersama istri dan keluarganya, tak heran pria-pria Belanda banyak yang menjadikan budak wanita pribumi sebagai simpanan. Inilah yang kemudian memunculkan praktik pergundikan itu sendiri.

Dalam jurnal sejarah yang terbit tahun 2019 mengungkapkan bahwa ketika Gubernur Jenderal Jan Peter Coen menjadi pimpinan di tahun 1618, ia merasa cemas dengan persoalan pergundikan. Baginya pergundikan itu yang bisa mengancam perpolitikan Belanda dan ekonominya. Ia kemudian mengusulkan kebijakan untuk mendatangkan wanita Belanda yang baik sebagai istri para prajurit di tanah koloni. Sayangnya kepala VOC pusat menolak usulan tersebut dengan berbagai alasan dan karenanya praktik pergundikan semakin subur.

Nyai dan Masalah Prostitusi

Ketika Batavia di era kolonial seperti yang kita tahu, tempat itu menjadi kota lalu lintas yang sangat penting. Selain itu karena perempuan di masa itu tidak cukup banyak daripada laki-laki serta semakin bertambah dengan kedatangan para perwira Belanda. Kondisi itu menyebabkan kebutuhan biologis perwira-perwira laki-laki tidak tersalurkan. Salah satu tempat yang menjadi wilayah prostitusi pertama adalah Macao Po (saat ini kota Jakarta sekitar jalan Jayakarta).

tabel jumlah wanita dan pria di tahun 1860-1930. Source: Sejarah Statistik Indonesia

Kondisi prostitusi ini pun semakin parah karena kemiskinan yang terjadi selama masa kolonialisme dan krisis ekonomi tahun 1920an yang terjadi secara global. Krisis ekonomi itu mempengaruhi harga rempah-rempah milik Belanda yang kemudian turut menyumbang kasus kelaparan dan kemiskinan semakin meningkat. Sebagai akibatnya, banyak dari wanita pribumi yang rela terjun menjadi pelacur atau menjadi budak pria Belanda untuk menaikkan derajat kehidupan mereka. Sayangnya para perempuan bukan mendapatkan derajat kehidupan yang lebih baik, justru sebaliknya. Di sinilah istilah nyai mengalami peyorasi ini menjadi pembantu rumah tangga, budak atau simpanan.

Wanita-wanita yang bekerja sebagai budak pria Belanda ini harus rela menjalani segala perintah tuannya jika ingin dibayar dan diperlakukan seperti barang inventaris. Kebanyakan pernikahan wanita pribumi dan perwira Belanda dianggap tidak sah oleh pengadilan Belanda. Sehingga, jika perwira tersebut pulang ke negaranya, maka wanita pribumi akan diserahkan kepada perwira lain yang menggantikannya. Perlakuan terhadap wanita seperti barang inventaris inilah yang menyebabkan banyaknya rumah prostitusi yang dibuka dan banyaknya pelacur tak hanya dari kalangan pribumi tetapi juga wanita-wanita yang sengaja didatangkan dari Cina.

Baca juga: Tanya Kenapa-Wanita Jadi Obyek Seksual?

Jangan sampai ketika ada yang berkata “manusia adalah hewan yang berjalan tegak,” menjadikan sikap manusia layaknya hewan yang berjalan tegak.

Karena apapun sebutan wanita, ia tetaplah manusia yang patut dihormati atau dihargai.

Dinda Pranata

Source:
E. Jordaan, Roy. “The Mystery of Nyai Lara Kidul, Goddess of the Southern Ocean.” Archipel, vol. 28, no. 1, 1984, pp. 99–116., https://doi.org/10.3406/arch.1984.1921.
Jaelani, Gani Achmad. “Dilema Negara Kolonial: Seksualitas Dan Moralitas Di Hindia Belanda Awal Abad XX.” Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah Dan Budaya, vol. 11, no. 1, 2019, p. 1., https://doi.org/10.30959/patanjala.v11i1.468.
historia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

Baca-baca cerita jaman penjajahan Belanda memang selalu meninggalkan kemirisan di hati. Salah satunya ya yang berhubungan dengan wanita.

Wah ngeri ya pada jaman itu… tapi jaman sekarang juga ngeri… ah sudahlah… Saya berdoa semoga baik-baik saja

Alfia D. Masyitoh

Karena Belanda ini lamaaa banget di Indonesia jadi banyak banget ceritanya. Aku pas baca ini langsung ingat film Bumi Manusia. Sedih ya, pelik. Jadi nyai itu gak diakui secara hukum oleh Belanda, eh masih dipandang negatif juga sama masyarakat Indonesia sendiri…

Wow telaahan yang sangat mendalam dari kata Nyai. Gak nyangkansamoai sejauh itu

Andri Marza Akhda

Jaman penjajahan memang penuh hal-hal yang mengerikan. Tetapi kemerdekaan telah kita raih, dan sekarang istilah nyai bisa kembali harum seperti sebelum dijajah.

5 Responses