Home / Pojokan

Kumpulan Cerpen Malam Terakhir-Metafora Tentang Kebebasan

Senjahari.com - 10/06/2022

Malam Terakhir Cover

Penulis : Dinda Pranata

Faktanya, kebebasan berada dalam kemerosotan menjadi kesewenang-wenangan belaka kecuali jika dijalani dalam kerangka tanggung jawab. 

Victor Frankl

Sebelum tahun 1998, saat pemerintah membisukan kebebasan berpendapat maka salah satu akibatnya adalah kesewenang-wenangan pejabat dan matinya demokrasi. Ini pula yang tergambar dalam kumpulan cerpen milik Leila S. Chudori berjudul Malam Terakhir. Bagaimana isi buku ini dan apa tantangan pembaca?

Metafora Kebebasan Berekspresi

Dalam buku malam terakhir, setidaknya ada sekitar sembilan cerpen karya Leila S. Chudori. Semuanya tidak melulu tentang kebebasan berpendapat, tetapi mayoritas isinya memang menyuarakan pesan kebebasan untuk menentukan sikap dan berfikir yang dianggap tabu terutama pada generasi sebelumnya (baby boomer).

Kebebasan berekspresi
Kebebasan berekspresi dalam Malam Terakhir

Pada cerpen pertama berjudul Paris, Juni 1988 menceritakan seorang gadis yang tinggal di kost murah di pinggiran kota Paris. Ia berkenalan dengan seorang seniman pria bernama Marc. Wanita penjaga apartemen itu memperingatkan untuk mengabaikan suara wanita yang muncul dari kamar Marc dan penjaga wanita itu mengatakan bahwa kadang Marc sedikit gila. Hingga suatu hari ia mencoba mendobrak masuk ke kamar itu dan menemukan suara wanita tersebut berasal dari tape recorder Marc.

Pada cerpen pertama ini, pembaca bisa merasakan bagaimana cerita itu memberikan metafora tentang kebebasan berekspresi yang kerap dibatasi aturan tidak tertulis. Tak jarang seorang yang memiliki sikap, pendapat bahkan sifat yang berbeda dari aturan dianggap tabu. Tidak hanya pada cerpen pertama, pada cerpen lain berjudul, Adila, Air Suci Sita, Sehelai Pakaian Hitam, Keats, Ilona, Malam Terakhir pun menyuarakan tentang kebebasan berekspresi tersebut.

Baca juga: The Perks of Being A Wallflower-Pencarian Jati Diri Seorang Remaja.

Bicara Tentang Gap Antar Generasi

Ada satu hal yang unik dari kumpulan cerpen malam terakhir ini. Di salah satu cerpen berjudul Adila nyatanya tidak hanya menyoroti masalah kebebasan berekspresi tapi secara tidak terduga membahas tentang pola pengasuhan, psikologi dan masalah gap antar generasi.

Gap Antar Generasi
Gap Antar Generasi dalam Malam Terakhir

Di mulai dari seorang anak bernama Adila yang sangat gemar membaca buku. Kegemarannya ini membuatnya memiliki pandangan yang cukup kritis untuk anak SMP seusianya. Pemikiran itu membuatnya kerap kali bertengkar dengan sang ibu. Suatu kali ia berbicang-bincang dengan kawan dari imajinasinya tentang bagaimana menjadi wanita dewasa yang payudaranya tumbuh. Ia pun menyampaikan pertanyaan mengenai hal itu kepada ibunya dan sekali lagi ibunya murka. Akibat kekangan pemikiran hingga sikap, Adila ini pun bunuh diri.

Karakter Adila yang masih remaja dan mengalami masa pubertas ini, kerap kali menjadi simbol rasa keingintahuan. Pembatasan atas rasa keingintahuan itu mendorongnya melakukan pemberontakan untuk mencari tahu jawaban atas pertanyaannya. Di cerpen ini Leila seolah ingin mengungkapkan bagaimana generasi sebelumnya begitu takut atau tabu untuk membicarakan bagian tubuh (seks) pada anak remaja. Tak hanya itu, anak puber yang terkekang akan mudah mengalami gangguan psikologis termasuk depresi.

Tantangan Pembaca di Kumpulan Cerpen Malam Terakhir

Leila S. Chudori memang memiliki nyali yang cukup besar untuk menyuarakan kebebasan dalam berpendapat dan memilih sikap. Dengan latar belakang seorang jurnalis maka tak heran cerpen-cerpennya kita akan disuguhkan dengan bahasa yang lugas, tajam dan mengena tentang suatu peristiwa. Ketajaman gaya bahasa Leila terlihat dari cerpen berjudul Malam Terakhir yang kurasa menjadi klimaks dari buku kumpulan cerpennya.

Malam terakhir ini menyiratkan kegisahan dan kritikan keras atas bungkamnya kebebasan berpendapat di era presiden Soeharto. Kala itu pers sengaja dibungkam untuk menutupi bobroknya pemerintahan pada era Soeharto tersebut. Beberapa buku yang mengkritik pemerintah akan dicekal dan fenomena penculikan mahasiswa pun sempat terjadi. Sang penulis sendiri yang merupakan seorang jurnalis berusaha mengungkap kebenaran di balik rekayasa sejarah era kepimpinan Soeharto yang begitu bias.

Baca juga: Buku Homo Sapiens yang Menantang Keyakinan dan Logika. Berani Baca?

Kumpulan cerpen malam terakhir ini bukan menitik beratkan pada bagaimana pentingnya kebebasan berekspresi dan berpendapat. Dari segi cerita tidaklah sulit menemukan garis besar dari semua cerita di dalamnya. Gaya bahasa yang lugas khas dari seorang jurnalis serta pemaparan yang realistis tanpa perlu memoles kata secara berlebihan tetap membuat cerpen karya Leila ini menjadi karya yang luar biasa.

Kendati demikian karya ini tidaklah sempurna, di dalamnya pembaca hanya bisa menikmati idealitas tentang kebebasan itu sendiri. Tantangan utamanya adalah pembaca perlu jeli untuk menemukan bahwa kebebasan, tanggung jawab dan konsekuensi selalu mengikuti pilihan setiap orang.

No, no, buah hatiku.Kau tak akan melakukan hal-hal yang bodoh seperti mereka. Kau belajar baik-baik. Makan dan tidur yang cukup. Dan hormati serta camkan baik-baik nasihat para sesepuh. Biar bagaimana, mereka telah mengenyam dan merasakan kepahitan hidup ini. Merekalah yang membangun negara besar ini. Anak-anak muda sering lekas terpaku dengan segala sesuatu yang baru dan berbau petualangan….

Malam terakhir halaman 111

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment