Home / Pojokan

The Girl on Paper, Kisah Cinta Penulis dan Tokoh Novel

Senjahari.com - 15/08/2022

The Girl On Paper

Penulis : Dinda Pranata

Berbohong itu memang salah. Bayangkan apa jadinya jika berbohong membuat korban kebohongan lantas jatuh cinta? Pasti patah hati, kan?

Hal yang sama terjadi pada sebuah novel berjudul The Girl On The Paper kaya Gulliaume Muso ini. Buku ini merupakan salah satu karya sastra Perancis yang diterbitkan oleh penerbit spring. Jalan ceritanya cukup menarik dan sangat beda jauh dari bayangan awal saat membeli buku ini. Bagaimana isi bukunya?

The Girl on Paper-Dia yang Tak Nyata Jadi Penghapus Luka

Kisah persahabatan tiga orang bernama Milo, Tom dan Carole. Mereka bertiga bersahabat saat kehidupan mereka sama-sama kelabu. Kisah awal berawal saat Tom mengalami patah hati dan depresi setelah berpisah dari kekasihnya Aurore (ceritanya si Tom bucin sama si Aurore). Putusnya juga tidak bisa dibilang baik-baik, karena Aurore sudah berselingkuh dan kabur ke Meksiko bersama selingkuhannya. Padahal doi sudah bertunangan dengan si Tom ini.

Lalu tiba-tiba Boom! Seorang gadis muncul di depannya ketika ia sedang dalam keadaan oleng (habis sakaw/nyabu/mabuk). Gadis ini mengaku keluar dari buku yang sedang dikerjakan tapi tak diselesaikan, karena masalah writer’s block akibat patah hati. Si Tom penulis heran mengapa tokoh Billie (karakter dalam novel yang ditulisnya) bisa keluar dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Persahabatan dalam The Girl on Paper
Persahabatan dalam The Girl on Paper

Tom segera melakukan pengujian apakah dia benar-benar si Billie,tokoh dalam novelnya, atau bukan. Pengujian yang dilakukan sungguh mencengangkan bahkan untuk hal yang hanya diketahui oleh Tom (dan juga tokoh ciptaannya sendiri). Mereka kemudian terikat perjanjian satu sama lain dan melakukan petualangan ke berbagai tempat untuk mengejar Aurora.

Baca juga: Cecilia Dan Malaikat, Percakapan Ringan Antara Penghuni Surga Dan Bumi!

Banyak hal yang dilakukan oleh Tom dan Billie dalam perjalanan mengejar Aurora. Bahkan interaksi antara Tom dan Billie yang buat gemes entah bertengkar, merajuk hingga saling berbaikan membuat kedua tokoh ini saling mengenal. Terlebih Billie yang banyak mendengar kisah Tom (pembuat karakternya) yang tidak diketahui banyak orang. Karena Billie begitu baik dan memahami Tom, membuat si penulis ini bergantung secara tak sadar dan akhirnya jatuh cinta pada Billie.

Mengangkat Isu Sosial Lewat Fiksi

Isu dalam The Girl on Paper
Isu dalam The Girl on Paper

Selain kisah cinta Tom dan Bille, di buku ini menceritakan kisah persahabatan di antara Tom, Milo dan Carole. Sejak remaja Carole mengalami kekerasan seksual oleh ayah tirinya. Tom yang sudah bersahabat sejak remaja merasa perlu melindungi Carole dari ayah tirinya. Hingga suatu hari kemarahan di dalam diri Tom membuatnya melakukan hal yang akan membuatnya merasa bersalah seumur hidupnya. Tom menyimpannya rapat-rapat dari Carole dan Milo. Lantas bagaimana Milo hadir di antara Tom dan Carole?

Milo bertemu dengan Carole dan Tom saat berusaha kabur dari gengster yang terkenal brutal di Meksiko. Berkat kecerdasan Tom dan bantuan Carole, ia bisa selamat dari kekangan gangster brutal yang membuatnya harus berdagang kokain hingga melakukan kehidupan gangster yang syarat kekerasan. Berkat itu, ia mendedikasikan hidupnya untuk membantu Carole dan Tom dalam kesulitan mereka. Termasuk satu kesalahan yang Milo lakukan adalah membohongi Tom tentang identitas Billie yang sebenarnya.

Kisah persahabatan yang terjadi di antara ketiganya lumrah terjadi di kehidupan gangster. Belum lagi beberapa kasus yang terjadi memang terjadi di Amerika Latin seperti kekerasan anak di bawah umum, perdagangan obat-obatan terlarang oleh anak di bawah umur. Dan salah satu isu sosial dunia yang masih banyak terjadi di era sekarang yaitu kekerasan seksual pada anak di bawah umur dan remaja.

Kelebihan Subyektif dari Buku

The Girl On Paper karya Gulliaume Muso ini sudah memiliki banyak terjemahan dari bahasa Inggris, Indonesia, Spanyol hingga Korea. Novel ini pun termasuk karya Gulliaume yang laris di pasaran. Selain karena suguhan cerita yang unik yaitu gabungan fiksi imajinasi dan juga non fiksi, pembaca (termasuk aku bisa menikmatinya). Setidaknya ada beberapa hal yang membuatku merasa karya ini pantas mendapat banyak jempol dari pembaca:

Baca juga: Kumpulan Cerpen Malam Terakhir-Metafora Tentang Kebebasan

  1. Alur cerita yang campuran (sebagian besar maju dan ada sebagian yang mundur). Walau menggunakan alur campuran itu menjadi tantangan tersendiri bagi penulis, tapi novel ini sangat keren sehingga alurnya tidak memusingkan. I feel plot as a river (so smooth).
  2. Penokohan dalam cerita memiliki kekuatan dan keunikan tersendiri. Di balik kehidupan kelam masing-masing tokohnya, mereka terlihat seolah kabur dari realita. Kaburnya mereka dari realita masa lalu membuatnya justru sukses. Salah satunya adalah tokoh Carole yang memiliki masa lalu kekerasan seksual menyebabkan dia menjadi polisi. Dan tokoh Carole ini lah yang paling aku favoritkan dalam novel, gambaran wanita realistis tapi juga misterius.
  3. Latar cerita ini tidak sebagian fiksi dan salah satu bagian yang memang terjadi di Amerika. Salah satunya adalah tragedi penembakan rasis orang kulit hitam di salah satu toko kelontong dan tragedi itu sangat terkenal di Amerika. Gabungan antara latar cerita imajinatif dan realistis tidak lantas membuat kisah ini membosankan dan itu salah satu yang membuatku merasa wow setelah membaca buku ini.
  4. Gaya bahasa dalam cerita menggunakan ciri khas American Style yang cenderung blak-blakan dan kadang ironi. Begitupu dengan penerjemahnya yang mampu menyesuaikan antara bahasa asal dengan bahasa Indonesia sehingga tetap bisa dinikmati oleh pembaca lokal. (Mungkin kamu yang sudah baca versi bahasa asli entah bahasa Perancis atau Inggrisnya, bisa komen gimana sih versi aslinya)

Kekurangan Subyektif dari Isi Buku

Walau ceritanya padat dan berkesan banget, tapi aku pun menemukan sisi kekurangan dari karya ini. Sekali lagi penulis itu bukan yang maha sempurna ya, so tidak ada karya yang benar-benar 100% sempurna. Ada beberapa catatan kekurangan dari novel The Girl On The Paper ini:

  1. Ceritanya terkesan terburu-buru terutama bagian yang mendekati klimaks dan anti-klimaksnya. Bahkan di beberapa bagian saat perjalanan menuju klimaks penulis berusaha menunjukkan teka-teki masa lalu Tom, Carole, dan Milo sekaligus menjalankan misi menjemput si mantan kekasih Tom.
  2. Tokoh utamanya tergolong drama prince sangat berbeda dengan kebanyakan kaum pria pada umumnya yang lebih terlihat tegar saat patah hati.
  3. Ceritanya kompleks karena melibatkan sisi psikologis dari tokoh-tokohnya juga sedikit menyinggung isu sosial. Jadi nggak heran kalau ceritanya cenderung cepat dan hanya bagian pentingnya saja.
  4. Cukup banyak deskriptif daripada percakapan antar tokohnya. Penulis seolah menggunakan pendekatan dengan pemaparan situasi, bukan dengan percakapan antar tokohnya.

Masing-masing pekerja seni itu sudah mencoba bertahan di dunia ini, tapi hasilnya tetap sama: menyerah. Kalau seni ada karena kehidupan nyata dirasa tidak cukup, mungkin ada saatnya ketika seni tidak cukup lagi dan satu-satunya kesimpulan logis dalah kegilaan dan kematian.

Tom Boyd-The Girl on Paper

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

Aku uda lama ga baca buku fiksi. Padahal dulu seneng bgt.
Btw suka sama blognya. Cantik bgt tampilannya. Itu gambar ilustrasinya bikin sendiri kah?

Terima kasih.
Iya kak, ilustrasinya bikin sendiri pakai canva. hehehe.. 😀

Wah, aq suka nich buku kalo ada unsur imajinatifny, seruu jugaa yaa tokoh rekaannya bisa hadir d dunia nyata

Kayanya seru, nih, jalan ceritanya. Penulis yg jatuh cinta PD sang tokoh ciptaannya sendiri. Hihi…bisa jadi ya, Krn tokoh ciptaan sendiri kan bisa dibuat seperfect mungkin oleh penulis .

4 Responses