Home / Jendela

Studi Komparatif Bertema SARA: Apakah Rawan Konflik?

Senjahari.com - 31/08/2022

Studi Komparatif

Penulis : Dinda Pranata

Sering kali dan banyak sekali orang bahkan studi yang melakukan penelitian berdasarkan studi komparatif. Contohnya membandingkan suatu tradisi sejenis dari satu tempat dan di tempat lain atau membandingkan karya sastra milik sastrawan A dengan tema sejenis atau di tahun terbit yang sama. Sebenarnya apa itu studi komparatif, tantangan dan apa yang bisa kita lakukan saat ingin melakukan studi komparatif ini? lalu bagaimana dampak dari studi komparatif jdalam bidang sosial jika berkaitan dengan golongan tertentu (isu SARA)?

Studi Komparatif: Si Hobi Membanding-Bandingkan

Namanya juga komparasi, ya pasti memiliki arti membanding-bandingkan sesuatu. Dari pendapat para ahli nih, pengertian dari studi komparatif berbeda namun serupa. Menurut Sugiyono, penelitian komparatif adalah penelitian yang membandingkan satu atau lebih variabel dari dua atau lebih sample di waktu yang berbeda. Lalu ada Mohammad Nazir yang menurutnya, studi komparatif adalah sebuah penelitian untuk mencari jawaban mendasar tentang sebab-akibat dengan cara menganalisis faktor penyebab munculnya fenomena tertentu. Dan menurut Arikunto, studi komparatif adalah studi bertujuan untuk menemukan persamaan atau perbedaan tentang benda, orang, prosedur kerja, kritik terhadap individu atau kelompok.

Setelah tahu pengertiannya, kita bisa melihat banyaknya jenis studi komparatif. Ada komparatif kuantitatif yang mana membandingkan dengan data statistik/numeral. Juga ada komparatif kualitatif yang mana membandingkan dengan hubungan sebab-akibat atau korelasi antar variabel. Ada juga penelitian kompararif yang di bagi dalam dua jenis penelitian .

  1. Penelitian Non-hipotesis: Membandingkan obyek dengan standar atau landasar tertentu (Entah standarnya adalah undang-undang, peraturan sistem kerja, nilai norma, dan lainnya). Untuk penelitian dengan jenis ini biasanya para peneliti sudah memiliki lingkup standar tertentu sehingga hasil dari penelitian bisa menjawab apakah obyek yang diteliti sudah memenuhi standar atau belum. Misalkan studi komparasi tentang etika bermedia sosial berdasarkan Undang-undang ITE.
  2. Penelitian Berhipotesis: Membandingkan obyek tertentu dengan menarik kesimpulan sementara tentang obyek yang diteliti. Pada penelitian jenis inilah peneliti diharapkan bersifat obyektif dan tidak berat sebelah terhadap obyek yang diteliti. Peneliti harus mampu mengedepankan fakta yang apa adanya. Misalkan membandingkan dampak positif dan negatif dari bermedia sosial dari segi kesehatan mental.

Dari semua yang jenis penelitian komparasi tentu ingin menjawab permasalahan serta asumsi tentang obyek tertentu secara jelas.

Jembatan Terhadap Nilai Pembanding

Dua sisi Studi Komparatif
Dua sisi Studi Komparatif

Dalam penelitian dengan perbandingan ini punya kekurangan dan kelebihannya sendiri, ya! It’s not 100% perfect. Setidaknya menurut para ahli seperti pak Nasir memberikan gambaran kelebihannya seperti berikut:

Baca juga: Upacara Kedewasaan Di Bali dan Di Jepang yang Berbeda Tujuan

  1. Metode komparatif bisa menjadi alternatif pengganti saat tidak bisa melakukan metode eksperimental.
  2. Metode komparatif bisa sangat berguna untuk perbaikan fitur-fitur tertentu secara bertahap baik itu sebuah metode, sistem dan lainnya.
  3. Penelitian yang bisa menjadi estimasi parameter untuk hubungan sebab-akibat
  4. Metode yang mampu memaparkan gejala dari fenomena atau obyek tertentu

Lalu kekurangannya menurut Pak Suryabrata sebagai berikut:

  1. Penelitian ini tidak bisa mengontrol variable dari luar cakupan topik
  2. Sulit menentukan fakta penyebab dari variabel yang diteliti karena bisa jadi faktor tersebut terkait dengan sebab lain.
  3. Faktor penyebab dari variabel bisa jadi bukan faktor tunggal dan bisa jadi pula merupakan efek samping dari obyek.
  4. Sukar menentukan secara pasti mana sebab dan mana akibat jika faktor penyebab sudah berinteraksi dengan faktor lain.

Dengan kata lain, para peneliti yang menggunakan metode perbandingan ini perlu tahu kekurangan dan kelebihannya. Terutama peneliti atau pihak yang melakukan studi perbandingan untuk kasus-kasus sensitif seperti SARA dan isu-isu sosial lain. Penggunaan metode komparatif diharapkan dapat menjadi pelengkap atau jembatan atas masalah tanpa mendeskriminasi pihak lain. Tapi apakah studi kompatatif bertema kesukuan/keagamaan/golongan/ras ini memiliki resiko konflik?

Rawan Konflik?

Banyak yang terlihat di lapangan saat seseorang melakukan melakukan pembandingan mengenai isu yang terkait SARA misal membandingkan Agama A dan B, suku A dan B, termasuk golongan A dan B, bisa berakibat pada pertentangan dan kadang memicu konflik akibat SARA. Bicara sebab akibat tentu hal ini didasari oleh perbedaan antarindividu, perbedaan kebudayaan, perbedaan kepentingan, dan perubahan sosial di masyarakat itu sendiri.

Selain dasar perbedaan-perbedaan itu, latar belakang dari peneliti studi komparatif berbau SARA juga mendorong hasil temuan-temuannya. Juga termasuk motif dan tujuan dari penelitian itu. Untuk itu seseorang yang ingin melakukan studi komparatif mengenai isu-isu kesukuan, keagamaan atau golongan tertentu harus berpijak pada obyektifitas dan bukan pada sentimen tertentu yang akhirnya memicu deskriminatif terhadap kelompok atau individu tertentu.

Jadi dengan kata lain studi perbandingan yang berbau kesukuan, keagamaan, atau golongan tertentu bisa menjadi jurang perpecahan, jika dari peneliti sendiri terpengaruh sentimen dan dia sendiri bias ke salah satu golongan.

Baca juga: Tradisi Belis di Antara Kehormatan Wanita dan Kesulitan Pria

Solusi Klise?

Kalau mau tanya solusi klise, bisa saja memberikan solusi untuk berhenti menggunakan studi komparasi jika niatnya bukan untuk mengungkap fakta atau menyudutkan pihak tertentu. Tapi bukankan solusi itu yang ingin ditawarkan. Ada langkah yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan hasil penelitian yang membangun tanpa menyudutkan/menghina sesuatu suku, agama atau golongan tertentu.

  1. Tanyai diri dulu, apakah topik pembahasan penelitian adalah hal yang kita kuasai dan minati. Pastikan kita mengetahui dan meminati hal yang kamu bahas, bukan yang tidak kamu kuasai atau tidak kamu minati. Jika ada minat tertentu terhadap suatu topik baru, kenali dulu topiknya dan baca banyak referensi untuk menggali informasi pada topik penelitian.
  2. Temukan masalah penelitian dan batasi lingkupnya. Inilah fungsi dari batasan masalah dan rumusan masalah itu jika tidak ada rumusan masalah pembahasan dengan topik sensitif akan menyebabkan konflik.
  3. Pilah asumsi-asumsi di kepala mengenai topik tertentu. Dengan memilah asumsi kamu bisa tahu mana asumsi yang menjurus pada deskriminatif, dan mana yang cocok untuk penelitian. .
  4. Cari pendekatan yang sesuai dengan latar masalah. Kalau mau membahas berdasarkan kesukuan tertentu dan membandingkan dengan suku lain dalam satu wilayah. Kita mungkin bisa menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi (karena berhubungan dengan kajian budaya) atau pendekatan di bidang antropologi sejarah. Lalu kalian pilih landasan teori yang mendasari masalah penelitian. Sesuaikan dengan ilmu sosial terapan masing-masing. Dan, sebenarnya tidak semua penelitian dengan tema kesukuan, keagamaan atau golongan cocok dengan pendekatan studi komparatif ini.
  5. Kesampingkan Ego. Saat ada asumsi yang terbukti tidak relevan maka peneliti harus lapang dada dan menerima bahwa asumsinya kurang tepat. Namanya juga asumsi yang berarti peneliti memiliki pandangan yang terbatas terhadap hal yang ia teliti tersebut.

source:
penerbitbukudeepublish.com
penelitianilmiah.com
Wiradhika, Nanda. “KONFLIK SARA DALAM NOVEL JALAN LAIN MENUJU TULEHU KARANGAN ZEN R.S. : SEBUAH TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA.” AKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, no. 1, Universitas Negeri Jakarta, June 2018, pp. 17–28.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

jika studi komparatif yang mempunyai tema sara dan menyebabkan konflik, tentu saya lebih baik menghindari hal tersebut. tapi untuk informasi seperti ini, sangat bermanfaat. terimakasih

1 Response