Home / Jendela

Media Sosial dan Impresi Diri, Tak Sebatas Realita

Senjahari.com - 07/09/2022

Media Sosial dan Impresi Diri

Penulis : Dinda Pranata

Media sosial dan impresi sangat berkaitan erat, sebab media sosial menjadi salah satu alat yang mampu memperkenalkan sesuatu dari “bukan apa-apa” menjadi “apa-apa”. Siapa yang setuju? Tapi dari fungsi yang media sosial miliki tersebut, kita pun tahu segala macam efek positif dan negatif dari media sosial itu sendiri. Yang baiknya kita bisa menjadi terkenal atau klisenya menjadi paham informasi. Sedangkan nggak baiknya informasi jadi tidak terkontrol hingga merusak kesehatan mental.

Bagaimana kita menyikapi era media sosial sebagai alat penyebaran informasi dan bagaimana realita yang terjadi?

Media Sosial Atau Media Personal

Media sosial bisa dikatakan sebagai media yang memiliki dua fungsi. Pertama adalah fungsi personal yang mana ia bisa berperan untuk menghubungkan satu orang dengan orang lainnya atau dengan komunitas terdekatnya. Selain itu, ia mampu “catatan” masalah-masalah personal semisal tentang kesehatan, hubungan dengan orang lain, yang tidak bisa diketahui masyarakat selain lingkaran terdekatnya.

Fungsi yang kedua media sosial bisa menjadi media sosial yang sesungguhnya. Maksudnya? Si pemilik media bisa terhubung dengan orang lain di luar komunitas terdekatnya. Saat pemilik semakin banyak terhubung dengan orang lain, ia kehilangan fungsi personal yang sesungguhnya. Sebagai akibatnya informasi yang kita peroleh pun tidak bisa lebih dari sekedar kabar dari kerabat.

Lalu apakah media sosial tidak bisa menjadi media personal? Bisa! Asal orang yang terhubung terbatas pada keluarga, pasangan atau sahabat. Yang terpenting dari sebatas media apa, bukankah tujuannya membuat media sosial itu sendiri? Jika bukan bertujuan sebagai media personal, ya tentu jangan mengumbar hal-hal personal di media sosial. Tapi bukankah banyak media sosial pribadi yang dijadikan ladang bisnis?

Baca juga: Melek Literasi Informasi Perangi Berita Hoaks. Bagaimana Caranya?

Sosial Media as Personal Branding

Seseorang yang menjadikan media sosial pribadi sebagai ladang bisnis memang berkaitan erat dengan personal branding. Ya namanya personal branding, berarti kita menempatkan diri bukan sebagai subyek tapi sebagai obyek. Mengutip dari laman kompas bahwa personal branding adalah cara seseorang menempatkan dirinya atau membangun dirinya sebagai merek tertentu.

Personal Branding dan Impresi di Media Sosial

Personal branding sendiri berkaitan erat dengan impresi diri. Impresi diri merupakan apa yang ingin seseorang tunjukkan di depan orang lain atau mudahnya adalah kesan. Dalam sebuah jurnal tahun 2019 menyatakan bahwa impresi dan personal branding memberikan dampak terhadap bagaimana seseorang memandang pribadinya. Kadang kala impresi diri dalam dunia online bisa membaur dengan impresi diri di dunia nyata dan apa yang ia lakukan untuk menunjukkan citra diri di media sosial bisa mempengaruhi perilaku kita sehari-hari.

Untuk itu banyak para ahli dalam personal branding ini menyarankan agar menentukan tujuan dari personal branding itu sendiri dan mengenali aspek diri sendiri. Tujuannya ya agar branding yang mereka lakukan sesuai dengan diri sendiri dan targetnya. Misalkan saja kita nggak suka olahraga, tapi mau bangun personal branding tentang lifestyle olahraga. Akhirnya yang ada kita maksain diri sendiri dan ujung-ujungnya stress karena tujuannya nggak kesampaian. Jadi dengan kata lain, apakah impresi diri di media sosial itu sama dengan diri kita yang sebenarnya?

Teori Iceberg dan Si Impresi

Seperti yang sudah aku singgung sebumnya, personal branding, media sosial dan impresi di dunia maya bisa membentuk diri kita. Tapi membentuk diri bukan berarti menghilangkan esensi kita sebagai manusia yang memiliki kehendak di luar dunia sosial, atau emosi-emosi yang muncul dalam situasi tertentu. Untuk itu ada harga yang perlu kita bayar dalam membentuk impresi dan personal branding di media sosial. Apa itu?

teori Iceberg dan Media Sosial

Supresi emosional. Seseorang yang sudah membentuk impresi pribadi dari personal branding, harus berlaku sesuai dengan impresi yang mereka tunjukkan. Misal kita mengenal seorang sebagai orang yang humoris, suatu ketika merasa tidak bisa menjadi humoris, sehingga ia harus menekan perasaannya agar sesuai harapn publik. Kondisi surpresi (menekan) emosi justru tidak baik bagi kesehatan mental seseorang tersebut. Kita bisa melihatnya dari kasus-kasus mental depression atau kesehatan mental artis korea selatan.

Baca juga: Menfess- Fenomena Anonimitas Dunia Maya. Kata Apa Sih?

Tidak hanya supresi emosional tapi juga pola perilaku. Seseorang yang membentuk impresi diri sebagai seorang yang glamor atau gaya hidup mewah (misalnya), belum tentu kondisi hidupnya dalam keadaan serba ada. Bisa jadi mereka juga berjuang atau bekerja mati-matian memperoleh materi untuk bisa menonjolkan gaya hidup yang ia bentuk. Hal yang publik lihat dan yang tidak terlihat bisa sangat bertolak belakang. Impresi ini mengingatkanku pada apa yang namanya teori iceberg.

Teori iceberg secara singkat merupakan teori dari Ernest Hemingway. Ia menjelaskan bahwa mata kita hanya menangkap sebagian dari keadaan seseorang/sesuatu, tapi kita tidak tahu apa yang tak terlihat dengan mata kita. Seperti orang yang ceria di media sosial, Apa yang ia tampilkan tak 100% murni keceriaan, bisa jadi ada hal yang tidak ia tunjukkan pada orang lain. Jadi apa personal branding dan impresi diri di media sosial itu buruk?

FInal Thought

As long as, kita menggunakan sesuai porsi dan tujuannya tentu tidak membahayakan. Tapi jika sudah mempengaruhi kondisi psikis dan fisik tentu perlu dipertimbangkan kembali. Tidak bisa dipungkiri bahwa personal branding dan impresi diri juga bisa sangat membantu dalam kita berinteraksi dengan dunia sosial. Dan satu hal lagi, akan lebih bijak jika kita tidak menilai seseorang berdasarkan impresi sebagai kesatuan utuh pribadi seseorang.

Source:
kompas.com
Popescu, Maria Magdalena. “Personal Online Identity-Branding or Impression Management.” Scientific Bulletin, no. 1, Walter de Gruyter GmbH, June 2019, pp. 67–75. Crossref, doi:10.2478/bsaft-2019-0008.
simplypsychology.org/impression-management.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment