Home / Koridor

Munir Said Thalib: 18 Tahun Kematiannya Tak Kunjung Usai

Senjahari.com - 08/09/2022

Munir Salib Thalib

Penulis : Dinda Pranata

Tepat tanggal 7 Agustus 2004, salah satu pejuang HAM bernama Munir Said Thalib meninggal dalam pesawat Garuda GA-974 menuju Amsterdam. Puluhan tahun sang pejuang HAM ini meninggal, tapi sampai sekarang hukuman bagi pembunuhnya serta dalang dari kematiannya belum juga tuntas. Siapa sebenarnya Munir? Apa sisi gelap kematiannya yang terdengar? Dan mengapa kasus Munir mandek hingga 18 tahun terlewati?

Munir Said Thalib dan HAM

Sebagian besar orang hanya mengenal Munir adalah seorang pejuang HAM dan ia yang meninggal tahun 2004 silam. Tapi lebih dari itu Munir pernah menangani kasus-kasus HAM di masa orde baru. Pemilik nama lengkap Munir Said Thalib dan merupakan warga Batu, Malang ini menjadi salah satu pendiri KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan).

Munir Said Thalib dan Ham
Munir dan HAM

Sejak muda Munir sudah aktif sebagai aktifis bahkan ketika ia menempuh studi hukum di Universitas Brawijaya salah satunya adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Melansir halaman merdeka.com salah satu sosok yang acap kali mengajaknya berdebat adalah seorang demonstran bernama Bambang Sugianto, yang kemudian membuatnya semakin tertarik dalam dunia hukum.

Selepas kuliah ia pernah bekerja dalam sebuah lembaga bantuan hukum di Surabaya sebelum akhirnya ia kembali ke Malang dan menjadi ketua cabang lembaga hukum Surabaya di Malang. Hal yang membuatnya begitu lantang memperjuangkan HAM serta mendalami hukum-hukum tentang kemanusiaan ini adalah karena hobi membaca bukunya. Buku-buku yang ia baca bukan hanya kitab undang-undang, tetapi bacaan tentang perjuangan para buruh yang membuatnya kemudian tertarik mendalami hukum hak-hak manusia itu.

Salah satu kasus dalam perburuhan yang terkenal yang ia tangani yaitu pembunuhan Marsinah 1994. Lalu menurut catatan tempo.com, Munir menjadi salah satu orang yang menggunakan gugatan publik untuk menyelamatkan hak-hak para buruh Indonesia. Menurut catatan dari lamanan tersebut Munir menginisasi gugatan publik untuk masalah hak buruh yang mana belum pernah terjadi di Indonesia.

Baca juga: Stigma Kusta: Cermin Buta dalam Nista dan Kusta

Selain membantu kaum buruh, Munir Said Thalib juga menangani kasus-kasus pelanggaran HAM selama periode Orde Baru, sebut saja penghilangan paksa 24 aktifis dan penculikan oleh tim Mawar Koppasus tahun 1998. Lantangnya ia berbicara dan bergerak, membuat gerah pihak-pihak yang sengaja ingin merampas hak-hak kemanusiaan dengan dalih melindunginya.

Pelindung HAM yang Tersakiti

Dari cerita yang aku rangkum tadi, kasus-kasus besar dari pelanggaran HAM menjadi prioritas dari Pak Munir ini. Tak heran banyak pihak yang berusaha menargetkan Munir sebagai target yang perlu mereka sakiti atau habisi nyawanya. Bukan hanya Munir tetapi juga istrinya—Suciwati—dan keluarganya yang mengalami serangkaian teror.

Pejuang HAM Munir
Munir Said Thalib sebagai pejuang HAM

Puncaknya ketika ia melakukan perjalanan dari Jakarta ke Amsterdam untuk menempuh pendidikan S-2nya di negeri itu. Pada 6 September 2004 sekitar pukul 21.55 WIB pesawat garuda GA-974 lepas landas dari Jakarta menuju Negeri Kincir Angin dengan melakukan transit di bandara Changi, Singapura. Tiga Jam setelah lepas landas dari Singapura, di dalam pesawat ia bolak-balik ke toilet dan informasi sakitnya Pak Munir di dengar oleh pilot saat itu.

Suatu kebetulan seorang yang berkenalan dengannya di Singapura (yang sama-sama hendak menuju ke Amsterdam) adalah seorang dokter bernama Tarmizi. Ia kemudian memberikan pertolongan kepada Munir selama dalam perjalanan. Sayangnya ketika dua jam hendak mendarat di bandara Schipol, ia sudah tak bernyawa di ketinggian 40.000 kaki. Dari otoritas Belanda yang melakukan otopsi dan menemukan adanya senyawa racun arsenik yang diduga menjadi penyebab kematiannya.

Banyak sisi gelap pemberitaan yang berseliweran ketika kematian maestro HAM ini tersebar di berbagai media. Pertama, pelaku pembunuhan tersebut adalah antek asing yang ingin melakukan intervensi terhadap situasi HAM di Indonesia. Kematian Munir menjadi senjata untuk menekan Indonesia untuk masalah geo-politik yang terjadi antara Cina dan Amerika. Kedua, persaingan antar LSM yang menyeret kematian Munir. Sayangnya pemberitaan gelap ini tidak terbukti secara kuat. Lantas bagaimana kasus ini berjalan?

Baca juga: Pria Dan Wanita Punya Sisi Maskulin Dan Feminim. Ini Penjelasannya!

18 Tahun Berlalu dengan Terkantung-Kantung

Peradilan untuk kasus Munir sudah berlangsung dan dari peradilan itu memanggil beberapa orang yang mereka duga terlibat dalam kasus ini. Petinggi itu antara lain Muchdi Purwopranjono—mantan petinggi BIN—namun hakim menyatakan bebas. Lalu, Indra Setiawan—mantan Dirut Garuda—yang mendapat vonis 1 tahun penjara atas persengkongkolan pembunuhan.

Rohainil Aini yang merupakan Sekretaris Chief Pilot Airbus Garuda ikut terjerat dan diperiksa. (Alm.) Pollycarpus Budihari Priyanto—mantan pilot Senior Garuda—menjadi pelaku pembunuhan Munir dan mendapat Vonis 14 tahun penjara. Tak berselang lama dari pembebasan mantan petinggi BIN, tiga hakim yang menyatakan bebas diperiksa. Bahkan nama Prabowo Subianto sempat terseret atas kasus ini secara tidak langsung.

Sayangnya kasus pembunuhan Munir tidak selesai bahkan setelah 18 tahun berlalu. Banyak pihak yang merasa bahwa pemerintah sengaja menutupi kasus dan dalang dari kematian pejuang HAM ini. Sampai saat ini siapa dalang dan mengapa Munir harus meninggal secara tidak adil belum menemui titik terang. Pada tahun 2016 lalu tim pencari fakta menghilangkan bukti yang sudah terkumpul. Kondisi ini seolah menambah daftar panjang dari masalah pengusutan kasus pejuang HAM ini. Ujung-ujungnya dari semua hal itu pada tahun 2021, komisioner Komnas HAM memiliki beda pendapat terhadap kategori pelanggaran HAM pada Munir.

Only Hope for Justice

Serumit apapun kasus yang terjadi apalagi menyangkut hilangnya nyawa secara “paksa” harus ditindak tegas bukan. Membiarkannya berlarut-larut membuat pelaku kebal akan hukum dan masyarakat jadi hilang ia kepercayaan pada hukum. Jangan hanya kasus Brigadir J yang menjadi perhatian tetapi juga kasus kelam masa lalu yang belum menemui titik terang.

Source:
kompas.com
bbc.com
imparsial.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment