Home / Pojokan

Stigma Penikmat Buku: Anti-Sosial, Mungkinkah?

Senjahari.com - 12/09/2022

Stigma Penikmat Buku

Penulis : Dinda Pranata

“Serius amat Sis?” tanya Hera di sela-sela jam istirahat. “Nggak sih, cuma lagi seru-serunya aja,” sahut Siska sambil melirik Hera yang menyeruput pop ice coklat-nya.
“Sekali-kali kumpul sama anak-anak gitu kek! Baca mulu kerjaanmu,” keluhnya. “Kan kadang-kadang ikut kumpul juga,” sahut Siska tanpa memalingkan wajah.
“Kamu itu ya kebanyakan baca, awas jadi anti sosial terus nggak punya temen,” kata Hera menakut-nakuti. Tapi, sekali lagi cerita-cerita itu hanya numpang lewat di telinga Siska.

Siapa Takut Baca Buku by Dinda Pranata

Sering nggak sih dengar stigma-stigma aneh dari orang sekitar, tentang orang yang hobi baca? Stigma ini kadang berseliweran setiap seseorang ingin lebih banyak menghabiskan waktu buat membaca buku. Mulai dari stigma bacaannya lah, bahkan sampai orangnya sendiri jadi target stereotipe. Salah satu stigma yang cukup sering yaitu pembaca buku itu seorang yang anti-sosial. Sebelum jauh kita kenalan dulu deh sama si anti-sosial itu ya?

Anti-sosial Berdeda dengan Sosial Phobia atau Introvert

Sering kali orang menganggap orang yang anti sosial ini adalah introvert atau juga sosial phobia. Padahal tiga istilah ini sangat berbeda sama sekali. Introvert adalah mereka yang lebih senang menikmati waktu sendiri daripada berkumpul dengan banyak orang. Lalu, phobia sosial adalah kondisi gangguan psikologis yang membuat seseorang takut secara berlebihan saat berinteraksi dengan orang banyak. Dan, anti-sosial adalah gangguan psikologis yang mana seseorang memiliki kecenderungan untuk melanggar norma-norma sosial bahkan melanggar hukum.

Lalu mengapa orang salah mengira ketiga istilah tersebut?

Ketiga istilah itu merujuk pada pribadi yang lebih banyak menarik diri dari hingar bingar keramaian dunia luar. Introvert lebih nyaman ketika ia menghabiskan waktu sendirian untuk mencari ketenangan. Lalu sosial phobia sengaja menarik diri dari keramaian karena masalah yang pernah ia alami di lingkungan sosialnya. Dan, anti sosial menarik diri dari lingkungannya karena tidak bisa beradaptasi dengannya sehingga ia cenderung mengganggu ketentraman.

Baca juga: Bagai Srikandi yang Mencari Panah Bersama Asus Zenbook 14X OLED (UX5400)

Maka nggak heran nih banyak yang salah menilai orang yang menarik diri sebagai orang yang anti sosial. Pertanyaan selanjutnya kenapa orang yang membaca buku selalu dikaitkan dengan anti sosial?

I Love to Read, Because ….

Banyak orang yang melihat bahwa (semua) orang yang suka membaca buku adalah orang yang suka menarik diri dari lingkungan sosial. Tapi kenyataannya tidak semua pembaca buku adalah orang yang introvert. Ada juga mereka yang suka membaca buku ternyata seorang ekstrovert. Masalahnya bukan dari apakah orang itu menarik diri dari lingkungannya atau tidak, tapi lebih pada apa tujuan dari seseorang membaca buku sehingga orang tersebut ingin menarik diri?

Stigma Penikmat Buku adalah Anti-Sosial
Stigma Penikmat Buku adalah Anti-Sosial

Tujuan orang membaca bisa berbeda-beda termasuk dari jenis bacaannya. Misalkan ia perlu menenangkan diri, mempelajari hal baru hingga meningkatkan minat baca yang membutuhkan kosentrasi. Dari tujuan ini biasanya kita akan menentukan jenis bacaan yang akan kita pilih. Contohnya kita ingin mempelajari sesuatu yang baru tentang IT, maka kita akan mencari bacaan-bacaan tertentu tentang IT. Atau kita ingin menenangkan diri dengan bersantai, maka biasanya kita akan memilih bacaan yang ringan dan mudah dipahami atau bacaan yang menghibur.

Tapi hemat saya, masih belum ada penelitian yang mengukur secara pasti apakah semua orang/mayoritas orang yang membaca buku akan menarik diri dari lingkungannya. Sejauh yang tertangkap justru sebaliknya, bahwa orang yang senang membaca justru mampu mengembangkan social skill yang baik. Salah satunya berdasarkan penelitian dari Keith Oatley, psikolog kognitif asal Kanada. Ia menjelaskan bahwa seseorang yang membaca buku khususnya fiksi bisa meningkatkan empati pada orang lain.

Menekankan pada tujuan membaca sebuah literatur akan lebih baik daripada hanya memberikan stigma pada penikmat buku karena dengan alasan menarik diri dari lingkungan sosialnya. Bukankah manusia ini tergerak karena adanya motif/tujuan itu sendiri termasuk untuk sebuah alasan, “ah, hanya iseng membaca buku!” Lalu mungkinkah membaca buku membuat mereka menjadi anti-sosial?

Baca juga: Resensi - Quiet Impact! Tak Masalah Menjadi Orang Introver. Mereka Pun Butuh Diterima!

Stigma Penikmat Buku

Saat kita membaca buku kita melakukan banyak pemrosesan nggak cuma sekedar membolak-balikkan halaman. Kita sering sekali mendengar istilah reading comprehension (yang sering ambil TOEFL, JLPT, KLPT, dll) dalam ujian kebahasaan. Dalam kemampuan membaca suatu teks ada pemrosesan yang terjadi pada otak seperti pemahaman kata yang terangkai, pengenalan huruf dan mengkorelasikan antara pemahaman makna dengan informasi yang sudah diperoleh.

Mereka yang “normal” atau tidak memiliki masalah kesehatan mental tentu bisa menerjemahkan materi bacaan dengan cukup baik. Dengan kata lain mereka bisa menyaring informasi dari bacaan yang mereka baca. Tapi berbeda dengan pembaca yang punya masalah dengan kesehatan mental tertentu, terutama yang berhubungan dengan kemampuan membaca seperti dialexia, ADHD, Autisme atau problem mental lainnya.

Stigma Reader Karena Faktor Kognitif
Stigma Reader Karena Faktor Kognitif

Dalam sebuah jurnal penelitian tahun 2021 memaparkan bahwa membaca buku memiliki efek positif bagi orang yang kognitifnya tidak memiliki masalah (dalam hal ini kesehatan mental sangat berpengaruh pada struktur otak atau kognitif seseorang). Contohnya pada orang yang mengidap skizofrenia membaca buku thriller bukan tidak mungkin ia menjadi seorang yang anti-sosial karena halunisasi akan ketakutannya sendiri. Lantas orang yang mengalami masalah kesehatan mental apa tidak boleh membaca buku atau menjadi penikmat buku? Boleh! Asal buku yang mereka baca menyesuaikan dengan kondisi fisik dan psikis mereka serta bersamaan dengan terapi yang sesuai dengan kondisi mentalnya. Ingat kasus pembunuhan John Lenon yang mana pembunuhnya terinspirasi dari sebuah buku. Hal itu tidak hanya berdampak pada si pelaku tetapi juga buku J.D Salinger sendiri.

Final Thought

Membaca buku tidak hanya bisa membawa dampak positif pada seseorang tapi juga dampak negatif. Membaca akan memberikan dampak yang baik ketika faktor pembaca (mental dan psikis) dan bahan yang dibaca membawa manfaat. Pun, dengan efek yang negatif jika hubungan antara faktor pembaca dan bahan bacaan kurang sesuai maka yang terjadi bisa saja anti-sosial atau perilaku yang menyimpang lain.

Jadi stigma penikmat buku adalah orang yang anti-sosial itu bisa jadi benar, jika penikmat buku memiliki masalah pada kemampuan kognitifnya sehingga kurang mampu menyaring isi bacaan yang dibacanya. Next time akan dibahas juga kondisi negatif atas kepemilikan buku. Stay Tune ya!

Source:
Vanova, Martina, et al. “Reading Skills Deficits in People with Mental Illness: A Systematic Review and Meta-Analysis.” European Psychiatry, no. 1, Royal College of Psychiatrists, Nov. 2020. Crossref, doi:10.1192/j.eurpsy.2020.98.
verywellfamily.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

Saya suka ulasannya. Telebih lagi saya jadi tahu bahwa ansos, sosial phobia dan introvert 3 hal yang berbeda yang sering kali dianggap sama.
Memang benar kalau buku bisa membawa dampak negatif, terlebih bagi mereka yang gangguan kognitifnya terganggu. Saya sendiri lebih suka membaca buku bertema self development, ketimbang fiksi ataupun yang berbau teologi. Bukan karena kognitif saya terganggu, hanya membacanya butuh lebih banyak konsentrasi.

1 Response