Home / Jendela

Gender dari Biologis ke Sosiologis

Senjahari.com - 13/09/2022

Gender

Penulis : Dinda Pranata

I’m try to show everybody that I’m a girl and I’m five foot four and you can do anything you want, no matter your gender. It’s your world, too!

Billie Eilish-Penulis Lagu dan Penyanyi

Gadis belia dengan gaya rambut berwarna, entah warna abu-abu atau warna cerah dan terang, duduk di depan sorot kamera. Ia menghadapi wawancara dengan banyak media tentang pemikirannya pekerjaan dan kehidupan pribadinya secara terbuka dan jujur. Dia adalah Billie Eilish. Ia memiliki banyak sekali hal unik dari seorang gadis belia berusia 16 tahun dengan karir bermusiknya. Tapi gadis itu memiliki pemikiran yang jarang dimiliki gadis seusianya yang tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah umum alias dia hanya merasakan pendidikan homeschooling.

Siapa sangka gadis belia yang kini usianya 21 tahun ini merupakan aktivis sosial yang gaung terhadap isu-isu sosial dan lingkungan. Banyak sekali kampanye yang ia lakukan seperti isu perubahan iklim, termasuk aktivis yang gaung terhadap permasalahan isu gender. Seperti yang dikutip di atas, ia sangat menyuarakan kegelisahan masalah tersebut yang tak kunjung usai utamanya tentang hak-hak wanita.

Billie Eilis ini tidak hanya menyuarakan kegelisahannya lewat orasi, bahkan lagu-lagunya pun menyoroti masalah gender. Salah satunya ketika ia menulis lagu berjudul Wish You Were Gay. Gara-gara judul itu aku semakin terpancing buat tahu lebih jauh lagi sebenarnya dari mana asal gender sebenarnya.

Istilah yang Punya Untung Rugi

Apa itu Gender?
Apa itu Gender?

Yang pernah belajar bahasa Jerman, Perancis, Belanda atau Spanyol mungkin sangat familiar dengan istilah gender dalam tata bahasa. Jika dalam tata bahasa gender dibagi menjadi dua atau empat yaitu feminim, maskulin, netral dan natural. Tapi lain halnya dengan gender pada manusia yang hanya terbagi menjadi dua (feminim dan maskulin).

Baca juga: Tanya Kenapa-Wanita Lebih Emotional? ataukah Itu Hanya Masalah Persepsi?

Dalam sebuah buku dari Brooke Holmes yang meninjau istilah gender pada masa kuno memaparkan bahwa mereka (orang-orang Romawi atau Yunani kuno) tidak mengenal apa itu gender tapi hanya mengenal jenis kelamin. Pada masa itu mereka sama-sama memperdebatkan persoalan feminis, maskulin dan perbedaan seksual hanya saja berbeda dengan cara kita (orang-orang modern). Jika kita melihat kembali alasan orang-orang primitif membagi kata benda dengan gender tentu karena ilmu mereka masih primitif yang mengenal feminis dan maskulin atau netral dari kondisi biologisnya saja.

Sebuah artikel jurnal tahun 1986, yang menjadi rujukan sekitar hampir sembilan ribu orang, menyatakan bahwa kaum feminis menggunakan istilah gender untuk menjembatani hubungan/peran sosial antara laki-laki dan perempuan. Sayangnya penggunaan istilah ini ada untung ruginya. Keuntungannya adalah dalam sifat tata bahasa yang baku membagi kata secara feminis dan maskulin yang bisa diterapkan pada manusia. Namun ruginya adalah ketika kata gender ini menjadi konsep yang menimbulkan pro kontra dalam konstruksi sosial.

Istilah Gender dan Bukan Jenis Kelamin?

Istilah Feminim dan Maskulin dalam Bahasa
Istilah Feminim dan Maskulin dalam Bahasa

Menggunakan istilah jenis kelamin perempuan dan laki-laki akan menjurus pada kondisi biologis dari manusia. Misalkan biologis perempuan memiliki vagina, hormon pemicu hamil dan lainnya. Lalu laki-laki memiliki testis, testoteron dan lainnya. Sedangkan peran sosial perempuan seperti mampu bekerja di masyarakat serta memiliki kontribusi membangun lingkungan sosial. Penggunaan satu istilah seksual tidak akan membantu kaum perempuan dalam menyuarakan haknya untuk berperan dalam dunia sosial.

Belum lagi pernyataan yang mencampurkan antara peran sosial dan keadaan biologis pernah dipublikasikan oleh Geddes and Thompson tahun 1889. Mereka berdua adalah pihak yang pro terhadap determinis biologis yant menyatakan bahwa perempuan/wanita kurang cocok untuk bekerja secara aktif di bidang sosial-politik karena metabolisme yang membuat wanita lebih pasif dan lambat daripada pria. Dengan dalih itu pihak yang pro maskulinitas akan merepresi hak-hak perempuan untuk berkontribusi di bidang yang sama dengannya.

Pandangan klaim-klaim pihak yang pro terhadap penentangan hak-hak perempuan terus menerus mencampur adukkan antara faktor biologis, psikologis dengan peran sosial yang seharusnya setara. Sehingga pergerakan feminisme berusaha untuk mendobrak pandangan determinisme biologis tersebut dengan menggunakan istilah gender sebagai pembeda. Penggunaan istilah gender pun dimaksudkan agar lebih netral yang tak hanya menunjuk pada satu pihak (wanita/feminisme) melainkan pihak laki-laki (maskulin) sendiri.

Baca juga: Upacara Kedewasaan Di Bali dan Di Jepang yang Berbeda Tujuan

Sayangnya penggunaan istilah “gender” ini tidak membuat kondisinya jadi lebih baik. Campur aduk antara biologis wanita dan peran sosial masih terjadi hingga berabad-abad lamanya. Ditambah lagi dalam istilah gender kebahasaan sendiri ada satu istilah yaitu unsex/netral.

Source:

https://plato.stanford.edu/entries/feminism-gender/

Scott, Joan W. “Gender: A Useful Category of Historical Analysis.” The American Historical Review, vol. 91, no. 5, 1986, p. 1053., https://doi.org/10.2307/1864376.

Wheeler, Benj. I. (1899). The Origin of Grammatical Gender. The Journal of Germanic Philology, 2(4), 528–545. http://www.jstor.org/stable/27699089

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

Karena konstruksi gender secara sosial tidak membatasi hanya dari kondisi biologis, mungkin itu ya Mbak yang menyebabkan banyak sekali istilah gender yang ada sekarang, misal transpria dan transpuan. Pun masing-masingnya ada kategorinya lagi sepertinya. Kajian tentang gender selalu menarik untuk didiskusikan karena luasnya pengaplikasian ya Mbak hehe, ga habis-habis kalau dibahas

1 Response