Home / Jendela

Adakah Ibu yang Baik? Sebuah Refleksi Untuk Pemahaman Kanan dan Kiri

Senjahari.com - 30/09/2022

Adakah ibu yang baik?

Penulis : Dinda Pranata

Marni duduk termenung di kursi teras, pukul sebelas malam ketika semua anaknya sudah terlelap dalam tidurnya. Saat yang lain sedang mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya, tapi Marni malah menjelajahi pikirannya yang kusut bak jemuran yang baru dicuci. Aktifitas pagi buta sebelum suaminya bangun, rengekkan kedua putranya yang semakin besar dan para telunjuk serta mulut yang mengadu ke arah dirinya membuatnya merasa menjadi ibu yang baik tidaklah mudah. Apa yang harus dilakukannya?

Beban Tanggung Jawab Vs Penerimaan

“Pak, aku itu capek banget lho,” kata Marni sambil mengasuh Dodo yang masih balita. “Bisa nggak sih, kalau di rumah sekali-kali bapak tidak perlu bawa kerjaan.” Sekali lagi Marni meminta suaminya untuk bisa memperhatikan dia dan keluarganya.

“Lha, aku ini ‘kan kepala rumah tangga. Tugasnya ya bekerja, kalau aku tidak bekerja siapa yang mau membiayai keluarga.” sahut Suaminya dengan santai tanpa memperhatikan Marni. “Lah, tadi sudah bekerja di kantor selama delapan jam, masak iya kurang?” tanya Marni masih berusaha menahan emosi.

“Lha, ini kerjaan harus diselesaikan besok. Sudah kamu kan tanggung jawabnya mengurus rumah dengan baik jadi lakukan saja tugas itu dengan baik,” kata suaminya. Marni yang sedari tadi sudah mengkomunikasikan perasaan dan rasa lelahnya, menjadi meluap dan mengomel kepada suaminya.

“Aku ini kurang apa? Mengurus rumah dari pagi sampai malam, jarang main keluar rumah karena mikirin keadaan keuangan, belum lagi anak-anak ya perlu perhatian sampai akhirnya aku mengabaikan kebutuhanku sendiri!” keluhnya kemudian. “Bapak marah-marah ke aku kalau anak-anak rewel, anak jatuh aku juga yang disalahin, aku marah ke anak-anak juga disalahin, marah ke bapak sama saja disalahin!” lanjutnya. Ia akhhirnya hanya bisa menyimpan semua amarah, rasa lelah seorang diri sambil menangis di saat mereka sedang tidur.

Baca juga: Tanya Kenapa-Wanita Jadi Obyek Seksual?

Beban Tanggung Jawab dan Penerimaan Diri
Beban Tanggung Jawab dan Penerimaan Diri

Kondisi yang dialami oleh Marni bisa jadi banyak terjadi di luar sana. Pandangan tentang tanggung jawab sebagai ibu yang baik bergeser ke ibu yang luar biasa. Luar biasa untuk menahan emosi, luar biasa untuk bersikap ceria saat dirinya mengalami rasa sedih di depan anak dan suami, dan luar biasa lain. Sehingga yang terjadi antara beban tanggung jawabnya tidak berimbang dengan penerimaan sisi manusia sang ibu dari lingkungannya. Lantas benarkah ada ibu yang baik?

Idealistis dan Realistis

Pertanyaan mengenai ibu yang baik sejatinya seperti sebuah pemikiran yang idealistik di kalangan perempuan bahkan laki-laki. Kalau ada pertanyaan, sesudah menikah ingin menjadi apa. Maka jawaban yang paling banyak adalah “menjadi ibu yang baik atau suami yang baik.” Begitu pun dengan kaum adam atau hawa ketika ada pertanyaan ingin istri/suami yang seperti apa, maka jawabannya adalah “ingin istri/suami yang baik.” Rasanya jawaban “yang baik” ini membuat kita sering salah memetakan harapan dan membuat kita terguncang saat ada sesuatu yang “kurang baik” terjadi.

Realitanya adalah tidak hanya ibu, semua manusia termasuk suami, anak, perempuan dan laki-laki tidak ada yang namanya baik. Manusia tidak hanya terdiri dari kutub positif tetapi juga kutub negatifnya. Selain kenyataan bahwa manusia terdiri dari dua sisi, konsep baik juga terlalu relatif bagi banyak orang. Contohnya kita tahu bahwa berbohong itu buruk tetapi kita masih berbohong entah untuk melindungi keluarga/hal paling penting lain. Pada akhirnya membuat perilaku bohong dalam konteks tertentu menjadi benar atau kita sering menyebutnya sebagai kebohongan putih.

Sama halnya dengan banyak orang yang melekatkan konsep ‘ibu yang baik’ pada banyak wanita. Lalu mengapa pelekatan itu begitu membebani para wanita seperti Marni?

Ibu yang Baik Itu Tidak Ada!

Menjadi Ibu yang Utuh
Ibu yang Seutuhnya

Ketika mengetikkan “bagaimana menjadi ibu yang baik” atau “menjadi ibu yang baik” di halaman google, kita akan menemukan banyak sekali cara untuk menerapkan bagaimana menjadi sosok yang seperti itu. Jika kita baca (hampir) kebanyakan isinya cukup idealis seperti menjadi pendengar untuk anak/suami, selalu ada untuk keluarga, sabar, menjadi panutan ‘yang baik’ bagi anak dan dari beberapa artikel juga menyebutkan kita perlu berhenti mencari kesempurnaan. Tapi apakah bunda yang notabene adalah manusia, semudah itu berlaku sesuai kriteria “yang baik?”

Baca juga: Bagai Srikandi yang Mencari Panah Bersama Asus Zenbook 14X OLED (UX5400)

Manusia itu rumit. Mereka adalah seperangkat proses yang terdiri dari masa lalu, masa kini, harapan, emosi, logika, neuron, fisik, psikis, kegembiraan dan tetek bengeknya. Ketika seorang ibu menjadi marah suatu hari, apakah ia bukan sosok yang baik? Ketika seorang ibu memutuskan kembali bekerja dengan konsekuensi meninggalkan anak di rumah, apakah ia juga bukan sosok yang baik?

Sosok yang baik, kini menjadi sebuah tuntutan sosial, budaya dan agama. Yang tidak mulai dari hari ini, tetapi sejak dahulu kala ketika perempuan lekat dengan ranah domestik. Tuntutan menjadi ibu yang baik inilah, yang menyebabkan banyak ibu bahkan perempuan mengalami gangguan mental, KDRT hingga bunuh diri dengan membawa tanggung jawabnya (anaknya). Masyarakat menuntut mereka sedemikian rupa agar sesuai standar nilai ‘yang baik’, tanpa memperhatikan hal seperti masa lalunya, harapannya, prinsipnya, ketakutannya dan lainnya.

Lantas bisakah kita dengan mudahnya mengatakan mereka bukan ibu yang baik? Terlalu naif dan idealis memberikan stigma ‘bukan ibu yang baik’, saat mereka melakukan hal di luar sikap ‘ibu yang baik’ terutama kepada mereka yang berjuang sedemikian kerasnya. Tidak ada ibu yang baik dan tidak ada ibu yang sempurna. Kita tidak bisa hanya menilai sebagai kanan dan kiri atau jika ia tidak sesuai standar itu, artinya buruk. Lalu jika ibu yang baik tidak ada, bagaimana selanjutnya?

Seorang Ibu Seutuhnya

Saat kita memandang langit, apa yang kita lihat atau pikirkan tentangnya? Ya langit biru, terang, kadang mendung, hitam saat malam, dan sebagainya. Saat kita mendeskripsikan itu, kita melihat langit secara utuh termasuk hal baik dan buruk yang ia miliki. Seorang ibu tak perlu resah untuk mengikuti standar masyarakat yang makin bias dalam menjadi ibu yang baik. Yang perlu ibu lakukan adalah menjadi ibu yang utuh dengan menyadari kita manusia yang punya kekurangan serta kelebihan.

Catatan untuk seorang ibu: walau tidak ada ibu yang baik, bukan berarti kita bisa melakukan kesalahan berulang kali tanpa perbaikan dengan dalih itu sebuah kesalahan demi menjadi utuh. Tetap ada koridor hukum yang jelas ketika berbicara tentang menjadi utuh dan menerima serta memperbaiki kesalahan. Koridor yang aku maksud adalah jangan sekalipun merusak/menghilangkan apa yang menjadi hak dasar manusia (dalam hal ini menyangkut atribut fisik dan psikologis seperti membunuh, menyakiti, melecehkan, memukul, dll)

Baca juga: Nyai: Peyorasi Istilah Perempuan dan Prostitusi di Masa Kolonial

Koridor itulah yang kemudian akan membantu kita dalam menakar apa yang keliru. Sehingga, kita bisa segera menyadari dan memperbaiki keadaan dengan mencari cara yang sesuai dengan kemampuan/kondisi sadar dari diri sendiri.

Ini sebuah refleksi bagi kita yang sering memandang hitam dan putih pada seseorang. Kalau tidak baik ya buruk, kalau tidak sesuai ya salah. Kadang ada wilayah abu-abu yang membatasi sisi kanan dan kiri, salah dan benar, atau baik dan buruk. Wilayah abu-abu itulah yang kadang kala menjadikan kita lebih manusiawi, sekaligus sisi yang penuh misteri.

Dinda Pranata

Source:
theschooloflife.com
Lozano, Elizabeth B., and Sean M. Laurent. “The Effect of Admitting Fault versus Shifting Blame on Expectations for Others to Do the Same.” PLOS ONE, edited by Rick K. Wilson, no. 3, Public Library of Science (PLoS), Mar. 2019, p. e0213276. Crossref, doi:10.1371/journal.pone.0213276
hbr.org
jurnalperempuan.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

Dari pengalaman saya suami yang menuntut istrinya harus selalu jadi istri/ibu yang baik, yang sempurna, biasanya si suami itu yang justru punya banyak kekurangan. Orang-orang di sekitar saya yang suka menuntut orang lain harus baik, sempurna, juga cenderung punya banyak kekurangan.

Nangis saya baca tulisan ini. Saya sedih karena tidak bisa jadi Ibu sempurna buat anak-anak saya

Jo Christie Huang

Seringkali orang lupa bahwa seorang ibu juga manusia. Sayangnya ibu identik dengan “super woman” yang harus serba bisa dan harus panjang sabar. Kondisi ini harus segera diubah untuk kesehatan mental para ibu.

setuju. menurutku sendiri, setiap orang tentunya selalu melakukan kesalahan. tapi, yang membedakannya adalah apakah kita mau memperbaiki dan belajar dari kesalahan twrsebut atau malah terjerumus dan keterusan melakukan kesalahan.

Yunita Sintha Dewi

Makasih banyak tulisannya. bikin hati hangat hehehe. Aku pun sudah nggak percaya dengan kata ibu baik. Kita manusia yang selalu punya sisi gelap dan sisi terang. Jadi nggak bisa dibilang sepenuhnya baik. Asal saat berada di sisi gelap kita bisa berusaha menemukan jalan utk kembali ke sisi terang, bagi ku, itu cukup.

Keknya jadi ibu yg sempurna itu beyond my imagination. Jauh dari kata sempurna, sedih sih

Annisa Khairiyyah Rahmi

Setuju banget ya allah. Awalnya aku juga berusaha banget jadi ibu yang baik wkwkw. yang ada bukan jadi baik tapi marah terus karena aku emosi ga ada waktu untuk diri sendiri. Sekarang aku coba menjadi bahagia aja dengan seimbangkan waktu untuk diri sendiri, anak dan suami, alhamdulillah udah jarang marah maarah dan berpikiran aneh aneh.

Sedih kalo berada di posisi istri yang seperti ini, membayangkan kelelahan fisik dan mental yg dihadapi. Berharap jg dapet suami yg bisa jadi partner, bukan hanya membebankan ‘tugaa masing-masing’ tapi bisa kerjasama seutuhnya.. Aamiian

Saya setuju sekali membaca artikel ini. Pada kenyataannya menjadi seorang Ibu tidaklah mudah. Sebagai seorang Ibu pastinya selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun sering kali kita lupa, seakan Ibu itu harus sempurna. Seakan semua kegiatan mengurus anak adalah tanggung jawabnya. Padahal ibu juga manusia, yang memiliki dua sisi.

tulisan yang menyejukkan, relevan juga dibaca untuk laki-laki. thanks for sharing senja.

menjadi ibu yang baik, suami yang baik, anak yang baik, orang tua yang baik, semuanya akan kembali kepada masing2 yang menilai alias nisbi, apalagi kalo hanya di dasarkan pada tuntutan semata

Arief | parentspedia.com

Jadi renungan pribadi ni sebagai suami dalam memberikan perhatian kepada istri yg sekaligus ibu bagi 2 orang putra yg masih balita.

Aku pun berpikir hal yang serupa.
Tidak ada seorang Ibu yang menginginkan keluarganya tidak bahagia. Maka ini pentingnya ada suami dan anak-anak, sehingga ketika apa yang sedang dilakukan Ibu terasa “kurang tepat” maka boleh diberi tahu dengan cara yang baik sehingga semua bisa saling bekerjasama sesuai dengan perannya masing-masing.

Karena sejujurnya, aku juga butuh jadi diri sendiri yang bisa menuangkan segala kesukaan dan mewarnai canvasku dengan bebas, terlepas dari peranku sebagai seorang Ibu, istri atau anak.

Anggita R. K. Wardani

Kalau ngobrolin tentang Ibu yang baik, sampai kapan pun gak akan pernah ada ibu yang baik. Adanya ibu yang mau belajar dari kesalahan dan terus memperbaiki diri

Kalau buat saya, semua ibu itu baik 🙂
Tidak ada ibu yang tidak baik, ini untuk ibu yang gelarnya karena punya anak ya.

Yang lain juga baik, tapi saya fokusnya ke yang punya anak.
Saya berpikir, anak itu milik Tuhan, bagaimana bisa Tuhan yang menciptakan manusia mau nitipin sesuatu-Nya, sama orang sembarangan.
Tentu saja, Dia memilih hamba-Nya yang bisa dipercaya kan.

Karenanya, semua ibu itu baik.
Yang saya butuhkan itu hanyalah penerimaan diri, berdamai dengan hal-hal di luar kontrol saya.
etapi seperti biasa, ini opini saya semata ya.
Semangat buat semua ibu di dunia ini 🙂

15 Responses