Home / Pojokan

Seberapa Pentingkah Lingkungan Sosial Bagi Penulis/Sastrawan?

Senjahari.com - 04/10/2022

Sosiologi Sastra

Penulis : Dinda Pranata

Sewaktu menulis beberapa buku antologi bersama dengan rekan-rekan penulis. Ada satu pertanyaan yang menurutku agak penting tapi juga nggak penting. Bisa jadi pertanyaan ini perlu dan nggak perlu ada dalam sebuah karya penulisan. Seberapa pentingkan lingkungan sosial mempengaruhi seorang penulis?

Ternyata pertanyaan ini pun pernah diungkap oleh Sapardi Djoko Damono dalam bukunya Sosiologi Sastra. Apa sih sastra itu? Apakah benar latar belakang sosial si penulis mempengaruhi karya yang ia buat? Dan bagaimana tantangan dari dunia penerbitan di Indonesia sendiri? Semua akan kita kulik satu-satu beserta tantangan dari membaca buku ini.

Sastra Tak Sebatas Tulisan

Bicara sastra, maka dalam kepala sebagian besar orang adalah novel, babad, hikayat, prosa, puisi dan segala bentuk karya tulis. Namun karya sastra tidak hanya sebatas produk yang kita hasilkan melalui tulisan. Sebelum adanya aksara orang primitif menggunakan dongeng secara lisan sebagai bentuk karya sastra.

Seperti yang kita tahu bahwa tulisan sendiri ada, karena adanya kebutuhan akan perekaman yang nyata dari sebuah dongeng atau tradisi oral itu sendiri. Seperti yang Pak Sapardi contohkan, bagaimana perubahan dongeng kancil yang dituturkan seorang nenek pada cucunya, kemudian berubah jadi karya sastra tulisan berbentuk gambar hinga buku. Pun dengan tembang, kidung sampai mantra yang dirapal pawang atau sinden dalam sebuah acara pewayangan pada dasarnya berasal dari sastra lisan, yang kemudian dituliskan dalam kitab-kitab tertentu.

Sastra dan Masyarakat
Sastra dan Masyarakat

Belum lagi setelah ditemukannya mesin cetak yang mengawali pesatnya industri karya sastra, dan membuat bacaan menjadi sebuah kebutuhan tersier bagi beberapa kalangan. Dampak nyatanya adalah meningkatnya tingkat literasi dan menurunnya tingkat buta huruf pada masa renaisance. Namun tantangan terbesar dari percetakan zaman itu adalah proses pendistribusian sehingga seperti bacaan/karya sastra hanya bisa dinikmati oleh sebagian kaum menengah ke atas.

Baca juga: Pojokan-Apa Yang Sastra Ajarkan Pada Manusia

Di zaman sekarang yang mana sudah serba digital dan arus pendistribusian sudah bukan lagi halangan, karya sastra toh tetap mengalami serangkaian perubahan dan perkembangan yang signifikan. Misalkan bagaimana sebuah sastra berwujud buku bisa dinikmati dengan mata atau menimbulkan efek dramatis yang tidak bisa diberikan dari sebuah teks. Itulah sebabnya kita mengenalnya sebagai animasi atau film.

Tapi apakah perkembangan itu menjadikan sastra sudah jauh dari kata masalah?

Sosiologi Sastra dan Tantangan dari Kritikus untuknya

Sastra semakin berkembang, tidak menjadikan sastra lepas dari masalah-masalah yang melingkupinya. Salah satunya adalah munculnya perdebatan tentang aspek-aspek implisit dan eksplisit dari sastra itu. Perdebatan itu tidak hanya tentang fungsi sastra tetapi juga menyangkut latar belakang serta tujuan dari penulis itu sendiri. Hasilnya adalah munculnya teori-teori sastra yang berkembang untuk menjawab sastra dari berbagai aspek baik implisit atau eksplisitnya.

Teori Kritik Sastra
Teori Kritik Sastra

Salah satu yang menjadi pendekatan dari teori-teori itu adalah sosiologi, yang merupakan cabang ilmu tentang manusia dalam masyarakat tertentu; termasuk menelaah tentang lembaga dan proses sosial dari manusia. Sebenarnya pendekatan sosiologis ini lebih lentur dan humanis daripada pendekatan struktural atau historis yang cenderung kaku. Pasalnya antara sastra dan sosiologi tidak jauh berbeda yang mana membahas tentang manusia dan pandangannya tentang suatu hal di sekitar.

Namun memang sosiologi sebagai metode telaah sastra terkadang kurang mendapat perhatian dan kurang dianggap. Karena kebanyakan pihak memandang sastra sebagai karangan imajinatif yang tidak nyata. Bahkan, pihak yang meyakini suatu teori yang struktural (menilai karya dari struktur teks) akan cenderung menolak telaah secara sosiologis (hubungan karya dengan lingkungannya).

Baca juga: Sastra Gotik, Sastra Kelam di Abad Pertengahan. Pernah Dengar?

Bagi kritikus, sastra tampak sebagai suatu kegiatan yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Karya sastra harus di dekati dari segi struktur, metafora, penyusunan citra, ritme, dinamika alur, penokohan dan lain-lainnya….

Sosiologi Sastra hal 19

Kondisi ini banyak terjadi di negara barat sejak ditemukannya mesin cetak. Bahkan hal itu juga diakui oleh pak Sapardi dalam bukunya ini, yang sebagian besar mengutip kritikus dan sastrawan ahli dari barat. Padahal kedudukan sastra memiliki fungsi-fungsi strategis dalam masyarakat. Contohnya sebagai penanaman ideologi tertentu, kritik dalam suatu lembaga masyarakat, bahkan sebagai pengajuan solusi yang implisit atas isu tertentu dan masih banyak lagi.

Lalu bagaimana perkembangan sastra di Indonesia sendiri dan kaitannya dengan penerbitan?

Problem Penerbitan Indonesia

Sebelum era kemerdekaan atau pada masa kerajaan-kerajaan, di Indonesia sendiri sudah punya sastra yang tentu saja berawal dari rapalan para pawang. Namun karena manusia sendiri membutuhkan yang namanya pencatatan atau perekaman visual, sehingga rapalan mantra dan kidung itu kemudian ditulis.

Tulisan itu kemudian menjadi sebuah kitab-kitab dan serat-serat . Kitab dan serat itu memungkinkan lebih banyak orang untuk menikmatinya. Seiring waktu berjalan fungsi-fungsi tersebut terus melebar dan semakin kompleks tidak hanya di dunia barat tapi juga di Indonesia.

Baca juga: Kisah Ramayana Fiktif ? Ini Kata Peneliti Tentang Legenda Ini.

Dilema Penerbitan Buku
Dilema Penerbitan Buku

Fungsi-fungsi yang terus berkembang menjadikan sastra bertransformasi dengan cara-cara yang tak terbayangkan dan pelibatan pihak yang tak hanya pembuat kisah dengan pembaca, tetapi dengan penerbit, editor, designer, pihak marketing hingga pemerintah serta seperangkat aturannya.

Pelibatan banyak pihak itu menjadikan sastra melakukan fungsi-fungsi yang lebih luas, tentu saja dengan kriteria-kriteria dari penerbit hingga aturan pemerintah itu sendiri. Kadang kala fungsi yang luas tersebut, malah membuat proses penerbitan buku ada dalam dilema, entah mengikuti selera pasar atau kualitas tinggi tapi tidak sesuai pasar.

Namun jika kita mempertimbangkan ujud fisiknya, lingkungan yang telah menghasilkan, dan pembaca yang dibidiknya, kita berhadapan dengan unsur-unsur lain yang tidak hanya berupa konsep tetapi barang nyata seperti bentuk media yang menyalurkannya, tempat yang memajangnya agar bisa mencapai khalayak, ….

Sosiologi Sastra hal 182

Buku ini ditulis oleh seorang sastrawan yang ahli dan terkenal, apakah ada tantangan saat dan selama membaca?

Catching New Perspective

Pak Sapardi ini merupakan tokoh yang aku kagumi. Salah satu sastrawan yang menurutku memiliki cara pandang yang luwes. Apalagi sering dengar podcast literasi yang mengundang bapak ini sebagai tamunya, bawaannya adem. Honestly, ini buku pertama yang aku baca dari pak Sapardi.

Baca juga: Puisi Dan Kata "Njelimet" Di Dalamnya. Bagaimana Menikmatinya?

And well, sesuai banget sama pembawaan Pak Sapardi yang menurutku luwes tapi lugas. Apa sih yang aku tangkap dari konsep yang cukup baru buat tapi nggak baru banget ini?

  1. Sastra itu sebenarnya tidak harus berat tapi bisa juga ringan. Ini sebenarnya mendobrak pandangan bahwa karya sastra itu adalah hal-hal yang njelimet dan nggak mudah kita pahami. Bahkan (Alm) Pak Sapardi pun mengatakan roman picisan pun bisa masuk dalam kategori sastra. Sastra bisa menjadi apapun tergantung dari tujuan membaca karya itu.
  2. Teori telaah sastra sebenarnya bisa saling melengkapi satu sama lain. Misal saat membedah karya sastra milik Pramoedya, kita bisa menggunakan teori strukturalisme, psikoanalisis, atau apapun yang kemudian kita lengkapi dengan teori tentang sosiologi sastra. Misal latar belakang Pramoedya ini menciptakan karyanya, apa yang terjadi pada masa itu, dan lainnya. Penggabungan ini membuat satu atau lebih karya bisa begitu kaya dan bervariasi dalam interpretasinya.

Tapi apakah buku ini tidak punya kekurangan sama sekali?

  1. Buku ini menjelaskan kronologis teori-teori satra yang cukup banyak tapi tidak dalam. Dan sebenarnya ini sudah penulis sampaikan pada pembukaan bukunya. Jadi teori-teori semacam strukturalisme, psikoanalisis dan lainnya ini sebagai pengantar saja. Kalau mau belajar banyak bisa cari buku yang memfokuskan teori sastra tertentu.
  2. Banyak ejaan yang tidak sesuai dengan EYD. Seperti pada kutipan yang aku cantumkan di halaman 182. Tapi itu sifatnya minor dan bukan mayor.

Bagi teman-teman yang sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang humaniora atau sastra, bisa menjadikan buku ini sebagai rujukan. Tidak hanya itu, daftar pustaka dari buku sosiologi sastra pun bisa menjadi pustaka yang mendukung penelitian/skripsi/tesis/desertasi yang dibuat. Selamat membaca dan berekplorasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

Membaca tulisan-tulisan Kak Dinda selalu membuat diri ini tercerahkan, walau harus dibaca dan diserap dengan perlahan karena pilihan tutur dan diksinya selalu istimewa bagi saya.
Terima kasih Kak Sudah mengulas Sosiologi Sastranya mendiang Sapardi Djoko Damono. I Love it!

Alhamdulillah, dapat ilmu baru lagi. Ternyata sastra itu bisa dikaji lebih luas ya Kak? Apalagi Sastra itu juga bisa ringan dan tidak njelimet hehe.

Terima Kasih Kak.

2 Responses