Home / Pojokan / Sponsored

Amba: Kisah Warga di Tengah Zaman ‘Berdarah’

Senjahari.com - 19/10/2022

Cover Amba

Penulis : Dinda Pranata

Amba, dalam kisah Mahabarata adalah putri raja Kasi yang memiliki kekasih bernama Raja Salwa. Sayangnya karena keinginan kerajaan Hastinapura yang menginginkan putri Amba menjadi ratu di sana, ia bertemu dengan Bhisma—yang kemudian berhasil mengalahkan Raja Salwa—di Swayambara. Tapi dalam buku Amba karya Laksmi Pamuntjak, dia memilih menjalani takdirnya yang berbeda dari kitab Mahabarata itu.

Bagaimana kisah Amba ini? Apa menariknya buku ini?

Amba: The Love of Extraordinary Woman

Amba Kinanti lahir di kota kecil Kadipura, Jawa Tengah di era tahun 50-an. Ibunya bernama Nuniek—wanita traditional—yang sangat terlatih menjalankan peran wanita ranjang, dapur, manak dan macak. Lalu bapaknya—Sumintro—seorang yang cukup berwibawa karena menjadi kepala sekolah di kota itu.

Ia memiliki saudara kembar, Ambalika dan Ambika. Mereka berdua sangat cantik dan secara fisik berbeda dengan Amba. Tapi di balik parasnya yang tak secantik saudara kembarnya itu, ia memiliki daya tarik tersendiri yaitu prinsip dan tekadnya sendiri. Sejak kecil ia diam-diam menilik buku-buku sastra milik bapaknya yang “terlarang” dan meminati bacaan-bacaan yang sangat tidak umum bagi perempuan di masanya.

Ketertarikan akan sastra membuatnya bertekad untuk menempuh pendidikan tinggi di UGM, Yogyakarta dengan mengambil jurusan Sastra Inggris. Tekad itu membuat ibunya kalang kabut dan ketakutan karena keputusan Amba sangat tidak lumrah bagi perempuan dalam menempuh pendidikan tinggi. Tapi berkat dukungan bapaknya dan yang secara tidak sengaja bertemu dengan Salwa di UGM, keluarganya pun akhirnya setuju menyekolahkan dia di perguruan tinggi itu. Alasannya karena Salwa seorang pria yang santun dan bisa mengayomi Amba.

Orang tua Amba dengan segala cara berusaha mendekatkan mereka, walau Amba sebenarnya memiliki tendensi untuk tidak menginginkan laki-laki. Tapi lambat laun hubungan yang tak ia ingini itu tetap berjalan sebab Amba yang bagaimanapun seorang wanita akan luluh dengan kesetiaan Salwa. Luluh tidak berarti tunduk, dan luluh tak berarti cinta. Itulah yang Amba rasakan. Ada sesuatu yang kosong ketika Salwa dekat.

The Bad Woman and Bad Situation

Ilustrasi Novel Amba
Ilustrasi Kisah Amba

Novel Amba berlatar tiga periode tahun 1956, tahun 1965 dan tahun 2006 . Perjalanan Amba dan orang sekelilingnya tidak bisa lepas dari pergerakan politik yang naik turun. Awal-awal kegelisahan di mulai ketika Sang bapak dianggap “cari aman” karena tidak memilih untuk ikut partai kanan yang digawangi para kyai. Nggak heran sang bapak sering mendapat omongan miring bahwa ia bukan agama Islam murni karena membaca kitab-kitab Mahabarata atau serat centini. Namun , Amba tahu bahwa bapaknya hanya tidak ingin terlibat lebih jauh ke dalam politik yang kelam.

Kondisi negara yang amburadul dengan pilihan politik sayap kanan dan kiri semakin pelik ketika memasuki bulan September, banyak militer yang sering menyisir ke beberapa wilayah untuk membereskan pengikut-pengikut PKI. Tak terkecuali tempat Amba menempuh pendidikan, Yogyakarta. Baik di Kadipura maupun Yogyakarta sama-sama dalam keadaan genting. Mahasiswa yang pro revolusi, yang mendukung PKI bahkan mahasiswa asing ikut terkena imbas dari keadaan politik ini.

Hingga suatu hari ia melamar magang di sebuah rumah sakit di Kediri untuk memperlancar kemampuan bahasa Inggrisnya. Di rumah sakit itulah ia bertemu dengan Dr. Bhisma Rashad yang menjadi kekasih gelapnya. Selama di rumah sakit itu mereka bercumbu, memadu kasih dan bertukar pikiran, yang mana lebih banyak Bhisma yang menceritakan kisahnya hingga Amba hamil. Dalam kebersamaannya bersama Bhisma ia menyadari apa yang selama ini ia inginkan tapi tak ia dapatkan dari Salwa. Sebuah petualangan dan sensasi emosi yang menggebu.

Sayangnya, ketika hangat-hangatnya kisah cinta mereka. Situasi politik membuat hubungan mereka menjadi pisau bermata dua yang menyakiti keduanya, termasuk Salwa yang mencintainya sepenuh hati. Apa tantangan dari membaca novel Amba ini? Apa hal menarik yang bisa kita kulik dari kisah cinta klasik di era berdarah?

Novel Amba dan Representatifnya

Instagram @senjaharimedia

Kalau dari unsur instrinsiknya, penulis menuturkan novel Amba dengan alur campuran (maju dan mundur). Untuk setting waktu ada pada periode tahun 50-an, tahun 60-an dan tahun 2000-an sedangkan untuk lokasinya ada di Yogyakarta, Kediri, Pulau Ambon, Pulau Buru dan Jerman. Unsur itu sangat mudah terlihat dibandingkan dengan unsur ekstrinsik dari novel ini

Unsur ekstrinsik di Novel kelam ini cukup banyak yang bisa digali seperti bagaimana novel ini dilihat dari kacamata politik, budaya, pendidikan, psikologis hingga sosialnya. Tapi aku nggak akan bahas semuanya, yang ingin aku bahas adalah bagaimana novel ini menunjukkan kondisi sosial dari representatif tokoh utamanya saja ya!

  1. Amba Kinanti: Perempuan dengan tekad kuat dan prinsip namun juga cukup moderat dengan latar belakang keluarga yang cukup berkecukupan. Amba di novel ini melambangkan masyarakat sipil yang tidak terlalu mengerti dengan urusan politik tetapi terkena dampak atas kondisi politik yang terjadi tahun-tahun berdarah itu. Warga sipil yang akhirnya banyak kehilangan momen penting dan mengalami trauma besar, serta tanda tanya mengapa mereka harus mengalami itu.
  2. Salwa : Pria baik hati yang berpendidikan serta sangat santun. Pria ini menggambarkan pria “tradisional” yang nurut dan patuh, seperti gambaran pemuda yang ideal versi Soeharto. Secara nggak langsung juga, tokoh Salwa ini mencerminkan masyarakat dengan politik kanan yang biasanya sangat menjunjung tinggi tradisi-tradisi.
  3. Bhisma Rasyad: Pria lulusan universitas di Leipzig, Jerman. Pria yang memikat Amba tak hanya dari parasnya tetapi juga idealismenya yang berbeda. Dokter muda ini menggambarkan sosok pria yang moderat dan tidak terikat oleh hal yang bersifat konservatif, tokoh Bhisma ini seolah menggambarkan masyarakat dengan politik kiri.
  4. Samuel: Pria usia 45 tahun yang menjadi pemandu Amba di Pulau Buru. Pria ini usianya lebih muda 20 tahun dari Amba, dan ia pernah menjadi penduduk di pulau Buru sebelum tahanan politik ada di sana. Samuel menggambarkan masyarakat transisi setelah terjadinya gejolak politik di Indonesia. Masyarakat yang mulai menyadari bagaimana perang, pembunuhan dan penyiksaan meninggalkan luka yang mendalam dari orang di itu.

Ada nggak sih tantangan membaca buku ini?

Final Tought Untuk Novel Amba

Buku setebal 577 halaman ini menarik banget. Walau ini buku sejarah, tetapi Mbak Laksmi Pamuntjak sukses membuat buku sejarah menjadi buku yang nggak ngebosenin buat dibaca.

  1. Alur dan kata-kata yang mendayu serta (menurutku) artistik. Kata-kata yang artistik ini mampu menarik pembaca secara osional dan kalimat yang disuguhkan juga nggak menyimpang dari gejolak emosi atau alur yang ia ceritakan.
  2. Fakta sejarah yang dalam dan faktual, membantu kita dalam menerjemahkan kondisi geopolitik yang terjadi di masa berdarah itu. Dan fakta sejarah yang penulis itu dapatkan, dari berbagai sumber baik wawancara maupun buku yang ia baca seperti milik Pramoedya, dll. Pembaca bisa mendapatkan gambaran proses ia mencari fakta dari ucapan terima kasih di ending dari bukunya. Selain itu ada fakta tentang penyerangan mahasiswa oleh aparat secara terstruktur yang masih menyisakan misteri mengapa dan bagaimana serangan itu terjadi.
  3. Sudut pandang dan cara ia menuturkan nggak biasa. Dalam arti begini, bagaimana ia mengaitkan kisah-kisah klasik sepanjang masa dengan kondisi politik yang terjadi, yang menurutku nggak banyak kecuali penulis membaca banyak buku-buku sastra lama. Ini membawa angin baru bagi buku-buku sastra yang beredar.

Lalu kurangnya apa sih buku ini?

  1. Kata yang artistik dari buku ini kadang membuat kita perlu membaca berulang untuk bisa ‘klik’ dengan situasi yang dimaksud.
  2. Ada banyak bahasa lokal (Ambon) yang dipakai pada bagian awal kisah ini. Aku sebenarnya agak susah mengerti maksud dari kata-kata yang penulis sampaikan. Aku baru paham beberapa kata seperti Ose yang artinya kamu atau Dorang yang artinya orang itu justru mendekati akhir buku ini.

Bagian tersulit kesedihanku sebelum 1976 tak saja berkaitan dengan apa yang terjadi pada Bhismam apakah ia ditangkap atau terbunuh, di Yogya atau di tempat lain, tapi juga tanda tanya besar seputar malam yang mengerikan itu di Ureca. Apa yang terjadi sebenarnya yang menyebabkannya lepas dari sisiku?

AMBA hal. 469

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment