Home / Pojokan / Sponsored

Wuthering Heights dan Lingkaran Racun Suatu Hubungan

Senjahari.com - 07/11/2022

Cover Wuthering Heights

Penulis : Dinda Pranata

Kebanyakan sebuah novel cinta itu menonjolkan sisi romantisme dan kata-kata manis dari tokoh novelnya. Jalan ceritanya juga kadang bikin malu-malu kucing para pembacanya plus tokohnya yang hampir rata-rata tampan/cantik. Tapi bisa kebanyang nggak kalau ternyata tokoh utamanya ini toxic banget ke orang yang dia cintai bahkan orang sekelilingnya? Marah, gregetan, dan pengen banting bukunya ‘kan.

Review Wuthering Heights kali ini aku nggak akan terlalu fokus pada gaya bahasa atau struktur novel yang terlalu kaku. Apa sebenarnya yang menjadi latar belakang dari novel ini? Subyektifitas pembaca dan tantangannya!

Gelandangan Vs Tuan Kaya Raya

Terkisah seorang petani bernama Mr. Earnshaw yang memiliki dua orang anak (putra dan putri). Mereka berdua bernana Hindley Earnshaw dan Chaterine Earnshaw. Pada saat sang ayah melakukan perjalanan kerja ke Liverpool, ayahnya ini bertemu dengan seorang anak gelandangan bernama Heathcliff. Dengan rasa iba sang ayah kemudian membawanya pulang ke Wuthering Height, rumahnya.

Heathcliff, Hindley dan Catherine kemudian hidup bersama dalam satu atap. Tapi walau hidup bersama tidak serta merta kedatangan Heathcliff ini diterima seutuhnya, terutama oleh Hindley Earnshaw. Hindley ini merasa bahwa sang ayah lebih menyayangi Heathcliff dari pada dirinya. Tak jarang akibat rasa cemburu itu, ia jadi sering menyiksa Heathcliff.

Meski menerima perlakuan yang kasar hingga penindasan dari Hindley, anak gelandangan itu tidak pernah membalas dengan kekerasan. Ia menerima saja perlakukan anak sulung Mr. Earnshaw. Perlakuannya terhadap Heathcliff semakin membuat Mr. Earnshaw menyayangi anak gelandangan ini dan menganak-emaskannya. Walau Hindley sangat kejam, tapi ia memiliki Chaterine yang setia menerimanya dan mau bermain dengannya.

Baca juga: Seberapa Pentingkah Lingkungan Sosial Bagi Penulis/Sastrawan?

Pasangan di Wuthering Heights
Ilustrasi Pasangan di Wuthering Heights

Lambat laun, seiring berjalannya waktu Mr. Earnshaw semakin terpuruk. Istrinya meninggal, kesehatannya termakan usia dan tentu saja Anak sulungnya kerap membuat ulah. Perlahan-lahan kesehatannya tidak pernah bugar dan akhirnya menyusul menemui ajalnya. Setelah meninggal, Mr. Earnshaw meninggalkan warisan berupa rumah dan tanah kepada Hindley. Kematian ayahnya pula Catherine semakin liar ketika bersama dengan Heathcliff. Sementara si anak gelandangan ini semakin leluasa menjadikan Cathy lebih liar. Keluarga ini pun semakin kacau balau.

Kekacauan itu diperumit dengan kedatangan anggota dari luar bernama Edgar Linton dan Isabella Linton. Keluarga Linton dan Earnshaw kemudian saling mengenal serta sama-sama tidak menyukai Heathcliff yang berpenampilan kotor dan tidak terawat.

Mendaku pada Balas Dendam

Kondisi keluarga Earnshaw semakin lama tidak berubah baik. Ketika Hindley menikah, istrinya yang tidak terlalu baik pada cathy—meninggal saat melahirkan anaknya akibat tuberkulosis. Rasa cinta pada istrinya menjadikannya orang yang pemabuk dan tidak keruan selepas kematiannya. Ia bahkan tega melukai anaknya sendiri—Hareton—karena sifat pemabuknya.

Belum lagi segala kerumitan dan permasalahan menjadi pisau tajam terjadi ketika Catherine Earnshaw berniat menikahi Edgar Linton yang baik, ramah serta kaya menjadi suaminya. Tatkala Heathcliff yang sudah jatuh hati sejak pertemanan masa kecil itu merasa dipermainkan oleh Cathy dan membuatnya kabur selama tiga tahun. Kepergian Heathcliff ini menyisakan ruang sedih tak hanya bagi Heathcliff tapi pengurus rumah mereka Nellie Dean.

Selama tiga tahun kepergian Heathcliff dari Wuthering Height, si nona Earnshaw kemudian menikah dengan Edgar Linton dan tinggal di Thurcross Grage kediaman keluarga Linton. Walau di rumah itu, Cathy dihujani oleh cinta dari keluarga Linton tidak membuatnya merasa bahagia karena kehilangan Heathcliff. Kelamaan ia pun jatuh sakit yang cukup parah. Mungkin semacam gejala halusinasi berat.

Baca juga: Pojokan-Apa Yang Sastra Ajarkan Pada Manusia

Hingga penghiburan Cathy pun datang. Ya, dia adalah Heathcliff yang setelah tiga tahun pergi kini kembali ke Wuthering Height dan menemui Catherine di Thuscross Grage. Awalnya Edgar tidak rela istrinya ini menemui pria ini, karena bisa berdampak pada pernikahannya. Tapi rasa cintanya kepada cathy dan berharap ia bisa sembuh ini membuatnya menyetujui rencana istrinya.

Sayang seribu sayang, rencana menerima Heathcliff kembali ini membawa malapetaka yang tak terkira bagi keluarga Earnshaw dan Linton. Nyatanya Heathcliff datang dengan mendaku dendam yang ia bawa untuk kedua keluarga ini. Tidak sebatas pada hubungan Catherine, Edgar dan Heathcliff tapi seluruh keturunan keluarga mereka.

Apa yang bisa kita bredel dari novel Wuthering Height ini?

Kritik Sosial yang Kompleks

Kalau yang sudah baca novel ini mungkin sudah terasa bahasa-bahasa yang dipakai penulis sudah gelap. Kata-kata makian, hinaan, dan tindakan-tindakan keji sudah berseliweran di awal-awal bab. Bahkan, sepanjang kisah novel ini berlangsung pembaca akan tahu nuansa dari novel ini yang merupakan salah satu alasan yang masuk akal memasukkannya menjadi dark story.

Seperti yang sudah aku ungkap sebelumnya, review wuthering heights nggak akan bahas tentang struktur atau gimana cerita ini tersaji. Review kali ini kita akan membahas mengapa Emily Bronte menuliskan kisah Wuthering Height ini sedemikian kelamnya.

Baca juga: The Golden Road: Kerinduan L.M Montomery Pada Masa Anak-Anak

  • Pada abad ke-19 kala itu kelas sosial dan kekayaan masih mendominasi kehidupan masyarakat era Victoria. Tak jarang orang yang memiliki kelas sosial tinggi akan memilih orang yang sederajat, atau wanita dengan derajat yang rendah sengaja menikah dengan pria beruang untuk mensejahterakan dirinya.
  • kritik mengenai agama ortodoks yang pernah penulis dapatkan ketika bersekolah di Brussel. Penulis tidak merasa nyaman mendapat paksaan akan ajaran agama, dari gurunya bernama madame Hagel yang beragama kristen ortodoks, sehingga ia dan kakaknya—Charlotte Bronte—memilih pulang ke Inggris. Gambaran kristen ortodoks terlihat pada penggambaran tokoh Joshep, penjaga rumah Wuthering Heights
  • Hubungan toxic di antara manusia yang bisa ditemui sejak dulu hingga sekarang. Hubungan antara Catherine, Heathcliff, Edgar Linton dan Isabella Linton. Hubungan itu terasa sangat toxic dan mengganggu kesehatan mental seseorang dan relasinya dengan orang lain.
  • Paradoks akan kelas sosial dan ras yang diwujudkan dalam tokoh Heathcliff. Kalau aku perhatikan tokoh Heathcliff ini kan sebagai tokoh utama yang antagonis atas konflik di Wuthering Heights tergambar sebagai anak gelandangan berkulit hitam, liar dan nggak punya tata krama. Tapi kenyataannya, sebelum Heathcliff ini memiliki dendam kesumat ia pun sebenarnya memiliki harapan agar ia diterima dalam keluarga Mr. Earnshaw. Sayangnya penyiksaan dan hinaan yang ia terima dari putra sulung keluarga Earnshaw, keluarga Linton serta penghianatan sahabatnya membuatnya harus mendaku pada dendam itu sendiri.

Wuthering Heights dari Kacamata Subyektifitas

Kita mulai dulu ya dari kelebihan dari novel ini:

  1. Membahas topik yang evergreen atau topik yang selalu ada di sepanjang masa. Ya misalkan saja tentang kelas sosial, perjodohan materialistik, masalah uang, hingga hubungan toksik yang sampai sekarang masih menjadi masalah di kehidupan kita.
  2. Gaya narasi dengan sudut pandang orang pertama di dua narator yang berbeda. Penuturan dari cerita ini cukup cerdik dengan menggunakan sudut pandang orang pertama tidak langsung. Terlebih penggunaan dua narator yaitu Mr. Lockwood, penyewa Thurcross Grage dan Ellen Dean, pembantu rumah tangga di Thurcross Grage sebagai penuturnya.
  3. Kompleksitas emosi yang maksimal. Emily Brontë mampu mengaduk emosi pembaca sedemikian rupa dari awal hingga akhir novelnya.
  4. Penggunaan paradoks sebagai kritik sosial dalam penokohan dalam novel. Seperti penokohan Heathcliff, Catherine Earnshaw bahkan Neil Dean.

Lalu apa kekurangan dari novel ini?

  1. Tensi emosi sangat tinggi dari awal sampai akhir yang melelahkan.
  2. Banyak sekali kata umpatan dan hinaan yang cukup menjengkelkan. Bahkan ketika adegan yang menurutku bisa jadi romanti, seolah tidak hadir menghibur pembaca yang lelah dengan kata-kata umpatan dari para tokohnya.
  3. Tidak ada perubahan yang baik secara internal dalam masing-masing tokohnya. Yang jahat tetap jadi jahat, yang toksik tetap toksik dan yang baik jadi menderita sehingga terasa sangat dramatis dan jauh dari realistis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment