Home / Serambi

Paradoks Green Washing yang Hijau, tapi ….

Senjahari.com - 08/11/2022

Green Washing

Penulis : Dinda Pranata

Kemasan plastik, plantbottle yang bisa didaur ulang begitu menarik perhatian mata pembeli. Tidak hanya kemasan plastik ramah lingkungan, tapi juga aktifitas ramah lingkungan lain seperti donasi/ kampanye untuk program perusahaan tertentu dengan embel-embel ramah lingkungan tentunya menarik masyarakat yang memperhatikan masalah isu lingkungan. Kenyataan pahitnya bahwa (kita) sering kali terbuai oleh kemasan produk serta tanpa sadar mendukung/terlibat dalam suatu kampanye/donasi dengan label ramah lingkungan, tanpa benar-benar tahu apakah itu semua sehijau jargonnya.

Itulah yang kita sebut sebagai green washing. Tidak banyak dari kita mengenal apa itu fenomena Green Washing. Istilah ini mungkin masih belum terlalu meluas dalam isu lingkungan yang sedang berkembang saat ini. Aku pun sebenarnya baru tahu ada istilah ini dan menurutku sangat berbahaya sekali nggak hanya bagi lingkungan tapi juga manusianya.

Kamuflase si Bunglon Eco-Friendly

Fenomena Green Washing adalah fenomena yang terjadi pada promosi atau pemasaran suatu produk dengan memberikan citra ramah lingkungan pada produknya (entah kemasan, nilai produk sampai pada tujuan perusahaan mengembangkan produk), walau sebenarnya produk itu tidaklah sama sekali berdampak pada kelestarian lingkungan. Green washing seperti bunglon yang berkamuflase. Contohnya adalah bagaimana suatu produk menyematkan label biodegradable atau sustainable dan memasang gambar pohon pada produknya, agar produk itu terlihat hijau dan konsumen memiliki citra positif terhadap perusahaan tersebut.

Lalu apa itu salah perusahaannya yang mengembangkan produk? tidak semudah itu juga kali ya! Green washing ini terjadi tidak hanya salah perusahaan tapi bisa jadi kesalahan dari sistem yang melingkupinya seperti regulasi pemerintah, organisasi bahkan ketidaktahuan masyarakat itu sendiri.

Misalkan pada tekanan sistem regulasi. Perusahaan yang bergerak dalam bidang industri baik industri kimia maupun non-kimia memiliki kewajiban untuk mewujudkan Sustainable Development Goals (SDG). Untuk memenuhi tekanan pada laporan SDG mereka, mereka bisa saja memanipulasi laporan tersebut dengan mengurangi dampak lingkungan dari produk yang mereka buat. Laporan SDG tanpa pengawasan yang bermutu dari pembuat regulasi tidak akan bisa mengurangi dampak lingkungan dari Green Washing ini.

Baca juga: Dari Mitologi, Polusi dan Bumi yang Tersakiti

Apa contoh dan dampaknya dari green washing ini?

Green Washing Tak Sebersih Mencuci Pakaian

Green Washing mengemuka tahun 1980-an dan terdengar seperti paradok istilah eco-friendly. Walau namanya terdengar hijau, sejatinya istilah ini tidak memiliki dampak yang sehijau namanya. Banyak sekali dampak buruk yang ditimbulkan dari green washing ini sendiri.

Dalam kasus yang sempat terjadi pada salah satu merek minuman coca-cola yang mana perusahaan ini menggunakan kampanye hijau pada produk kemasannya. Mereka mempromosikan kemasan minuman ini sebagai plastik 100% ramah lingkungan. Tapi nyatanya kemasan plastik ini justru menyumbang peningkatan tumpukan sampah plastik.

Green Washing dan Dampaknya
Green Washing dan Dampaknya

Lalu ada juga program hotel-hotel yang menggunakan strategi green washing dengan meminta tamu tidak berganti-ganti handuk. Alih-alih menerapkan lingkungan yang eco-friendly, masih banyak hotel yang menggunakan air mineral berbotol plastik sebagai minuman di kamar tamu. Artinya hotel-hotel yang menerapkan penggunaan handuk berkali-kali hanya bertujuan untuk mengurangi biaya operasional mereka. Termasuk perusahaan kelapa sawit, industri fashion, hingga kendaraan yang turut serta menerapkan strategi ini.

Saat dunia sedang berupaya melakukan kampanye dan proses mitigasi iklim, keberadaan green washing ini sangat menghambat jalannya proses itu. Dampaknya tentu bisa kita rasakan langsung seperti masalah sampah yang tak kunjung selesai hingga banjir yang terus terjadi. Pembukaan hutan alami untuk perkebunan industri dengan embel-embel kelestarian alam, menyebabkan penghuni alami hutan angkat kaki. Terkahir, green washing menjadi lingkaran setan yang terus memutar polusi dan kerusakan alam tak berkesudahan.

Baca juga: Rumput Laut Jadi Senjata Perubahan Iklim? Ini Temuannya!

Don’t be a Fool, Be Smart!

Embel-embel eco friendly memang selalu mengundang daya tarik tersendiri, terutama kita yang sangat peduli dengan isu lingkungan. Bahkan dari data Neilsen tahun 2015 sendiri sebanyak 66% orang secara global rela mengeluarkan uang demi produk yang eco-friendly. Tapi sekali lagi embel-embel itu juga bagaikan pisau yang melukai diri. Lalu apa yang perlu kita lakukan agar tidak terjebak dari produk-produk green washing?

  1. Kenali produk dan kemasannya. Jika itu adalah produk sekali pakai misal air mineral kemasan dalam plastik (contoh), walaupun ada embel-embel eco-friendly (plantbottle), Stop untuk membeli! Nyatanya plastik itu tidak bisa didaur ulang dan hanya menumpuk timbunan sampah. Apalagi kita kurang mengenal kemasan produk dan hanya kita pakai sekali lalu buang.
  2. Perhatikan bahan pembuatnya. Kenyataan pahitnya green washing ini juga kerap wara wiri di industri makanan atau sayuran organik. Lo bagaimana bisa? Dalam sebuah review dari universitas MIT mengatakan bahwa produk organik nyatanya menghasilkan 21% lebih banyak gas rumah kaca daripada produk standar. Selain itu produk organik ini harus dipastikan benar-benar bebas dari penggunaan suplemen tambahan non-alami. Jika tidak kenal atau ragu akan bahannya maka sebaiknya kenali dulu atau menghindari menggunakan produk itu.
  3. Bawa wadah sendiri! Menanamkan kebiasaan untuk membawa peralatan wadah termasuk makanan sendiri, ternyata sangat menantang. Terutama bagi kita yang sibuknya luar biasa, sehingga nggak sempat masak atau menyiapkan kebutuhan kecil ini. Tapi cara ini sangat membantu untuk menghindari kita dari produk-produk yang kurang kita kenal dan perilaku green washing dari pihak-pihak tertentu.
  4. Berkebun dengan tanaman sederhana. Aku sendiri sejak melonjaknya harga cabai, tomat, bawang mencoba untuk menanam tanaman-tanaman ini dalam pot (tambulampot). Cukup menghemat pengeluaran untuk sekedar membuat sambal, selain itu bahan-bahan penyuburnya juga hanya pakai pupuk kotoran seharga Rp 6,000/5kg. Bisa dipakai selama tiga bulan. Cara ini pun bisa membantu kita terhindar dari produk olahan makanan yang dipromosikan menggunakan sistem green washing.

Invitasi dan diskusi

Untuk menghentikan atau mengurangi praktik green washing ini, konsumen utamanya perlu berhati-hati. Cara terbaik untuk melalukannya adalah dengan menjadi konsumen barang yang cerdas. Jika konsumen cerdas, pembuat produk tentu akan berpikir dua kali untuk membodohi konsumen. Dan akhir yang lebih ekstrim, mereka bisa menghentikan produksi atau kegiatan green washing itu, karena tidak ada konsumen yang mau membeli produk abal-abal ramah lingkungan.

Bagaimana nih dengan kalian? Apa yang akan kalian lakukan setelah mengetahui ada fenomena ini?

Otak kecil manusia ini begitu hebat dan menakutkan. Coba kita lihat bagaimana otak sekecil itu bisa memikirkan ide penyelamatkan dan perusakan alam sekaligus.

Dinda pranata

Source:
de Freitas Netto, Sebastião Vieira, et al. “Concepts and Forms of Greenwashing: A Systematic Review.” Environmental Sciences Europe, no. 1, Springer Science and Business Media LLC, Feb. 2020. Crossref, doi:10.1186/s12302-020-0300-3.
www.emerald.com/insight/content/doi/10.1108/RAUSP-08-2018-0070/full/html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

Aku juga sempat concern sama hal ini. Pernah nonton documentary ttg lingkungan dsb, sama-sama bongkar bunglon eco-friendly. Yg ada bumi ini nggak cepat sehat, tapi pelanggan juga terjebak sama siasat penggemuk kantong.

Zaman sekarang memang harus teliti menerima segala informasi dan tidak begitu saja percaya pada info yang sedang diberikan, apalagi jika pemberi info punya kepentingan.. apa harus ada badan pengawas sendiri yang punya kekuasaan hukum menangani masalah informasi dan lingkungan ini?

Suka banget tulisannya mba. Salam kenal ya..

Aku jg kmrn sempet nonton video luar ttg greenwashing. Labeling ramah lingkungan yg dikomersialisasi menjadikan dampak buruk jg pada alam ya.

Setuju mba, jadi konsumen cerdas itu perlu, agar tidak terjebak pembelian selanjutnya sebaiknya kita gunakan wadah yg sudah ada dan memang awet digunakan, saya juga sudah praktek buat kebun sendiri nih, cuman pohonnya sering kena hama hehehe

Setuju banget sih kak, isi artikel ini sangat mewakili sekali apa yang selama ini aku fikirkan, tapi sulit untuk ku ungkapan hehe

Jo Christie Huang

Green washing sangat merugikan konsumen yang berniat menggunakan produk ramah lingkungan, malah tertipu dengan kampanye palsu produsen.

Sangat bermanfaat sekali kak, sangat rekomedasi sekali green washing

Terasa sekali bahwa produk yang belum dikaji lebih dalam lalu diberi label “Green” atau “Eco-friendly” maka berbondong-bondong masyarakat beralit ke dalam kemasan tersebut.

Efeknya jadi generasi yang suka ikut-ikutan atau bandwagon effect. Tapi ini bakalan jadi kajian yang seru sih.. Seberapa banyak masyarakat yang masih peduli dengan isu-isu lingkungan hidup dan semoga dengan langkah kecil yang kita lakukan, bisa menjaga bumi tetap lestari.

Wah, tulisan yang sangat m3ndalam dan detail. Jujur pemikiran saya saat beli minuman belum sampai ke situ.

ide berkebun dengan tanaman sederhana tampaknya menarik. saya sendiri memiliki cukup banyak tanaman cabe yg tanpa sengaja saya tanam, tapi hasil buangan sisa sambal yang tumbuh sendiri dan saya rapikan.
Hasilnya, hampir 3 bulan tidak pernah beli cabe diluar

Saya sangat jengkel dengan strategi marketing pakai slogan-slogan kayak gini. Kata-katanya manis. Seperti iklan air mineral di TV. bicara mengenai ekonomi sirkular, botolnya bening dst. padahal dia sendiri ikut menyumbang tumpukan sampah terbanyak..

11 Responses