Home / Jendela

Cerita si Rambut Gondrong: Antara Stigma dan Citra

Senjahari.com - 14/11/2022

Stigma Rambut Gondrong

Penulis : Dinda Pranata

Ali Topan merupakan prototipe remaja tahun 70-an. Tokoh ini ekspresif, brutal, jenius, bahkan kadang-kadang tampak superhuman atau superman.

Korrie Layun Rampan (Perjalanan Sastra Indonesia 1983)

Mendengar nama Ali Topan Anak Jalanan rasanya sudah nggak asing di telinga anak muda era 80-an atau 90-an. Ali yang memiliki perawakan rambut gondrong, sepeda moge dan tampan dengan kekasih yang cantik. Visual dari Ali ini menjadi trend kaum anak muda kala itu. Sayangnya, image Ali yang gondrong dan tampan, tidak sejalan dengan stigma akan si rambut gondrong ini.

Laki-laki dengan rambut gondrong menjadi sasaran cap anak nakal dan nggak rapi. Pertanyaannya adalah kenapa? Apakah sejarah Indonesia sejak dulu mencatat penggunaan rambut gondrong ini lekat dengan citra negatif?

Dari Angling Dharma ke Ali Topan Anak Jalanan

Jauh sebelum Ali Topan lahir di Jakarta, sosok pria dengan rambut gondrong sudah dimiliki Indonesia kok. Bagaimana rambut para hominid pada manusia purba? Atau kalau kita sulit membayangkannya, coba kita tengok visual prabu-prabu zaman kerajaan kuno dulu dari film Angling Dharma. Apakah mereka tidak rapi atau justru tampak berwibawa dengan rambut gondrongnya?

Menurut sejarawan Anthony Reis antara tahun 1450-1680, rambut bagi orang-orang Asia Tenggara kala itu adalah simbol kekuatan dan kewibawaan. Tidak hanya di Asia tenggara, juga di negara Eropa, Afrika, Amerika bahkan Asia lain juga menganggap rambut adalah bagian dari identitas individu hingga kelompok tertentu. Contohnya di Jepang sendiri, jika seorang samurai memotong rambutnya maka ia kehilangan kehormatannya sebagai samurai.

Baca juga: Asal Stigma Sosial-Kondisi Sosial Di Tengah Pandemi Virus Corona.

Rambut juga menjadi simbol kesakralan dan pengorbanan biasanya dalam ritual-ritual kuno seperti pernikahan, naik tahta hingga sumpah pengorbanan diri. Arru palakka misalnya menganggap rambut ini begitu sakral dan menjadi kehormatannya sehingga ketika ia menang atas kerajaan Makassar dan susuhunan Pakubuwana, ia melakukan upacara pemotongan rambutnya sebagai bentuk pengorbanan.

Tak hanya Arru Palakka, tetapi juga bung Tomo yang juga menganggap rambut ini adalah bentuk kehormatan bagi individu. Sama halnya dengan kepala, maka tanpa sengaja kita menjawab alasanan amarah kakek nenek dan buyut jika ada orang yang memegang kepala orang lain—apalagi mereka adalah anak kecil atau bawahan.

Tapi kok ada stigma anak rambut gondrong itu nggak rapi dan begajulan sih? Kan sejarahnya justru tercatat sebaliknya.

Pengaruh Kaum Hippie

Sebenarnya anggapan miring tentang kaum pria yang punya style sendiri untuk rambutnya itu macam-macam. Mulai dari berkaitan dengan gender tertentu, etika norma di masyarakat hingga ideologi tertentu. Nah karena banyaknya, aku mau khususin ke ideologi dulu aja ya, biar fokus!

rambut gondrong dan kaum hippies
rambut gondrong dan kaum hippies

Sebelum ke Indonesia kita coba terbang dulu ke Amerika yang mana gerakan pria dengan rambut gondrong ini banyak terjadi. Sekitar tahun 1940-an sampai 1950-an, ada sebuah kelompok di AS yang bernama The Beat Generation. Kelompok ini terdiri kaum muda mudi yang bebas dan kebanyakan di antaranya adalah penentang norma kapitalisme, konsumerisme dan materialisme. Hanya saja kaum beatnik—sebutan anggota kelompok the beat— sangat membatasi anggota mereka hanya kalangan teman sevisi atau sastrawan semata.

Baca juga: Stigma Penikmat Buku: Anti-Sosial, Mungkinkah?

Tahun 1960-an, muncul kaum hippie yang sebenarnya terinspirasi dari beatnik ini. Kaum hippie ini memiliki jiwa yang bebas dan pendekatan yang lebih membumi dalam mendobrak budaya kapitalis dan materialis. Kebanyakan para hippie ini hidup berpindah, seorang vegan, dan mempunyai kedekatan dengan musik rock and roll sebagai bentuk kritik sosialnya. Sayangnya, di balik kesan yang membumi itu ada sisi gelap dari kaum hippie yaitu sexual adventure, dan pengguna narkotik.

Singkatnya nih! Lama kelamaan kaum hippie ini tertarik ke ranah politik. Ketika pecah perang Vietnam, kaum hippie inilah yang melakukan protes paling keras dalam menentang kekerasan warga sipil kepada pihak militer. Bahkan mereka melakukan protes tidak sekedar demo, tapi bisa dibilang radikal seperti membuka toko gratis—semua barang tokonya curian—kepada orang yang mengelak ikut wajib militer. Tak heran pihak militer menjadi begitu kesal dengan kehadiran kaum hippie ini.

Lha hubungannya apa sama kaum hippie dan Indonesia nih?

Stigma Gondrong dan Politik

Politik bisa masuk lewat mana saja salah satunya lewat budaya, seni dan satra. Itulah kenapa para sastrawan, pelukis, atau budayawan selalu dipandang identik dengan rambut gondrong (meski tidak semuanya).

Pelarangan akan rambut gondrong ini sejatinya terjadi ketika era Soeharto atau Orde Baru. Memang kenapa di Orde Baru sesulit itu melibat rambut gondrong?

Baca juga: Lawan Stigma Ibu Rumahan Dengan Berkarya.

Pelarangan Rambut Gondrong pada Masa Orba
Pelarangan Rambut Gondrong pada Masa Orba

Pada masa Soeharto ini, pemuda idealnya tunduk pada nilai-nilai tradisi atau diharapkan menjadi pemuda yang nurut. Selain itu gambaran ideal itu merujuk pada harapan negara yang ingin memiliki penerus bangsa sesuai dengan identitasnya. Pengaruh budaya hippie yang menentang norma tradisional, menjadi momok bagi gambaran ideal masa Orde baru.

Belum lagi pada era 60-70’an grup musik the beatles menjadi grup yang populer di kalangan anak muda dunia termasuk Indonesia. Nggak heran kalau anak muda meniru gaya rambut mereka yang gondrong dan terkesan keren. Terlebih politik Indonesia yang di era Orde Baru ini juga membuka pintu sebebas-bebasnya terhadap dunia Barat, sehingga makin marak anak muda yang meniru gaya gondrong anggota the beatles. Lha, berarti pemerintah kecolongan dong?

Bisa jadi begitu. Mereka membuka tapi juga menutup, membebaskan tapi juga membatasi. Mereka (pemerintah orba) nggak tinggal diam melihat begitu banyak pemuda yang “memberontak” dengan memanjangkan rambut, maka munculah suatu aturan di tahun 1970 tentang rambut pendek bagi laki-laki. Bahkan aturan itu ditegaskan dalam sebuah siaran RRI oleh Jenderal Sumitro (Pangkopkamtib) bahwa pemuda yang memiliki rambut gondrong membuatnya menjadi onverschilling atau acuh tak acuh dan melarang adanya penggondrongan rambut.

Nggak heran anak generasi 80-90’an akrab banget sama razia rambut di sekolah. Ya kan?

Dewa Kenormalan Bernama Stigma

Apa yang kita anggap normal sekarang, dahulu ternyata memiliki proses yang panjang dan nggak mudah. Orang rambut panjang dulu adalah normal, pas di orde baru dibuat seolah rambut gondrong pada laki-laki adalah nakal. Begitu pun sekarang, kita melihat orang yang memiliki rambut panjang—gara-gara pandangan yang mengakar dari orba—sebagai pribadi yang nakal, urakan, nggak rapi padahal sebenarnya ya normal saja.

Baca juga: Stigma Kusta: Cermin Buta dalam Nista dan Kusta

Kita terlalu mendewakan apa yang “kita anggap normal” tapi seringkali melupakan apa itu normal menurut subyek lain. Dengan melupakan kenormalan dari nilai dan pandangan orang lain kita jadi mudah memberi stigma. Tapi apa itu aja?

Ya, enggak juga. Kadang ada juga pihak yang sengaja memberikan embel-embel yang tidak baik pada stigma itu sehingga memperburuk sesuatu yang sebenarnya bisa baik. Misalkan orang yang berambut gondrong itu sengaja melakukan tawuran, suka memukul orang lain, atau sampai membunuh nyawa. Pada akhirnya pandangan orang yany berambut gondrong ini jadi tetap negatif.

Jadi ini menjadi PR kita semua untuk tidak mudah memberi stigma pada hal yang sebenarnya tidak kita tahu pasti. What do you think?

Kita bukan hakim yang berhak memberi label salah atau benar. Bahkan seorang hakim pun perlu melihat “hal yang tak terlihat” untuk mengatakan benar atau salah.

Dinda Pranata

Source:

Baca juga: Bagai Srikandi yang Mencari Panah Bersama Asus Zenbook 14X OLED (UX5400)

Synotte, Anthoty. 1987. Shame and glory: a sociology of hair. The British Journal of Sociology: London
www. britannica.com

era.id

Gondrong itu Identitas, Bukan Sekedar Gaya-Gayaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

Sangaat setujuuu masyarakat kita tuh emang mudah memberi label sesuatu apa krn kebentuk sejak dulu ya…beda dg budaya luar yg bersifat pribadi atau diri sendiri dilarang mengkritik.

Pas zaman F4 rambut gondrong tampak begitu menarik dan rupawan. Hal itu sedikit banyak mengubah pandangan saya tentang rambut gondrong. Eh ternyata lucu juga.

2 Responses