Home / Pojokan / Sponsored

Anak Semua Bangsa dan Kapitalisasi dalam Novel Pramoedya Anata Toer

Senjahari.com - 24/11/2022

Cover Anak Semua Bangsa

Penulis : Dinda Pranata

Siapa yang tidak mengenal Pramoedya Ananta Toer? Hampir mayoritas orang mengenal sastrawan ini dari bukunya berjudul Bumi Manusia yang sudah difilmkan dengan tokoh sentral bernama Minke. Minke yang lahir dari keluarga Bangsawan dan menerima didikan untuk menjunjung tinggi pengaruh-pengaruh Belanda kemudian berkenalan dengan Annelise dan keluarganya termasuk Ibu Annelis bernama Nyai Ontosoroh. Pada akhirnya membuatnya jatuh cinta pada anak peranakan Belanda-Indo bernama Annelise itu. Seribu sayang kisah cintanya tidak mendapat dukungan dari hukum Belanda, ia pun dipisahkan dari Annelise.

Kisah Minke di dalam Bumi Manusia dan tokoh-tokoh di dalamnya, ternyata tidak berhenti begitu saja. Kisah mereka masih berlanjut dalam buku kedua dari Pramoedya Ananta Toer berjudul Anak Semua Bangsa. sekali lagi Minke dan orang-orang sekitarnya melanjutkan perjalanan pasca berpisah dengan Annelise. Bagaimana kisahnya, apa yang tertangkap dari cerita Novelnya sampai subyektifitas tentang novel ini?

Anak Semua Bangsa dan Kisah Indo Totok

Pada bab awal anak semua bangsa menceritakan bagaimana kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke menjadi tahanan wilayah. Paska persidangan hak asuh dan pembunuhan di rumah bordil Babah Ah Tjong di kawasan Surabaya. Setelah bebas Minke dan Nyai Ontosoroh mendapatkan kabar tentang kondisi istrinya yang saat itu berlayar menuju Belanda.

Keluarga Nyai meminta pendampingan dari Panji Darman—sahabat Minke—yang kebetulan melakukan perjalanan dinas ke Belanda untuk selalu memberi kabar. Kabar-kabar itu ditulis dengan surat perihal kondisi Annelise yang semakin menurun kondisi tubuhnya selama perjalanan sampai meninggal tak lama setelah tiba di Belanda. Keluarga Mellema yang memintanya datang ke Belanda pun tak pernah menjenguk Annelise meski tahu gadis itu sakit dan meninggal. Kondisi ini pun membuat Minke dan Nyai Ontosoroh geram tapi tak mampu berbuat banyak.

Ilustrasi Tokoh Minke
Ilustrasi Tokoh Minke

Dalam perjalanan pemulihan hati, Minke memfokuskan diri untuk menulis pemikirannya di koran Belanda. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Khouw Ah Soe—Imigran Cina—yang lama tinggal di Jepang. Pria Cina itu sering berpindah-pindah negara, dalam sebuah wawancara untuk koran Belandanya.

Baca juga: Kisah Simon Bolivar dalam The General in His Labyrinth

Sayangnya hasil cetakan koran tidak sana dengan hasil wawancaranya. Akibat dari wawancara dengan koran Belanda itu, Khouw Ah Soe tewas dalam pelarian dari kejaran Belanda. Setelah insiden itu dan dorongan dari Kommer dan Jean Marais, semakin mempertanyakan kiblatnya pada dunia Eropa dan bangsa sendiri.

Di tengah itu semua, ia akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pendidikannya menjadi dokter ke Batavia. Sayangnya hal itu mendapat banyak tantangan bagi dirinya sendiri. Mulai dari situasi bangsanya, hingga perusahaan yang dibangun mertuanya—Nyai Ontosoroh—hampir diambil alih keluarga Mellema.

apa yang bisa kita lihat dari novel ini?

Anak Semua Bangsa, Bangsa Apa?

Ketika membaca buku ini kita tidak hanya membicarakan masalah perbudakan dan pengaruh Belanda di negara koloninya. Tapi juga masalah peradaban lainnya. Jika pada novel Bumi Manusia kita bisa menemukan fakta bahwa pengaruh kolonialisme itu berdampak pada orang-orang pribumi. Baik mereka yang golongan atas maupun bawah.

Pada novel anak semua bangsa tidak terlalu mencolok bagaimana kondisi kolonialismenya. Yang terlihat pada novel ini justru bagaimana posisi Belanda dan Eropa yang tersaingi oleh negara-negara lain di Asia dan Amerika. Konflik kepentingan banyak tersirat di novel Semua Anak Bangsa ini.

Baca juga: The Golden Road: Kerinduan L.M Montomery Pada Masa Anak-Anak

Pertama, bagaimana bergesernya posisi orang Asia di mata Belanda. Ketika berita negara Jepang menduduki Manchuria. Negara Jepang yang kecil dan tertutup itu mendadak begitu kuat dan besar di mata Belanda. Sehingga orang asia yang di Indonesia posisinya setara dengan bangsa Eropa totok. Apa yang dilakukan bangsa Belanda pada orang Asia, bukan karena murni ingin membuatnya setara. Tapi itu justru menjadi strategi pertahanan mereka, untuk tetap mempertahankan tanah jajahannya.

Kedua, bergesernya kepentingan ekonomi dan pengetahuan ke arah kapitalis. Konflik kepentingan ini yang satu ini menjadi salah satu akar dari munculnya pemerasan sumber daya alam negara lain.

Coba kita pikirkan kembali mengapa Eropa datang ke Indonesia, alasan awalnya untuk mencari dunia baru. Lalu setelah datang mereka tertarik pada rempah-rempah, muncullah keinginan mengembangkan hubungan dagang dan membentuk koloni untuk mendidik para penduduk lokal. Sampai timbul hasrat menguasai demi keuntungan industri kapitalisasi.

Ketiga, semua anak bangsa ini related sama kehidupan era modern sekarang. Saat perubahan dunia semakin pesat akibat kapitalisasi, bangsa dunia yang berbeda ini kemudian bersatu membentuk dunia baru bernama dunia kapitalis. Nggak heran banyak konflik yang tujuannya untuk kepentingan pihak-pihak kapitalis.

Bagaimana subyektifitas novel ini?

Baca juga: The Girl on Paper, Kisah Cinta Penulis dan Tokoh Novel

Subyektifitas Novel Kedua Pramoedya Ananta Toer

Kelebihan novel ini:

  1. Bisa dijadikan bahan ajar karena isinya related sama kondisi saat ini. Seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya mengenai konflik kepentingan. Kita masih bisa merasakan konflik itu di negara kita dan negara-negara lain.
  2. Gaya bahasa dan narasi emosi serta latar tempat dalam cerita yang pas sama kondisi di masa kolonialisasi. Kalau pernah melihat film-film hitam putih kita mudah membayangkan bagaimana situasi sebuah tempat atau emosi pemainnya. Tapi novel ini bisa membawa kita menikmati bagaimana kondisi kabupaten Tulangan, Sidoarjo yang penuh pabrik tebu. Juga kondisi petani pribumi yang kemana-mana pergi jalan kaki tanpa alas kaki. Bagaimana ragam penyiksaan kota yang berwabah, dan lainnya.
  3. Insight nasionalisme untuk kaum pemuda dalam gempuran budaya asing. Pernahkah kita menyadari bahwa westernisasi jauh terjadi sebelum facebook, youtube dan instagram diperkenalkan? Hal yang kita kenal sebagai modernisasi dan westernisasi, sejatinya hadir ketika bangsa Eropa menjadikan Indonesia tanah jajahannya.

Kekurangan novel anak semua bangsa:

  1. Tokoh utama yang kebarat-baratan dan membuatku kurang sreg tokoh Minke ini. Pada novel Bumi Manusia, aku justru kagum karena semangat belajarnya. Tapi pada novel anak semua bangsa aku merasa dia terlalu membanggakan dunia Eropa sampai enggan menggunakan bahasanya sendiri. Cukup idealis terhadap kemanusiaan tapi kurang cakap bertindak untuk menjangkau nilai yang dianutnya.
Kutipan Nasionalisme dalam Anak Semua Bangsa
Kutipan Nasionalisme dalam Anak Semua Bangsa
  1. Ada cetakan halaman yang kurang bagus. Meski masalah cetakan ini masalah minor, tapi membuat yang baca kurang nyaman. Semoga bisa diperbaiki pada edisi cetak yang berikutnya.
  2. Ada beberapa kosakata yang kadang membuatku bingung. Terutama ketika menunjukkan gestur tubuh seperti mengapurancang, aktifitas seperti didongkeli, mbrojol selaning guru dan lainnya

Dengan rendah hati aku mengakui: aku adalah bayi semua bangsa dari segala zaman, yang telah terlewat dan yang sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orang tua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat.

Minke, Anak Semua Bangsa hal 248

Bagi yang sudah baca bukunya, bagaimana nih menurut kalian? Apa yang bisa kalian tangkap dari aspek novel Pramoedya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

Saya ingat buku ini sempat dilarang dan hanya beredar dalam.bentuk foto copy. Beredar dari tangan ke tangan. Sembunyi-sembunyi. Saat Gus Dur jadi presiden dan membolehkan buku ini. Barulah ada cetakan buku dengan cover yang bagus dan ilustrasi covernya. Langsung saya beli tetraloginya walau gak jajan. Maklum mahasiswa kere. Wkwkwk. Saking kagumnya dengan buku ini sampai bela-belain ketemu Pramoedya Ananta Toer di UGM Jogja demi tahu behind the writing. Sempat bertemu kembali dengan beliau di Jakarta, tapi saat itu sudah sakit. Dan akhirnya hadir di pemakamannya.

Semoga ada lagi penulis sekelas dan sekaliber beliau di Indonesia.

1 Response