Home / Jendela

Pertanyaan Komparasi yang Menyulitkan. Apakah Memang Sesulit Itu?

Senjahari.com - 19/12/2022

Pertanyaan Komparasi

Penulis : Dinda Pranata

Beberapa waktu lalu dalam sebuah komunitas yang aku ikuti cukup ramai, orang mencibir sebuah pertanyaan “Mengapa di masa sekarang anak muda lebih suka main HP daripada membaca buku? Ada yang mengatakan penanya nggak seimbang untuk sebuah pertanyaan, ada pula yang mengatakan si penanya ini terlalu b*d** untuk menanyakan pertanyaan yang jelas-jelas bukan apple to apple.

Dari sini sebenarnya aku mulai resah sih, bahwa pertanyaan seperti itu mampu membuat orang lain menghina seseorang, apalagi dalam forum keilmuan. Sebenarnya pertanyaan komparatif ini sering kita temui dan bahkan kita sering mengajukan pertanyaan seperti itu. Haruskah ada pakem tertentu untuk menanyakan pertanyaan komparatif itu?

Apa sih Apple to Apple, dan Apple to Orange?

Sering kita mendengar pernyataan apple to apple, artinya kita melakukan perbandingan dengan obyek yang setara atau selevel. Contohnya, kita mau membandingkan sensasi atau cita rasa apel merah dengan apel hijau. Atau kita bisa membedakan antara jumlah volume sampah tahun 2021 dengan volume sampah tahun 2022.

Lalu apa sih apple to orange, artinya kita melakukan perbandingan dengan obyek tertentu yang tidak sama/berbeda level. Misalkan kita mau membandingkan perbedaan psikologis anak bayi 6 bulan dengan anak 5 tahun. Atau, mau membandingkan kenapa orang lebih suka minum jus buah daripada makan buah segar saat musim panas.

Banyak orang yang mengira bahwa pertanyaan atau membandingkan apple to apple lebih baik daripada apple to orange. Alasannya cukup beragam, mulai dari lebih terarah karena ada skala/tolak ukur yang dipakai. Juga, karena mencari perbedaan dari dua hal yang selevel lebih masuk akal daripada membandingkan dua hal yang jelas-jelas berbeda.

Tapi apakah memang demikian?

Pertanyaan Komparasi yang Kadang ….

Pertanyaan Komparasi dan Masalah
Pertanyaan Komparasi dan Masalah

Perbandingan ini sebenarnya sudah lama menimbulkan permasalahan lho! Sampai-sampai dalam sebuah studi yang pernah dikeluarkan Universitas Stanford, mengatakan bahwa beberapa pihak yang menggunakan idiom komparasi ini justru sering dipakai untuk mengejek seseorang.

Telepas dari kemungkinan ejekan, ada dua hal yang terpenting yaitu apa tujuan kita dan batasan permasalahan dari pertanyaan itu. Kalau kita nggak tahu tujuan dari penanya ini bertanya, bisa jadi kita nggak bakal mendapatkan jawaban yang kita cari. Kalau batasannya tidak jelas pun kita jadi kesulitan mencari sumber datanya kan.

Perbandingan Apple to Apple sejatinya sama dengan perbandingan Apple to Orange. Eh, bagian mana yang sama? Apple to Apple adalah membandingkan dua hal yang sejajar dengan tujuannya mencari perbedaan. Apple to Orange adalah membandingkan dua hal yang berbeda dengan tujuan mencari persamaan. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dari sebuah pertanyaan komparasi.

Sebenarnya apakah ada pakem khusus dari pertanyaan perbandingan. Sayangnya, iya! Utamanya jika berhubungan dengan keilmuan dan kita sebar ke media sosial. Namanya pertanyaan ‘kan pasti membutuhkan jawaban, dan jawaban yang akan kita dapatkan tergantung dari pertanyaan dari penanya.

Bayangkan jika ada yang bertanya apa alasan orang suka minum jus daripada makan buah segar? Jawabannya bisa beragam, misal yang penjawab orang yang tidak punya blender ya akan menghasilkan jawaban dengan alasan tidak punya blender.

Beda lagi kalau yang menjawab adalah orang di gurun pasir, jawabannya mungkin lebih suka makan buah segar yang berair alih-alih jus buah yang bisa menguap.

Tetapi, apa sih yang bisa kita pelajari dari fenomena dilema perbandingan ini?

Open Minded is Needed

Open Minded dan Komparasi
Open Minded dan Komparasi

Tidak ada yang salah dalam menanyakan pertanyaan komparasi seperti apple to apple atau apple to orange. Yang sebenarnya kita butuhkan adalah keterbukaan akan segala kemungkinan. Bagi sebagian besar orang (tidak semua ya) membandingkan apel dan jeruk itu gila atau nggak mungkin. Padahal dari dua hal yang berbeda mereka bisa melihat kesamaannya. Atau mau membandingkan jerapah dengan semut yang sangat berbeda, kita bisa kok menemukan 0,9% kesamaan di keduanya bukan sebatas mereka sama-sama hewan.

Meski mungkin menunjukkan 0,9% persamaan dari dua hal yang sangat berbeda, hal itu tentu butuh waktu. Makanya dalam skripsi/tesis/desertasi/penelitian atau bahkan pertanyaan di media sosial dibutuhkan batasan masalah. Ini bisa membantu penanya mencari sumber membuat dan memfilter jawaban-jawaban yang masuk.

Alih-alih menghina penanya, kita bisa kok bertanya tujuan pertanyaan dan sejauh mana dia membutuhkan jawaban. Ingat bahwa membandingkan sesuatu tidak harus mencari perbedaan tapi juga persamaan.

Pertanyaan kritis lain terkait perbandingan nih, kenapa sih kita lebih fokus ke perbedaan alih-alih persamaan ya?

Tidak ada hal yang 100% sama dan beda.

Di balik persamaan ada perbedaan dan begitu sebaliknya.

dinda pranata

Source:

Barone, J. E. “Comparing Apples and Oranges: A Randomised Prospective Study.” BMJ, no. 7276, BMJ, Dec. 2000, pp. 1569–70. Crossref, doi:10.1136/bmj.321.7276.1569.

Home (NEW)

Home

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

*

Post comment

Comment

Wah, baru tahu ternyata ada istilah apple to orange, sebelumnya cuma tahu apple to apple. Terima kasih, Mbak, saya jadi tahu dan bisa membedakannya.

1 Response