Home / Serambi

Sekelumit Kisah Bumi, Hutan dan Penghuninya

Senjahari.com - 03/06/2023

Cerita Bumi dan Hutan

Penulis : Dinda Pranata

Bumi. Itulah namaku. Aku ingin mengajakmu menyelami kisahku dari sudut pandangku. Cobalah kau meresapi dan memejamkan mata, lalu dalam lima detik bukalah mata lewat imajinasimu. Rasakan bahwa kau memiliki tubuh yang sedikit bulat, melayang, memandang matahari yang ada di depanmu dan kamu berjalan pada marka jalan di angkasa-itulah orbitku.

Jika kau tanya dari mana asalku? Sebenarnya, aku tidak tahu pasti. Banyak perdebatan mengenai kelahiranku berserta dengan saudara-saudaraku di galaksi ini. Nama panggilanku juga banyak dari para penghuniku. ada yang memanggilku Bumi, Pertiwi, Earth dan lainnya. Dari semua saudaraku, aku termasuk yang paling beruntung.

Mengapa? Karena aku memiliki kehidupan yang ideal di dalam tubuhku mulai dari udara, air, tanah dan sinar matahari. Alasan itulah yang menyebabkan dalam tubuhku ada organisme hidup yang menggeliat dan menyebutku sebagai “rumah”. Awalnya aku dan para penghuniku bisa hidup saling berdampingan, tapi lambat laun salah satu penghuniku bernama manusia mulai memanfaatkanku untuk kepentingan kehidupannya. Ayo, aku tunjukkan lebih dalam lagi. Siap-siap perbesar lensamu dan coba lihat ke dalam tubuhku.

Pahit Manis Hubungan Manusia dan Bumi

Bumi dan Galaksi

Ya, sejujurnya saja hubunganku dengan salah manusia ini cukup pelik. Mari kita sebut saja hubungan “benci tapi cinta”. Hubungan yang saling kontradiktif ini kadang menjadi masalah dalam roda kehidupaku.

Di satu sisi aku mengagumi manusia karena mereka salah satu makhluk yang bisa diandalkan yang punya kemampuan berfikir luar biasa. Mereka bisa menciptakan legenda-legenda ¹ tentangku dan saudara-saudaraku; Mampu memanfaatkan sari-sari dalam tubuhku hingga berguna untuk kelangsungan penghuni lain. Tapi di lain sisi aku memiliki ketakutan dengan manusia itu.

Baca juga: Energi Terbarukan Indonesia dan Petualangan Avatar

Hal yang aku takutkan dari manusia berkaitan dengan hasil-hasil dari kemampuannya berfikir. Begini deh, coba bayangkan jika kau hanya berfikir tentang penciptaan namun lupa akan dampak dari hasil ciptaanmu. Kamu pun nggak tahu dampaknya baik/ buruk buatmu dan sekitar ‘kan.

Hal nyatanya mulai bisa terasa ketika pertama kali manusia bisa memanfaatkan teknologi dari sari-sari tubuhku ². Mereka terus menemukan cara agar bisa bertahan hidup memanfaatkan batu, kayu hingga pertambangan; Menggunakan akal untuk bermukim setelah lelah berpindah sana sini; Kemudian mereka berinovasi membentuk kelompok, meramu dan beternak; Akhirnya tak terasa bisa menggunakan mesin-mesin ³ untuk industri.

Kalau kau bertanya, apa aku senang dengan kondisi ini, aku akan menjawab setengah senang dan setengahnya tidak! Aku senang bahwa manusia bisa nyaman dan aman tinggal denganku, tapi di sisi lain aku pun benci bahwa perilaku mereka kian mengeksploitasiku. Mengambil tanpa mengembalikan. Merusak tanpa memperbaiki.

Ayo aku tunjukkan lagi bagian lain dari diriku! Kencangkan sabukmu, ok!

Penyakit yang Di Derita Bumi

Kini kau sudah tiba di bagian selatan tubuhku. Kau mungkin tidak bisa melihat luka lecet pada bagian lapisan di selatan ini. Salah satu lapisan di atmosfer bernama lapisan ozon mengalami luka serius dan bagiannya menipis. Lucunya, luka itu tidak sakit, aku hanya merasa tubuhku kian memanas tanpa tahu sebabnya. Lalu sekelompok penghuni bernama Joe Farman, Brian Gardiner dan Jonathan Shanklin menemukan lecet ⁴ pada lapisan ozon ini pada tahun 1978-an.

Baca juga: Green Kitchen: Saringan, Tungku dan Rasi Bintang

Lalu di tahun 1980-an mereka melaporkan bahwa lapisan ozon-ku itu sedang nggak baik-baik saja. Katanya, itu karena aktifitas manusia yang di tahun-tahun tersebut banyak menggunakan produk berbahan CFC. Sejak tahun 1980-an itulah banyak pihak baik yang berusaha mencegah lapisanku semakin tipis dengan melahirkan kebijakan penolakan penggunaan CFC pada produk. Tapi, dari masalah ozon ini muncul masalah kedua.

Masalah yang kedua yaitu penyakit flu ⁵ yang tak kunjung reda selama berpuluh-puluh tahun. Gejalanya adalah demam dan panas yang datang dari luar serta dalam tubuh. Ini karena panas sinar matahari yang aku terima terperangkap di dalam tubuh (Istilahnya efek rumah kaca), kondisiku ini mirip saat manusia mengalami demam disertai panas dalam berlebih ⁶.

Masalah yang kedua ini sebabnya lagi-lagi karena manusia. Aktifitas mereka dalam rentang sejarah panjang, mengakibatkan banyak eksploitasi pada organ tubuhku. Sebut saja hutan yang menjadi paru-paruku.

Bumi Mendapat Pengobatan dari Dokter Gadungan

Perubahan Suhu Bumi dan Laju Penurunan Luas Hutan

Saat aku sakit, pasti akan datang ke dokter. Tapi dokterku tidak baik padaku. Mereka lebih cocok menjadi dokter gadungan ⁷, yang secara ilegal mengoperasi dan memangkas tubuhku. Memotong pohon dengan gergaji, meluluh lantahkan seluruh paruku. Menjerabut akar pohon di hutan dan menggantinya dengan tumbuhan yang tak cocok di bagian itu.

Coba kau rasakan, sehelai rambut atau beberapa helai tercabut di kepalamu. Sakit bukan! Rasanya sama. Sakitnya bisa menjalar ke penghuniku yang lain. Mari kita pergi ke negara Afrika Tengah, India, Afganistan dan beberapa negara tropis. Kamu akan tahu efek dari ulah dokter gadungan itu. Contohnya masalah isu kemanusiaan, kesenjangan sosial, kelaparan, kemiskinan, dan kekeringan.

Baca juga: Mengintip Green Receipt di Dapur Bumi, Mau Menu Apa Hari Ini?

Lalu ada masalah hewan dan tumbuhan yang tidak bisa bertahan. Contohnya saja burung dodo, apa kamu pernah mendengarnya atau melihatnya? Ah, tentu tidak! Jujur, Aku sangat rindu pada hewan dan tumbuhan endemik yang mewarnai keseharianku memutari orbit. Aku pun rindu mengundang iri hati saudara-saudaraku.

Kondisiku semakin parah dengan serangan batuk yang tiba-tiba berupa gempa, juga pilek berupa banjir atau bencana air lain yang datang silih berganti. Itu sebagai efek samping panas dalam yang tak kunjung membaik dan membuatku stres. Hal ini juga berdampak pada kelangsungan umurku di galaksi. Ironisnya, sebagian manusia menganggapku justru terlalu tua—meski aku sendiri menolak menjadi tua—yang mana penuaan ini semakin buruk karena ulah mereka sendiri.

Apa yang aku butuhkan?

Penghuni Baik: Hutan di Bumi dan Komunitas Lokal

Penghuni Bumi dan Hutan

Aku butuh penghuni baik yang bisa menjadi dokter pribadi. Kalau kau tanya apa aku kenal orang-orang baik itu? Aku sangat mengenalnya. Aku mengenal mereka satu per satu, karena mereka sudah berkontribusi padaku yang sedang flu dan terluka. Salah satunya adalah Jostein Gaarder, itu loh penulis filsafat yang terkenal. Aku ingat kata-katanya yang membuatku merenung

Bagaimana bumi di akhir abad ke 21 nanti?

Jostein Gaarder—Kitalah yang ada di sini Sekarang

Aku dipaksa menyadari realita yang sebenarnya nggak mau kupikirkan. Terlalu sakit. Tapi ketika mengingat orang-orang yang berjuang, aku nggak mau pesimis. Aku contohkan ya.

Pertama masyarakat adat. Bagi manusia modern, pemikirannya nggak ilmiah. Tapi bagiku mereka ini, baiknya kebangetan ke aku. Mereka tahu kesukaanku akan dipuja dan diingat. Mereka bahkan menciptakan legenda tentang penciptaanku. Menciptakan mitos yang akan manusia takuti tentang hutan. Menjagaku lewat ritual alam dan yang pasti mereka bertanggung jawab dalam mengembalikan apa yang mereka ambil.

Kedua ada komunitas-komunitas dan LSM lingkungan hidup. Mereka aktif mengkampanyekan kelestarian lingkungan. Contohnya #EcoBloggerSquad yang mengkampanyekan #BergerakBersamaBerdaya untuk menjaga organ tubuhku bernama hutan. Lalu ada Komunitas Hutan itu Indonesia, yang secara aktif bersama masyarakat di berbagai wilayah Indonesia menjaga hutan alamiku. Juga ada Kabupaten Lestari secara mutualisme menggunakan sari patiku tanpa merusak kesehatanku.

Masih ada badan PBB juga yang secara resmi menjagaku secara utuh, dengan beragam kebijakan, yang mengatur aktifitas manusia agar lebih peduli padaku. Aksi dan kebijakan mereka, nyatanya membuatku bertahan hidup sampai sekarang. Tanpa mereka aku bisa tiba-tiba hilang, sama seperti beberapa oknum yang mengatakan bahwa nanti 2012 aku mati (dunia kiamat). Padahal mereka keliru.

Aku harus mengakhiri kisah hidupku ini sebentar lagi. Sebelum itu, aku ingin kau tahu sesuatu.

Baca juga: Paradoks Green Washing yang Hijau, tapi ....

Invitasi dan Diskusi

Kesehatan Bumi

Aku sangat menyayangi kalian, para penghuniku. Mau itu manusia, tumbuhan, hewan bahkan mikroba sekalipun. Aku percaya mereka sangat berguna bagi kehidupanku. Tapi, jika organ tubuhku tidak terjaga maka aku tidak bisa bertahan, saat mendapat serangan dari luar angkasa—yang mungkin bisa mengancam kehidupanku.

Ya, kau tahu lah seperti sinar matahari yang terik dan membuat tubuhmu terbakar, jika tak ada pelindung ozonku. Lalu panas dalam yang merusak organ tubuhku jika hutan sebagai paru-paruku tak berfungsi sebagai pernafasanku.

Kalau kau tidak tahu tentangku, kau bisa membaca laporan dari badan otoritas resmi atau dari aksi penghuni baikku. Setelah itu aku ingin memintamu bersama-sama menjagaku, supaya aku tetap bisa menjadi rumah ternyaman dan teraman bagimu.

Maukah kau menjadi bagian dari penghuni baik itu? kalau kamu punya versi sendiri untuk #BergerakBersamaBerdaya boleh spill di komentar!

Sumber:
¹ Mitos ternyata bisa menjadi sarana yang efektif secara psikologis, dalam proses internalisasi aturan atau kebijakan. Segal, Robert A. “6. Myth and Psychology.” Myth, Oxford University Press, 2004, pp. 91–112, http://dx.doi.org/10.1093/actrade/9780192803474.003.0007.

Baca juga: Selimut Polusi dan Populasi: Realita Pahit Kelahiran Manusia di Bumi

². World History Timelines – Mapping Two Million Years of Humanity

³. The Rise of the Machines: Pros and Cons of the Industrial Revolution. https://www.britannica.com/story/the-rise-of-the-machines-pros-and-cons-of-the-industrial-revolution

⁴ What is the ozone layer, and why does it matter? https://www.nationalgeographic.com/environment/article/ozone-depletion

5 Istilah dampak bagi pemanasan global. Pemanasan global bisa menyebabkan kenaikan suhu bumi, pencairan es di kutub utara dan selatan yang menyebabkan kenaikan level air.

⁶ Istilah untuk efek rumah kaca. Ketika matahari memanasi bumi, sebagian panasnya masuk ke dalam bumi dan sebagian lagi memantul keluar atmosfer. Panas yang memantul ke luar angkasa itu terjadi karena ada “kaca bumi” di atmosfer yang berupa gas CO2, Metana, Dinitrogen Oksida dan Uap air. Jika gas-gas ini berlebihan maka akan memanaskan bumi dari dalam secara berlebihan juga.

Green Washing: Produk hijau yang tak selamanya hijau. Beberapa produsen industri yang mengkampanyekan barang ramah lingkungan, tapi tak ramah lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment

Comment

Wah keren sekali, Kak. Narasinya Indah dan mudah dipahami. Cocok juga jadi dongeng untuk anak-anak. Semoga anak-anak manusia pun jadi tergerak menjaga bumi

Bumi satu-satunya tempat tinggal manusia yang aman, harus dijaga dan dirawat agar selalu nyaman. Saatnya lakukan aksi nyata untuk menyelamatkan lingkungan.

Sedih banget ketika baca berita tentang kerusakan hutan dan lingkungan. Andai semua penghuni bumi sadar dan care untuk menjaga kelestarian bumi.
Semoga semakin banyak orang yang peduli untuk lebih menjaga kelestarian bumi.

Bumi sekarang memang sedang tidak baik2 saja, perubahan cuaca ekstrem menjadi salah satu tanda atau warning untuk manusia agar lebih menjaga bumi dan berhenti melakukan eksploitasi sumber daya alam secara liat. Bumi harus dijaga agar tetap menjadi rumah yang nyaman untuk anak cucu kita.

semoga bumi kita kembali pulih dan lestari dan tugas kita menjaganya jangan sampai merusaknya, semoga makin banyak orang yang peduli dengan kelestarian lingkungan sehingga kerusakan dapat diminimalisir

Waahhh baca ini jadinya mewek deh, pengen nangis kalau ngeliat bumi sampai ngerasa gak baik-baik aja. Semoga kita selalu bisa menjaganya dengan baik ❣️

Jastitah Nurpadmi

Bumi memang sedang tidak baik-baik saja. Banyak banget hal-hal yang bikin kita tercengang belakangan ini karena kesalahan manusia sendiri yang tidak menjaga baik Bumi ini 🙁 Semoga kita selalu diberikan kesehatan & bisa sama sama menjaga Bumi kita lebih erat!

bumi adalah tanah kita, tapi skrg terpuruk bgt menurut saya.. org2 menikmati keindahannya tp gk bisa menjaga keindahannya, itu sebuah ironi saat ini.. manusia2 semakin egois demi kesenangannya sendiri, semakin tidak peka dengan alam dan makhluk2 lainnya, apalagi sesama manusia.. kelak mereka merindukan bumi ketika udah berada di dimensi yang berbeda..

Semakin ke sini, kerusakan yang dibuat manusia dan terjadi di bumi memang semakin mengerikan ya kak. Kasihan bumi kita yang sudah penuh luka di sana sini. Semoga semakin banyak manusia yang sadar dan berusaha untuk menyembuhkan luka bumi.

Iya, bumi menyayangi kita dengan manisnya. Telah menyediakan tempat untuk kita bernaung. Maka sudah sepantasnya kita merawat bumi dengan tidak berbuat kerusakan dan hal² yang membuat bumi jadi tidak nyaman ya kak

ini tulisannya keren. Menjadikan aku sebagai bumi. memberi ruang bagi bumi untuk berkisah. membuat metafora metofora dan personifikasi, seolah bumi seperti memiliki sifat manusia. keren sungguh.

11 Responses