Home / Pojokan

Review Animal Farm, Satir Manusia Dalam Animal Kingdom

Senjahari.com - 30/07/2023

Cover Review Animal Farm

Penulis : Dinda Pranata

Buku Animal Farm ini sudah wara-wiri instagramku sejak beberapa bulan lalu. Saking penasarannya, akhirnya TBR yang kuniatkan untuk habis total, jadi nambah lagi dengan beberapa buku pilihan. Termasuk salah satunya Animal Farm. Buku yang tipis tapi padat banget ini, membuatku terkekeh dan kadang tersentuh dengan cerita hewan dalam sebuah kerajaan perternakan ini.

Bagaimana sih sinopsisnya? dan apa yang bisa kita panen dari kisah dalam buku ini? serta bagaimana review animal farm dari sudut pandangku?

Para Hewan, Babi dan Peternakan Manor

Di sebuah peternakan bernama peternakan Manor, hidup dengan damai sekelopok hewan yang terdiri dari babi, ayam, kuda, burung, kelinci, anjing, kucing termasuk para tikus selokan. Sekawanan hewan ini memiliki seekor pemimpin yang disegani. Apapun yang ia katakan akan mereka percayai. Pemimpin mereka seekor babi Bernama si tua Manor, suatu ketika menyampaikan sebuah ramalan—yang ia dapat dari mimpinya—bahwa akan ada masa di mana hewan menjadi pemimpin manusia. Tak lama setelah menyampaikan pidato ramalannya, si tua Manor tutup usia.

Mimpi si pemimpin itu pun menjadi kenyataan dan bahkan jauh lebih awal dari dugaan para hewan-hewan tersebut. Penjaga peternakan bernama Tuan Jones tersebut mulai berulah dan segala kemampuannya mengalami kemerosotan, sehingga mempengaruhi para hewan yang ada di peternakan itu. Tuan Jones jadi malas-malasan; kehilangan banyak uang untuk masalah hukum; peternakan jadi tidak terurus. Hingga suatu hari, meletuslah perang pemberontakan yang diramalkan oleh si tua Manor.

Secara mengejutkan hewan-hewan tersebut berhasil mengusir si Tuan Jones dan mengganti nama peternakan Manor manjadi peternakan Binatang. Mereka menjalankan prinsip yang bernama binatangisme yang menjunjung tinggi harkat dan martabat dari para binatang. Ketika peternakan binatang ini berhasil terbentuk, mereka pun membutuhkan pemimpin yang cakap untuk membawa kemajuan dari peternakan baru itu. Kandidat yang paling menonjol dari kawanan babi yang menjadi pemimpin kelompok itu antara lain: Snowball yang memiliki karakter yang tak mendalam tapi kreatif; Napoleon yang berkarakter garang dan “semau gue”; Squealer yang cerdas dan jago orasi. Namun dari ketiganya, Snowball dan Napoleon lah yang paling sering adu argumen setiap ada rapat-rapat penting.

Baca juga: Buku Tentang Freud, Kelamin dan Serigala Betina

Kedua babi ini seolah tak pernah akur, memiliki cara pandang yang berbeda, saling sikut dan membuat peternakan ini kian terbelah menjadi dua kubu. Bagaimana kehidupan peternakan ini berjalan di bawah kepimimpinan di bawah dua kubu ini? Dapatkan salah satu dari kubu itu tetap berpegang pada prinsip binatangisme? Kalian baca aja deh!

Dari Kemanusiaan, Politik hingga Kebebasan Pers Saat Perang Dunia

Kisah ini salah satu satir yang pedas sekali ya. Mengambil latar peternakan sebagai simbol dari sebuah negara, George Orwell seolah ingin mengkritik kondisi perpolitikan yang sedang kacau pada masa pecahnya perang dunia I. Pada lampirannya di akhir kisah para penghuni peternakan, terselip bagaimana perjalanan ide Animal Farm ini.

Review Animal Farm
Review Animal Farm

Pada tahun 1943, lima tahun setelah kemunculan ide cerita Animal Farm, George Orwell menuangkannya ke dalam tulisan. Sayangnya ketika hendak dipublikasikan, empat penerbit yang menolaknya dengan alasan cari aman dari situasi perpolitikan saat itu. Dalam kisah di buku ini beberapa hal implisit bisa menerangkan kondisi sosial dari masyarakat era tersebut.

Misalkan saja untuk masalah kebebasan pers yang dinilai sangat rentan tersisip propaganda politik. Kondisi Ini tercermin dari bagaimana Squealer berusaha membungkam kawanan hewan di peternakan yang berusaha melawan/tidak setuju dengan Napoleon. Termasuk di dalamnya membenarkan kesalahan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kehewanan.

Lalu juga ada imbas masalah politik terhadap kemanusiaan yang kerap terjadi di masa perang dunia I dan II. Penggambaran masalah ini terlihat banget pada saat Napoleon menjadi semakin serakah dan berambisi untuk mendirikan kincir angin, tanpa memperdulikan kondisi dari hewan yang lainnya. Ini serupa dengan kondisi di era Hitler yang tanpa peduli kondisi para tahanan tetap memaksa mereka bekerja dengan makanan yang sedikit dan iklim yang tak bersahabat.

Baca juga: Ketika Uang Cuma Numpang Lewat, Perhatikan Kesehatan Mental si Uang!

Review Animal Farm: PoV Senja Hari

Quotes Animal Farm
Quote Animal Farm

Buku karya George Orwell ini meski sangat tipis, sebenarnya menghibur dan padat makna-makna tersirat. Membaca animal farm aku justru mendapatkan banyak hal-hal baik daripada kesan tak baiknya ya.

Kesan baik selama membaca buku:

  • Cerita bernada politik yang tak membosankan. Jika kebanyakan buku-buku politik bernada membosankan dan cenderung klise, buku ini alurnya cerdas dan enggak ngebosenin ya. Kita ibarat menikmati cerita fabel meski tersisip pesan-pesan politik.
  • Alurnya sederhana seperti kisah fabel pada umumnya. Meski kisahnya enggak semenegangkan Da Vinci Code atau selugas Laut Bercerita, yang muatan politiknya juga sama, tapi cerita dalam Animal Farm disampaikan dengan metode yang tajam tapi humoris.
  • Munculnya perasaan ironi yang cukup dalam. Pada bagian menjelang akhir buku, George Orwell berusaha memberikan gambaran yang realistis tentang bagaimana dinamika menjadi manusia. Ironisnya adalah yang dibenci bisa dicintai dan yang dicintai bisa menjadi yang dibenci. Bingung kan?

Lalu bagaimana dengan kesan nggak baiknya. Hampir tidak ada ya. Selama membaca buku ini banyak perasaan puasnya. Meski untuk ukuran buku bernuansa politik ini kurang begitu mendebarkan, tapi buku ini menjadi oase yang menyegarkan di tengah panasnya perpolitikkan dunia yang carut marut. Buku ini bisa menjadi pengingat bahwa perang hanya menguntungkan keegoan pihak-pihak tertentu semata.

Invitasi dan Diskusi

Setelah membaca review Animal Farm, penasaran enggak sih dengan bagaimana karakter-karakter binatang ini bisa mewakili suara manusia? Apa ada dari kalian yang sudah membaca buku ini? Bisa dong share pengalaman baca atau insight kalian di kolom komentar.

But, please … Kalau komen yang sopan ya guys! Tinggalkan jejak digital positif buat sesama pembaca ya.

oh ya, bagi yang mau baca bisa beli buku ini di online shop. Atau bisa juga pinjam di aplikasi milik Ipusnas yang gratis! Happy reading ya guys!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment

Comment

Ternyata bukunya pernah ditolak sama 4 penerbit ya, dalam banget nih makna politiknya. Jadi teringat sama kata-kata filsuf yang bilang bahwa sejatinya manusia itu hanya binatang yang diberi akal saja..

1 Response