Home / Jendela

Ketika Sekolah Mau Menghemat Sampo, Jadilah Hukuman Mencukur Rambut

Senjahari.com - 21/09/2023

Fenomena Cukur Rambut di Sekolah

Penulis : Dinda Pranata

Resah dan gelisah,

menunggu di sini

di sudut sekolah

tempat yang kau janjikan

ingin jumpa denganku

walau mencuri waktu

berdusta pada guru

Lirik Kisah Kasih di Sekolah by Chrisye

Cie … yang ngomongin sekolah biasanya paling diingat momen ketemu gebetan atau pacar! Eh tapi selain ketemu pacar, juga ketemu tatib sekolah yang hobinya bawa gunting dan sisir di depan pagar. Siapa di sini yang jadi korban salon dadakan para tatib sekolah? Lo ada yang senyum-senyum sendiri di pojokan nih!

Para tatib ini dengan mata lasernya memeriksa setiap murid yang rambutnya gondrong. Utamanya sih mereka yang cowok-cowok. Sungguh berbahagia bagi para siswa cewek ya! Kalau ada seorang dengan rambut gondrong, langsung deh si tatib memanggil dan dengan gerakan hamemameha menggunting rambut si siswa.

Fenomena cukur dadakan ini sebenarnya menuai pro dan kontra di masyarakat. Bahkan, enggak sedikit juga yang mengkritik cara lawas ini dalam mendidik anak sekolah di jaman sekarang.

Baca juga: Kamu Tua Atau Gaya Hidup Mereka yang Muda?

Lagi-lagi njulid nih mbak Senja!

Antara Bikin Stylish atau Menghemat Sampo

Usut punya usut nih, pas sekolah dulu ada tatib bernama Pak Uus—panggilan teman-teman SMA untuk Pak Usman. Bapak ini punya jargon setiap mencukur muridnya, “Nanti dirapikan di salon, sekalian gundul biar hemat sampo!” sambil mencukur asal rambut muridnya.

Fenomena Potong Rambut
Fenomena Potong Rambut

Setelah dapat siksaan dari salon dadakan Pak Uus biasanya, para cowok akan saling menertawakan wajah masing-masing. Meski dalam hati anak-anak murid itu berkata, “walah pak, kalau mau rapi ‘kan tinggal di sisir saja!”

Bagi pak Uus saat itu, mencukur rambut petal (secara asal), bisa memberi efek jera bagi siswa yang ‘bandel’. Dan, memang terbukti siswa-siswa terpaksa pergi ke tukang cukur dan esok harinya sudah terpotong rapi bahkan ada yang gundul. Berhasil dong metodenya?

Mungkin berhasil untuk sesaat ya. selain berhasil membuat efek jera dengan menciptakan style baru bagi siswa bandel, juga cukup membantu untuk menghemat penggunaan sampo. “Hush, yang benar dong!” seru salah satu siswa ya. Secara kasat mata memang metode ini dianggap sebagai metode paling cepat dan efektif, tapi sesungguhnya percayalah bahwa ini tidak mendidik sama sekali.

“Lo, enggak mendidik gimana sih? Metodenya kan berhasil?”

Dari Krisis Rambut ke Krisis Diri

Potong Rambut dan Bullying
Potong Rambut dan Bullying

Ini bisa jadi pernyataan yang saling berkaitan ya. Contohnya dari mereka yang terkena hukuman cukur rambut di sekolah dengan model ala kadarnya, menimbulkan krisis diri yang bisa terbawa dalam jangka waktu yang panjang. “Ah, itu cuma pikiran kamu saja deh!” mungkin terbesit argumen seperti rasa tidak percaya ya. Namun kalau kita renungkan kembali, hukuman cukur rambut di sekolah terutama potongan yang tidak simetris ini bisa menimbulkan dampak psikologis ke siswa.

Pertama, siswa yang menjadi sasaran pencukuran dadakan ini bisa memiliki krisis kepercayaan diri. Siapa sih yang tak malu berhadapan dengan teman apalagi gebetan di sekolah dengan model rambut tak karuan. Belum lagi anak-anak yang mengalami hukuman cukur rambut di sekolah secara asimetris ini, menjadi bahan tertawaan teman-teman. Kalau sudah begini hukuman cukur di sekolah sudah masuk perilaku bullying lo!

Kedua dampak secara tak kasat mata adalah munculnya stereotip bahwa rambut gondrong itu tidak rapi atau identik dengan anak nakal. Ini yang berbahaya ya! Pendidikan di sekolah harusnya bisa membebaskan siswa dari stereotip tertentu untuk pembekalan karakter yang lebih baik. Bisa saja anak yang berambut gondrong itu anak yang berkarakter baik dan berprestasi, tapi punya alasan tersendiri mengapa rambutnya belum dicukur oleh tukang cukur.

“Sekolah kan maunya rapi, kalau gondrong ‘kan dilihat tidak rapi!”

Cukur Rambut: Syarat dan Ketentuan Berlaku

Kebijakan Sekolah yang Seharusnya
Kebijakan Sekolah yang Seharusnya

Nah ini salah satu alasan klasik yang sering kita dengar dari pihak sekolah. Kerapian merupakan salah satu bentuk pendidikan kedisiplinan diri ya. Meski itu bentuk pembelajaran kedisiplinan tapi bukan berarti hukuman dengan mencukur rambut bisa benar. Pertanyaan lanjutannya nih, apakah dengan mencukur rambut anak-anak akan teredukasi dan menumbuhkan sikap baik mengenai kerapian? Belum tentu. Salah-salah guru malah bisa masuk bui.

“Kok bisa masuk bui sih, mbak? Jangan nakut-nakuti gitu!”

Ada dasar hukum yang melindungi peserta didik dan ini harus dipahami oleh sekolah/pendidik di satuan pendidikan. Dasar hukum itu adalah Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Perbuatan diskriminatif atau perbedaan perlakuan terhadap anak, yang mengakibatkan anak mengalami kerugian baik materiil maupun moril sehingga menghambat fungsi sosialnya, atau memperlakukan anak penyandang disabilitas secara diskriminatif dikenakan pidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,- (seratus juta rupiah)

Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 pasal 77 juncto 76 A

Bapak, ibu guru tercinta, alih-alih menggunakan dalih kerapian untuk mencukur rambut siswa, akankah lebih baik mencukur ide lama dengan metode yang edukatif. Ada syarat dan ketentuan yang berlaku ketika guru hendak mencukur rambut siswa, yaitu pastikan bahwa komunikasi dengan walinya sudah jelas dan gaya rambutnya juga tidak sembarangan gundul/asimetris yang menambah gaya tak rapi.

Invitasi dan Diskusi

Guru berperan penting dalam proses belajar mengajar yang kondusif di sekolah. Jangan sampai dengan dalih sebagai pendidik, seorang guru jadi semena-mena dalam menetapkan aturan dan hukuman ke siswa yang sejatinya masih makhluk mungil dalam kehidupan. Baik pendidik, wali serta siswa diharapkan punya tali komunitasi yang baik, sehingga tidak ada lagi kasus-kasus kekerasan di sekolah.

Catatan kritis juga diberikan kepada siswa serta wali, bahwa pendidikan tidak bisa hanya kita serahkan kepada guru. Pendidikan anak mulai dari karakter dan akademis tetap menjadi tanggung jawab besar di rumah masing-masing, sehingga nantinya siswa (anak kita) bisa meneruskan di sekolah. Oleh karenanya pendidikan berkesinambungan di rumah dan di sekolah menjadi hal yang penting diterapkan oleh masing-masing keluarga.

Anyway, kalian yang punya pengalaman terkena razia rambut di sekolah? atau ambil bagian jadi tukang cukur dadakan di sekolah? Bisa loh bagi-bagi pengamalan di kolom komentar. Eh, kalian yang juga kontra dengan isi artikel, juga boleh berbagi opini ya. Namun, tetap beropini secara bijak tanpa menyudutkan siapapun ya. Ya, semata-mata menjaga jejak digitalmu tetap baik dan bersih.

Happy day, Gengs!

Source:
www.kpai.go.id/publikasi/hukuman-cukur-rambut-siswa-tak-pantas
www.kompas.com/tren/read/2022/08/10/130100965/bisakah-hukuman-potong-rambut-diberikan-untuk-anak-sd-?page=all

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment

Comment

Wah pernah sih sekali kena tapi bagian jambang sama, kalau sampai botak pitak gak.

Lainnya ya gara² kuku panjang terus diceples tangannya bagian jari

Wah jd keinget pas jaman sekolah ini. Cukuran rambut d suruh ukuran 123. Jd klo udh panjang sedikit tuh pasti di cukur secara asal gitu. Jd mau gamau harus botak licin. Wkwk

Tukang Jalan Jajan

Kalau dulu, guru semena mena untuk mencukur rambut semaunya sampai tukang cukurpun menyerah untuk membetulkannya. Sekarang malah bahaya ya, bisa saja sampai keranah hukum dan malah berabe urusannya 🙂

Kalau menurut saya sih boleh2 aja hukuman mencukur rambut, tapi sebaiknya ini sih sudah diumumkan di sekolah sebelumnya, sudah ada pengumuman ke ortunya juga dalam arti kata di wag wali kelas ke murid. Tapi kalaupun sudah dicukur, setidaknya jangan sampe botak lah, kesian juga liatnya hehe

Natasha Stefanie

Sejujurnya saya masih gak ngerti sih esensinya motong rambut siswa ini buat apa, apalagi kalau sampai “ngancurin” rambut. Karna sekolah kan buat menuntut ilmu, apa hubungannya dengan rambut 😅 kalau panjang tapi rapi, menurut saya sih harusnya ga apa” ya wkwk. Tp yaa memang tergantung peraturan sekolahnya juga sih ya hehe

Dodi Insan Kamil

Saya pernah kena razia, tapi merasa gk adil, soalnya di di cukur sampe ke akar dan amburadul, akhirnya mesti botak kayak tni.

Terus menuruk ku rambut panjang itu gk ada kaitannya dengan sekolah. Jadi gk usha repot repot ngurusin siswa deh.

Eh iya loh judul artikel ini sangat menggelitik rupanya. Sebagai warga sekolah aku jadi ikutan bertanya tanya. Apa iya? Tapi dari pov orang sekolah demi kerapian agar enak kalo dipandang gitu sih

Eh iya loh judul artikel ini sangat menggelitik rupanya. Sebagai warga sekolah aku jadi ikutan bertanya tanya. Apa iya? Tapi dari pov orang sekolah demi kerapian agar enak kalo dipandang gitu sih.

Rambut laki laki ya terutama, kalo gondrong maaf suka agak kemproh..beda cerita kalo rambut gondrongnya kayak mbak anggun c sasmi

Dulu kalau sudah ada razia dadakan kek begini,pasti heboh. Kalau pas zaman saya SMP kalau senin, selepasupacara tiba-tiba ada guru yang data ke kelas-kelas, ngecek rambut yang panjnag yang mana, langsung maju ke depan kelas, dipotong deh.

Sekarang kalau mau cukur rambut siswa sebaiknya sekolah menyewa tukang cukurnya sekalian biar bisa jadi lebih rapi dan sesuai dengan peraturan sekolah

Penjahit Alamanda

Era pendidikan sekarang meskipun teknologi dan pengetahuan sudah berkembang masih ortodox. Hal yang harus di dobrak.

jadi ingat dulu zaman sekolah ya, anak cowoknya pasti dilarang rambutnya panjang dan kalau ada yang panjang pasti dipotong sama guru rambutnya, katanya biar rapi dna hemat shampoo, dulu sih kurang paham soal potong rambut ini bagi laki-laki tapi ternyata kan kalau rambutnya panjang laki-laki jadi menyerupai perempuan mungkin itu alasannya

Semasa sekolah ga pernah kena razia karena beberapa alasan.
– ga kena razia rambut karena ga pernah gondrong, udah aturan dari ortu
– ga kena razia sepatu karena emang sepatunya standaran, ga sanggup jg beli yang mahal.
– ga kena razia hp, emamg ga punya hp
– ga kena razia topi, seragam, dll karena pas upacara padti lengkap

13 Responses