Home / Jendela

Konten Over Generalitas: Cinta yang Tak Sesederhana Kulit Jeruk!

Senjahari.com - 22/02/2024

Orange Peel Theory

Penulis : Dinda Pranata

Beberapa hari yang lalu, lagi asik-asik scroll tema berkebun, aku dikejutkan sama salah satu media yang membahas tentang cinta seseorang yang berkaitan dengan kulit jeruk.

Ahay! Ini menarik ya? Serius seumur-umur aku sendiri belum pernah menemukan teori kulit jeruk yang berhubungan dengan cinta. Yang bikin menarik adalah bagaimana orang-orang mengaitkan si kulit jeruk dengan ketulusan seseorang?

Oke, bagaimana sih pengaitan kulit jeruk dan cinta ini terjadi?

Orange Peel Theory: Apa Cinta Sesederhana Mengupas Kulit Jeruk?

Saking menariknya pemberitaan ini, aku sampai search beberapa berita terkait dengan kulit jeruk dan cinta ini. Dari search yang aku dapatkan beberapa media cukup ramai mulai dari yang besar sampai yang kecil lo! Melalui penelurusan, aku kemudian mengambil salah satu pemberitaan dari media kompas yang menyebutkan bahwa salah satu akun pengguna tiktok melakukan challenge kepada pasangannya untuk mengupaskan buah jeruk untuknya. Namun, si pasangan enggan mengupaskan buah jeruk itu. Kemudian seorang netizen mengomentari bahwa pasangan yang beneran cinta akan bersedia mengupaskan buah jeruk itu untuknya.

Sampai di sini apakah ada yang spesial?

Baca juga: Ketika Dewasa Ternyata Kita Tidak Benar-Benar Tahu Segalanya. Buku Ini Membahasnya!

Tidak ada sebenarnya. Namun yang membuatku berkerut dahi adalah bagaimana seorang netizen dengan gampangnya menjustifikasi dan berasumsi bahwa keengganan mengupas jeruk dari pasangan sebagai bentuk ketidakcintaan pada kita. Apakah penilaian cinta dan ketulusan seseorang bisa dengan mudahnya dinilai dari kulit jeruk?

Di sinilah masalah mulai timbul Bambangs!

Konten meminta mengupas kulit jeruk ini kemudian begitu banyak dan sangat viral di tiktok dengan beraneka ragam caption yang mengaitkan mengupas kulit jeruk dengan kadar cinta pada pasangan. Gila, bukan! Yang bikin geleng-geleng sekali lagi adalah konten itu tidak berkaitan sama sekali dengan teknik mengupas, tapi kesediaan mengupas jeruk.

Lalu, apa yang terjadi dengan penerima informasi perihal konten ini)?

Konten Overgeneralisasi

Over Generalisasi Content Orange Peel Theory
Over Generalisasi Content Orange Peel Theory

Koten overgeneralisasi adalah sebuah konten yang hanya mewakili asumsi satu atau beberapa pihak saja, yang kemudian menjadi sebuah kesimpulan tertentu tanpa adanya pengujian tertentu. konten-konten ini akan sangat berdampak pada kehidupan kita sehari-hari ya. Secara tidak sadar, ketika kita terlalu terpapar konten overgeneralisasi, kita akan mudah lompat pada kesimpulan mutlak hanya berdasar pada banyaknya konten serupa yang dilihat. Ya, seperti pada fenomena orange peel theory yang mendasarkan kadar ketulusan cinta seseorang hanya dengan enggan atau bersedianya seseorang untuk mengupas kulit jeruk.

Baca juga: Efek Hari Ulang Tahun-Terdengar Bahagia Tapi..

Ini ‘kan cuma buat hiburan, sis? Memang ada dampaknya?

Sudah banyak kok penelitian psikologi yang menjelaskan tentang dampak dari perilaku kita yang suka men-generalisasi sesuatu. Mulai dari kemampuan berpikir kita yang cenderung negatif, motivasi diri yang berkurang sampai rasa minder dan over thinking yang ujungnya berdampak pada kesehatan. Nah bagaimana dengan konten yang overgeneralisasi. Coba deh kita renungkan sebentar!

Apa yang akan kamu rasakan ketika melihat banyak tonten serupa dengan fenomena orange peel?

Kamu bisa jadi akan berfikir bahwa yang kamu lihat adalah sebuah benar. Belum lagi ada faktor lain semisal kamu sedang bermasalah dengan keluarga/suami/pasangan. Ini akan menguatkan pendapatmu bahwa teori orange peel ini benar. Selain itu, ketika kita mendengar penolakan dari pasangan saat dia enggan melakukan sesuatu, yang bagi kita (mungkin) terdengar sederhana, akan membuat kita mencap pasangan tidak cinta. Ujungnya akan membuat kita jadi berantem sama do’i. Jika kita dalam kondisi mental yang tidak stabil, sangat mudah bagi kita tersugesti hal-hal sederhana dan tidak logis.

Terus apa yang harus kita lakukan ketika menemukan konten over generalisasi berkedok hiburan?

Baca juga: The Will to Meaning, Lebih dari Sekedar Mencapai Sesuatu

Scroll, Scroll To Be Troll

Media sosial memang menarik dan memudahkan penggunanya untuk mendapatkan cuan atau informasi. Namun di balik kemudahannya media sosial, informasi yang tersebar seperti pisau bermata dua. Jika kita terus menerus melihat informasi serupa tanpa pernah mengolahnya, kita akan mudah tersugesti pemahaman tertentu dan ujungnya akan membuat kita lebih mirip troll!

Terus apa yang harus dilakukan ketika kita sering melihat konten yang over generalisasi?

  • Ambil Jeda: Ketika sudah terlalu banyak konten-konten over generalisasi yang bermunculan ambil jeda untuk tidak menontonnya. Lebih baik lewati saja, daripada kita kena getahnya.
  • Hidup itu bukan hanya idealis, tapi perlu realistis. Kalau kita sering melihat konten-konten yang mengandung over generalisasi seperti fenomena orange peel theory ini, kita perlu bijak atau bersedia melihat sisi lain dari fenomena ini. Sadari bahwa dalam tiap orang punya cara tersendiri dalam mengungkapkan cinta pada pasangan. Keep to respect each other!
  • Jangan jadi spon! Ketika menerima informasi semacam konten-konten overgeneralisasi ini, ingat untuk tidak buru-buru menyerap semuanya. Pasang saringan saat kita menyerap konten apapun dari media sosial. Contohnya saat ada yang membuat konten tentang telur dadar bisa menyebabkan kanker, jangan langsung mentah-mentah menerima informasi itu. Gali lagi dengan membaca beberapa sumber. Entah dari penelitian, makalah, jurnal sampai kata ahli tentang konsep makanan sehat.

Invitasi dan Diskusi

Scroll, scroll itu menyenangkan tapi jangan sampai jadi troll ya! Jangan sampai kita berantem . Bukankan segala hal yang over itu memang tidak baik, termasuk fenomena overgeneralisasi ini.

Ini juga berlaku bagi para kreator konten untuk memilih kembali konsep pembuatan kontennya. Jangan hanya karena pengen viral dan dapat cuan, kalian dan para follower kalian jadi kena getahnya. Sama-sama ketiban rejeki mah asik, tapi ketiban apes apa iya masih mau??

Eh, ada yang punya pengalaman hampir tercuci otaknya dari konten-konten overgeneralisasi ini. Yuk, bisa sharing di kolom komentar. Namun ingat untuk tetap berkomentar bijak, semata-mata agar jejak digital kalian tetap positif.

Baca juga: The Path Made Clear: Optimisme sang Visioner Oprah Winfrey

Happy Thuesday!

Source:

Myga, Kasia A., et al. “Autosuggestion: A Cognitive Process That Empowers Your Brain?” Experimental Brain Research, no. 2, Springer Science and Business Media LLC, Nov. 2021, pp. 381–94. Crossref, doi:10.1007/s00221-021-06265-8.

https://lifestyle.bisnis.com/read/20211026/106/1458545/5-jenis-distorsi-kognitif-yang-perlu-anda-ketahui-agar-tak-menyesal-di-kemudian-hari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment