Home / Jendela

Problematiknya Jawaban ‘Namanya Juga Anak-Anak’

Senjahari.com - 04/06/2024

Problematika Frasa "Namanya Juga Anak"

Penulis : Dinda Pranata

Suatu hari Bu A menegur seorang bocah perempuan yang memasuki pekarangan rumahnya merusak bibit buah strawberry yang ia jual di depan rumahnya. Bu A ini kemudian menegur si bocah lembut tapi bocah malah menangis dan melaporkannya ke ibunya dengan mengatakan bahwa Bu A memarahinya. Lantas ibu bocah ini datang menemui Bu A dan meminta tanggung jawab sudah memarahi anaknya. Bu A kemudian menjelaskan bahwa dia tidak memarahi tapi menegur serta menunjukkan rekaman CCTV di depan tokonya. Mungkin ibu bocah ini kepalang malu dan lantas mengatakan “namanya juga anak-anak” tanpa meminta maaf pada Bu A.

Sering enggak sih mendengar cerita yang sebelas dua belas dengan cerita di atas. Kasus yang terjadi pada Bu A ini tidak hanya satu atau dua orang yang mengalami, tapi mungkin kita juga pernah mengalaminya. Sering kali kita mendengar kenakalan anak-anak dari hal sepele sampai hal besar hanya selesai dengan respon ‘namanya juga anak-anak’. Tapi tahukah bahwa ada problematika dalam jawaban namanya juga anak?

Kenakalan Anak = Kepolosan?

Kenakalan anak-anak bisa terjadi karena beberapa faktor mulai dari ketidaktahuan mereka, rasa ingin tahu yang besar, sampai faktor keluarga seperti pengabaian dari orang tua, pola asuh dan lainnya. Kondisi mereka yang ingin menguji segala hal inilah yang patut mendapat perhatian dan pengawasan dari orang tua agar tidak menyebabkan kerugian pada orang lain.

Mengajarkan anak pada batasan juga berarti kita melindungi mereka dari kekerasan sekaligus menghindari mereka menjadi pelaku kekerasan. Mengajarkan batasan artinya juga mengajarkan mereka pada konsekuensi ketika batasan itu dilanggar. Seperti hal yang sederhana, anak-anak belajar untuk tidak melempar barang karena akan merusak barang dan melukai orang. Jika mereka melakukannya dan ternyata barang atau ada yang terluka mereka wajib meminta maaf dan menerima konsekuensi mainannya tidak bisa dipakai lagi.

Bukankah kita sudah banyak mendengar kasus-kasus bullying dan kekerasan dengan pelaku anak, akibat kurang mampunya mereka dalam menghargai batasan orang lain. Sebut saja kasus yang dulu pernah ramai terjadi di salah satu SMPN di Malang, di mana korbannya sampai harus amputasi. Selain itu juga kekerasan seksual pada anak yang terjadi di institusi pendidikan yang marak terjadi, karena pola asuh yang masih menganggap tabu area-area seksual yang harus dijaga oleh anak-anak.

Baca juga: Antara Anak, Belajar dan Merdeka. Ada Ibu yang Siap Jadi Stand Up Komedian

Namanya juga anak-anak, kan mereka cuma bercanda?

Ini pun berlaku saat anak-anak bercanda dengan teman-temannya. Ketika salah satu teman sudah tidak nyaman dengan candaan mereka, anak-anak harus belajar untuk berhenti melakukan candaan yang sama. Karena batasan temannya berbeda dengan batasan yang dia miliki, sehingga jika itu dilanggar maka akan ada konsekuensi dari sikapnya itu. Entah mereka harus ditegur guru atau meminta maaf.

Namanya Juga Anak Bukan Kartu Bebas Pinalti

Ilustrasi Dalil Namanya Juga Anak
Ilustrasi Dalil “Namanya Juga Anak”

Coba kita bayangkan kasus Bu A yang menegur seorang bocah perempuan karena merusak tanaman stroberinya. Apa yang Bu A dapatkan? Tanggapan kurang empati dari ibu si bocah. Sebagai penjual yang merasa rugi, lalu hanya mendapat kata-kata “namanya juga anak-anak” tanpa ganti rugi, rasanya pasti menjengkelkan, bukan?

Respon orang tua yang memaklumi kenakalan dan kesalahan anak sebenarnya bisa positif, asalkan bersamaan dengan contoh tentang konsekuensi dari tindakan mereka. Memaklumi bukan berarti membenarkan, tapi memproses kesalahan menjadi pelajaran yang lebih baik.

Ada beberapa alasan mengapa orang tua seringkali memaklumi kenakalan anak-anak meski itu merugikan orang lain. Pertama, mereka masih menganggap anak-anak itu polos dan tidak mengerti apa yang ia lakukan. Sayangnya, pakar psikologi anak, Sharon K. Hall, Ph.D, membantah anggapan ini. Ia mengatakan bahwa orang tua seharusnya mengajarkan anak tentang benar dan salah sejak dini, bahkan sebelum usia dua tahun.

Baca juga: Pojok Literasi-Resensi The Danish Way Of Parenting: Pola Asuh Anak Berkarakter.

Kedua, orang tua yang kelewat malu sehingga respon yang mereka berikan cenderung memaklumi kesalahan atau kenakalan anaknya. Contohnya adalah ibu si bocah yang meminta Bu A untuk memaklumi sikap anaknya. Yang perlu kita catat adalah meminta orang lain memaklumi kenakalan anak harus berbarengan dengan sikap tanggung jawab, entah itu meminta maaf atau mengganti kerugian. Bukan hanya sekedar meminta memaklumi tanpa ada sikap bertanggung jawab.

Ketiga, kurangnya waktu untuk memperhatikan dan mendisiplinkan anak sehingga mereka cenderung menerapkan pola asuh permisif. Pola asuh permisif cenderung tidak memiliki batasan yang jelas tentang perilaku baik dan buruk, sehingga saat anak melakukan kesalahan, orang tua cenderung memakluminya.

Masih banyak alasan mengapa orang tua menggunakan dalih “namanya juga anak-anak” saat menghadapi kenakalan anak-anak. Alasan itu termasuk latar belakang pendidikan, edukasi orang tua, dan lainnya. Namun problematika jawaban namanya juga anak, bisa berdampak pada kenakalan yang lebih besar, jika kenakalan/masalah yang sepele tidak kita selesaikan.

Lalu orang tua harus apa?

Keluarga adalah Payung Utama Anak

Namanya Juga anak dalil yang salah dalam parenting
Pelajaran Tentang Tanggung Jawab dan Empati

Aku sendiri, sebagai orang tua, punya pengalaman yang kurang menyenangkan dengan orang tua yang terlalu memaklumi kesalahan anaknya. Ketika anaknya diingatkan dengan lembut, orang tuanya marah karena menganggap sikapku terlalu keras, padahal anaknya sudah menyakiti fisik anakku. Namun, jika aku mengkomunikasikan perilaku anaknya pada anakku, si orang tua malah meminta untuk menegur langsung dengan alasan karena mereka tinggal di lingkungan yang sama. Situasinya jadi serba salah, bukan?

Meski dianggap suka mengadu, kita tetap perlu menegur langsung anak yang bersangkutan dan mengkomunikasikan perilaku anak itu pada orang tuanya. Alasannya kuat sekali, karena mereka adalah orang tua si anak. Apapun yang terjadi pada anak, tanggung jawab tetap ada di dua pihak, yang melakukan kesalahan dan walinya.

Beberapa orang meyakini, teguran dari orang lain mungkin lebih didengar daripada teguran dari orang tuanya. Namun, anggapan ini justru bisa menjadi pisau bermata dua bagi anak dan orang tua. Anak dan orang tua tidak akan membangun hubungan komunikasi yang konstruktif dan masalah yang lebih besar di masa depan seperti kasus-kasus perundungan.

Sudah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa teguran dari orang tua memiliki pengaruh besar pada perubahan perilaku anak, terutama dalam keluarga yang sudah membangun komunikasi konstruktif antara anak dan orang tua. Sebab, orang tua memiliki kelekatan emosional lebih dalam daripada dengan orang lain, sehingga teguran atau masukan itu akan lebih meresap pada diri anak.

Invitasi dan Diskusi

Menjadi orang tua itu artinya kita harus siap bertanggung jawab. Bertanggung jawab untuk membesarkan dan mendidik, yang mana hal itu membutuhkan upaya sangat besar. Meski pada akhirnya anak-anak akan bersekolah dan membangun kehidupan sosial dengan masyarakat, bukan berarti kita boleh lepas tangan.

Sebagai orang tua, kita tetap perlu memantau namun jangan terlalu ketat, tentang bagaimana dan dengan siapa mereka membangun interaksi. Ini agar mereka tetap berada dalam lingkungan yang nyaman sebagai individu mandiri tapi tetap terlindungi.

Baca juga: Jangan Membuat Masalah Kecil Dalam Mengasuh Anak Jadi Masalah Besar. Ini Resensinya!

Ingat untuk tidak menjadikan dalih ‘namanya juga anak-anak’ untuk memaklumi kesalahan anak, agar mereka menjadi manusia yang bermoral dan berperilaku baik di masa depan.

Bagi kalian yang memiliki pengalaman serupa dengan judul di atas, yuk! Share di kolom komentar! Eitz komentarnya yang sopan ya, ini agar menjaga jejak digital kalian tetap bersih!

Happy Tuesday!

Source:
https://gaya.tempo.co/read/1837910/anak-jadi-pelaku-perundungan-ini-yang-perlu-dilakukan-orang-tua

https://www.alodokter.com/mengenal-pola-asuh-permisif-dan-dampaknya-bagi-anak

https://www.researchgate.net/


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment