Serambi

Godong yang Salah Nama

Di pelataran parkir Pura Segara Kenjeran, tak membantuku merasakan sejuk meski duduk di bawah pohon beringin yang tak cukup menutupi kepala. Apakah matahari seterik ini ya di musim hujan kota Pahlawan? Aku sudah tak ingat lagi, bagaimana merasakan hujan di kota itu.

Beberapa meter di depan, tumbuh tanaman kecil yang tampak asing sekaligus akrab. Aku bangkit dari kursi semen dan mendekat. Daunnya mirip kelor, tapi bunganya kecil dan putih. Aku mengeluarkan ponsel dan membuka kamera. Batangnya tumbuh miring, seolah tak pernah diberi penyangga. Mungkin juga ia sedang mempersiapkan pose terbaik untuk kubidik. Aku hanya tersenyum saat pikiran banal ini muncul.

Cekrek!

Tombol kamera sudah membidik. Jariku dengan cepat beralih ke aplikasi identifikasi tanaman. Namun tak kusangka, perdebatan aplikasi-aplikasi itu meluruhkanku pada hal lain yang tak kutahu di hari-hari biasanya.

Satu Foto, Dua Suara

Dengan cepat jari-jari menggeser layar. Mencari aplikasi observer yang menjadi jawara observer tanaman. Peringkat pertama. “Halo, GO-DONG bisa membantu apa?” sapanya dalam kotak dialog yang muncul di layar.

Baca juga: Asisten Otak 47 Triliun, Tenun Mikro dan Storygraf-Crafter

Sebuah jari memencet gambar simbol klip dalam kotak dialog. Satu foto terkirim, lalu robot dalam aplikasi itu memprosesnya. Gambar daun bergerak berputar per detik. Dalam beberapa detik sebuah kotak dialog bersama jawabannya keluar. GODONG mengidentifikasi sebagai Calincing tanah. Layar menujukkan persentase 85%. “memerlukan data tambahan untuk identifikasi ulang,” kata GO-DONG.

Jari itu mengambil ulang foto dan mengirimkan pada GO-DONG. “Ini calincing tanah, akurasi 87%,” jawabnya. Tak bertele-tele dan dingin. Meski ada akurasi, tampaknya jari di atas layar itu ragu.

Ia mengetuk-ngetuk layar kembali selama beberapa ketukan. Lalu telunjuknya terhenti. Selanjutnya dengan cepat jemarinya mematikan GO-DONG, menggeser halaman layarnya dan membuka satu aplikasi tandingannya.

Namanya BOTan. Kata di database pencari aplikasi, BOTan adalah tandingannya. Peringkat kedua. Setelah mengucapkan salam, jemari di layar itu mengirim foto yan sama. BOTan pun memproses. Hanya dalam dua detik BOTan mematahkan pendapat GO-DONG. BOTan mengidentifikasi sebagai kelor. Ia menjelaskan kalau bentuk daunnya majemuk dan berbentuk bertingkat. “Akurasinya 91% dan fakta menariknya kelor dapat dikonsumsi,” BOTan menambahkan hasil identifikasinya.

Perdebatan sengit itu membuat jari di atas layar menutup paksa dua aplikasi itu. Layarnya kemudian sengaja ia matikan. Pemilik jari beranjak dari hadapan tanaman itu membawa pertanyaan tak terjawabnya.

Baca juga: Rancak Bumi Lawang, Lahir Mentega Tengkawang

Bunga yang Terdeteksi di Tempat yang Tak Terduga

Frustasi tak mendapatkan jawaban dari BOTan dan GODONG, aku melangkah masuk ke dalam mobil. Suhu kabin mobil terasa meradangkan kulit, seperti panas yang ikut masuk ke dalam. “Yang bener aja!” seruku dengan napas pendek, “masak satu foto dari dua app jawabannya bisa beda sih!”

Aku menutup pintu masih dengan gerutu yang belum mereda. “Katanya app-nya keren. Cerdas. Eh, jawaban nggak ada yang konsisten. Kayak manusia aja,” kataku lagi.

Lalu, kubuka laci di bawah kursi penumpang. Mengambil kipas portable sembari menunggu Jaka yang sedang ke mampir menuntaskan panggilan ‘alamnya’. Di dalam laci, tepat di bawah kipas angin portable itu sebuah majalah tanaman setidaknya bisa mengalihkan gerutuku.

Aku mengambil majalah tanaman dengan satu tangan aku menyalakan kipas dan satu lagi membuka majalah. Majalah Herbarium Gulma, edisi ke-19 tahun 2023, judul majalah itu berada di tengah tercetak dalam huruf yang terbaca oleh orang yang berkaca mata.

“Astaga, majalah lama kenapa di sini?” tanyaku sambil menggeleng. Tak punya pilihan lagi, aku membaca majalah yang sebenarnya sudah kubaca itu, meski aku sendiri tak ingat apa isinya.

Baca juga: Penangkap Embun yang Tak Dikenal

Kertas mengkilap itu bergesekan.

Srek..

Srak…

Srek…

“Ini …” suaraku terhenti. Sebuah foto yang kukenali membuat satu tangan yang memegang kipas portable itu hilang kendali. Kipas dengan merek Porty itu jatuh mencium karpet mobil. Dug! Aku membelalakkan mata dan mendekatkan majalah itu ke depan mata. Sebuah tulisan berwarna putih, berukuran kecil di bagian bawah membuatku membaca pelan-pelan, “Ox-alis corni-culata?”

Baca juga: Binahong News dan Prakiraan Tanah Hari Ini

Dalam ketegangan syaraf-syarafku, aku menatap Jaka dengan mata yang membelalak. Pria rambut cepak dan baju bagian punggungnya basah, seperti merayap masuk dan duduk di kursi kemudi. “Lega,” katanya. Aku terbengong, tapi bukan karena terkejut melihat Jaka.

Mesin Bukan Kebenaran Mutlak

Jari-jari itu menyentuh rak-rak buku yang sudah berumur, usianya lebih tua dari usia pemilik jari. Namun, di balik usia tua rak-rak yang ada di dalam ruangan itu, setidaknya rak itu sudah mendengar lebih banyak.

Di rak nomor dua dari sisi kanan, di baris ke delapan si jari menemukan sesuatu yang dicarinya. Sebuah ensiklopedi herbal buntut yang covernya hampir terlepas. Bisa dibilang, ensiklopedi itu adalah kumpulan majalah herbarium yang dikumpulkan Alm. Mamanya yang suka mengoleksi gambar tanaman.

Jari itu mengambil ensiklopedi dan duduk di kursi sofa tengah ruangan. Ada aroma lembab dari halaman-halamannya. Di halaman 112 di majalah herbarium edisi tahun 1997, matanya menemukan foto tanaman bernama Oxalis Corniculata. “Oh, orang lokal menyebutnya belimbing tanah,” bisiknya sambil manggut-manggut. Seperti anak SD dapat pencerahan.

Ia membaca-baca fakta bahwa tanaman itu memang hampir serupa dengan kelor. Banyak orang yang nyaris terkecoh sama bentuk daunnya. Hanya saja warna bunga belimbing tanah putih sementara kelor, agak kekuningan.

Baca juga: Politik Rupa dari Miss Cucurbitaceae di Sela Tiang Listrik

Telapak tangannya menepuk jidat, barangkali pemilik jari hampir terjerumus pada jurang kebodohan. “Nyaris saja aku serupa dengan mereka yang menelan mentah-mentah hasil olahan AI,” katanya lagi. Entah mengapa si pemilik jari jadi bergumam, “kalau Jean Baudrillard ikut berjongkok, bisa-bisa ia tertawa terbahak-bahak melihatku yang mudah percaya jika AI adalah pusat kebenaran.”

Ada yang meremang di sekitar bulu-bulu tangannya. Seolah roh Baudrillad ada di sekitarnya. Pemilik jari bergidik. Ia merasa Baudrillard akan menceramahinya panjang lebar, yang intinya cuma satu. “Kalau kita itu hidup di dunia hyperealitas yang mempercayai sesuatu yang semu sebagai kenyataan.”

Aku menutup ensiklopedia buatan itu, kemudian kukeluarkan ponselku dari saku. Kugeser-geser layarnya. Menatap dua aplikasi yang berjajar bersebelahan.

“Oalah, GODONG dan BOTan ya bisa salah. Gimana aku yang bukan ahli botani,” ujarku menggeleng. Kuletakkan ponsel dan meninggalkan nama belimbing tanah itu bersama kenangan.

Closing by Senja Hari

Gimana nih gengs, apa ada yang udah tahu dengan fenomena hyperealitas ya? Salah satu fenomena yang banyak terjadi di era AI sekarang, di mana ada pihak-pihak yang suka copas dan percaya gitu aja tanpa periksa lebih lanjut. Punya pengalaman hampir percaya dengan AI begitu saja? atau ada cerita melihat orang yang ngeyel kalau AI selalu benar?

Yuk bisa share dong, tapi tetep dengan bahasa yang santun ya. Biar jejak digital kalian tetap bersih.

Have a nice day!

Jya, mata ne~