Justru karena tak suka pujian itu, maka kubilang kau berwatak terpuji. —Perkataan Kiyo
Botchan halaman 7
Baru kubaca halaman tujuh siang itu. Sebuah notifikasi dari Whatsapp berbunyi. Pesan dari kawanku. Kata-katanya amat terbaca jelas: Dasar cari muka! Flexing mulu sih hidup si Citra. Dikit-dikit pamer saldo rekening sembilan digitnya.
Aku cuma menggeleng saja. Memang begitulah kawanku. Mudah terbakar perihal Citra yang kerap kali mencari validasi atas hidupnya. Lantas aku membalas sekenanya, berharap bisa mencairkan suhu hatinya itu. Kubalas pesannya: Bebeb, kemarin aku minum es boba enak dekat alun-alun. Coba deh ke sana, barangkali kau suka. Tak lama kemudian emoji hati pelukan terkirim padaku. Tampaknya dia paham apa maksudku.
Halaman novel Botchan yang sempat terhenti itu kulanjutkan. Meski cukup lama untuk bisa kusebut selesai.
Kukira membaca Botchan karya Natsume Soseki ini bikin hati jadi girang. Seperti namanya yang terkesan lucu dan penuh kepolosan dan kekanakan. Namun, lima malam malamku tak lagi tenang perkara Botchan yang cukup membuat diriku menepok jidat. Sesekali bergumam, “Botchan, bisa-bisanya ya kau kayak gini.” atau celetukkan konyol, “eh, Botchan. Kalau kau ada sekarang di sini, bisa-bisa dirujak netizen lah.”
Baca juga: Novel Emma: Idealitas Wanita di Era Victoria
Meski kepolosannya membikinku tepok jidat, aku tak bisa berhenti membayangkan bagaimana jadinya jika ada seorang guru seperti Botchan ini.
Apa lucunya bilang kau tak bisa mengerjakan kalau memang tidak bisa? kalau aku cukup pintar untuk mengerjakan soal seperti itu, buat apa aku mengajar jauh-jauh ke sini hanya untuk bayaran receh 40 yen sebulan?
Botchan halaman 33
Nafasku tak jadi keluar. Ada sesuatu yang terasa mengganjal tapi terlalu sederhana untuk dipendam. Malam itu kupikir hujan akan cukup lama mengetuk genting. Setelahnya hujan mereda dalam dua puluh tiga detik. Rasanya hujan pun tak ingin menggangguku membaca novel Natsume Soseki itu. Dan bersamaan dengan hujan berhenti, aku tersenyum. “Agaknya, Botchan pun tak akan betah hidup di dunia Citra saat ini. Seperti kondisinya saat harus mengajar di sekolah sebuah desa yang penuh dengan kemunafikan para pengajarnya.”
Nafasku keluar cepat. Pendek-pendek. Walaupun lega, ada sesuatu yang menggantung. Mau tak mau, halaman 33 itu kuberi tanda warna biru.
Di malam-malam berikutnya, omelan-omelanku pada Botchan pun tak bisa terhindar. “Ya, ampun Botchan. Jangan lurus-lurus ah! Hari gini hidup lurus bikin kau dibilang kaku!” selorohku. Geram.
Baca juga: Ketika Uang Cuma Numpang Lewat, Perhatikan Kesehatan Mental si Uang!
Sekolah tempat Botchan mengajar, tak hanya ada papan tulis, meja, murid serta guru-guru. Sekolah itu semacam birokrasi kecil yang di dalamnya ada politik, etika yang tersamarkan atas nama ketertiban, dan seperagkat aturan yang sebenarnya hanya melegalkan supaya reputasi sekolah tampak baik. “Kau sudah gagal di hari pertamamu, Botchan!” komentarku sambil menggeleng.
Orang-orang yang ingin meminjam uang tapi tak mau mengembalikan pastilah orang-orang semacam siswa ini juga kalau nanti dia sudah lulus. Buat apa mereka masuk sekolah kalau begitu? Mereka berangkat sekolah, menyebarkan dusta, lempar batu sembunyi tangan, lalu kepalanya membesar setelah lulus sekolah, mengira diri telah mendapatkan pendidikan
Botchan halaman 51
Kata-kata itu begitu mengangguku. Agaknya dekat dengan fenomena yang terjadi di sekitarku. “Mirip Pak atau Bu itu,” julidku pada diri sendiri. “Seringkali peminjam uang lebih galak dari peminjamnya. Eh, di zaman Botchan ternyata sudah ada pula.”
Setelahnya baris-baris kalimat kubaca. tiga puluh tiga halaman terlewati di malam ke empat itu. Lalu, satu halaman berikutnya kutemukan kata-kata yang begitu menganggu kacamataku. Sampai-sampai ia turun beberapa senti ke tengah hidung.
Segala tindak pelanggaran tata tertib, baik di kalangan siswa maupun guru adalah akibat kurangnya wibawa pihak saya. Rasa malu yang saya sandang mendorong saya untuk melihat jauh ke dalam diri saya sendiri dan mempertanyakan kelayakan saya sbeagai seorang kepala sekolah
Botchan halaman 85
Kata-kata ini kemudian bertemu dengan narasi di lima halaman berikutnya …
Sekolah lebih baik mengajarkan seni berbohong, cara mencurigai semua orang dan bagaimana cara memperalat orang lain. Itu akan bermanfaat bagi orang yang diajari dan bagi masyarakay secara umum. Ketika Baju Merah tertawa, ia menertawakan kepolosan cara berpikirku. Kalau orang menertawakan karena polos dan jujur, tak ada lagi harapan.
Botchan halaman 72
Telunjukku mengetuk-ngetuk halaman yang sama. “Ada benarnya,” kataku pada akhirnya. Di halaman ini semua celaanku pada Botchan setengah luntur. “Sepertinya ini bukan yang dimau Soseki-sensei. Bukan tentang sekolah, tapi …,” aku diam sejenak. Beberapa detik menimbang, “tapi bagaimana cara orang-orang berpendidikan mempertahankan reputasinya.”
Aku menguap. Menutup halaman itu setelah penanda berwarna merah muda tertempel di ujung novel Botchan.
Malam kelima, hujan turun mengetuk genting yang sedari tadi sunyi. Malam-malam dalam satu minggu ini rasanya terlalu penuh. Tak hanya tentang harga sayur, curhat tetangga, perkara cicilan tapi juga teks-teks yang menganggu pikiran di sela-selanya.
Baca juga: Life Lesson, Karena yang Negatif Tak Harus Selalu Positif
Jam di atas nakas sudah menunjuk pukul sepuluh lewat delapan menit. Mataku tak bisa menutup lagi. Kuambil novel dari penulis Jepang setebal 178 halaman itu. Kubuka lagi lembaran yang sudah setengah menguning dan sedikit beraroma lembab.
Teks-teks yang membawaku pada sisi lain Botchan di halaman-halaman akhir. “Di awal kenyataannya Botchan mengkhianati honne-tatemae (konsep perilaku individu dan perilaku sosial). Namun belakangan, konsep ini jadi boomerang,” kataku sambil terus membaca.
“Aku jadi ingat bagaimana sikap para pejabat, golongan artis tertentu, dan dunia di media sosial seringkali menutup lapisan kejujuran itu. Agak-agaknya citra ini bukan hanya fenomena akhir-akhir ini saja, tapi sudah jadi gejala zaman.”
Entah mengapa malam hujan di hari kelima ini begitu penuh distraksi. Sesekali aku memikirkan makanan untuk esok hari. Lalu di detik berikutnya, besok aku harus potong dahan pohon, pikirku lagi. Kalimat di halaman 144 kubaca lagi. Lalu, pikiran lain datang. aduh, besok harus segera cuci selimut! gerutuku dalam hati. Lagi-lagi aku menggeleng. Berusaha fokus dan membaca kata-kata yang sama di halaman 144 itu.
Mereka mungkin minta maaf, tapi takkan berhenti membuat ulah.
Botchan halaman 144
Halaman-halaman berikutnya tak ada komentar untukku. Meski begitu, nafasku seringkali pendek-pendek. Geram tapi juga tercubit. Hingga novel Botchan ini berakhir, di sebuah tempat bernama Kobinata, aku menutup buku itu. Memandangi sampulnya yang konyol.
“Yang dirindukan Botchan bukan hidup nyaman,” kataku sambil menguap. “Selama mata uang sosial adalah citra, ia agaknya akan terus membuat Botchan hilang nafas.”
Aku menutup mata dan meluruskan punggung. Sementara hujan tetap berlompatan di atas genting.
Adakah yang sudah pernah baca novel Botchan atau karya Natsume Soseki-sensei yang lain? Bisa dong bercerita apa yang kalian tangkap dari novel atau buku-bukunya itu. Atau semisal, ada yang punya rekomendasi buku-buku menarik, bisa juga berbagi di kolom komentar ya. Tetep dong dengan bahasa yang sopan dan bijak. Ya, semata-mata biar jejak digital kalian tetap bersih.
Have a nice day!
Jya, mata ne~