Brak!
Suara cabang pohon runtuh. Bukan karena hujan atau petir. Pagi itu, cabang pohon mangga jatuh, di gergaji atas permintaan Pak Ronggo (ketua RW). Suara jatuhnya menimbulkan gema yang sama dengan gema linimasa media sosial.
Sebuah berita yang ramai, lebih ramai dari polemik tanah leluhur yang dijadikan kebun sawit. Isu perselingkuhan kalangan selebritis. Aku mendesah. Telunjukku menggulir layar, melihat aneka rupa komentar-komentar tak pantas.
“Komentar kok sudah kaya palu pengadilan,” kataku.
Aku menoleh ke luar jendela. Orang-orang berkerumun di bawah pohon mangga tetangga depan. Hanya ada pohon hijau, bukan meja hijau. Namun semua tahu apa yang tengah jatuh pagi itu.
Baca juga: Healing Jiwa, Dompet Terluka
Telunjukku menggulir. Sebuah headline dari media besar muncul menyodok mata. Judulnya tertulis SKANDAL PERSELINGKUHAN SELEB K DENGAN SUAMI INFLUENCER C. Mataku bergerak ke kiri dan ke kanan. Kepalaku berusaha mencerna pemberitaan itu. Lalu mendesah lagi.
Kemudian, aku kembali pada halaman selanjutnya. Kali ini dari media besar yang lain. Judulnya pun tak kalah mengejutkan. TUKANG TIKUNG: INFLUENCER C MEMBEBERKAN SIFAT SELEB K. Mataku bergerak kembali. Kali ini dadaku yang mengencang. Gemas.
Sejak beberapa minggu ini, isu-isu perselingkuhan menginvasi halaman linimasaku. Yang mengejutkan angka 500K dari simbol hati tampak membuatku penasaran dan mencoba membuka kolom komentar.
Baru saja terbuka. Lantas … Booom! Komentar tuduhan, kata-kata pedas, hinaan sampai vonis mati dengan ayat-ayat suci mulai bermunculan. Dan ini membuatku makin berkerut kening sambil memijit-mijit dahi. “Apa pengadilan di meja hijau sudah terlalu biasa, sampai-sampai pindah ke media sosial?” Aku cuma geleng-geleng.
Perselingkuhan memang bukan perkara sepele. Tapi yang membuat dadaku berdetak tak karuan, bukan hanya peristiwanya tapi cara ia tersaji kepada konsumen. Lalu dengan mudahnya pembaca beramai-ramai mengadili seolah kebenaran sudah cukup terwakili dari satu judul.
Baca juga: Judul yang Penuh Harapan Tanpa Jaminan Realita
Jariku mengetuk-ngetuk ke layar. “Lalu, jika dua sisi tidak menyatu? Tidakkah itu kurang cocok sebagai ruang sidang,” kataku pelan-pelan. Jariku terdiam beberapa saat. Lalu, layar meredup dan terkunci.
Buku Kappa dan Rashomon sudah kututup beberapa pekan lalu, tapi ketika aku membuka linimasa media sosialku, isi buku itu mencuat ke permukaan. “Kebenaran punya banyak wajah,” gumamku. Aku menatap kembali ke arah jendela, di mana bapak-bapak sedang sibuk mengangkat cabang pohon mangga yang sudah terpotong.
Pandanganku kembali ke layar ponsel yang terkunci. “Kini wajah kebenaran itu tak berhenti sebagai cerita di hutan bambu. Ia beralih menjadi hakim-hakim di media sosial,” kataku. Informasi yang tersebar secara sistematis membentuk pola pikir. Algoritma memperkuat sudut-sudut tajamnya. Setiap potongan informasi datang bukan hanya untuk menceritakan apa yang terjadi, tapi juga untuk memberi tahu siapa yang pantas disalahkan, siapa yang layak dibela, dan siapa yang harus segera dijatuhkan.
Kadang dari video berdurasi satu jam, orang bisa memotongnya menjadi sepuluh detik, memposting ulang dan lantas membuka ruang tafsir baru. Dengan caption yang cantik, video sepuluh detik itu menjadi senjata dan membunuh video berdurasi panjang. Mengambil alih tahta sebagai kebenaran umum, lewat like, share dan komen dalam hitungan menit. Tak perlu meja hijau atau lulusan hukum untuk menentukan siapa yang salah. Termasuk di dalamnya menjatuhkan vonis sebelum pembelaan dilakukan.
“Bukan lagi tentang hutan bambu yang rimbun, tapi hanya kolom komentar,” ujarku. Aku menyandarkan punggung yang terlalu tegang ke punggung sofa. “Kenetralan itu seperti utopia,” kataku pada akhirnya, “barangkali jika Pierre Bourdieu masih ada, ia akan sering sekali memberi kuliah-kuliah daring. Semakin sibuk.”
Baca juga: Jika Malin Kundang Tak Durhaka, Akankan Citranya Berubah?
Ketukan pintu memecahkan ragam pikiran buruk tentang isi dalam ponsel yang kupegang. Kuletakkan ponsel di atas meja kaca hitam di ruang tamu. Setelahnya, kubuka pintu.
“Mbak, ini mangga dari pohon itu,” kata Pak Deri (tetangga depan rumah).
“Banyak sekali,” kataku mengambil sekeresek besar pohon mangga manalagi yang wangi itu, seraya mengucap terima kasih.
“Ya mau bagaimana lagi, Mbak. Daripada saya dikomplain terus sama pak RW gara-gara daunnya terbang sampai ke rumahnya,” ungkapnya, “mau ndak mau, ya saya tebang saja daripada nanti diadili sama orang yang punya kuasa.” Pak Deri menahan senyumnya. Aku pun tersenyum berat, karena meski tahu tetap tidak bisa berbuat apa-apa.
“Terima kasih banyak. Salam saya untuk Bu Deri,” kataku sebelum Pak Deri bertubuh jangkung itu meninggalkan rumah tak berpagar milikku.
Baca juga: Pintu Everlasting dan Antrian Selembar Administrasi
Aku menutup dan mengunci pintu. Setelahnya, beralih ke dapur. Meletakkan keresek hitam besar penuh dengan mangga manalagi itu (yang kutaksir beratnya hampir delapan kilo). Dari jendela dapur aku menatap pot gantung yang kuletakkan di atas teras belakang. Beberapa bunga putihnya sudah mekar dan dalam satu tangkai itu ada bakal bunga yang menguncup.
“Daun bunganya mirip taplak meja pengadilan yang hijau,” kataku di dapur. Kudekati jendela yang terbuka penuh itu. “Banyak orang mengira pengadilan harus berupa bangunan. Tapi sejak lama, manusia-manusia ini punya kebiasaan menggelar pengadilan terbuka.”
Angin dari arah utara bertiup, menggerakkan pot merah bata di depanku. Aku menyilangkan tangan, “pengadilan sosial. Pengadilan yang datang lewat gosip, stigma, anggapan yang belum terseleksi secara benar dan kadang hanya dipercaya lewat satu sisi narasi besar.” Aku tersenyum kecut, teringat bagaimana aku bisa mempercayai gosip tentang bunga yang tergantung di pot itu dari label-label orang yang tak tahu tentang nama bunga itu. Bunga Encok.
Serupa dengan pengadilan sosial yang memberikan vonis hanya dari judul besarnya saja. Memang pelik.
Ada yang pernah merasa seperti cerita di atas nggak sih? Kayak beberapa minggu atau dalam beberapa bulan ini media sosial kayak ramai banget dengan isu-isu privat yang selebritas yang mendadak jadi lahan pengadilan. Nah, gimana menurut pendapatmu gengs? Adakah yang sampai merasa jengah, atau justru mengikuti berita-berita itu? Bisa dong kita diskusi di kolom komentar, sejauh mana kalian bisa menoleransi berita tersebut.
Baca juga: Tak Harus Sama Tinggi untuk Disebut Pohon
Eits, tetap ya dengan bahasa yang sopan ya. Semata-mata biar jejak digital tetap bersih dan kinclong.
Have a nice day!
Jya, mata ne~
Source:
Altamira, A. A., & Movementi, M. A. (2023). Fenomena cancel culture sebagai bentuk pengadilan sosial dalam media digital. Jurnal Komunikasi, 15(2), 123–137.
Sari, D. P., & Nugroho, A. (2021). Konstruksi realitas media dan pembentukan opini publik di ruang digital. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 10(1), 45–58.