“Rumah gedongan tapi suguhannya kok cuma toples rengginang!”
Salah satu tetangga kompleks yang duduk di sebelahku. Aku cuma menghela nafas dan tersenyum kecut. Tak ingin berkomentar atau menanggapi perihal itu.
Mataku terus bergerak melihat sekeliling rumah. Di ruang tamu yang luasnya dua kali dari ruang tamuku itu, berkumpul para ibu-ibu dasawisma kompleks yang sedang menggelar rapat rutin bulanan. Sebagian ibu-ibu sedang berbincang sendiri, ada yang sedang berdiskusi dengan Bu RT sambil memperhatikan buku catatatn dan ada juga seperti ibu di sebelahku ini. Sibuk mengomentari suguhan-suguhan.
“Kok nggak ada jajan kotak, atau sirup-sirup ya mbak,” keluhnya lagi. Seolah ia tak akan berhenti. Menunggu klarifikasi atau setidaknya permintaan maaf. Tapi kenapa?
Pikiranku tak lagi diam. Dia berputar sembari menatap kipas angin yang terus bergerak menggelengkan kepala. Putarannya itu membawaku ke satu ruang tamu ke ruang tamu lain. Rasa-rasanya toples-toples di atas meja, atau bahkan kue cucur dan lemper di atas piring lebih mirip properti pertunjukan sosial. Sementara tamu yang hadir adalah penontonnya.
Baca juga: Healing Jiwa, Dompet Terluka
Bulan November tahun lalu, misalnya, Mbak Anna yang jualan cireng rujak, memberikan suguhan cireng jualannya. Dengan nada guyon, “ngapunten nggih buibu, suguhan saya sekalian buat tester. Barangkali cocok.” Aku yang menikmati renyahnya cireng itu langsung jatuh cinta. Tapi ada pula yang berkomentar, “lho nggak bondo blas, kok ya mek cireng! (Lho kok nggak usaha sama sekali, suguhan kok ya cireng!)” bisik-bisiknya tentu terdengar di telinga. Meski tertimpa dengan gelak-tawa para ibu-ibu di ruang tamunya.
Lantas satu pikiranku melayang ke komentar Bu Deri ketika arisan dasawisma sepakat diadakan di rumahnya. Namun Bu Deri menolak. Baru kutahu alasannya, “saya kurang suka dengan acara seperti ini diadakan di rumah, Mbak. Khawatir omongan tetangga yang suka gitu-gitu.” Tangannya menguncup seperti menirukan bentuk mulut yang berbicara.
Kemudian pikiran-pikiran ini terus berulang, berputar ke belakang. Sesekali aku lupa di rumah siapa, sesekali pula yang kuingat sekedar seloroh-seloroh komentar tanpa ingat wajah yang berkomentar. Samar saja. Kipas angin yang berputar itu mengingatkan aku akan realita di mana ruang tamu seringkali jadi panggung pertunjukan dan suguhan menjadi propertinya. Seolah hanya yang teruji pantas dan tak selalu karena kesanggupan.
Bu Mamik membawa satu kardus air mineral kemasan dan menutup wujud kipas angin yang berputar itu. Air mineral itu terbagi rata dari ujung ke ujung. “Walah, katanya orang kaya. Suguhan cuma air putih sama toples rengginang dan toples kue putri salju!” gerutu ibu yang sama. Ibu itu bisik-bisik seolah tak ada yang mendengarnya.
“Monggo Bu, kita mulai saja agendanya. Keburu sore dan anak-anak pulang ngaji,” kata Bu RT. Lantas semua yang hadir di situ hening. Kuperhatikan wajah-wajah ibu yang ada di sana memperhatikan Bu RT.
Baca juga: Jika Malin Kundang Tak Durhaka, Akankan Citranya Berubah?
Meski kutahu tak ada komentar silih berganti lewat di telinga. Suara Bu RT mendadak timbul tenggelam. “Untuk anggaran bulan ini sebesar …,” suara itu berganti dengan kata-kata lain yang muncul di atas kepala beberapa peserta. Seperti callout dalam komik-komik.
Satu ibu berkerudung merah menyala misalnya: Ya ampun semoga ada jajan kotaknya ya. Lumayan si Enci suka…
Atau, satu ibu di dekat jendela yang sibuk membuka toples rengginang tapi langsung menutupnya: Suguhane rengginang tok, tahu gitu kemarin di tempatku saja lebih proper.
Kepalaku sudah hilang fokus. Terlalu banyak drama tak perlu yang kupikirkan. “Ada yang mau ditambahkan buibu?” tanya Bu RT. Aku menggelengkan kepala. Mengenyahkan suara-suara ribut kepala sendiri. Lalu sedikit mengutuk diri dalam hati, eyke nggak lagi kuliah tentang Erving Goffman!
Ketika sudah tidak ada suara pertanyaan, Bu Mamik permisi ke belakang sebentar. Hening. Mereka yang berkerumun kemudian membentuk kelompok-kelompok kecil. Bicara tipis-tipis. Muncul cerita lama tentang arisan-arisan yang sebenarnya sudah pernah diceritakan. Mulai dari keadaan rumah, interiornya, sampai suguhan di meja ikut dalam pusaran gosip arisan. Seperti backstage panggung teater yang tak lagi menyuguhkan keindahan.
Baca juga: Diskusi Sehat Bubar, Anggota Barbar
Aku diam lagi mendongak ke atas seperti berdoa. Berharap arisan ini segera berakhir.
“Terima kasih ibu-ibu yang sudah hadir di rumah saya. Mohon maaf suguhannya ala kadarnya,” kata bu Mamik. Sesekali aku ingin sekali menepuk pundah wanita paruh baya itu sambil berkata, nggak usah minta maaf, Bu. Berkenan di singgahi saja sudah cukup. Tapi kalimat itu hanya masuk kembali ke perut, ikut tecerna oleh usus-ususku. Tak keluar.
Kukira setelah sandal-sandal itu dipakai, air mineral dalam kemasan habis dan tertinggal di ruang tamu Bu Mamik, suguhan gosip di atas piring saat bertamu akan terlupa. Nyatanya sambil berjalan ada saja celoteh suguhan yang tidak sesuai, interior rumah yang tak indah, termasuk celoteh tentang anak Bu Mamik yang tubuhnya kurus. Gosip itu ikut pulang bersama dengan tamu-tamu.
Ruang tamu bu Mamik hanya jadi panggung sosial sementara. Namun, peran dan propertinya akan selalu menghiasi pembicaraan dari ruang tamu satu ke ruang tamu lain. Seperti dramaturgi yang bersambung.
Hayo, pernah nggak bertamu ke rumah orang atau menjadi tuan rumah tapi dapat gosip? Gosip saat bertamu tuh secara sadar dan tidak sadar, sering terjadi di sekitar kita ya. Nah, bisa dong kalian berbagi di kolom komentar pengalaman-pengalamannya tentang gosip saat bertamu ini? atau gimana ya cara kalian menyikapi hal-hal seperti ini?
Baca juga: Tak Harus Sama Tinggi untuk Disebut Pohon
Eits, tetap ya dengan bahasa yang sopan demi menjaga jejak digital kalian.
Have a nice day!
Jya, mata ne~
Jeremy, D., Sendratari, L. P., & Mudana, I. W. (2025). Interaksi sosial dalam media sosial ditinjau dari teori dramaturgi Erving Goffman (Studi kasus SMA Negeri 4 Tangerang Selatan). Jurnal Pendidikan Sosiologi, 7(1), 48–58. Universitas Pendidikan Ganesha.