Krek krek!
Suara tonggeret benar-benar bising pagi itu. Mungkin mereka sedang mengeluh, perkara hujan di tepi pagi sudah reda. Hanya menyisakan mendung yang menggelantung.
Kopi panas masih menguap, ketika aku berjalan memasuki kamar yang sekarang sudah kosong. Agaknya terlalu lama kubiarkan kosong dan tak berantakan. Diam-diam kubuka lemari kayu yang masih basah karena pelitur. Entah mengapa aku rindu membuka lemari itu, meski kemarin sudah kubuka berkali-kali hanya untuk membuatnya tampak seperti baru.
Aroma lemarinya masih sama sebelum kamar itu ditinggalkan. Tanganku kemudian terhenti di laci kaca dalam lemari. Memandang benda panjang berwarna emas sepanjang kurang lebih delapan belas senti itu. “Apa aku terlalu menyayangi Van Cleef & Arpels?” tanyaku lirih. Kilau mata di gelang itu seolah meminta sesuatu dariku.
“Terlalu mencolok,” kataku di ruang makan. Dia duduk di sampingku sambil telunjuknya terus menggulirkan tetikus di samping kanannya.
Baca juga: Hotel Ramah Anak di Bandung Untuk Liburan. Siap-siap Packing!
“Kalau yang ini gimana?” tanyanya. Telunjuknya beralih dari tetikus ke arah layar. Menunjuk sebuah gelang dengan banyak juntaian sepanjang gelangnya. Aku masih menggeleng.
Jarinya menggulir lagi. Namun dari semua pilihannya tak ada yang sesuai dengan keinginanku. “Pilih gelang saja kok repot. Lantas mau yang seperti apa?” tanyanya. Aku melingkarkan tanganku pada lengannya. Kutahu dia kesal. “Aku tidak suka perhiasan yang mencolok. Cukup satu permata di tengah atau kalau permatanya banyak tidak perlu ramai,” jawabku sambil kepalaku kusandarkan pada bahu kokohnya.
“Tapi untuk acara malam, itu sepadan,” katanya. Masih berusaha merayuku mengganti pilihanku. Aku menggeleng. “Cukup sepadan dengan kau yang melihatku,” kataku lagi. Ia mendesah. Berusaha mengalah. Namun di tengah guliran tetikusnya, “stop!” kataku. Aku terduduk tegak.
“Ini!” aku menunjuk sebuah model gelang emas. “ini yang aku mau,” kataku kemudian. Ia membaca tulisan kecil di bawah gambar. “Van Cleef & Arpels. Terlalu sederhana,” katanya. Aku menatapnya penuh harap. Ia tahu, lebih tahu, ketika keras kepalaku membentur kepalanya. Maka tak ada pilihan lain selain mengangguk.
Ketika kusentuh gelang ini untuk ketiga kalinya di pagi itu. Entah mengapa justru kisah tak mencolok darinya yang teringat. Bukan kisah mewah ketika gelang itu menemani balutan gaun putih yang menutupi seluruh tubuhku. “Rupanya aku terlalu menawan Van Cleef & Arpels di sini,” kataku yang masih menyentuh petal bunga mungil dari gelang keemasan itu. Seperti ingin menahan tapi juga ingin melepaskan.
Baca juga: Insto Dry Eyes: Misi Drop X-77
Riuh jalan terdengar samar di lantai delapan Blok M. Kakiku melangkah ke sebuah toko di lantai delapan Blok M. Tulisan ReLuxe, di atas kaca pintunya tidak mencolok.
“Selamat datang,” sapa seorang wanita dengan pakaian casual. Celana hitam dan baju blouse berwarna krem.
“Saya Andin, yang tadi menelepon,” kataku. Perempuan itu (yang agaknya adalah salah satu pegawai di sana) mengajakku duduk di sofa tengah ruangan. Aku menyerahkan kotak karton jinjing berwarna putih. “Saya mau meletakkan ini di sini,” kataku. Aku tahu kata itu terasa kelu di bibirku. Rasanya seperti meletakkan sesuatu yang tak bisa kau ambil kembali.
Perempuan itu menatapku lurus, tersenyum dan membuka tas jinjing kertas itu dengan hati-hati. Dengan sarung tangan putih di tangannya, ia menyentuh Van Cleef bracelet itu dengan hati-hati. Aku menatap gelang itu dan sesekali tanganku yang di atas lutut ikut bergetar.
“Semuanya asli,” kata perempuan berambut panjang itu. Membelah sunyi. “Sertifikat ada dan kondisi barangnya juga bagus. Sudah berapa kali dipakai?” tanyanya padaku.
Baca juga: Berenang di Kolam Renang Ciputra Waterpark Surabaya
“Sekitar dua kali saja,” jawabku singkat. Aku menghindari kontak mata dengan perempuan di depanku. Dari sudut mataku kubisa melihat ia tersenyum. “Apa ada yang mengganjal Anda? Tampaknya Anda sangat menyayangi gelang ini,” katanya kemudian.
Binggo! Pertanyaan itu terasa sangat menghantam diriku. “Hmmm, tidak juga,” elakku.
“Setiap pelanggan yang meletakkan benda-benda termahalnya di sini hampir seperti Anda,” katanya, “seperti ingin mempertahankan tapi tidak punya cukup ruangnya.” Terlalu lama ia di dalam sana. Terlalu banyak yang gelang itu saksikan, gumamku dalam hati.
“Tapi jika barang ini terlalu lama tersimpan. Ia tak bisa bernafas,” imbuhnya. “di ReLuxe, kadang benda itu menemukan ruangnya sendiri.”
Sebelum melangkah keluar, aku menatap gelang itu sekali lagi yang ada di dalam kotak. Seperti doa yang akan mengantarkan benda itu pada pemilik baru yang lebih baik dariku.
Baca juga: Aki Motor Kendor, Urusan Jadi Molor: Jangan Mau Ya Dek Ya!
Hujan mengetuk-ngetuk kaca jendela. Langit malam seperti membersamaiku duduk di depan laci lemari yang kubuka pagi itu. Kukira kekosongan kamar yang sudah terlalu lama tak berantakan, akan berakhir dramatis dengan erangan kesakitan.
Entah mengapa duduk di atas lantai keramik di depan lemari yang terbuka, bisa senyaman ini. Terlebih di kamar yang hampir-hampir jarang kumasuki lagi karena terlalu penuh dengan kekosongan. Kubuka laptop dan berselancar membuka alamat website ReLuxe. Aku menemukan nama: Mini Frivole Pave 18K Rose Gold Diamond Bracelet. Cantik dalam ruangan itu.
“Agaknya benar. Barang itu akan tetap cantik jika punya ruang untuk bersinar,” kataku. Aku menatap langit-langit kamar itu. Masih sama.
Seperti angin yang lewat. Suara dia bertiup di telinga, “sama sepertimu. Tidak mencolok tapi tetap hidup dalam makna.”
Aku menoleh ke sisi kananku. Ruang makan tetap kosong.
Baca juga: Pertanian Bisa Terbantu Dengan Si Unggas, Kok Bisa?
Ada yang punya pengalaman melepaskan benda kesayangan dan terasa berat? Atau pernah beli sesuatu karena bukan karena mahalnya, tapi karena cerita-cerita dari benda itu? Bisa dong berbagi di kolom komentar tentang pengalamannya.
Eits, tetep dengan bahasa yang sopan ya. Semata-mata biar jejak digital kalian tetap bersih.
Have a nice day!
Jya, mata ne~
View Comments
Perhiasan yang wah dan terjaga dengan baik sebagai pilihan untuk pelanggan di ReLuxe.
Sesuatu yang terbilang bukan hal yang mudah ya untuk melepaskan sesuatu yang pernah melekat dan dekat dengan diri.
Namun, bila memang sudah waktunya untuk berpisah, maka pilihlah tempat yang baik untuk menyimpannya
Lhaaaa kukira dimana tokonya, ternyata ada di Blok M ya. Cusss.. melipir kalo pas abis dapet THR, hehehehe.
Untuk sebuah perhiasan, desain reluxe ini memang mevvah banget ya mbak Dinda. Sangat menggambarkan sebuah eksklusivitas, dan elite vibes. Moga aja nanti ada rezeki, bisa untuk investasi juga di kondisi ekonomis serba tak pasti macem sekarang.
Yang masih kuingat berat melepas benda itu baju bayi anak sih. Pasti ada aku simpan satu buat kenang-kenangan hehehe...
Mini Frivole Pave 18K Rose Gold Diamond cantik banget ya. Sederhana tapi elegan. Suka banget sama modelnya.
ReLuxe cocok nih buat jual beli barang mewah second. Barang mewah memang harus datang di tempat yang terpercaya.
Wow ternyata tokonya ada di Blok M Plaza ya mbak :D
Idem mbak kalau buat perhiasan yang dipakai nggak mau terlalu mencolok, lebih suka yang rantai tipis aja dengan liontin seuprit juga :D
Ternyata menerima dan menjual perhiasan second hand gitu ya? Aku baru tahu ini lho.
Aku jadi iseng2 buka website-nya juga. Kalau beli di sini ini terjamin asli karena sepertinya terkurasi dengan baik ya :D
Van Cleef & Arpels dalam tulisan Mbak Dinda ini terasa sebagai benda yang hidup, bukan sekadar perhiasan. Nilainya bukan cuma pada materialnya, tapi pada perjalanan, kenangan, dan keputusan untuk merelakannya agar menemukan ruang baru. Aku suka membaca sudut pandang seperti ini.
Pernah ngalami betapa sulit melepas satu benda yang saya sayangi, mbak tetapi sadar kalau digenggam pun belum tentu baik. Rasanya tuh nano-nano, sulit dituliskan. Begitulah manusia kalau merasa memiliki kebangetan ya hehehe.
Kalau beli barang base on story di baliknya, jarang sih. Karena aku sering beli apakah butuh atau tidak.
ReLuxe ini tempat istimewa, dimana barang kesayangan mbak pun, akan mendapatkan ruang spesial. Ruang bernafas dan bisa lebih bersinar pastinya.
Apapun yang akan pergi akan tetap pergi sehebat apapun mencintainya. Februari 2026 ini banyak barang kesayanganku perlu lepas. Selain memang lama tidak di sentuh, perlu ruang untuk yang baru. Konon katanya, jika ada yang baru, yang lama perlu di lepaskan. Jangan terlalu serakah. Aku sangat setuju dengan kalimat itu. Beruntungnya memiliki prinsip, terlepas bukan berarti tidak mencintainya. Semoga barang-barang kesayangan bertemu tuannya yang mencintainya.
Aku langsung berharap juga semoga koleksi Van Cleef & Arpels, Mini Frivole Pave 18K Rose Gold Diamond Bracelet nanti bisa menemukanku. Siap dengan segala padaku untuk mencintainya dengan utuh.
Hmmm jadi pengen beli ini, heehe. Lumayan bakalan ku jadikan koleksi atau mungkin hadiah untuk kesayangan 😃
Memang sih, ketika kita meninggalkan benda kesayangan yang jelas-jelas punya banyak kenangan, pastinya akan terasa berat untuk melepaskannya. Namun kalau sudah terpaksa untuk melepasnya, apa mau dikata. Kalo saya sih sepertinya belum ada cerita khusus ketika melepaskan benda kesayangan, hehehe...
Nice story Kak
Yaaa ibaratnya kita ma barang tu ada jodohnya. Kalau terpaksa banget dilepas, baik dijual lagi atau dibuang, berarti takdirnya/ jodohnya udah habis sama kita.
Kalau emang berharga seperti perhiasan bisa nih dijual melalui ReLuxe, siapa tahu dapat harga bagus, lalu perhiasan kita bisa dirawat oleh orang yang emang suka ya.
Menarik banget ngelihat bagaimana perhiasan bisa dibaca sebagai simbol, bukan sekadar barang mewah. Aku jadi mikir kalau kemewahan itu bukan cuma soal harga, tapi juga cerita, sejarah, dan nilai yang dibawa di baliknya