“Lihat! Kita itu sebagai wakil rakyat harus mau terjun langsung.”
Suara pria berambut putih begitu teduh. Nafasnya pun ikut turun naik ketika mengangkut sekarung beras dan satu kardus mie instan. Pria berbaju putih itu benar-benar berkeringat.
Kamera lalu menyorot sisi sebelah kirinya. Terlihat keringatnya yang menetes-netes. Sesekali ia mengobrol dengan pemilik rumah yang terkena banjir bandang, sembari terus menyerok-nyerok lumpur di rumah pemilik pria itu.
Mataku terus menatap layar yang ada di depanku. Menggeleng. “Apa yang terjadi jika tak ada kamera di sisi-sisinya?” tanyaku pada layar.
Suara dari layar ponsel menggema di dapur. Kepulan asap kaldu daging menyeruak dari lubang satu senti di tutup panci. Aroma kaldu menyebar di dalam hitungan detik. “Mirip video ini,” kataku geli sembari menggeleng. Banjir di Sumatera sudah lewat beberapa bulan berlalu, tapi kerak-kerak lumpur masih mengendap di sana. Termasuk kerak dari gema-gema orang yang berlalu lalang ke arena banjir tersebut.
Baca juga: Jendela Di Senja Hari, Apa yang Kita Lihat?
“Ah, apa aku sudah berburuk sangka pada politisi dan anggota dewan?” tanyaku lagi. Masih kupandangi video durasi satu menit lebih itu. Seperti sedang mencari rasa tulus yang setidaknya bisa menyebar dari wajah atau aksi-aksinya. Nihil.
“Aku terlalu bias hari ini,” desahku, “terlalu banyak mendengar kutipan-kutipan moralitas dari para politisi. Namun tak satu pun dari mereka yang bisa kurasakan jujur.”
Aku beranjak dari kursi makan, menuju ke kompor induksi di belakangku. Membuka panci dan kepulas asap menyambut wajahku. Kumasukkan bumbu halus soto betawi dan juga tomat ke dalam kaldu. “Harum,” kataku lagi. Aroma rempah yang menguar dari panci mengingatkanku pada novel Botchan yang baru saja kutamatkan beberapa hari yang lalu.
“Justru karena tak suka pujian itu, maka kubilang kau berwatak terpuji,” ulangku mengikuti perkataan Kiyo (pengasuh si Botchan).
“Di era sekarang, ketika transparansi menjadi kunci, bisakah orang-orang membedakan mana menjadi transparan dan mana hanya menukil citra semata?”
Baca juga: Ibu Rumah Tangga Serasa Wanita Kantoran
Tak ada jawaban pagi menjelang siang itu. Hanya suara sendok sayur yang beradu di dalam panci.
Aku tersenyum geli, ketika mengingat bagaimana aku membaca buku Botchan kala itu. “Astaga, mulutku terus saja bergumam seperti ibu-ibu kompleks,” gerutuku pada diri sendiri.
Tek tek tek! Aku meniriskan tetesan kaldu soto betawi di sendok sayur di dalam panci. “Jika kupikirkan kembali, tentu saja kita tidak bisa selurus Botchan,” kataku. Kemudian, kututup panci dan mematikan kompor induksi hitamku.
“Menjadi transparan dan pencitraan terkadang terlihat sangat tipis,” kataku lagi. “Tapi apa mungkin ada pembedanya?” tanyaku lagi.
Aku mengambil ponsel di atas meja makan. Mengetikkan sesuatu di kolom pencarian: Pencitraan dan Transparansi. Jurnal-jurnal independen bermunculan termasuk artikel-artikel sosial muncul di layar yang mulai panas.
Baca juga: Suguhan Gosip di atas Piring
“Memang istilah transparansi akhir-akhir ini menjadi lebih kompleks,” gumamku sembari telunjukku terus menggulirkan jurnal Transparency in an Age of Digitalization and Responsibility. Jurnal dalam layar seperti ingin bilang: Lu itu nggak bisa nebak-nebak mana yang transparan dan mana yang masuk performativitas politik, hanya dari niat doang!
Aku mengerutkan kening, merasa bahwa transparansi bukan sekadar membuka. Ia juga tentang siapa yang memiliki kuasa untuk membuka, dan siapa yang terdampak oleh apa yang dibuka. “Seringkali transparan tak cukup dengan niat saja, tapi juga resiko. Seperti Botchan yang lebih memilih menjadi transparan, dibenci oleh sosialnya atas kejujurannya dan …,” aku menghentikan kata-kataku sebentar. “Akhirnya ia memilih pergi dan menjadi sepi,” lanjutku.
Layar ponselku masih menyala, jari tangan pun masih menggulir, meski bukan tentang jurnal. Kali ini berita-berita yang silih berganti datang. Beberapa media ada yang skeptis tentang tujuan si dewan rakyat ini terjun ke lapangan, sebagian lagi memberitakan dengan suara yang hampir-hampir netral. Sebagian sisi lagi, aku membaca kinerja-kinerja mereka yang bertolak belakang dan sering kali tiba-tiba, berbeda dengan apa yang mereka lakukan.
Mendesah lagi dan lagi.
“Memang menjadi Botchan yang tanpa sorotan agaknya tidak mungkin saat ini,” kataku lagi. Aku memukul kepalaku pelan, menyadari bahwa zaman sudah sangat berubah. Pikiran ini nyatanya terbawa sampai Novel Botchan habis kulahap beberapa hari yang lalu. “Ya, menjadi Botchan tidak mungkin di era sekarang. Tapi, rasanya ada satu titik yang menghubungkan zaman itu dan zaman sekarang,” pikirku. Kuketuk-ketuk meja.
Baca juga: Ketika Lentera Tak Harus Dengan Api
Telunjukku terhenti dan terangkat sebelum menyentuh meja kembali. “Tujuan?” tanyaku lagi. Aku menatap lampu bolham yang sudah lama padam itu. “Zaman ketika bukti menjadi penting, sorotan kamera untuk performativitas politik sebagai bukti pun penting. Hanya saja, apakah bukti itu sejalan dengan kinerja mereka selama ini pada mereka sebelum bencana? ataukah sorotan mereka menjadi berlebihan di titik ini?”
Aku hening sejenak. Dari jendela, suara abang sayur dengan klakson khasnya terlihat berhenti di depan rumah.
Gimana? gimana? Kita sering kan melihat aksi para politikus dan juga para anggota dewan bekerja di lapangan. Nah dalam teori humaniora Erving Goffman ini ada istilahnya, namanya performativitas politik. Sederhananya ya, politik itu nggak cuma tentang kebijakan tapi apa yang ditampilkan sebagai bukti kerjanya. Kalau menurut kalian gimana nih tentang performativitas politik akhir-akhir ini?
Kalian bisa berbagi di kolom komentar ya, tapi tetap dengan bahasa yang sopan ya gengs. Biar jejak digital kalian tetap bersih.
Have a nice day!
Baca juga: Negara Kaya, Tapi Kok Merana Ya!
Jya, Mata ne!
Source:
Reischauer, G., Hess, T., Sellhorn, T., & Theissen, E. (2024). Transparency in an age of digitalization and responsibility. Schmalenbach Journal of Business Research, 76, 483–494.
Trisakti, F., Berliana, A. D. D., Al Bukhori, & Fitri, A. (2021). Transparansi dan kepentingan umum. Jurnal Dialektika: Jurnal Ilmu Sosial, 19(1), 29–38.