Mall Sarinah siang itu tidak terlalu ramai. Barangkali sejak aku pindah ke kota Malang memang Mall Sarinah hampir jarang sekali ramai. Dari seberang mall itu, aku berdiri mengamati kaca-kaca mall sembari mengawasi putraku main di Alun-alun Merdeka.
Tidak dinyana, dari sisiku terlihat potret monokrom besar para model yang tertempel di kaca-kaca bangunan itu. Ada model pria tanpa senyum, seorang wanita berambut panjang dengan senyum lepas dan seorang lagi wanita paruh baya yang senyumnya agak … terpaksa.
“Apakah pikirannya sudah tergadai di balik senyumnya itu?” mataku agak memicing. Berpikir.
Tak lama kemudian, suara nyaring menghampiriku.
Tak ada yang namanya buku bermoral atau tidak bermoral. Yang ada buku yang ditulis dengan baik, atau dengan buruk
Lukisan Dorian Gray halaman 3
Si Putra sudah lapar dan jam memang menunjukkan pukul dua belas lewat beberapa menit. “Ma, kita ke MCD di Sarinah situ ya!” Putraku menunjuk mall Sarinah di seberang. Aku terdiam sebentar. Menimbang jarak ke rumah, angka-angka dalam dompet dan tentu saja rasa lapar yang sudah tak bisa ditawar. Dalam satu anggukan, jeritan senang keluar dari mulut si Putra.
Aku ingin tahu siapa yang menjabarkan manusia sebagai makhluk yang rasional. Itu definisi paling prematur yang pernah diberikan.
Lukisan Dorian Gray halaman 41
Jeritan senang dari Putra membuat cuplikan kalimat dalam novel itu terlintas begitu saja. Jika kita makhluk rasional, entah mengapa logika selalu datang belakangan berupa penyesalan? batinku.
Sembari Putra berceloteh tentang kawan barunya tadi, sepanjang melewati sisi terluar mall, pikiranku sibuk berkelana pada satu kutipan novel Lukisan Dorian Gray karya Oscar Wilde. Menimbang setiap potret-potret model yang terpajang di kaca-kaca mengkilap mall tersebut.
Antrian self-order masih antri. Kubiarkan Putra bermain di pojok ruangan bersama teman-teman sebayanya. Aku kembali menatap wajah orang-orang yang sibuk menunduk pada gawai mereka. Kali ini aku tak hanya bisa membaca novel Lukisan Dorian Gray sebagai cerita biasa. Cerita yang terlihat tentang seorang pria muda bernama Dorian Gray, yang dilukis oleh pelukis bernama Basil, dan karena merasa ketakutan atas hilangnya kemudaan dan ketampanannya, lantas ia menjual jiwanya sendiri agar tetap muda.
Baca juga: Radio Gosip Puritan: Skandal Hester Prynne Dari Nathaniel Hawthorne!
“Awal kukira novel itu salah satu novel sastra magis. Ternyata sangat salah,” gumamku lirih sambil melangkahkan kaki maju ke mesin self-order.
Setelah memesan, sebuah suara dari mesin EDC memunculkan barcode. Mesin itu mengingatkan aku pada kata ‘menjual jiwa’ dari cerita Dorian. “Jiwa Dorian mirip cara pembayaran ini. Jika pembayaran berpindah dari kasir ke mesin. Jiwa Dorian tergadai dalam lukisannya sendiri.”
Aku mengambil kursi tak jauh dari playground Putra dan duduk memandangi struk itu. Dengan total belanja terbilang hampir seratus ribu rupiah. “Selalu ada konsekuensi di setiap pilihan perut. Salah satunya pengeluaran uang,” desahku.
Pembayaran di mesin EDC memang sudah selesai, tapi nominal dalam struk pembelian membikin kepalaku mengkalkulasi segala kemungkinan. Sampai terlintas dalam benakku, jika saja aku mengikuti emosiku untuk selalu serba cepat, pilihan makanan cepat saji menjadi pilihan, namun aku harus menggadaikan daya finansialku untuk mencari pinjaman hutang.
“Dan Dorian yang masih belia kala itu, terhasut untuk menggadaikan jiwanya pada hedonisme kelas atas seperti yang dilakukan kawannya Lord Henry Wotton.” desahku. Putra melambai padaku dan kubalas lambaiannya dengan senyum.
Baca juga: Review Animal Farm, Satir Manusia Dalam Animal Kingdom
“Bahkan senyumku kali ini, benar-benar menyembunyikan peliknya jiwa seorang ibu rumah tangga.” Aku diam sejenak. “Sungguh judul yang metaforis. Mengecoh.”
Staff MCD membaca nomor pesananku. Aku berjalan mengambil menuku dan kembali ke kursi tempatku duduk. Terbesit kalimat-kalimat dalam novel itu seperti hitungan langkah saat berjalan.
Basil pasti akan membantunya menolak pengaruh Lord Henry dan pengaruh yang lebih beracun lagi yang datang dari tempramennya sendiri.
Lukisan Dorian Gray halaman 146
Aku meletakkan nampan di meja. Memandang nanar pada Putra yang berseluncur dengan gembira. “Dorian tidak polos. Ia tahu!” kutukku. Aku menyadari itu ketika mencerna tokoh-tokoh di sekitar Dorian, yang lebih banyak menyimpan metafora berkaitan. Termasuk kalimat-kalimat masing-masing tokoh itu.
“Kejatuhannya mulai terlihat ketika ia jatuh cinta pada Sybil Vane (gadis pemain teater) tapi tidak siap menanggung ketaksempurnaannya. Rasa bersalah karena membunuh hasrat cinta, membuatnya bersembunyi di balik hedonisme yang membuat dosa-dosanya bertumpuk seperti hutang.”
Baca juga: Menggilas Doctor Zhivago
“Dorian tahu bahwa cinta, ketampanan, ketenaran, bahkan logika tidak bisa bebas mutlak. Namun, ia tak bisa lagi menghentikan dirinya sendiri.”
Aku melambai pada Putra memberi tanda makanan sudah siap. Lalu bunyi: Cekrek! membuatku tertegun pada sosok di meja tak jauh dariku. Aku terdiam. hanya melihat sekilas. “Ada banyak tempat untuk menyembunyikan diri.”
Kami menikmati makanan di meja yang bersebelahan dengan kaca besar. Dari meja itu, mataku bebas berkelana memandang bangunan mall di sisi MCD. Dan, tentu saja mengamati seorang wanita yang sibuk ber-selfi. Samar-samar isi kepalaku dengan banalnya melakukan cocokologi dadakan dengan buku setebal 314 halaman, yang letaknya puluhan kilometer dari meja dudukku.
Dia bergidik, dan untuk sesaat menyesal karena tidak menceritakan kepada Basil alasan sebenarnya mengapa dia ingin menyembunyikan gambar itu.
Lukisan Dorian Gray halaman 169
Kutipan di halaman 169 itu salah satunya … yang membuat pandanganku lari ke sana ke mari melintasi era Dorian dan masa digital. Lukisan itu bukan hanya benda. Ia bisa saja wadah untuk menyembunyikan diri, batinku. Jika aku mengamati lagi orang-orang masa kini, tak sedikit pula yang menyembunyikan diri di balik lukisan digital bahkan menggadaikan dirinya pada anonimitas sebagai tempat bersembunyi.
Baca juga: Memahami Pria Bernama Ove
“Ya … barangkali saja,” aku menggerakkan bibirku tanpa suara. Terdiam sejenak dan menelan ludah sebelum melanjutkan, “alasan Dorian ingin menyembunyikan lukisan masa mudanya, karena ia takut akan masa lalu jiwanya yang belum tersentuh hedonisme. Lalu ia menggadaikan masa mudanya pada logika sesat dengan menelan mentah-mentah segala ilmu tanpa penyaringan.”
Srottt! Suara seruput dari segelas milo ukuran sedang membuatku menghela nafas panjang. Sungguh perjalanan makan yang penuh niat, batinku sambil menggeleng. Mengajak Putra mencuci tangan sebelum pulang.
Kucuran air keran di wastafel cuci tangan, seakan membersihkan segala minyak dan remah-remah makanan. Tapi kadang masih sedikit menyisakan bau ayam krispi meski sabun sudah meluruhkannya. Kukira mirip dengan cocokologi tentang potret, orang dan sebuah buku selama dua jam siang itu.
Awal-awal baca novel ini kukira tentang lukisan sepenuhnya, tapi ternyata ada hal-hal eksplisit yang terekan dalam ceritanya. Adakah yang sudah membaca novel ini? atau adakah salah satu novel yang menurutmu banyak sekali hal-hal eksplisit tentang bagaimana karakter manusia yang berwujud dalam tokoh-tokoh novelnya? Yuk, bagikan pengalamanmu di kolom komentar ya.
Eits … tetap ya dengan bahasa yang sopan semata-mata biar jejak digital kalian tetap bersih.
Baca juga: Kappa dan Rashomon yang Menyoal Kewarasan
Have a nice day!
Jya, mata ne~