Penulis : Dinda Pranata
Krek krek!
Suara tonggeret benar-benar bising pagi itu. Mungkin mereka sedang mengeluh, perkara hujan di tepi pagi sudah reda. Hanya menyisakan mendung yang menggelantung.
Kopi panas masih menguap, ketika aku berjalan memasuki kamar yang sekarang sudah kosong. Agaknya terlalu lama kubiarkan kosong dan tak berantakan. Diam-diam kubuka lemari kayu yang masih basah karena pelitur. Entah mengapa aku rindu membuka lemari itu, meski kemarin sudah kubuka berkali-kali hanya untuk membuatnya tampak seperti baru.
Aroma lemarinya masih sama sebelum kamar itu ditinggalkan. Tanganku kemudian terhenti di laci kaca dalam lemari. Memandang benda panjang berwarna emas sepanjang kurang lebih delapan belas senti itu. “Apa aku terlalu menyayangi Van Cleef & Arpels?” tanyaku lirih. Kilau mata di gelang itu seolah meminta sesuatu dariku.
Van Cleef & Arpels dalam Kisah Tak Mencoloknya
“Terlalu mencolok,” kataku di ruang makan. Dia duduk di sampingku sambil telunjuknya terus menggulirkan tetikus di samping kanannya.
Baca juga: Domi Ramah, Manusia Tak Resah dan Kutu Menyerah
“Kalau yang ini gimana?” tanyanya. Telunjuknya beralih dari tetikus ke arah layar. Menunjuk sebuah gelang dengan banyak juntaian sepanjang gelangnya. Aku masih menggeleng.
Jarinya menggulir lagi. Namun dari semua pilihannya tak ada yang sesuai dengan keinginanku. “Pilih gelang saja kok repot. Lantas mau yang seperti apa?” tanyanya. Aku melingkarkan tanganku pada lengannya. Kutahu dia kesal. “Aku tidak suka perhiasan yang mencolok. Cukup satu permata di tengah atau kalau permatanya banyak tidak perlu ramai,” jawabku sambil kepalaku kusandarkan pada bahu kokohnya.
“Tapi untuk acara malam, itu sepadan,” katanya. Masih berusaha merayuku mengganti pilihanku. Aku menggeleng. “Cukup sepadan dengan kau yang melihatku,” kataku lagi. Ia mendesah. Berusaha mengalah. Namun di tengah guliran tetikusnya, “stop!” kataku. Aku terduduk tegak.
“Ini!” aku menunjuk sebuah model gelang emas. “ini yang aku mau,” kataku kemudian. Ia membaca tulisan kecil di bawah gambar. “Van Cleef & Arpels. Terlalu sederhana,” katanya. Aku menatapnya penuh harap. Ia tahu, lebih tahu, ketika keras kepalaku membentur kepalanya. Maka tak ada pilihan lain selain mengangguk.
Ketika kusentuh gelang ini untuk ketiga kalinya di pagi itu. Entah mengapa justru kisah tak mencolok darinya yang teringat. Bukan kisah mewah ketika gelang itu menemani balutan gaun putih yang menutupi seluruh tubuhku. “Rupanya aku terlalu menawan Van Cleef & Arpels di sini,” kataku yang masih menyentuh petal bunga mungil dari gelang keemasan itu. Seperti ingin menahan tapi juga ingin melepaskan.
Baca juga: Tips Belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris
Di Jakarta Sebelum Senja
Riuh jalan terdengar samar di lantai delapan Blok M. Kakiku melangkah ke sebuah toko di lantai delapan Blok M. Tulisan ReLuxe, di atas kaca pintunya tidak mencolok.
“Selamat datang,” sapa seorang wanita dengan pakaian casual. Celana hitam dan baju blouse berwarna krem.
“Saya Andin, yang tadi menelepon,” kataku. Perempuan itu (yang agaknya adalah salah satu pegawai di sana) mengajakku duduk di sofa tengah ruangan. Aku menyerahkan kotak karton jinjing berwarna putih. “Saya mau meletakkan ini di sini,” kataku. Aku tahu kata itu terasa kelu di bibirku. Rasanya seperti meletakkan sesuatu yang tak bisa kau ambil kembali.
Perempuan itu menatapku lurus, tersenyum dan membuka tas jinjing kertas itu dengan hati-hati. Dengan sarung tangan putih di tangannya, ia menyentuh Van Cleef bracelet itu dengan hati-hati. Aku menatap gelang itu dan sesekali tanganku yang di atas lutut ikut bergetar.

“Semuanya asli,” kata perempuan berambut panjang itu. Membelah sunyi. “Sertifikat ada dan kondisi barangnya juga bagus. Sudah berapa kali dipakai?” tanyanya padaku.
Baca juga: Lowongan Pekerjaan yang Banyak Tersedia di Amerika Serikat untuk Pelajar Asing
“Sekitar dua kali saja,” jawabku singkat. Aku menghindari kontak mata dengan perempuan di depanku. Dari sudut mataku kubisa melihat ia tersenyum. “Apa ada yang mengganjal Anda? Tampaknya Anda sangat menyayangi gelang ini,” katanya kemudian.
Binggo! Pertanyaan itu terasa sangat menghantam diriku. “Hmmm, tidak juga,” elakku.
“Setiap pelanggan yang meletakkan benda-benda termahalnya di sini hampir seperti Anda,” katanya, “seperti ingin mempertahankan tapi tidak punya cukup ruangnya.” Terlalu lama ia di dalam sana. Terlalu banyak yang gelang itu saksikan, gumamku dalam hati.
“Tapi jika barang ini terlalu lama tersimpan. Ia tak bisa bernafas,” imbuhnya. “di ReLuxe, kadang benda itu menemukan ruangnya sendiri.”
Sebelum melangkah keluar, aku menatap gelang itu sekali lagi yang ada di dalam kotak. Seperti doa yang akan mengantarkan benda itu pada pemilik baru yang lebih baik dariku.
Baca juga: Pelopor Manufaktur Otomotif Indonesia: PT Gaya Motor
Untuk Benda-benda yang Cantik yang Mencari Ruang
Hujan mengetuk-ngetuk kaca jendela. Langit malam seperti membersamaiku duduk di depan laci lemari yang kubuka pagi itu. Kukira kekosongan kamar yang sudah terlalu lama tak berantakan, akan berakhir dramatis dengan erangan kesakitan.
Entah mengapa duduk di atas lantai keramik di depan lemari yang terbuka, bisa senyaman ini. Terlebih di kamar yang hampir-hampir jarang kumasuki lagi karena terlalu penuh dengan kekosongan. Kubuka laptop dan berselancar membuka alamat website ReLuxe. Aku menemukan nama: Mini Frivole Pave 18K Rose Gold Diamond Bracelet. Cantik dalam ruangan itu.
“Agaknya benar. Barang itu akan tetap cantik jika punya ruang untuk bersinar,” kataku. Aku menatap langit-langit kamar itu. Masih sama.
Seperti angin yang lewat. Suara dia bertiup di telinga, “sama sepertimu. Tidak mencolok tapi tetap hidup dalam makna.”
Aku menoleh ke sisi kananku. Ruang makan tetap kosong.
Baca juga: PREOWNEDWATCH-ID Lebih Setia dari Mantan Tukang Ghosting
Closing by Senja Hari
Ada yang punya pengalaman melepaskan benda kesayangan dan terasa berat? Atau pernah beli sesuatu karena bukan karena mahalnya, tapi karena cerita-cerita dari benda itu? Bisa dong berbagi di kolom komentar tentang pengalamannya.
Eits, tetep dengan bahasa yang sopan ya. Semata-mata biar jejak digital kalian tetap bersih.
Have a nice day!
Jya, mata ne~