Penulis : Dinda Pranata
Langit siang itu begitu ambigu. Ia ceria tapi juga menangis. Hujan di siang terik. Dengan langkah kaki yang selebar meteran jalan, aku berlari di depan sebuah toko keramik. Toko itu sedang tidur, mungkin saja sedang tidak ingin menerima tamu yang kebasahan di bawah hujan dalam tokonya.
Tek Tek Tek! Suara hujan menabrak atap spandek di depan toko dengan tempo tak teratur. Rambutku setengah kebasahan di bagian ubun-ubun, menyalurkan sensasi dingin sampai ke tengkuk leher. Dalam menit ke tiga belas, sebuah suara cipratan air dan hentakan kaki mendekat ke toko itu. Seorang pria.
Lewat sudut mataku, aku diam-diam memperhatikan kaos polo hitamnya. Namun, yang membuatku terdiam lama bukan aroma sandalwood dari tubuhnya. Melainkan apa yang ada di sela-sela jemarinya.
Kilau lingkaran di Kelingking
Mataku tak bergerak. Bola mata seperti membeku dalam keambiguan siang itu. Tak biasanya seorang pria menggunakan cincin, kecuali tanda cincin di jarinya menandakan dia sudah … “menikah?” gumam tanyaku.
Pria itu memalingkan kepalanya ke arahku. Seperti mendengar gumaman lirihku. “Oh tak ada,” kataku sembari menggeleng. Pria itu tersenyum padaku. Lesung pipinya cukup dalam, seperti ceruk tetesan hujan yang mengenai genangan. Tanpa sadar aku ikut tersenyum. Lalu, kualihkan pandangan mataku ke jalan riuh di depan. Seolah sembunyi dari gemuruh ambivalensi di ulu hati.
Baca juga: Domi Ramah, Manusia Tak Resah dan Kutu Menyerah
Pria itu lalu menyentuh bahuku. Menyodorkan sapu tangan ke arahku. Aku mengangkat alis. “Ada noda di sana,” katanya. Suaranya dalam, seperti seorang pria yang tahu kapan ia harus diam dan kapan bersuara. Hangat. Tak mengintimidasi.
Terhipnotis sekali lagi. Lalu aku dengan canggung mengambil sapu tangan itu. Mencari di mana letak noda yang memanaskan kedua pipiku. Aku menyentuh sekitar bibir kananku. Namun pria itu hanya menggeleng. Dan ketika kuarahkan sapu tangan itu di bibir sebelah kiri. Noda merah menempel pada sapu tangan berwarna abu-abu itu. “Sial, saus cilok!” gerutuku.
Sekali lagi pria itu hanya tersenyum geli sambil menunduk. Aku hanya bisa tersipu sekaligus mengutuk kejadian itu. Aku tahu pria itu ingin terbahak, tapi ia sembunyikan dengan mengepalkan tangan di depan bibirnya. Sekali lagi cincin itu terlihat. Tanpa sadar, aku bertanya, “kenapa … di kelingking?”
Tawa itu perlahan hening. Hanya menyisakan gema pertanyaan di jeda keambiguan.
Ruang Jeda dan Sapu Tangan Abu-abu

Delapan tahun yang lalu begitu banyak ruang jeda yang terus terisi. Pekerjaan yang terus mengisi kepala seperti mesin yang tak pernah berhenti; lingkar pertemanan yang seperti cuaca akhir-akhir ini; Termasuk, hubungan kadang tak menetap terlalu lama seperti bus yang singgah di halte. Semua itu menjeda ingatan dari pria yang tak kutahu namanya itu.
Baca juga: Jam Tangan Rolex di Kotak Kaca ONELUXE
Apakah aku memikirkannya? Atau mungkin saja sesekali teringat padanya? Jawabannya, sama ambigunya dengan cuaca delapan tahun itu. Aku tak pernah sengaja mengingatnya atau berusaha mencari tahu siapa dia.
Satu-satunya yang kuingat adalah sapu tangan abu-abu itu dan cincin di kelingkingnya. Tapi aku tak benar-benar bisa membayangkan rupa pria itu. Tidakkah situasi ini mirip dengan macet lalu lintas di perempatan jalan? Kau tahu harus berhenti, tapi tak benar-benar tahu apa sebabnya.
Sampai di sebuah etalase toko perhiasan VUE.ID, sebuah cincin serupa berada di dalam kotak hitam. Berulir saling menyilang seperti mengikat batu berkilau di tengahnya. Aku berdiri cukup lama di depan VUE.ID. Barangkali, cincin itu yang memanggilku untuk berhenti. Mengingat ruang jeda yang cukup lama kosong.
Jemari yang Mengikat Sebuah Maksud
“Ada yang bisa dibantu?” seorang pria keluar dari toko VUE.ID. Seperti sebuah boneka yang keluar dari rumah kacanya. Rapi berpakaian kaos hitam. Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Lalu mataku menatap cincin itu sekali lagi.
“Sepertinya, Mbak tertarik dengan cincin ini,” kata pria berkaos hitam itu. Aku diam. Tak bisa mengelak lagi. Meski aku tertarik, kantongku akan meronta jika aku nekat membelinya. Jadi aku hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.
Baca juga: Toko Online Gak Lemot Lagi! Ini Dia Cloud Hosting Rumahweb
“Cincin ini bernama JEAN SCHLUMBERGER, sudah lama terpajang di sini,” kata pria itu, “pemiliknya menitipkan ini di sini. Katanya, suatu saat akan ada yang tertarik dan membawanya.” Pria itu mengalihkan pandangan dari cincin ke mataku. Pemiliknya? Siapa? Tidak mungkin pria yang kulupa rupanya, batinku.
“Pemiliknya, apakah seorang pria?” tanyaku memastikan.
Ia mengangguk pelan. “Benar. Ia selalu memakainya di kelingking.”
Deg! Kata-katanya jatuh seperti serpihan kaca yang menjalar ke pergelangan tanganku.
“Kadang saya merasa,” lanjutnya, “cincin ini seperti sedang menunggu seseorang. Karena, ia dibuat berpasangan. Pemiliknya meninggalkan satu di sini, berharap satu belahannya akan terdengar.”
Baca juga: Laptop AI 2025 Asus yang Bilang "AI Love You"
“Memanggil… seseorang,” gumamku yang nyaris tak terdengar.
Ia tersenyum tipis. “Sama seperti arti cincin di sebuah jari yang kadang ada maksud yang diikatkan.”
Hening. Aku membiarkan suara lalu lalang orang mengisi ruang yang sudah lama kosong itu. Atau barangkali … aku sendiri yang harus mengisi ruang jeda itu.
Luruh Bersama Kenangan
“Oh, Anda sudah datang rupanya.” Pria berkaos hitam itu menyapa seseorang yang berada di balik punggungku. Aku tak memutar tubuh. Tak menganggap penting siapa yang pria itu sapa.
“Ternyata kau di sini.” Suara itu seperti suara yang kukenal. Kemudian, aku memutar tubuh. Di depanku pria yang kulupa rupanya, muncul seperti cuaca siang di delapan tahun lalu. Ulu hatiku tak mengenal rasa yang muncul. Rindukah? Bahagiakah? Entahlah, terlalu ambivalen.
Baca juga: Lowongan Pekerjaan yang Banyak Tersedia di Amerika Serikat untuk Pelajar Asing
Di depan toko perhiasan VUE.ID (dalam sebuah Plaza bernama BI) di kota Jakarta, tempat itu lebih mirip panggung pertemuan dua aktor yang sama-sama terjeda dalam ingatan. Luruh bersama kenangan.
Gimana nih gengs ceritanya? Pernah nggak kamu punya kenangan dengan toko perhiasan tertentu, bisa dong berbagi cerita di kolom komentar. Eits! Tapi tetep ya, berkomentar dengan bijak, semata-mata biar jejak digital kalian tetap bersih.
Have a nice day! Jya, matta ne~
Comment
Pernah
Sampai sekarang jadi kangen sama tokonya
Sudah tutup karena pemiliknya meninggal dunia (yang laki)
Makanya aku cari yang pelayanannya sama tuh ga ada
Semoga pengalaman belanja di Vue ini bikin aku bisa mengenang itu
Baca tulisan ini berasa kebayang lagi almarhum nenekku di kampung. Soalnya dia semasa hidup emang demen banget koleksi and nongkrong depan toko perhiasan, hahaha.
Tapi sejujurnya, teringat sama mantan saya juga yang dulu pernah bertemu lagi setelah sekian lama. Rasanya mirip yang dideskripsikan sama Mbak DInda. Rasa ambivalen antara rindu dan bahagia. Walaupun akhirnya, semesta tidak mempersatukan kami. *uhuk uhuk
Btw mbak Dinda memang keren. Ceritanya sedetil ini, sebuah sponsored post termantap yang saya baca dari awal sampe akhir heehehehe
I guess, it’s Plaza BI (not BL) ?
Wah, saya malah jadi keinget dengan cincin kawin yang sudah entah kemana.. terlepas dan terlupa. Cincinnya sih murah meriah aja karena dulu emang baru mampu segitu, tapi modelnya aku suka dan ada kenangannya. Tokonya gak tau masih ada atau enggak di PVJ. Tapi tentu saja aku sudah berusaha melepaskan diri dari kemelekatan terhadap sebuah materi, jadi cukup jadi cerita aja. hihi.
Aku duduk dipojokan coffee shop, membaca tulisanmu dengan tersenyum². Membayangkan lelaki kaos polo hitam dengan cincin di klingking.
Larut dalam storytellingmu, lelaki yang bercincin di klingking tuh selalu mencuri perhatian, terbayang dengan Raja² atau bangsawan masa dulu.
Perhiasan VUE.id ini memang mencuri perhatian. Aku sempat kepoin Dan kalau harganya ga aduhai, bisa² keracun membelinya
aku sampai larut membacanya dan kupikir masih ada lanjutannya tapi ternyata sudah the end hehe,,,
ngomongin cincin jadi keinget nie sama pak suami yang sempat menghilangkan cincin kawin entah dimana lupa naruhnya jadi ya udah wassalam deh hihihi…
tapi sepertinya kami berdua memang gak cocok pake perhiasana dalam waktu lama soalnya aku sendiri juga gt cincin kawin nya malah tersimpan dengan rapi di box dan sekarang cuma ada satu cincin yg rajin nempel di jari itu pun kadang sering di lepas2 juga hehe
Samaa banget kek akuu..
Yang gak bisa dipake-pakein teh malah aku..
Tapi mungkin jadi berbeda kalo belinya di VUE.ID yaa..
Lebih sering dipake dan akan jarang dilepaskan.
wih cerita yang menarik dan romantis banget nih tentang pertemuan antara 2 orang yang mungkin pernah bertemu di masa lalu. Jadi penasaran malah diriku sama kelanjutan ceritanya, mbak. hehe
Gak apa-apa pakai cincinnya di kelingking, kalau di jari manis baru bahaya, gak bisa dikejar, eh 😁😁.
Toko perhiasan biasanya bakalan ramai jelang lebaran. Cuma uniknya entah kenapa kalau pas hari Jumat di tempatku malah banyak yang tutup
Wah kok bisa akhirnya bertemu di toko perhiasan itu ya?
Beneran dia menunggu pasangan cincinnya itu untuk diambil tokoh aku. Walaupun tokoh aku gak ingat bagaimana rupa dan siapa sebenarnya pemilik cincin yang sudah bikin penasaran nya itu
Seru ceritanya. Semoga happy ending hahahaha…
Pengelaman dengan toko perhiasan tidak banyak. Karena saya nggak begitu suka pakai perhiasan dan aksesoris. Kayanya masuk toko-toko perhiasan hanya saat mencari cincin nikah. Cakep-cakep banget cincinnya. Apalagi yang toko-toko di dalam mall hehehe…
Unik ya kisah yang dibawakan Kak Dinda.
Btw, daku malah masuk ke toko perhiasan gara² nemenin mendiang mama dan nyari cincin buat nikahan abang daku hehe.
Manis sekali ceritanya.. hopely happy ever after.
Jadi inget cincin dan perhiasan pernikahan untuk istri yang hilang dicuri orang. Padahal perjalanan untuk membeli dan menjadi saksi ikatan suci pernikahannya penuh perjuangan, tapi ya mau gmana lagi kalau sudah hilang, cukup menjadi sebuah kenangan saja 🙁
Topiknya unik. Ternyata posisi cincin itu ada makna psikologis dan budaya ya hehe, nggak cuma sekadar gaya
Ujung kisahnya yang menggantung memang jadi bikin aku mengerutkan kening saking ambigu-nya..
Huhuhu… maafkan dengan imaji liarku yang gak mau berenti mengatakan “Kenapa kudu cowo yang menyapa pemilik toko perhiasan ((cowo juga))??”
Okayy.. mari kita fokuuus kalau cincin itu bisa menimbulkan kenangan dan pastinya kenangan tersebut menjadi semakin bermakna karena memang sangat tidak biasa dari segi desain ((yang unik, mewah dan berkelas)) dan menggunakannya di jari kelingking.
Yang ternyataa.. setelah aku googling.. memakai cincin di kelingking kanan diperbolehkan, bahkan dicontohkan Rasulullah ﷺ (cincin perak) sebagai lambang kemuliaan dan agar tidak mengganggu aktivitas.
Dan menggambarkan status sosial tinggi, kekayaan, dan kekuasaan.
whoaaa ceritanyaaa menariikk, sengaja cliff hanging ya ending nya?
aku ga punya banyak memori ttg toko perhiasan.
cumaaa beberapa tahun lalu, bloger Surabaya sempat diundang waktu Goldmart Jewelry rilis series baru.
tapi sekarang udah ga ada undangan lagi, euyyy 😷😭😆
Setiap perhiasan pasti memiliki makna tersendiri bagi pemiliknya sehingga setiap itemnya menjadi sebuah kenangan bagi pemiliknya karena pastinya punya cerita yang punya arti tersendiri bagi si empunya.
Ada pepatah bilang, cincin itu kyk jodoh. Bs menemukan jarinya sendiri. Hehe. Saat dipaksa kalo emg ga pas, ya ga akan masuk jari. Begitu sebaliknya.
Duh wanita mana yang berhasil mendapatkan cincin mahal itu. Apakah kamu? Semoga kalian mendapatkan cinta sejati dan mendapatkan hadiah cincin mahal seperti yang kau impikan selama ini. Uhuyy. Emg mantap banget koleksi cincin di VUE.ID
Kalau soal toko perhiasan sepertinya banyak cerita
Karena saya kerap menjual segala perhiasan yang didapat dari hadiah
>.< kalau disimpan biasanya entah pergi kemana akhirnya
Padahal mungkin kalau dikumpulkan bisa dijual hari ini dengan harga berkali lipat ya
Tapi daku pribadi bukan tipikal yang suka pakai aksesoris
Jadi penasaran bagaimana kelanjutannya, apakah tokohnya jadian dengan pria pemilik cincin di kelingking? aih hanya bisa menduga-duga..
Sebagai orang yang tidak begitu suka dengan perhiasan saya punya cerita mbaa,,,,jadi perhiasan yang suami kasih gak pernah saya pakai tapi saya simpan saja di rumah. Selain itu juga karena cincinnya dah gak muat lagi. Akhirnya ibu mertua menanyakannya, seya bilang disimpan. saya coba pakai lagi,,,tapi gak nyaman akhirnya disimpan lagi,,,wkwkwk…tapi kalau dikasih yaa seneng laah,,,apalagi kalau desainnya bagus,,,,buat koleksi.
Mbak, justru aku karut dalam ceritanya. Tak bosan aku membaca ceritamu mbak
Walaupun aku ga ada kenangan di toko perhiasan secara suamiku pun tak romantis, beli cincin nikahpun sama ibunya wkwkwk
Mbak aku penasaran adalah nobvek yang sudah diterbitkan coz ceritamu melarutkan ku dalam angan tak bertepi
Wahh perhiasan yaa.. temenku sering dan suka banget perhiasan. Apalagi harganya yang relatif mahal. Tapi cocok sih buat para kolektor atau untuk self reward, hehe
pernah sih ke salah satu toko perhiasan ternama di mall. Gak expect bakalan beli karna itukan brand besar ya pasti harganya beda sama toko perhiasan diluaran. ternyata eh ternyata terbujuk sama mba-mba spgnya yang baik hati sekali. Rekomendasiin perhiasan yang ramah dikantong, alhasil yang tadinya iseng masuk jadi malah beli haha. Kira-kira tau gak nama tokonya apa? hehe
Kenangan saya di toko perhiasan yang paling membekas, pas nemenin ibu gadai perhiasan di toko pas kecil dulu. Ternyata bagi orangtua zaman dulu, “perhiasan” itu semacam aset untuk bertahap hidup.
Aah…jadi penasaran dg endingnya euy..ayo doong..terusin ceritanya.. BTW ini sakah satu sponsored post yg keren!!
Pengalaman langsung dengan toko perhiasan sih belum pernah ya
Secara saya kurang begitu suka mengenakan perhiasan
Aksesoris yg saya pakai paling jam. Itu pun dulu sewaktu belum ada ponsel. Sekarang ada di ponsel waktunya, malah jarang pakai jam tangan juga
Sebagai blogger aku cukup takjub, artikel blog dengan konsep cerita kayak gini ternyata sponsored post. keren banget kak, ceritanya tetap ngalir walaupun ada iklannya. Selama ini, artikel bersponsor di blog itu bisa dibilang hardselling.
Baca ini jadi ingat sama cincin yang kubeli beberapa tahun lalu. Suka karena simpel. Lalu toko emasnya bangkrut dan sempat bingung kalau jual ke mana. Alhamdulillahnya sampai sekarang enggak terjual meski lagi bokek. Aku sendiri tipe yang pakai cincin asal aja, gak terlalu mikir jari mana, artinya apa
Ah toko maa selalu penuh kenangan ya
Jadi ingat dulu saat kecil sering menemani nenek ke toko mas langganan yang ada di pasar Blauran
Aku punya nih kenangan di toko Emas dket daerah proyek kota Bekasi karna dsanalah aku membeli cincin dari hasil gaji pertamaku
Astaga, cerita ini bikin penasaran banget! Pertemuan yang ambivalen setelah delapan tahun itu dramatis! Cincin di kelingking dan arti di baliknya memang sangat menarik. Cepat lanjutannya, Kak!
Oot, Entah kenapa aku gak suka pake aksesoris yang gak biasa misal cincin di kelingking atau ibu jari.. berasa bikin kagok hehe
Jadi ikut menerka kelanjutan hubungan mereka setelah bertemu lagi di VUE
Btw, saya langsung cek juga nih arti pemakaian cincin di jari kelingking. Ternyata bukan sekedar hanya fashion statement saja ya
Ceritanya unik dan penuh nuansa! Cara Kakak penulis menggambarkan momen bertemu pria bercincin di kelingking bikin aku langsung ikut merasakan ambiguitas emosinya.
Dulu masih ingat saat aku diajak sama orangtua ke pasar tempat toko emas. Di sana kami melihat cincin dan gelang yang bagus, tapi kalo diingat aku dulu disuruh beli emas sama ortu buat jaga-jaga, sekarang pun gitu
35 Responses