Home / Serambi

Godong yang Salah Nama

Senjahari.com - 09/01/2026

Belimbing Tanah

Penulis : Dinda Pranata

Di pelataran parkir Pura Segara Kenjeran, tak membantuku merasakan sejuk meski duduk di bawah pohon beringin yang tak cukup menutupi kepala. Apakah matahari seterik ini ya di musim hujan kota Pahlawan? Aku sudah tak ingat lagi, bagaimana merasakan hujan di kota itu.

Beberapa meter di depan, tumbuh tanaman kecil yang tampak asing sekaligus akrab. Aku bangkit dari kursi semen dan mendekat. Daunnya mirip kelor, tapi bunganya kecil dan putih. Aku mengeluarkan ponsel dan membuka kamera. Batangnya tumbuh miring, seolah tak pernah diberi penyangga. Mungkin juga ia sedang mempersiapkan pose terbaik untuk kubidik. Aku hanya tersenyum saat pikiran banal ini muncul.

Cekrek!

Tombol kamera sudah membidik. Jariku dengan cepat beralih ke aplikasi identifikasi tanaman. Namun tak kusangka, perdebatan aplikasi-aplikasi itu meluruhkanku pada hal lain yang tak kutahu di hari-hari biasanya.

Satu Foto, Dua Suara

Dengan cepat jari-jari menggeser layar. Mencari aplikasi observer yang menjadi jawara observer tanaman. Peringkat pertama. “Halo, GO-DONG bisa membantu apa?” sapanya dalam kotak dialog yang muncul di layar.

Baca juga: Putri Malu dan Kisah Malam yang Panjang

Sebuah jari memencet gambar simbol klip dalam kotak dialog. Satu foto terkirim, lalu robot dalam aplikasi itu memprosesnya. Gambar daun bergerak berputar per detik. Dalam beberapa detik sebuah kotak dialog bersama jawabannya keluar. GODONG mengidentifikasi sebagai calincing tanah. Layar menujukkan persentase 85%. “memerlukan data tambahan untuk identifikasi ulang,” kata GO-DONG.

Jari itu mengambil ulang foto dan mengirimkan pada GO-DONG. “Ini calincing tanah, akurasi 87%,” jawabnya. Tak bertele-tele dan dingin. Meski ada akurasi, tampaknya jari di atas layar itu ragu.

Ia mengetuk-ngetuk layar kembali selama beberapa ketukan. Lalu telunjuknya terhenti. Selanjutnya dengan cepat jemarinya mematikan GO-DONG, menggeser halaman layarnya dan membuka satu aplikasi tandingannya.

Namanya BOTan. Kata di database pencari aplikasi, BOTan adalah tandingannya. Peringkat kedua. Setelah mengucapkan salam, jemari di layar itu mengirim foto yan sama. BOTan pun memproses. Hanya dalam dua detik BOTan mematahkan pendapat GO-DONG. BOTan mengidentifikasi sebagai kelor. Ia menjelaskan kalau bentuk daunnya majemuk dan berbentuk bertingkat. “Akurasinya 91% dan fakta menariknya kelor dapat dikonsumsi,” BOTan menambahkan hasil identifikasinya.

Perdebatan sengit itu membuat jari di atas layar menutup paksa dua aplikasi itu. Layarnya kemudian sengaja ia matikan. Pemilik jari beranjak dari hadapan tanaman itu membawa pertanyaan tak terjawabnya.

Baca juga: Selimut Polusi dan Populasi: Realita Pahit Kelahiran Manusia di Bumi

Bunga yang Terdeteksi di Tempat yang Tak Terduga

Frustasi tak mendapatkan jawaban dari BOTan dan GODONG, aku melangkah masuk ke dalam mobil. Suhu kabin mobil terasa meradangkan kulit, seperti panas yang ikut masuk ke dalam. “Yang bener aja!” seruku dengan napas pendek, “masak satu foto dari dua app jawabannya bisa beda sih!”

Aku menutup pintu masih dengan gerutu yang belum mereda. “Katanya app-nya keren. Cerdas. Eh, jawaban nggak ada yang konsisten. Kayak manusia aja,” kataku lagi.

Lalu, kubuka laci di bawah kursi penumpang. Mengambil kipas portable sembari menunggu Jaka yang sedang ke mampir menuntaskan panggilan ‘alamnya’. Di dalam laci, tepat di bawah kipas angin portable itu sebuah majalah tanaman setidaknya bisa mengalihkan gerutuku.

Aku mengambil majalah tanaman dengan satu tangan aku menyalakan kipas dan satu lagi membuka majalah. Majalah Herbarium Gulma, edisi ke-19 tahun 2023, judul majalah itu berada di tengah tercetak dalam huruf yang terbaca oleh orang yang berkaca mata.

“Astaga, majalah lama kenapa di sini?” tanyaku sambil menggeleng. Tak punya pilihan lagi, aku membaca majalah yang sebenarnya sudah kubaca itu, meski aku sendiri tak ingat apa isinya.

Baca juga: Widuri yang Tangguh, Widuri yang Bermata Peluh

Kertas mengkilap itu bergesekan.

Srek..

Srak…

Srek…

“Ini …” suaraku terhenti. Sebuah foto yang kukenali membuat satu tangan yang memegang kipas portable itu hilang kendali. Kipas dengan merek Porty itu jatuh mencium karpet mobil. Dug! Aku membelalakkan mata dan mendekatkan majalah itu ke depan mata. Sebuah tulisan berwarna putih, berukuran kecil di bagian bawah membuatku membaca pelan-pelan, “Ox-alis corni-culata?”

Baca juga: Bunga yang Selalu Mengeluhkan Namanya

Dalam ketegangan syaraf-syarafku, aku menatap Jaka dengan mata yang membelalak. Pria rambut cepak dan baju bagian punggungnya basah, seperti merayap masuk dan duduk di kursi kemudi. “Lega,” katanya. Aku terbengong, tapi bukan karena terkejut melihat Jaka.

Mesin Bukan Kebenaran Mutlak

Jari-jari itu menyentuh rak-rak buku yang sudah berumur, usianya lebih tua dari usia pemilik jari. Namun, di balik usia tua rak-rak yang ada di dalam ruangan itu, setidaknya rak itu sudah mendengar lebih banyak.

Di rak nomor dua dari sisi kanan, di baris ke delapan si jari menemukan sesuatu yang dicarinya. Sebuah ensiklopedi herbal buntut yang covernya hampir terlepas. Bisa dibilang, ensiklopedi itu adalah kumpulan majalah herbarium yang dikumpulkan Alm. Mamanya yang suka mengoleksi gambar tanaman.

Jari itu mengambil ensiklopedi dan duduk di kursi sofa tengah ruangan. Ada aroma lembab dari halaman-halamannya. Di halaman 112 di majalah herbarium edisi tahun 1997, matanya menemukan foto tanaman bernama Oxalis Corniculata. “Oh, orang lokal menyebutnya belimbing tanah,” bisiknya sambil manggut-manggut. Seperti anak SD dapat pencerahan.

Ia membaca-baca fakta bahwa tanaman itu memang hampir serupa dengan kelor. Banyak orang yang nyaris terkecoh sama bentuk daunnya. Hanya saja warna bunga belimbing tanah putih sementara kelor, agak kekuningan.

Baca juga: Satu Pose Sederhana di Segala Acara

Telapak tangannya menepuk jidat, barangkali pemilik jari hampir terjerumus pada jurang kebodohan. “Nyaris saja aku serupa dengan mereka yang menelan mentah-mentah hasil olahan AI,” katanya lagi. Entah mengapa si pemilik jari jadi bergumam, “kalau Jean Baudrillard ikut berjongkok, bisa-bisa ia tertawa terbahak-bahak melihatku yang mudah percaya jika AI adalah pusat kebenaran.”

Ada yang meremang di sekitar bulu-bulu tangannya. Seolah roh Baudrillad ada di sekitarnya. Pemilik jari bergidik. Ia merasa Baudrillard akan menceramahinya panjang lebar, yang intinya cuma satu. “Kalau kita itu hidup di dunia hyperealitas yang mempercayai sesuatu yang semu sebagai kenyataan.”

Aku menutup ensiklopedia buatan itu, kemudian kukeluarkan ponselku dari saku. Kugeser-geser layarnya. Menatap dua aplikasi yang berjajar bersebelahan.

“Oalah, GODONG dan BOTan ya bisa salah. Gimana aku yang bukan ahli botani,” ujarku menggeleng. Kuletakkan ponsel dan meninggalkan nama belimbing tanah itu bersama kenangan.

Closing by Senja Hari

Gimana nih gengs, apa ada yang udah tahu dengan fenomena hyperealitas ya? Salah satu fenomena yang banyak terjadi di era AI sekarang, di mana ada pihak-pihak yang suka copas dan percaya gitu aja tanpa periksa lebih lanjut. Punya pengalaman hampir percaya dengan AI begitu saja? atau ada cerita melihat orang yang ngeyel kalau AI selalu benar?

Yuk bisa share dong, tapi tetep dengan bahasa yang santun ya. Biar jejak digital kalian tetap bersih.

Have a nice day!

Jya, mata ne~

Source:
https://plato.stanford.edu/entries/baudrillard/
van Kessel, C., Manriquez, J. D., & Kline, K. (2025). Baudrillard, hyperreality, and the ‘problematic’ of (mis/dis)information in social media. Theory and Research in Social Education, 53(3), 1–23.

Tinggalkan Balasan ke Tukang Jalan Jajan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment

Comment

AI itu memang keren. Tapi tidak selalu benar dan boleh ditiru. Apalagi jika informasi yang didapat adalah hasil rangkuman dari internet

Pernah banget hampir percaya hasil AI tanpa cek ulang, apalagi kalau tampilannya meyakinkan. Cerita ini ngingetin kalau verifikasi dan literasi tetap penting di tengah kemudahan teknologi sekarang.

Pas awal boomingnya AI, seperti public figure yang sedang naik daun. Alat tetaplah alat tidak harus 100% ambil mentah-mentah informasinya. Karena AI tidak dibekali critical thinking. Makanya validasi harus dikembalikan ke kitanya yang menggunakan.

Tukang Jalan Jajan

Membaca pengalaman Mbak Dinda mengingatkan saya bahwa di balik kecanggihan AI seperti GODONG atau BOTan, mereka tetaplah algoritma yang punya batas.
Lucu ya, kita seringkali lebih percaya layar ponsel ketimbang mengamati detail kecil seperti warna bunga secara langsung. Fenomena hiperalitas ini memang menjebak; kita menganggap data digital sebagai kebenaran mutlak, padahal ensiklopedia tua di rak justru lebih akurat. Terima kasih sudah mengingatkan kita untuk tetap kritis dan kembali “membumi” dalam mencari kebenaran.

Namanya buatan manusia pasti tidak akan sempurna seperti hasil cipta Sang Pencipta
Kita juga harus bijak dalam menggunakannya ya
Kalau terpaku pada mesin bisa bisa kita salah malah lebih fatal ya

Iya benar, saya pernah mencoba aplikasi yang menggunakan AI untuk deteksi kandungan gizi pada makanan. Saya coba foto busa tas dan hasilnya terdeteksi memiliki kandungan gizi. Ketika kita pakai AI kita juga perlu tahu dari sumber terpercaya entah itu dari artikel maupun buku.

Agustina Purwantini

Hiperealitas. Dulu istilah ini saya kerap jumpai dalam belajar karya sastra. Kini menjadi keseharian terkait makin merebaknya fenomena AI. Ini bikin gila lho karena bagi saya terasa absurd. Membingungkan antara fakta dan rekayasa.

aku juga pernah ngalamin pake aplikasi AI untuk menemukan sebuah jawaban tapi setelah kubaca ulang isinya gak relevan dengan sedikit pengetahuan yang aku udah punya sebelum nya. jadi setelah dikroscek memang hasilnya gak selalu valid.
jadi biarpun AI secanggih apapun dia mesin button, telephone kemampuan analisis kita diperlukan, jangan mentah2 dicopas. salah-salah malah zonk

Daku pernah melihat daun belimbing, cuma gak engeh itu memang jenis yang belimbing tanah atau bukan, karena pas daunnya masih tumbuh memang bentuknya kayak daun kelor, kecil gitu. Untungnya gak tanya AI, langsung sama mbahnya aja hehe.

Sesuatu sih buat jaman now pasca tanya AI tapi gak cari lagi data validnya di sumber lain ya

Aku pribadi memang selalu menjadikan AI sebagai alat bantu saja. Mempercepat proses pencarian, tapi tak pernah menggantikan proses verifikasi. Tiap kesimpulan yang dia ajukan, pasti akan ku buka sumber tautannya, lalu kubaca dan kupelajari perlahan. No need to rush, apalagi bersama si AI yang sering berhalusinasi ini.

Cuma memang agak kesel sih liat fenomena akhir-akhir ini. AI seakan dipaksakan, menggunakannya menjadi sebuah keharusan, dan ini justru membuatnya jadi tak nyaman.
wajar aja kalo perusahaan sekelas Microsoft pun diserang netizen dan disebut Microslop.

Sering terjadi. Mungkin Krn data si aplikasi blm banyak yaa, JD dia pun masih salah mengindetifikasi.

Kayak kemarin aku brainstorming di chat gpt ttg ITIN trbaik ke Mongolia dan Rusia, agak ngaco juga jawaban dia. Dan mesti banget kita recek ulang . Eh tau2 jalur yg dia saranin ga memungkinkan dilewati darat 🤣🤣🤣.

Coba kalau percaya 100%, alamat sakit kepala di tujuan 😂.

Tp anak skr kebanyakan LGS percaya mba. Mungkin Krn kita pernah hidup di zaman buku dan ensiklopedia yaaa, jadi terbiasa utk ngecek ulang. Apalagi kalau pake 2 apk aja bisa beda jawaban hahahahah

Yuni Bint Saniro

Banyak orang di sekitarku yang segitu percayanya sama AI. Kadang, mereka juga nggak mau kroscek lagi kebenaran informasinya.

Tapi, aku agak salfok sama dua nama aplikasinya. Berbau tanaman banget ya. GODONG dan BOTAN nggak tuh.

Hehehe…

Hihihi.. appnya bisa nyesuaikan topik mbak 😅

Mengulik soal teknologi bernama AI ini menurutku seru. Sebelum memutuskan pakai keahliannya, aku dan katanya si mesin cerdas ini sempat ‘berantem’ . Bolak balik memberi informasi, seperti melatih si mesin untuk mengerti apa yang dibutuhkan. Makin kesini, cukup memahami bagaimana karakternya.

Dengan ‘berantem’ nya aku dengan si AI, semakin percaya diri kalau mesin tetaplah mesin yang sampai kapanpun tidak bisa menggantikan kecerdasan logika manusia, karena manusia memiliki ‘rasa’ yang disebut nurani.

Jika manusia suka salah, tentu saja mesin akan bisa salah juga karena si pembuatnya pernah mengalaminya.

Pas awal booming AI pernah ingin menjajal kehebatannya. Bertanyalah: Bagaimana tanggapanmu dengan sepak bola piala dunia di Qatar pada 2022? Jawabannya: Belum pernah ada negara di Timur Tengah seperti Qatar yang menjadi tuan rumah Piala Dunia sepak bola…

Kalau dalam istilah agama ini disebutnya sesat dan menyesatkan… hehehe

Betul mas.. Lebih sering ngaco mah AI. Jadi nggak bisa dirujuk mentah². Kudu di crosscheck.. 🥲

Tadi pagi diskusi di sebuah WAG terkait AI. Jujur aku tuh nggak suka pake AI apalagi buat bertanya hehe, masih akurat Mbah google soalnya. Kalau AI mesti double check banget. Banyak ngaco nya. Kalau kata beberapa orang ya mereka masih proses belajar, menyimpan banyak data base mungkin 10 tahunan lagi akan jauh lebih cerdas, tetapi manusia tentu lebih cerdas lagi ya.

Sejak pertama melihat bunga di bagian atas artikel, aku bergumam ini bunga belimbing tanah. Soalnya sewaktu kecil aku suka masak-masakan pake ini pohon dan bunganya buat platting 😆✌️

Hwaa, aku lho baru tahu mbak La ini bunganya namanya belimbing tanah. Mirip kelor. Awalnya kukira kelor, tapi kata bibiku ini belimbing tanah.

Pas kucek pakai AI ya jawabannya ngaco gitu. 🤣

Kukira masih pintar google di atas kalau masalah identifikasi. Databasenya lebih banyak barangkali ya.. 🤭🤭

Ire Rosana Ullail

Aku kadang terjebak dan merasa jawaban AI itu benar, he. Tapi GODONG dan BOTan memperingatkanku kalau kita harus kembali ke realitas dan tidak memasrahkan keputusan mutlak kepada AI. Ini peringatan juga sih untuk tidak asal copas begitu saja tanpa mengecek lebih dalam 🙂

AI itu teman diskusi aja. Namanya diskusi nggak bisa percaya 100% juga. Diskusi sama manusia aja belum tentu 100% benar, apalagi sama yang bukan manusia. Perlu dicek lagi dengan sumber-sumber lainnya agar lebih akurat. Sering kok AI ngasih informasi ngaco 😁

Btw aku baru tahu ada tanaman namanya belimbing tanah.

Kadang Ai memang memudahkan tapi juga menipu info yang benar kalau kita tidak riset dengan benar-benar ya kak. Apalagi untuk artikel yang detail gitu ya. Masih lebih baik memang kita mengambil referensi dari buku ya kak timbang dari Ai yang isinya kebanyakan copas itu

Bambang Irwanto

Menurut saya AI hanyalah sebuah mesin. Jadi pasti akan ada kesalahan. Apalagi AI itu hanyalah copas sana sini atau rangkuman yang sudah ada. Jadi bisa saja sekarang kita bertanya dan sebentar bertanya lagi. Maka jawabannya akan berbeda. Makanya harus kita cari tahu kebenaran pastinya. Soal Belimbing Tanah, saya tidak ngeh ini yang mana ya? Apa saya sudah pernah melihat atau belum. Saya familiar dengan belimbing wuluh dan belimbing Roma hehehe.

Heni Hikmayani Fauzia

Bersyukur akhirnya misteri terjawab lewat perantara majalah Herbarium. Iya sih kadang² alat teknologi mesin penjawab pertanyaan manusia itu salah juga jawabannya. Otaknya nge hang hehe….

Ai mah bisa bagus kalau support tertentu kalau symber harus jelas uy ai tuh suka ngerangkum doang
Aku pakai ai buat editing photo produk teh

Oh iyh tanaman liar gitu suka ada juga dirumah ku teh , dulu aja aku sering mainin tapi ga tahu namanya haha

Buat saya pribadi Ai adalah sebuah alat yang bisa kita pakai untuk membantu tapi sifatnya tidak mutlak karena menurut saya mereka masih punya banyak kesalahan dan tidak manusiawi, kita manfaatkan seperlunya tapi harapan Kita juga harus diminimalisir untuk kesempurnaan jadi kita tetap memberikan ruang untuk manusia dengan rasa untuk tetap eksis dalam dunia ini

Sejak ada AI, saya selalu skeptis kalau dapat info apa pun
Memang ada yang benar tetapi bukan berarti akan sepenuhnya benar
Apalagi buatan manusia, sangat lemah dibanding Allah yang buat
Makanya aku berusaha untuk tetap mencari kebenarannya dulu sebelum percaya dengan militan, haha

Mba saya baca pelan-pelan untuk memahami setiap katanya, yang akhirnya saya seperti menemukan pengalaman hidup sendiri, yah, saya baru beberapa bulan menggunakan AI dan merasa trust issue gara-gara saya bertanya tentang soal ujiannya, otak saya mempercayakannya tetapi hati saya merasa ragu dan ga yakin, booom ternyata jawaban yang AI berikan keliru. Untungnya saya hanya bertanya 2 soal dari 100 soal. Semenjak itu saya trust issue dengan AI tak mau mempercayainya lagi 100% dan selalu kroscek dengan berbagai mesin pencari lainnya atau bahkan buku. Sayangnya hyperealitas ini masih terjadi di beberapa orang, terutama bagi orang-orang yang sisi wawasan dan pengetahuannya masih terbatas, yang mana hal ini banyak faktor penyebabnya

Eh, kaget dikit pas endingnya ada “Jya, mata ne..”
Hihihi.. jadi kangen belajar bahasa Jepang.

Btw, AI makin meresahkan ya.. semakin canggih dan aluuss pissaan..
Sumber infonya pun kadang bikin melongo.

Tapi aku masih perlu juga buat cari kosa kata bahasa Arab.
Takut juga kalo artinya kurang sopan yaa… ((maluu.. pelajar dari Indonesia kek gini modelannya, huhuhu…))

Oiaa..
Btw, surabaya akhir akhir ini adeemm siiyyh menurutkuu..
Jadi kek ga perlu kipas pun.. bisa nyaman boboknya.
Hihihi.. emejing yaa.. Alhamdulillah, berkah hujan dan mendung tiap hari.

Selalu seru baca tulisan Mbaaa.. Lucu banget ya pas baca endingnya soal belimbing tanah.. Aku baru tahu ternyata itu tanaman nyata yang mirip kelor. Tulisannya mba ini jadi ngingetin aku bahwa AI itu canggih, tapi tetap harus kita cek ulang sendiri jangan langsung percaya 100%.. Dan harus selalu edukasi orang lain supaya gak gampang percaya apa yang ada di internet, huhu

Btw aku jadi keinget salah satu adegan di Hospital Playlist yang Pak Direktur RS suka kepoh apa aja tanaman yang dimiliki mamanya Andrea, Si Mama Rosa haha.
Pak Direktur suka nyari nama2nya juga.
Hehe kalau zaman kita dulu pas kecil keknya mengandalkan nanya ortu atau buka glossary/ ensiklopedia ya mbak. Sekarang lebih mudah tapi tetep kadang nggak akurat yaa.
AI di satu sisi memudahkan ngasi jawaban cepat tapi belum tentu tepat sih ya.

Sekarang memang AI itu banyak banget dipakai untuk menanyakan berbagai hal ya soalnya AI ini kadang merangkum informasi sebagai sumber. namun tentunya kita juga tetap harus mengecek kembali kebenaran informasi dari AI ini jangan sampai asal percaya dengannya

31 Responses