Home / Pojokan

Dubliners yang Menolakku di Lembar-lembarnya

Senjahari.com - 12/01/2026

dubliner

Penulis : Dinda Pranata

Kota Malang di tepi siang cukup panas. Di bawah pohon trembesi aku berteduh dengan buku James Joyce dipangkuan. Gerah. Angin bahkan tak muncul. Mungkin sama malasnya dengan kakiku yang kelu berjalan.

Kubuka halaman pertama buku. Tapi tak kutemukan selain halaman sampul dan daftar isi. Lalu, tanpa basa basi dalam cerita pertama satu kata menahanku.

Kali ini tidak ada harapan lagi baginya: ini strok yang ketiga.

Dubliners 7

Di lembar-lembar awal aku tertahan, meski aku bergerak maju. Apa yang salah denganku? Benarkah suhu siang itu menghalangiku untuk memasuki kota bernama Dublin dan mengenal para dubliners?

Dubliners dan Alinea yang Tak Mengundang

Rumput di taman yang kududuki kali itu lembut. Ujungnya tidak menusuk siapapun yang tergoda untuk menjejalkan diri di atasnya. Meski karpet alam itu menawarkan undangan, tapi suasana tepi siang itu sungguh tak menggugah siapapun terlalu lama duduk. Analogi ini mungkin serupa dengan buku kumpulan cerpen Dubliners karya James Joyces.

Baca juga: Dua Belas Pasang Mata yang Menatapku Lebih dari Dua Belas Detik

Cerpen pertama, kedua, ketiga dan seterusnya justru membuatku tak henti berkerut dahi. Di antara pohon trembesi dan rumput taman itu, “apakah pikiranku yang terlalu dangkal mengenali pola-pola ceritanya? ataukah penulis ingin aku menemukan rangkaian titik-titik dari cerita ini?” tanyaku pada akhirnya.

Cerpen kelima buku itu yang berjudul “Setelah Balapan”, ada sesuatu yang merantai pikiranku cukup jauh. Sebuah ironi tentang struktur masyarakat kota Dublin. Dan, mungkin menjadi salah satu yang masih bisa terasa sampai detik aku duduk di bawah pohon trembesi itu.

… orang-orang yang telah melihat begitu banyak dunia dan terkenal memiliki hotel terbesar di Prancis. Orang yang semacam itu (seperti yang disetujui oleh ayahnya) layak untuk dikenal, sekalipun kalau dia bukan teman yang menyenangkan.

Dubliners 46

Jariku mengetuk-ngetuk halaman ke-46 itu. “Aku rasa kota orang-orang Dublin di awal abad ke-20 punya kecenderungan pansos juga,” suaraku lirih. Suatu fenomena yang justru lebih lama dari nama pansos itu sendiri. Aku menggeleng dan menunduk. Melanjutkan baca.

Tapi … cerpen berikutnya seperti pintu yang tertutup. Alineanya seolah menahanku untuk terlalu cepat masuk. Oleh karena itu, aku mencari celah-celah makna, metafora atau simbol yang kukenal. Lalu, kutemukan sebuah ritual yang dekat denganku. Aku menariknya.

Baca juga: Adarusa Marah, Pemberi Utang Resah

Ritual dan Cara Kota Menyembunyikan Diri

Buku setebal 249 halaman sungguh membuatku harus memilih mana pintu yang bisa kumasuki. Lima belas cerpen. Tapi tak sampai setengah dari jumlah cerpen itu, aku bisa merasa buku ini menjaga jarak. “Apa mungkin itu cara pendatang memandang kota Dublin? ataukah memang Dubliner seperti menyembunyikan diri?” Aku bertanya-tanya.

Ketika sampai di halaman 116, Cerpen “Kasus Menyedihkan” membuatku mulai mempertanyakan apa yang disembunyikan di kota Dublin era abad ke-20?

Mr. Duffy sering pergi ke pondok kecil perempuan itu di luar Dublin; sering mereka menghabiskan malam berdua saja.

Dubliners 116

lalu setelahnya di cerpen yang sama …

Dia melihat jejak perilaku perempuan itu yang amoral, menyefihkan dan berbau busuk.

Dubliners 125

Di akhir cerpen ini tak ada kesimpulan pasti, hanya … “Moral tak lebih tinggi dari citra. Dan, Mr. Duffy menunjukkannya.” Ironi atau justru merasa ini adalah ephipani? Aku tidak bisa memutuskannya.

Cerita berikutnya seperti ritual tertutup. Aku berkerut kening mencari simbol ritual yang bisa kupahami. Ada ritual membaca puisi, ada perdebatan dalam sebuah forum, namun cerpen itu tak bisa kupahami seluruhnya. Atau, itu cara James Joyce memberi jarak untuk membaca kota itu?

Lembar-lembar lain kubuka. Sebuah judul cerpen itu membuat tubuh dan kepalaku bereaksi lebih cepat. Di sini mungkin aku bisa menemukan celah-celah untuk mengintip tubuh kota Dublin.

Tubuh dari Kota yang Bercerita

Mr. Holohan mengakui, para artis tidak bagus, tapi Komite telah memutuskan untuk membiarkan tiga konser pertam aberjalan sesuka hati mereka dan menyimpan semua bakat terbaik untuk hari Sabtu malam.

Dubliners 154

Cerpen “Seorang Ibu” benar-benar meradangkan tubuhku. Bulu kudukku meremang dan mungkin logika keibuanku bekerja. “Bagaimana budaya hanya dianggap sebagai kata benda, bukan kata kerja,” gumamku setengah mendesis.

Baca juga: Kitalah yang Ada di sini Sekarang by Jostein Gaarder

Cerpen itu benar-benar seperti tangan yang merentang lebar. Isyarat bahwa aku bisa memasuki atau melongok memeriksa tubuh kota itu. Cerpen itu terbaca lebih keras di kepalaku, bagaimana sebuah sistem di era awal abad ke-20 mengerdilkan suara perempuan. Lebih dalam lagi, bagaimana atas nama budaya nasionalisme di Dublin, orang-orang berkepentingan lari dari tanggung jawab: membayar pekerja yang seharusnya.

Dia tidak akan tampil. Dia harus mendapatkan delapan guinea-nya – Mrs. Kearney

Dubliners 161

“Rasanya masuk akal dengan apa yang dilakukan oleh Mrs. Kearney. Jika putrinya tampil namun tidak dibayar,” dengusku. Kali ini aku bisa menarik gambaran kecil dari kehidupan para Dubliners. Yang lebih penting dari itu, sedikit banyak aku bisa melihat gambaran fenomena ini dekat dengan apa yang ada di negaraku.

Dubliners dan Naik Turunnya Pengertian

Tak cukup satu minggu aku membaca buku Dubliners. Adakalanya satu hari bisa dua tiga cerpen, terkadang satu cerpen perlu kubaca dua tiga kali untuk tahu mengapa James Joyce menulis kisah ini. Sering pikiran badung hinggap di kelapa, “apa aku sedang tak fokus sampai tak tahu maksud cerita ini?” Lebih banyak menyalahkan diri.

Malam itu, ketika semua orang sudah berinteraksi dengan alam mimpinya. Lampu bacaku masih menyala. Dua puluh tujuh detik sebelum padam. Halaman 249 itu akhirnya tuntas.

Baca juga: Pojokan dan Suara Kertas Berceloteh

Jiwanya berayun perlahan ketika dia mendengar salju jatuh samar-samar di dalam alam semesta dan perlahan jatuh, seperti turunnya ujung terakhir mereka, pada semua yang hidup dan yang mati

Dubliners 249

Dadaku terasa menclos. Mungkin antara rasa tuntas dan tak tuntas. Bisa juga perasaan puas dan tidak puas sekaligus. Aku tak tahu apa nama perasaan di antara itu. Suara tonggeret terdengar dari taman belakang. “Aku ditertawakan tonggeret,” kataku lirih sambil tersenyum nakal.

Dahu yang sering kali kaku dan rambut yang hampir terjabut dari kepala, Buku Dubliners James Joyce seperti kota yang ingin bicara. “Tak apa kalau kau tak paham jalan kota itu, tak apa pula kalau ada cerita-cerita yang tak bisa kau masuki. Itu bukan gagal,” dengung James Joyce dalam kepalaku, “bukankah di kotamu ada bangunan yang memang tak mengizinkanmu masuk, terkecuali kau benar-benar berkepentingan.”

“Lalu jika aku hanya bisa membaca secuil dari maksud tulisanmu, apakah itu artinya aku pembaca yang gagal?”

Sekali lagi tonggeret bernyanyi. Ritmenya sama dengan malam-malam sebelumnya. Lampu baca sudah padam.

Baca juga: Kucing Bernama Dickens: Kisah Peliharaan dan Proses Penyembuhan

Ada yang sudah baca bukunya atau ada pengalaman nggak baca buku yang ceritanya keluar-masuk seperti ini? Boleh dong berbagi pengalaman seputar proses membacanya, siapa tahu ada orang yang ternyata merasa gagal karena nggak sepenuhnya paham. Tapi tetep ya, dengan bahasa yang santun. Semata-mata biar jejak digital kalian tetap bersih.

Have a nice day!

Jya, mata ne~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

Post comment