Pojokan

Batas Kasih Kisah Tikus dan Manusia

Kadang seorang pria harus berani melakukannya

Kisah Tikus dan Manusia halaman 168

Awan rupanya sedang berkumpul di sisi timur. “Apakah daerah Tumpang akan hujan ya?” tanyaku. Mataku beralih dari novel karya John Steinbeck ke langit yang mulai tertutup awan abu-abu. Tak pekat. Hanya saja, cukup menghalau hangat sinar matahari pukul delapan lebih dua puluh menit.

Dalam detik berikutnya, bola mataku kembali ke halaman terakhir dari novel bersampul biru itu. Kuketuk-ketuk halaman itu seperti mengetuk pintu. “Apakah perasaan ini hanya terjadi padaku saat membaca buku Kisah Tikus dan Manusia ya?” tanyaku lagi.

Lantas, awan-awan berkerumun di atas teras. Awan gelap dan awan putih. Seperti ingin bentrok.

Sampai Di Mana Batas Kasih Sayang Itu?

Mataku seperti kaca. Mengembun di permukaannya ketika halaman-halaman pertama buku ini kubaca. Cuaca di 12 Januari kala itu cukup terik. Burung dengan riangnya hinggap di sela-sela dedaunan pohon cempaka samping rumah. Kukira buku Kisah Tikus dan Manusia ini begitu manis. Berkisah tentang persahabatan dua orang anak manusia. Lennie Small dan George Millton yang bekerja di sebuah peternakan.

Baca juga: Cecilia Dan Malaikat, Percakapan Ringan Antara Penghuni Surga Dan Bumi!

Pria-pria yang bekerja di peternakan seperti kita, adalah pria-pria yang paling kesepian di dunia. Mereka tidak punya keluarga. Mereka tidak memiliki tempat tinggal. Mereka datang ke peternakan dan bekerja keras.

— Kisah Tikus dan Manusia halaman 21

Glodak! Suara tong sampah di jatuh mengejutkanku. Kulihat Pak Amin (petugas kebersihan kompleks) mengambil bungkusan sampah rumahku. “Mereka bekerja keras,” gumamku pelan. Aku tak tahu kata-kata itu kutujukan untuk siapa, teks di buku itu atau Pak Amin di depan gerbang.

Masih terlalu pagi untuk aku merasa sentimentil di tanggal pertama kubaca John Steinbeck ini. Lantas kugelengkan kepala dan fokus kembali. “Kasihan Lennie, seorang pria yang punya cacat mental tapi harus bekerja keras. Tapi kasihan juga si George, yang harus bertanggung jawab atas Lennie meski mereka tak ada hubungan darah.” Sentimentil lagi. Aku tidak bisa memilih untuk menaruh empati di salah satunya.

Nafasku pendek-pendek dan penuh jeda. Halaman-halaman berikutnya, membikin geram. Rasa sentimentil setelahnya berubah jadi geraman dan omelan khas ibu-ibu kompleks. “Wah, ngapain harus kerja di peternakan Curley sih!” seruku.

Bila Curley menyerang seorang pria bertubuh besar dan memukulnya, maka semua orang akab mengatakan betapa tangguhnya si Curley ini sebenarnya. Tapi bila dia terkena pukulan, maka semua orang akan berkata bahwa seharusnya si pria besar itu berkelahi dengan orang yang berukuran sama dengannya …

— Kisah Tikus dan Manusia halaman 41

“Ini mah mirip orang-orang berpangkat di atas sana. Suka cari kambing hitam,” selorohku. Di mulai dari peternakan ini, agaknya tugas George Millton bukan lagi menjaga Lennie namun bertanggung jawab penuh atas dirinya. Meski itu artinya dia merasa terbebani.

Ya, Tuhan andai saja aku hidup sendiri, pasti hidupku akan lebih mudah

— Kisah Tikus dan Manusia halaman 16

Lennie dan Dunia yang Mulai Membuang Kepolosan

Infografis Kisah Tikus dan Manusia. Design by canva.com

Seperti kebiasaan yang kulakukan saat membaca. Mungkin saja membaca hingga halaman 62 itu berlebihan. Membuat aliran pikiran-pikiran terasa padat. Seperti lalu lintas kota di jam-jam sibuk. Sesekali pikiran macam: cucian yang belum di seterika, iuran RT yang belum dibayar, pesan-pesan wali murid yang belum terbaca, dan beberapa pikiran remeh lain seperti pertanyaan seputar kucing belang telon yang lewat di depan rumah.

Aku menggeleng. Tulisan-tulisan yang kubaca terkesan hanya teks biasa tanpa arti dihadapan pikiran-pikiran yang lewat itu. Sampai akhirnya di beberapa detik kemudian, kubaca ulang teks itu. Entah untuk keberapa kalinya. Kutemukan satu kalimat yang begitu klik di mataku.

Tak perlu punya akal sehat untuk menjadi orang baik. Menuurtku, terkadang yang terjadi justru sebaliknya. Justru orang yang pintar biasanya bukan orang baik.

— Kisah Tikus dan Manusia halaman 62

“Apakah yang kupikirkan tentang buku setebal 170 halaman ini pas ya?” tanyaku pada diri sendiri. “Agaknya ini bukan novel tentang persahabatan, tapi sebuah ironi tentang dunia yang nggak ramah untuk mereka yang apa adanya.”

Kulanjutkan lagi membaca halaman selanjutnya sambil berpikir untuk menutup buku setelah bab tiga ini berakhir. Makin lama aku kepalaku meradang. Curley, si anak pemilik peternakan itu, suka sekali cari gara-gara. Kecemburuannya berlebihan atas wanita miliknya yang sering sekali menggoda pria-pria peternakan itu. “Sialan! Curley ini sudah cinta buta apa ya sama si istri. Masak istri tukang goda masih aja dipertahanin,” kutukku.

Sampai bagian di mana Curley memukul Lennie, tokoh dengan cacat mental itu hanya perkara kesan polos dan tak berdayanya. Terlebih aku yang berencana akan menutup bab tiga itu, akhirnya terus membaca hingga bab empat. Hingga … sekali lagi hingga … Lennie yang polos itu, berhadapan dengan kenyataan akan mimpiannya untuk memiliki lahan, runtuh seketika.

Lennie berkata, “Tapi itu bukan kebohongan. Tiap kata adalah sebuah kebenaran, kamu bisa bertanya pada George.

— Kisah Tikus dan Manusia halaman 108

“Tak hari ini, tak masa lalu, mengapa kejujuran dan kepolosan tidak benar-benar menang?” tanyaku menclos. Dan agaknya aku merasa ironi itu masih bekerja hingga hari ini.

Baca juga: Lagu di Radio dalam Perpustakaan Tengah Malam

Niat Baik yang Tak Sejalan dengan Sistem

Ketika salah seorang kawan kuliahku memberikanku rekomendasi buku ini, karena menurutnya buku John Steinbeck ini syarat kisah kasih sayang dan persahabatan, tentu saja kusambut dengan hangat. Dan kesan itu memang terasa dalam hubungan antara Lennie dan George.

Namun ketika malam menjelang tidur, kubaca buku ini hingga akhir di halaman 169. Perasaanku berbeda. Entah mengapa kisah persahabatan dan kasih sayang itu buyar. Seolah belakang kepalaku terus mengomel tentang George yang harus mengalah pada sistem sosialnya. “Tragis,” kataku sambil menutup buku.

Lennie sangat percaya pada George. Namun George tak sepenuhnya mampu bertahan pada keyakinannya sendiri, di hadapan dunia peternakan Curley yang bergerak dengan logikanya sendiri. Ia mengalah pada arus yang membawanya.

Lennie berjuang untuk bisa memahami maksudnya. “George tidak akan mungkin begitu,” ulangnya. “George itu selalu berhati-hati. Dia tidak pernah terluka karena dia selalu berhati-hati.”

— Kisah Tikus dan Manusia halaman 111

Aku menyentuh dadaku sendiri. Kucoba merasakan detak jantungku yang tak beraturan itu. “Mengapa rasanya posisi Lennie ini sangat familiar,” ucapku. Lalu mataku bertumbuk pada dada anakku yang naik turun di sebelahku. “Niat baik kadang tak selalu menyelamatkan, ketika kau hidup di sistem yang sudah keruh. Benar kan?” tanyaku pada diri sendiri.

Baca juga: Kitalah yang Ada di sini Sekarang by Jostein Gaarder

Kutarik selimut sampai ke atas muka. Pikiranku berkelindan pada kata-kata di halaman 168. “Apakah seorang pria akan mendapat predikat maskulin, jika sudah membunuh kejujuran?” tanyaku lagi. Kunikmati gelap dan hembusan nafasku sendiri di baliknya. “Apakah anakku akan baik-baik saja?”

Tak ada jawaban dari semua pertanyaanku. Hanya desah nafas panjang di dalam selimut.

Nah, ada yang sudah baca buku Kisah Tikus dan Manusia atau karya John Steinbeck yang lain? Bisa dong berbagi di kolom komentar pendapatmu tentang kisahnya. Yang punya rekomendasi bacaan tentang buku bisa juga ikutan ngeramein kolom komentar ya, soalnya TBR-ku mulai menipis dan siap-siap cari rekomendasi bacaan buat temen di rumah.

Eits, tetep dengan bahasa yang sopan dan bijak ya, biar jejak digital kalian tetap bersih.

Have a nice day!

Jya, Mata ne~

View Comments

  • Niat baik kadang tak selalu menyelamatkan, ketika kau hidup di sistem yang sudah keruh.

    aduhhh makdeggg, ini kok relatable dgn kondisi kita sebagai WNI.
    Aseliikk sistem ekonomi politik dll kita kan udah amburadul, beneran rasanya kyk beberapa part buku inu mengingatkan pd nasib para WNI 😷😭

    • Nah itu dia mbak Nurul. Kok berasa dekat ya ceritanya. Apa jangan² kita yang udh terlalu lama berenang di air keruh sampai ikutan keruh ya.. #upss.. 😅

  • Belum pernah baca buku ini
    Namun pernah sekilas baca review-nya juga di klub buku
    Persaingan dua sahabat yang salah satunya menyusahkan ya, hehe
    Intinya seringkali mimpi manusia memang kadang terhalang dengan kondisi realita yang terjadi sehingga merasakan kehancuran yang tidak biasa

    • Waduh, mungkin bukan novel ini mbak Amma. Karena memang bukan tentang persaingan sih novelnya. Mungkin sejenis dengan novelnya Steinback kali ya.. 🫢🥰

  • "Tak perlu punya akal sehat untuk menjadi orang baik. Menuurtku, terkadang yang terjadi justru sebaliknya. Justru orang yang pintar biasanya bukan orang baik."
    Setujuuuuu... kadang, sebenernya untuk berbuat baik itu gak perlu alasan. Gak perlu mikir panjang, gak perlu logika dalam. Just use the common sense. Tapi kala manusia sudah mendapat ilmu dan kuasa, adakalanya semuanya justru berubah. Mereka jadi manusia yang berakal tapi tak berempati, logikanya pun mati.

    Makanya Qur'an pun menyampaikan, "It is not the eyes that are blind, but the hearts"

  • Walaupun novel John Steincbeck ini dibuat pada tahun 1937 tapi kok cerita George dan Lennie di Kisah Tikus dan Manusia ini kaya relate dengan kondisi kita sekarang ya, apalagi yang berhubungan dengan kekuasaan dan pemerintahan. Ceritanya bertambah mendalam dengan bumbu persahabatan, kesepian, dan juga tentang impian yang kadang tak sesuai ekspektasi kita. Cocok kayanya buat bacaan ngabuburead di bulan Ramadan

    • Itu dia, menurut ku buku buku Kisah Tikus dan Manusia atau karya John Steinbeck cerdas dan masih relevan hingga kini. 170 halaman yang bisa bikin mix feeling, ngangguk sepakat dan hampa di beberapa part. Aduh ini bacanya mesti fokus maksimal, biar menangkap semua maksud yang kadang terselubung.

      Mahakarya banget sih ini buku. Penasaran juga, mbak Dinda beli bukunya dimana? Ada via online store juga kah?

      Aku lagi baca buku lokal, terkait pahlawan wanita dari Jawa Barat. Ibu Dewi Sartika, setelah tamat mau lanjut ke buku Ibu Nh. Dini, baca ulang tepatnya.

  • Membaca ulasan Mbak Dinda membuat saya ikut merasakan sesak yang dialami George dan Lennie. Benar kata Mbak, dunia seringkali terlalu keras bagi mereka yang "apa adanya" dan polos.
    Dilema moral di akhir buku itu memang bikin sulit tidur; antara kasih sayang dan realitas sistem yang kejam. Menarik sekali sudah berbagi perspektif yang begitu humanis dan sentimentil ini. Sukses terus untuk blog Senjahari! terus menulis dan memberikan pandangan berbeda

    • Sepakat Bang Don. Kadang dunia ini betapa kejam pada orang-orang yang polos dengan kejujurannya. Karakter Goerge dan Lennie mewakili banget kondisi tersudutkan dalam ketidakberdayaan pada sistem yang lebih besar. Miris.
      Di sisi lain karya John Steinbeck ini adalah sebuah bentuk kritik yang patut di apresiasi. Mudah-mudahan para pembaca setianya makin terbukaan pemikiran dan peka dengan hal-hal serupa yang relate saat ini di sekitar kita

  • Tersentil banget soal org baik dan org pintar. Di negara kita realitasnya emg seperti itu. Negara kita tuh nggak kekurangan org pintar, tp hanya sedikit org baik. Masalahnya, sepakat sih, ga perlu pake akal sehat utk menjadi org baik kok.

    Ternyata novel Kisah Tikus dan Manusia ini benar2 menelanjangi sifat dasar manusia, ga terkecuali di negara kita. Smg kita benar2 bs mengambil hikmah dr pelajaran si tikus dan manusia di dalam novel itu ya kak.

  • Bener mbaaa sepertinya sekarang kejujuran kadang harus dibayar mahal,.,,bukan waktunya lagi menjadi orang yang naif karena banyak orang yang memakai topeng diluar sana terutama orang-orang pintar yang dengan mudahnya membohongi orang2 yang menaruh kepercayaan kepadanya,,,hadehhhh...
    Semoga yaaaa kondisi negara kita semakin membaik agar anak cucu kita bisa hiduo dengan lebih sejahtera

  • Ada jeda cukup lama ketika menulis komentar ini. Pagi dan hujan sedang asyik berpelukan. Nalarku ingin berkata sesuatu, tetapi akhirnya memutuskan untuk menulis,

    Sejatinya, hidup sudah mengatur kehidupan sedemikian tepat bagi penghuninya. Sayangnya manusia yang konon ciptaan paling mulia, justru mengusik aturan dengan dalihnya akan lebih baik, tetapi nyatanya semakin jauh dari porosnya.

    Aku belum baca novel ini tapi berasa cukup saja membaca ulasanmu hihi. Anw kalau udah baca tetralogi om Pram, ulas dong. Pengen tahu nih caramu mengulas buku kesayanganku.

    • Tetralogi Pak Pram dua bukunya belum kubaca mbak. Nyarinya susah buat yang ori. Tapi kalau nggak salah lentera dipantara baru rilis edisi terbarunya. Jadi udah kusave di keranjang. Tinggal Check out.. hihihi.. :D

  • Ceritanya ngingetin bahwa memiliki hati yang tulus aja kadang gak cukup, terutama saat dunia yang kita hadapi jauh dari sistem yang adil dan ramah, tapi justru dari situ kita bisa belajar lebih banyak soal empati dan keteguhan hati. Semangat terus mbak untuk terus menelusuri cerita-cerita yang memaksa kita mikir dan merasa seperti ini, karena itu bikin pembaca seperti saya ikut diingatkan untuk lebih jernih melihat hubungan antar manusia dan nilai kasih sayang yang sejati.

  • Waw, aku belum pernah baca buku ini sih, tapi dari pengalaman ini aku mendapat kesan, ceritanya sebetulnya dekat sekali dengan dunia kita ya. Semua yang citra-nya baik akan selalu "menang", dan gak semua yang kita kenal itu bisa selalu seperti harapan kita.

    Untuk quotes "Justru orang pintar biasanya bukan orang yang baik," mau sedih, tapi ada benarnya juga. Biasanya memang yang pintar bersiasat dan memang punya ilmunya lah yang memiliki niat jahat. Bukan berarti orang pintar gak ada yang baik. Banyak, tapi ya begitulah ya, huhu.

    • Yes, banget. Kalau ditarik ke fenomena negeri sendiri mak jleb banget. Apalagi ya negara Indonesia tuh nggak kekurangan orang-orang pintar, tapi yang bear-benar pintar, berguna untuk negeri dan jujur, bisa dihitung jari mbak. Miris. :(