Jendela

Mengejar Meja Kerja yang Kosong

“Aku pengen mengundurkan diri.”

Suara Nana terdengar lemas. Senja belum tiba, tapi kedai kopi “Titik Balik” sudah ramai. Mendengar suara Nana yang begitu putus asa, membuatku tak bisa menunggu untuk bertanya kenapa.

“Bukan passion-ku mengatur jadwal para ekspatriat,” katanya. Ia masih menatap layar ponselnya yang menghitam. Entah apa yang ia perhatikan. “Kau tahu aku lulusan akuntansi, tapi harus repot mengurus visa tinggal para ekspatriat. Pusing aku. Kayak nggak ada gunanya belajar laporan keuangan empat tahun,” keluhnya.

Aku tahu perasaan itu, tapi tak ingin banyak bicara. Keresahaan Nana dan mungkin jutaan lulusan universitas yang lain, seperti baru saja terjadi. Saat aku menekan tombol apply di sebuah tawaran kerja.

Meja Kerja yang Berharap Diisi

Demi meyakinkan mereka (orang tua), yang penting perusahaan tempatku bekerja adalah perusahaan besar.

— Hari Ini Aku Datang Kembali ke Toko Buku Kobayashi halaman 3

Aku baru saja menutup buku Toko Kobayashi tanggal 16 Februari lalu. Namun fenomena-fenomena yang dialami oleh Oomori Rika memang banyak terjadi di sekelilingku. Mahasiswa yang baru saja lulus, dihadapkan pada pilihan bekerja sesuai jurusan atau mengikuti realita dan berakhir sebagai pekerja di luar bidang keilmuan. Atau yang tragis, menganggur.

Aku ingat apa yang kukatakan pada Nana saat itu. “Kalau kamu mengundurkan diri, apa sudah ada pekerjaan lain?” tanyaku hati-hati. Namun ia hanya menggeleng. Katanya belum ada panggilan kerja lain.

“Aku pengen kerja jadi akuntan. Cuma kau tahu kan, jadi akuntan pun banyak sekali persyaratannya.”

Aku mengangguk sambil mengambil nafas. “Kalau kamu ingin jadi akuntan, kenapa nggak coba freelance saja atau buka jasa konsultan akuntan,” tawarku.

“Ribet. Pekerjaan yang sekarang saja, menuntutku lembur hampir tiap hari kerja. Senin sampai Jum’at,” gerutunya. Membanting pelan ponselnya di meja. Frustasi. “Belum lagi apa kata orang tuaku tentang aku yang memilih passion daripada memilih bekerja setelah kuliah,” tambahnya.

Baca juga: Pengadilan yang Tak Lagi di Meja Hijau

“Pikirkan dulu baik-baik, Na,” jawabku pelan. Kusentuh pergelangan tangannya. Berharap perempuan tiga puluh lima tahun itu tenang. “Agustus 2025 lalu, 4,85 persen dari angkatan kerja menjadi pengangguran terbuka. Angka itu mungkin kecil bagi laporan statistik, tapi sangat besar di meja makan keluarga.” Nana menatapku. Mencari pernyataan lanjutan yang mendukung alasan perkataanku.

“Meski aku tahu kenyataan itu tak membuatmu merasa lebih baik,” imbuhku. Aku menatapnya sambil tersenyum simpul, lalu mengalihkan pandanganku pada seorang pramusaji perempuan yang membawa minuman dan cemilan kami.

Apakah Dunia Kerja Makin Tak Ideal?

Senja akhirnya benar-benar tiba. Suara pengeras dari masjid tak jauh dari kedai kopi memberitahukan waktu berbuka puasa. Nana tak lagi berbicara. Ia menangkupkan tangan membaca doa berbuka seperti yang diajarkan orang tuanya. Sementara itu, ponselnya tergeletak di meja. Seperti ikut lelah bersama pemiliknya.

Setelah menyesap thai tea-nya, “apakah dunia kerja sudah tak ideal ya, Din?” tanyanya padaku. Aku menggeleng.

“Aku ingat saat kuliah dulu, dosen sering mewanti-wanti untuk rajin datang perkuliahan. Katanya jika kalian kompeten, maka akan banyak perusahaan yang menawar untuk kompetensimu. Ia mulai cerita. “Tapi setelah lulus, rasanya anggapan itu terasa patah, Din. Nggak nyata. Apalagi kalau kau lihat persaingan di bidangku untuk menjadi akuntan pun sangat ketat.”

Baca juga: Menelanjangi Wajah yang Dipentaskan

Aku tersenyum getir. Mengaduk-aduk es teh lemonku, sehingga esnya ikut berkeringat di luar gelas. “Ironi, bukan?” gumamku. Aku menyesap teh lemon dari sedotan.

“Terlebih banyak perusahaan mencari karyawan dengan spesifikasi serba bisa. Akuntan yang mahir desain, staf administrasi yang fasih bahasa asing, bahkan lulusan sastra yang dituntut memahami pemasaran digital,” Ujar Nana lagi.

Kali ini gantian aku yang menatapnya. Membaca keresahan di dahinya yang berkerut. Apakah ini berarti dunia kerja makin tak ideal? Atau memang sejak awal kami tak pernah dirancang untuk berseberangan dengan idealitas dunia kerja?

Aku mengenal Nana. Aku tahu dia mampu, hanya saja saat ini ia tak mengenali dirinya sendiri, saat duduk di meja kerjanya.

Agaknya yang berubah bukan hanya dunia kerja. Gaya industri, pola hidup, dan cara kita memandang realita ikut bergeser. Perlahan jargon “temukan passion-mu” kini harus siap bernegosiasi dihadapan realitas “temukan berapa besar penghasilanmu”.

Baca juga: Mengapa Kita Takut Tak Menjadi Siapa-siapa?

Di antara keduanya, identitas individu di dunia kerja sering kali menjadi korban yang tak berteriak.

Mereset Kembali ‘Meja Kerja’

Percakapanku bersama Nana memang tak selalu menemukan solusi. Tapi, Nana selalu bilang di akhir pertemuan, “aku senang bisa mengobrol denganmu, Din.” Rupanya, kata itu saja cukup buatku merasa lega. Setidaknya Nana tidak pulang dengan hampa atau lebih frustasi.

Malam-malam menjelang pukul tujuh. Derai hujan memukul genting. Sementara angin terus mengamuk di depan rumah. Amukan alam di depan rumah, agaknya membuatku berhenti sejenak di depan rak jati. Menatap buku Tetsuya Kawakami dari sisi samping.

Entah itu tentang pekerjaan, perusahaan, maupun orang-orang di sekitar, carilah sesuatu yang bisa membuatmu jatuh cinta, satu demi satu.

— Hari Ini Aku Datang Kembali ke Toko Buku Kobayashi halaman 64

Kata-kata Yumiko-san itu agaknya menjadi kutipan favorit. Karena, itu salah satu kutipan yang menurutku memakuku cukup dalam. “Andai kutemukan kutipan ini di tahun 2013. Masa ketika aku merasa kosong di awal-awal pekerjaanku menjadi seorang pemandu museum.” Aku berandai-andai. Lalu seulas senyum geli mengiringi andaianku itu.

Baca juga: Beli Mobil Tapi Garasi Nihil

“Tapi dari seorang pemandu itu, agaknya aku mereset kembali meja kerjaku pada pekerjaan selanjutnya.”

Angin masih bertiup, tapi tak semarah sebelumnya.

Closing by Senja Hari

Gimana menurut kalian gengs? Fenomena lulusan yang bekerja di luar jurusan rasanya sudah banyak terjadi dan tak sedikit juga yang mengeluhkan bahwa itu bukan passion-nya. Sebagian dari mereka yang bekerja di ranah bukan passion-nya ada yang bertahan karena tuntuhan hidup, sebagian lagi justru menemukan passion baru atau bahkan antara mereka yang bertahan demi tuntuhan hidup masih bisa mengerjakan passion-nya. Boleh dong, kalian berbagi insight posisi kalian dan suka-dukanya di posisi itu?

Eits, tetap ya dengan bahasa yang sopan dan bijak. Semata-mata biar jejak digital kalian tetap bersih!

Have a nice day!

Jya, mata ne~