Jendela

Tentang Orang-orang Biasa

Setelah amukan hujan malam sebelumnya, pagi ini matahari datang lebih cerah dan menyilaukan. Sesekali matahari pagi yang berada di atasku, mengikuti ke mana langkah kakiku berjalan.

“Oma Risa,” sapaku pada seorang wanita tua yang rumahnya ada di dekat pintu gerbang perumahan.

“Mau kemana mbak?”

“Jalan-jalan, Oma. Mari,” sahutku tanpa ingin mengganggu kegiatan wanita tua itu lebih lama.

Tak lama kemudian, seorang pemotor pria lewat tanpa helm. Ia hanya pakai masker dan kacamata hitam. Sambil meliriknya aku tersenyum, mengingat hal ‘biasa’ yang sering diributkan.

Baca juga: Masyarakat Adat dan Para Pengabdi Modernitas

Menjadi Orang Biasa yang Ternyata ….

Tebu-tebu di sekelilingku sudah meninggi. Bahkan bisa kubilang, tingginya bisa satu setengah kali tinggi badanku. Angin di area tebu-tebu ini seringkali lebih galak, tak heran ujung-ujung tebu sering rubuh tak bisa bangkit lagi.

Ketika si pemotor pria itu lewat, angin tampaknya sedang tantrum. Menggoyang ujung daun tebu hingga hampir saja menerbangkan kacamata hitam si pemotor pria. Namun berkat polisi tidur yang mengenai sepeda motornya, kacamata itu hanya tertahan di atas mulutnya yang mengerucut.

Aku yang meliriknya tentu ingin tertawa, tapi rasanya kurang sopan menertawakan pose pemotor itu. Kuurungkan saja tawa itu dan terganti dengan senyum tipis. Kumelanjutkan perjalanan pagi itu.

“Mungkin ada bagusnya juga menjadi orang biasa,” kataku. Melihat gerakan ganjil dari pemotor itu, aku justru menemukan hal baik di belahan jalan yang memecah ladang tebu itu.

Langkahku sedikit melambat. Aku biarkan angin menyeka keringatku sesaat, karena matahari yang ingin segera mengeringkan jalan-jalan basah di bawah kaki. Dua jam yang lalu aku ingat sekali membuka sosial media yang belakangan cukup ramai. Rasa-rasanya tak sedikit orang yang menganggap menjadi orang biasa itu kurang yahut. Bisa dibilang mereka begitu tergila-gila dengan ketenaran.

Baca juga: Pungutan Sukarela tapi Ribut Karena Tak Rela

“Tak segan mereka cari perhatian untuk dikenal dan ya …,” aku mencoba berpikir sebentar, “melontarkan kata-kata bahkan sikap yang kurang elok, demi popularitas. Sedikit banyak mereka sudah kehilangan batas-batas yang seharusnya,” imbuhku.

Angin berhenti sejenak. Membiarkanku menghela nafas. “Kadang kurang enak juga jadi terkenal. Mereka tidak bisa bersikap apa adanya seperti botchan. Di depan kamera mereka harus bisa tersenyum lebar, tidak bisa bersikap konyol dan seperti yang sudah banyak terjadi. Parahnya, beberapa dari mereka bahkan harus mendapat kritikan dan hinaan hanya perkara wajah berjerawat.”

Meski begitu, ada omelan kecil di sudut hati yang sering menggertak.

Semua Bisa Berputar. Dan Itu Mungkin

Aku berhenti di ujung jalan depan kompleks. Jalan sudah cukup ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor. Jajanan kue basah dan tentu saja, pedagang sayuran.

“Apakah dari kerumunan ini ada selebritas yang berbelanja tanpa riasan atau yang bahkan belum mandi dengan piayama yang masih melekat?” tanyaku pada diri sendiri.

Baca juga: Studi Komparatif Bertema SARA: Apakah Rawan Konflik?

Bergeming sebentar. Memiringkan kepala. Sebuah mobil SUV pajero melesat di depanku. Menutupi pemandangan di depan mata.

Semua ada. Makan enak setiap hari. Hampir setiap minggu ada pesta atau kami diundang pesta, makan-makan. Baju Bagus. Sepatu baru setiap minggu. Keluar negeri kapan saja kami mau.

— Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya halaman 55

Kata-kata itu kemudian berdengar di kepala. Buku Mbak Reda yang beberapa hari lalu kubaca menempel seperti perangko. Setelahnya ketika mobil itu berlalu, keramaian yang sama pun jadi berbeda.

“Ketenaran, kekayaan memang terlihat memikat!” satu sisi sebelah kiriku mulai merasa kesal. “Bayangkan kalau jadi luar biasa kaya, terkenal dan cantik. Kau akan mudah mendapatkan apapun.”

“Termasuk luka, kan,” bantahku pada satu sisi itu dalam hati. “Di tengah arus informasi tentang ketenaran dan kekayaan ini membanjiri linimasa, entah berapa banyak orang yang menggunakan topeng demi citra. Ada yang sebenarnya bukan orang kaya tapi flexing seperti pejabat. Ada yang nggak pinter satu tambah satu, tapi topik yang dibicarakan tentang aljabar.”

Baca juga: Mengejar Meja Kerja yang Kosong

Aku mendesah. Memutar tubuh dan kembali berjalan pulang.

“Jika berhadapan dengan keinginan menjadi luar biasa, maka keinginan menjadi orang biasa saja terlihat seperti dosa.” Kugaruk kepalaku yang tak gatal itu.

Awan-awan di atasku tampak tertiup angin, sehingga bergeser menutupi cahaya silau dari matahari dari arah timur. Awan yang melindungiku itu seperti kutipan-kutipan buku yang saling tumpang tindih.

Semua yang Terjadi Adalah Biasa, Impresi yang Bikin Jadi Tak Biasa

Semua keluarga bahagia sama saja, namun keluarga yang tidak bahagia memiliki kebahagiaan dengan caranya sendiri.

— Anna Karenina halaman 11

Kata-kata Leo Tolstoy dalam buku Anna Karenina itu begitu menacap, padahal sudah berbulan-bulan lalu buku itu kuakhiri. Ketika aku membaca buku kumpulan cerpen milik Mbak Reda, aku merasa bahwa cerita Anna Karenina dan Mbak Reda punya perasaan yang sama. Menjadi orang biasa itu ya … biasa saja. Lumrah. Hanya saja … ketika cerita orang yang biasa bertemu dengan kejadian biasa di tengah mata yang tak terbiasa, hasilnya bisa sangat berbeda.

Baca juga: Geguyonan Nama dan Kata yang Tak Pernah Netral

Seperti perjalananku saat berangkat dan pulang berjalan kaki pagi ini. Itu aktifitas yang biasa, kejadian yang kutemui sangat biasa, tapi yang tak biasa terjadi ketika aku berjalan tanpa kamera untuk menangkap kejadian-kejadian itu.

Kalau yang lain panas, jangan ikut panas. Kalau yang lain terbakar, bikin dingin pikiran, hati.

— Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya halaman 113

Menjadi orang kaya itu biasa. Menjadi orang terkenal pun sebenarnya biasa. Yang menjadi tak biasa adalah bagaimana dan seberapa banyak orang tidak terkenal memandang orang yang terkenal. Begitu pun sebaliknya.

Dan di seperempat perjalananku itu, aku kembali melihat pemotor berkaca mata itu. Ia menghentikan motornya dan memperbaiki kacamatanya yang turun sampai ke atas bibir. “Laju motornya dikurangi ya Mas. Banyak polisi tidur,” saranku sembari tersenyum.

Dengan anggukan malu-malu pria itu berterima kasih dan melajukan motornya. Kali ini lebih pelan.

Closing by Senja Hari

Di masa sekarang di mana banyak sekali pemberitaan yang ‘tidak biasa’ saja, mulai dari berita kenegaraan, dunia hiburan sampai kelakuan random orang-orang. Pemberitaan itu kadang menimbulkan perasaan yang kurang nyaman sebagai orang yang biasa-biasa saja.

Nah, adakah dari kalian yang merasa seperti itu ya? Terus apakah ada juga di antara kalian yang merasa menjadi orang biasa itu kurang oke? Boleh dong share pemikiran kalian di kolom komentar.

Mau pro atau kontra, boleh kok, asal tetap saling menghargai mereka yang berseberangan pendapat ya. No njulid-njulid. Gunakan bahasa yang sopan, demi jejak digital kalian tetap bersih.

So, have a nice day!

Jya, mata ne~

View Comments

  • Aku malah senang jadi orang biasa, Mbak
    Bukan karena tidak ingin hal-hal menarik ketika menjadi orang tak biasa, tetapi sekarang mikirnya sudah beda
    Butuh kesanggupan lahir batin untuk menjadi orang tidak biasa sementara aku mudah lelah sehingga memang menjadi biasa itu privilege yang mungkin orang tidak biasa iri dengan itu
    Intinya sih, bersyukur kalau kata orang...

  • baca satu tambah satu kok aku jadi inget yang viral kemarin ya mbaaa hihihihi....
    kalo aku sie menikmati jadi orang biasa aja yaaa...malah pengennya dianggap biasa aja tapi sebenarnya di dalam nya luar biasa hehehe..kalo bisa sie begitu klo aku yaaaa...tapi mungkin tiap orang juga punya pandangan yang berbeda karena ada juga orang yang menikmati dengan keluarbiasaanya seperti ketenaran kekayaan dan lain-lain mereka menikmati saat orang lain mengetahui nya...
    jadi semua sepertinya kembali ke masing2 personal yach :)

  • Nggak ada yang salah kok menjadi orang yang biasa. Malah, lebih menyenangkan dan menenangkan gitu lho.

  • Mbak Dindaaa... Tulisanmu langsung mengingatkanku pada bahasanku di kompasiana beberapa hari lalu, kala diriku mengingat Almarhum Taufik Savalas.
    Satu hal yang ada dalam diri beliau, dan hampir jarang kutemui lagi dimana-mana, adalah kemampuannya bertransisi dari Artis menjadi orang biasa. Kala di atas panggung, dia adalah presenter nomor wahid, semua orang tertawa, terpukau dan mengaguminya. Tapi begitu turun dari panggung, semua itu ia tanggalkan. Ia kembali jadi manusia biasa, warga Jembatan Lima Jakarta Barat.
    Barangkali itulah yang sejatinya hilang dari orang-orang masa kini. Bahwa keartisan itu adalah momen kala dirimu diatas panggung dan direkam kamera.
    Tapi masalahnya, sekarang batas panggung kian kabur, dan kamera bisa dibawa kemana-mana. Maka masih sanggupkah kita hidup menjadi manusia yang biasa-biasa saja?

  • Tulisan ini terasa dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Kadang kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang besar sampai lupa bahwa hidup sebagai orang biasa pun sebenarnya sudah cukup berarti. Menjalani hari dengan tenang, melakukan hal-hal sederhana, dan tetap menjadi diri sendiri juga punya nilai yang tidak kalah penting. Terima kasih sudah menuliskan refleksi yang menenangkan seperti ini.

  • Diriku rasanya seperti ikut berjalan di antara deretan tebu pagi hari. Di era flexing dan haus validasi media sosial, memilih jadi "biasa saja" memang sering dianggap kurang ambisius, padahal di sana letak kemerdekaan yang sesungguhnya. Kita bisa tertawa konyol tanpa takut citra runtuh.
    Diriku sepakat, menjadi biasa itu justru mewah karena kita tetap punya privasi dan kejujuran. Terima kasih sudah mengingatkan untuk tetap "dingin" di tengah dunia yang makin panas mengejar popularitas. Sehat selalu!

  • Seperti biasa bacanya terasa tenang tapi juga ngena. Kadang memang kita terlalu sibuk lihat kehidupan orang lain yang terlihat “luar biasa”, sampai lupa kalau jadi orang biasa juga punya banyak momen kecil yang berharga. Jadi diingatkan lagi kalau hidup nggak harus selalu spektakuler untuk tetap bermakna. Dan kita nggak apa-apa lho kalau nggak jadi apa-apa.

  • Menurutku menjadi orang biasa itu gak masalah sama sekali. Justru kadang orang biasa bisa lebih bebas menjadi diri sendiri tanpa tekanan harus selalu terlihat sempurna seperti orang terkenal. Hidup sederhana juga punya kebahagiaan yang sering tidak terlihat di media sosial. Yang penting bukan terlihat luar biasa di mata orang lain, tetapi bisa menjalani hidup dengan jujur dan nyaman dengan diri sendiri.

  • Saya malah nyaman banget jadi orang biasa, tidak harus menjadi terlihat selalu baik di depan orang-orang. Malah saya lebih suka melihat orang yang terlihat biasa saja di depan orang banyak meskipun mungkin sebenarnya bukan orang yang biasa saja,,,jadi seneng aja gitu melihatnya

  • Dulu salah satu guru saya sempat memberi beberapa kalimat yang cukup menyentuh. Tentang peran setiap orang. Tidak semua menjadi luar biasa atau besar. Seperti jalan ataupun aliran air. Ada yang diberi peran menjadi mata air yang memberi manfaat bagi banyak orang lain. Tapi ada juga yang alirannya kecil, tapi juga membawa ke aliran yang lebih besar.
    Tidak semua luar biasa, tapi yang terlihat biasa, bukan berarti tidak berharga.
    Mungkin itu sih Mba Dinda kalau di pov saya, semua cuma soal peran. Dan peran kecil maupun peran besar, ada kadaluwarsanya. Karena semua berputar. Saat ini kita di bawah, bisa jadi nanti di atas. Berlaku sebaliknya. :)